Bab 04: Hal aneh mulai masuk akal

1671 Words
Queen of Ze Liyang. Suara burung pematuk, membuat keheningan pecah pada malam ini. Suara serangga pun tak kalah keras memecah keheningan. Hua ren masih belum terbiasa suara ramai burung dan serangga yang seolah mengelilingi dirinya berjam-jam. Lengannya menutup mata, memaksa untuk tidur. "Kalau begini caranya aku tetap tidak bisa tidur." Namun, ia tetap tidak bisa tertidur dengan nyenyak akibat suara-suara mendengung. Hua ren baru saja mendengar suara langkah ramai-ramai mendekati rumah mereka. Ia pun terbangun dari tempat tidur, ternyata Xue tao menyadari suara tersebut terlebih dahulu. "Hua ren, apa kamu sudah bangun? ..." tanya Xue tao dengan suara lirihnya, memeriksa keadaannya. Pada saat itu begitu gelap membuat Xue tao tidak dapat melihat secara jelas. "Iya aku sudah bangun ..." balas Hua ren lirih. "Ayah apa yang sedang terjadi? ..." tanya Xue Ze lirih memegangi pakaian ayahnya yang juga tidak bisa melihat sekitarnya. "Jangan berisik dan berteriak apapun yang terjadi ..." jawab Xue tao lirih lalu memasuki kamar Hua ren. Ketegangan berlanjut setelah suara langkah tersebut tiba-tiba terhening. Alam pun ikut hening di saat bersamaan seakan sudah direncanakan. "Kalau begitu, cepat bangun dari tempat tidurmu." suruh Xue tao pada Hua ren baru saja beranjak dari ranjang tidurnya. Xue tao segera membuang sebagian jerami yang menutupi ranjang. Kemudian mengangkat beberapa kayu di ranjang pelan-pelan, agar tidak terlalu berisik. Sebuah pintu rahasia di bawah ranjang. "Xue Ze, cepat masuklah," perintah ayahnya, "Kamu juga Hua ren." paksanya juga. "Ayah bagaimana?" tanya Xue Ze dengan nada lesu. "Tenang saja aku, akan berada di belakang kalian berdua," jawab Xue tao menenangkan putrinya yang saat ini sedang merasa ketakutan, "Cepat Ze turunlah." pintanya segera. Xue Ze menuruni lorong tersebut secara hati-hati memperhatikan anak tangga, selanjutnya giliran Hua ren. Namun, tangannya di pegang oleh Xue tao. "Hua ren, ada yang harus aku berikan padamu." ucapnya memberikan gulungan bambu kecil ke tangan, "Jangan baca ini sekarang dan juga jangan beritahu ini kepada Xue Ze. Kecuali, dalam keadaan darurat ..." pinta Xue tao lirih lalu melepaskan tangannya. Hua ren kemudian menuruni anak tangga yang kemudian di susul oleh Xue tao. *** Orang-orang berbaju hitam ketat dan tertutup sudah mengelilingi sekitar rumah. Lalu beberapa orang pergi menuju peternakan untuk mengawasinya diam-diam. Salah satu orang dari depan pintu menyiapkan aba-aba, mereka menyiapkan anak panah yang mengarah langsung ke rumah. Anak panah terlontar menghujani rumah yang terbuat dari geribik kayu. Setelah itu, asap menyeruak keluar dari dalam rumah setelah anak panah meluncur. Asap itu adalah racun pelumpuh syaraf jika terhisap oleh manusia ataupun hewan mereka akan lumpuh sesaat. Kepulan asap dari dalam rumah mulai mereda, pemimpin kelompok baju hitam memberi aba-aba untuk memasuki ruangan. Mereka begitu waspada, memasuki ruangan meski asap pelumpuh syaraf sudah di tembakkan. Secara berkelompok mereka mengecek ruangan rumah kecil itu. Namun, hasilnya ternyata tidak ada siapapun orang di dalam rumah tersebut. Mereka hanya menemukan ruangan rahasia yang berada di kamar. "Sial, aku sudah mengira ini akan terjadi." racau pemimpin kelompok. Ia kembali memberikan aba-aba kepada ke lima anggota untuk menuruni ruangan kecil yang berada di bawah ranjang dan sisanya pergi untuk mengecek lingkungan hutan. *** "Ayah, kenapa terowongan ini terdapat banyak air?" ungkap Xue Ze merasa kedinginan. Setelah makin lama ia berjalan makin dalam ke bawah tanah. "Tenang saja nak, ini gara-gara hujan beberapa akhir ini, jadi tanahnya merembes mengeluarkan air." balasnya. Pijakan makin licin, membuat Xue Ze terpeleset. terjatuh menimpa Hua ren yang berada di belakangnya, akibatnya mereka berdua pun ikut basah kuyub. Xue Ze tertawa kecil, "Tadi seru sekali," ungkapnya. Hua ren juga ikut tersenyum, meski sebenarnya ia ingin memarahi. "Diamlah ... jangan berisik ..." tegur Xue tao lirih dari belakang. Xue tao, mencium bau yang sangat familiar di hidungnya. "Tahan napas kalian!" serunya langsung menceburkan diri ke air. Kemudian, berjalan di air sambil menahan napas. Xue tao melepas pakaiannya yang sudah basah oleh air. Kemudian, ia pun mengangkat kepalanya sambil menutupi hidungan dengan kain pakaian yang basah. "Lepas pakaian kalian, gunakan sebagai pelindung mulut dan hidung." perintahnya dengan nada menggema sedikit tak jelas, tapi masih dapat dipahami. Mereka pun menuruti, perintah Xue tao sambil wajahnya tetap dipendamkan ke dalam air. Pelan-pelan mereka berjalan, diantara kepulan asap racun syaraf. Mereka pun sampai di hutan sejauh tiga ratus meter dari rumahnya. Meski harus membuka pintu rahasia yang sedikit berat karena ditutupi oleh batu besar. Xue tao mendorong batu ke samping hanya menggunakan satu tangan, wajahnya nampak menyeringai karena beban batu yang begitu berat. Kemudian, Hua ren membantu Xue tao. "Terima kasih," ucap Xue tao. Batu berhasil bergeser setelah di bantu Hua ren, "Saatnya keluar dari terowongan ini." Kali ini, Xue tao mendahului anaknya dan Hua ren untuk mengecek keadaan diluar hutan yang masih gelap. Mereka sedang "Cepat naik ..." Xue Ze menaiki tangga terlebih dahulu disusul oleh Hua ren yang berada di belakang. Sekelompok orang berbaju hitam masih berada di sekitar mereka, Xue tao menyadari hal itu setelah melihat kepulan asap yang masuk ke dalam jalan kabur mereka. Bau asap yang cukup menyengat hidung jika dihirup membuatnya mudah di kenali. Ia kembali menutupi tempat kabur, "Hua ren jaga Xue Ze, aku akan mengatasi mereka." ucap Xue tao pergi meninggalkan mereka berdua. Sebenarnya Xue Ze ingin menangis saat ditinggal ayahnya, namun itu akan merepotkannya jika ketahuan. Ia pun lebih memendam perasaaan sedih tersebut lalu kabur bersama dengan Hua ren yang hanya menggunakan satu kakinya untuk berjalan. Hua ren lupa membawa sebuah tongkat buatan Xue tao dan hanya melompat kecil sambil berpegangan erat pada bahu kecil milik Xue Ze. *** Sekumpulan orang berbaju hitam masih mencari ke dalam hutan mengikuti arah terowongan yang mengarah ke selatan. Arah angin berubah ke arah mereka sekelompok orang berbaju hitam. Mereka tetap mengejar sambil bersembunyi di balik bayangan mereka sendiri. Bulan kembali bersinar setelah tertutup awan gelap. Pandangan mereka pelan-pelan kembali terlihat meski samar. Xue tao menumbangkan tiga anggota yang sedang berjaga di peternakan. Ia kembali ke rumah untuk mengambil senjatanya yang masih tertinggal di rumah berupa panah. Selanjutnya, ia memasuki kandang dan membebaskan kedua kuda tersebut ke arah Xue Ze berada. Xue tao bersembunyi di balik semak sambil mengikuti kuda yang berada di depan. Kemudian kuda tersebut berhasil menyusul para anggota berbaju hitam. Melihat situasi itu, mereka pun mengejar kuda tersebut untuk membunuh kuda tersebut. Selanjutnya beberapa dari mereka kembali sesuai perintah pemimpin. Xue tao melihat samar-samar beberapa anggota berpisah dari kelompok dan menuju ke arahnya. Ia makin mantap memasang posisi menyerang dengan panahnya. Tepat di saat bersamaan Xue tao terpergok, akan tetapi ia segera membungkamnya dengan panah yang mengenai pada bagian d**a. Beberapa orang masih belum menyadari salah satu anggotanya mati. Namun sebelum di sadari mereka, Xue tao kembali mengarahkan anak panah kepada mereka. Panah pun melesat ke arah sekelompok orang berbaju hitam, dua orang terkena anak panah Xue tao. Namun salah satunya meleset. Mengetahui hal tersebut, Xue tao kembali memanah berkali-kali, sayangnya panah tersebut meleset dengan menangkis menggunakan pedang. Orang berbaju hitam membunyikan suara nyaring untuk memanggil rekan-rekan yang sudah mendahuluinya. Rekan-rekannya berbalik ke arah suara rekan yang memanggil mereka. Orang yang menyerukan suara mendahului untuk menyerang. Dia melempar pisau kecil ke arah Xue tao, lengan bajunya tersayat. Setelah beberapa lemparan yang mengarah padanya. Xue tao kembali membalas dengan menembakkan anak panah. Namun, saat melepaskan anak panah untuk ke empat kalinya, dirinya tak sempat menarik karena lawan sudah terlalu dekat hingga jangkauan pedang hampir mengenai wajahnya. Meski tubuh Xue tao tak lagi lincah seperti dulu. Akan tetapi tubuhnya masih sanggup mengikuti gerakan lawannya. Xue tao mencari jarak aman untuk kembali memanah, meski begitu musuh tidak memberinya kesempatan untuk menjauh. Ayunan pedang lawan sangat gesit di dukung oleh penerangan yang tidak cukup untuk memperhatikan semua arah serangan saat mengarah padanya. "Lemah!" seru lawan sengaja memantik emosi. Tentu saja, Xue tao tidak terpancing emosi menyadari umurnya yang sudah tidak pantas. Sebagai gantinya ia kembali memancing emosi lawan. "Apa hanya itu saja kemampuanmu?!" ucap Xue tao sambil menghindari dan menangkis ayunan pedang lawannya. Panah melesat mengarah pada Xue tao di saat bersamaan pula pisau kecil di lempar padanya, ruang menghindar Xue tao mengecil dan pada akhirnya salah satu pisau menancap pada bahu kiri Xue tao. Xue tao merasa sanggup ia pun memilih kabur. Pisau yang menancap pada bahu ia lepas dengan paksa, darah keluar meninggalkan bekas jejak pelariannya berlari ke arah hutan yang lebih gelap. Xue tao kembali bersembunyi di atas pohon sembari mengikatkan kain sobekan lengan baju pada bekas luka, lalu ia memanfaatkan waktunya untuk berisitirahat. Orang-orang berbaju hitam sekarang tepat di bawah Xue tao, mereka berhenti tepat di bawah pohon yang di bawahnya terdapat bekas tetesan darah. "Sial kemana dia pergi?" "Aku baru saja melemparkan pisau beracun padanya, mungkin sebentar lagi orang tersebut akan mati." "Lihat apa yang baru saja aku temukan, ada darah di sini." ucap salah seorang yang diketahui pria. Darah itu menempel pada ujung sepatunya. Mereka terfokus pada darah yang ditunjukan pada jarinya, "Mungkin saja itu berasal dari cipratan darah saat kita bertarung tadi." Salah satu anggota tertusuk dari punggung, serangan tiada henti mengenai bagian vital sebelum mereka benar-benar sadar, tubuh mereka terjatuh lemas kehabisan darah. "Maaf jika darahku mengotori sepatumu," cetus Xue tao sambil merogoh satu per satu anggota berbaju hitam, "Apa ini obat penawarnya? Percuma saja aku berbicara dengan kalian." sambungnya melihat beberapa tubuh yang sudah tidak bernyawa, ia pun segera menelan bubuk itu dan sisanya ditaburi pada luka. "Aku merasa lelah, jika terus-terusan berpura-pura lemah," ungkap Xue tao kembali merogoh beberapa peralatan lawannya, "Aku harus cepat-cepat mengejar mereka." ucap Xue tao Langsung meningkatkan aliran KI dan berlari cepat mengejar Hua ren dan juga Xu Ze. Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD