Bab 13: Pesta terakhir?

792 Words
Suara langkah berat terdengar jelas dari dalam, hingga suara lantai yang terbuat dari kayu berbunyi. “Apa yang kau bawa?” kejut kakek tua ketika memergoki pria yang paling tua di antara tamunya membawa sebuah buruan hewan yang telah mati, darahnya pun masih menetes dan jatuh ke lantai.   “Maaf, nanti akan aku lap jika darah itu terlalu mengganggumu. Aku membawa ini hasil dari perburuanku, mungkin kau akan menyukainya. Kita akan makan besar nanti. Anggap saja ini sebagai tanda rasa terima kasihku padamu.” Papar Xue tao, kakek tua yang mengetahui hal itu lantas langsung bergegas mencari wajan besar untuk menampung buruannya.   Semua tampak sibuk sejak datangnya daging buruan hasil Xue tao berburu. Ada yang bertugas membuat api, Xue ze dan teman seumurannya yaitu Yiran. Kesibukan ini sudah lama tidak di rasakan Xue Ze sejak insiden 7 Hari yang lalu tentu saja ini sangat menganggunya. Tapi kini ia bisa bersantai ringan setelah mereka menemukan suasana seperti ini kembali datang padanya. Uap air yang menguap tebal ketika tutup keramik panci di buka. Daging – daging yang masih memiliki bulu mereka angkat burung yang berhasil matang selanjutnya, ia menyingkirkan bulunya dengan di cabut serta di kerok mengikuti arah yang telah di sediakan. sisanya yang paling mudah adalah membakar babi itu agar bulu – bulunya dengan mudah menjadi rontok karena panas.   Pada akhirnya, Hua ren yang sedang berlatih membawakan air secara bertahap untuk mencucinya. Ini seperti pesta perayaan baginya setelah kaki barunya berhasil di pasangkan padanya terlebih lagi tidak perlu merubah lagi. Sebagian besar daging lebih di pilih untuk di asapi dari pada di makan secara bersamaan. Daging yang tersisa banyak akan di simpan lalu di gantung, mereka lebih memilih melakukan itu dari pada tidak sanggup menghabiskannya di waktu yang sama.   “Hua ren, bagaimana apa kamu sudah bisa menggunakan kaki barumu dengan maksimal?” tanya Xue tao yang memperhatikan dirinya sangat leluasa ketika beraktivitas.   Hua ren hanya mengangguk, “sedikit terasa geli tapi masih bisa aku atasi, dengan menggaruk pelan.” Tawanya sedikit menikmati kaki barunya.   “Bagus kalau begitu, nanti juga kau akan terbiasa akan hal ini. Rasa geli di area penyambung bukannya hal bagus? Apa kau pernah mengikuti pergururan atau semacamnya?”   Hua ren kembali mengangguk, “sebelumnya memang aku pernah ikut perguruan tapi … aku memilih keluar dari perguruan itu karena keegoisanku sendiri.” Terang Hua ren dengan nada lesu.   “Aku sangat memahami maksudmu, dulu aku pun punya masalah dengan identitas. Nanti kau juga akan memahaminya, atau mungkin saat ini kau sudah menyadarinya?” Tidak ada yang menadari hal itu selain kamu sendiri.”   “Aa!” teriak  Xue Ze ketika mengenai tungku keramiki ketika hendak menaburkan bumbu ke dalam tungku, “Apa kau baik saja?”Yi ran secara sigap mengarahkan Xue Ze ke dalam air yang dingin. “ Kau di situ saja biar aku yang mengurus.” Demikian ucap Yi ran, ia tampak sudah terbiasa memasak meski cara berpakaiannya terbilang seperti laki – laki.   Xue tao tampak khawatir setelah mendengar teriakan nyaring yang keluar dari mulut anaknya, ia malah membantu melilitkan luka bekas terbakarnya dengan kain dari ikat pinggangnya, “Kau gunakan ini.” Sambil membantu melilitkan kain ke area punggung telapak tangannya.   “Sudah istirahat saja, biar ayah saja yang melakukan bagianmu.” Demikian ucapnya setelah mengetahui anaknya hendak kembali membantu Yi ran. Tapi tampaknya, Xue Ze tidak memperdulikan ucapan ayahnya kembali membantu teman barunya. “Sudahlah ayah, aku sudah besar. Biarkan aku melakukannya sendiri, lagi pula ini hanya luka kecil yang bisa aku sembuhkan cepat.” papar Xue Ze sambil memegangi tangan kanannya yang terkena luka.   Mendengar hal itu Xue tao tampak tidak bisa berbuat apa – apa selain melihat anaknya, kembali melakukan sesuai dengan kemauannya, “Oke kali ini, ayah biarkan kau. Kalau pun kembali terjadi sesuatu, kau harus segera mundur sendiri.” ucap tegas Xue tao kepada anaknya.   “Ternyata kau sangat akrab dengan anakmu, aku tidak mengira hal itu.” Papar pak tua setelah menyaksikan langsung pembicaraan mereka.   Xue tao hanya membalas pak tua yang berada di sebelahnya dengan senyuman, “Iya begitulah, sejak kecil kami memanng selalu berdua.” Balas Xue tao sambil mengatur perapian, di tempat pengasapan buatannya sendiri. Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD