Masuk ke dalam hutan, Xue tao berjalan lumyan jauh dengan kudanya. Ia berhenti di tengah hutan, karena ia baru pertama kali ke sini, ia tidak tahu berapa banyak hewan yang dapat ia lihat berada di sekitar sini. Xue tao lebih memilih mengikat kudanya dan berjalan kaki secara hati - hati agar dapat mendengar suara langkah kecil calon hewan buruannya.
Suara burung gagak serta jangkrik menemaninya. Beberapa hewan serta serangga malam lainnya pun begitu. Seolah sedang mengawasi Xue tao yang hendaku berburu. Sela - sela fokusnya, ia akhirnya mendengar langkah kecil berada tepat di sebelah kirinya. Secara reflek menarik busur panahnya, ia melihat rumput yang tengah bergerak dan menuju ke arahnya.
Mengincarnya dengan anak panahnya, dalam diam Xue tao memperhatikan setiap gerakan rumput pada akhirnya, panah pun ia lepas dan melesat ke arah hewan yang bersembunyi di baliknya. Seketika Hewan gerakan yang berada di sana berhasil di hentikan dengan sekali panah saja.
Suara nyaring berbunyi “ cit – cit.” Xue tao memutuskan untuk memeriksanya, rumput liar yang tumbuh subur menyembunyikan tubuh hewan buruan. Mata Xue tao masih awas, ia memperhatikan setiap detil di gelapnya malam tanpa menyalakan nyala api. Karena hal itu akan membuat hewan – hewan akan sulit di temukan mereka sangat sensitif akan cahaya terang.
Sebuah tikus hutan berukuran besar berhasil di temukan Xue tao, ia tampak tumbuh dengan baik. Melihat hal ini Xue tao yakin masih banyak lagi hewan yang bagus. Di tengah – tengah hutan, Xue tao mengitari sekitar hutan, mencari buruan yang lebih besar lagi. Mengawasi gerak – gerik yang berada di sekitar sekaligus mencari beberapa bambu yang cocok hendak di jadikan anak panah. Mengisi luang waktu dan sepertinya ia menemukan beberapa kayu yang bagus.
Singkatnya, karena waktu semakin lama, Xue tao memutuskan menyudahi berburu. Ia berhasil memburu beberapa jenis hewan termasuk burung hantu yang sudah tidak bernyawa serta tiga buah hewan lainnya. Menelusuri jalan yang sama, Xue tao sudah paham garis besar jalan hutan yang sudah dia tandai sendiri.
Melewati jalan yang sama, sudah larut malam tapi tempat yang di lewati masih juga ramai. Berbeda dengan tempat lainnya, di tempat ini. Lokasi pasar gelap masih ramai di penuhi dengan orang – orang yang berlalu lalang menjajakan barang dagangannya. Seolah orang – orang yang berada di sini tidak pernah tidur meski hanya sebentar saja.
“Hei!” sapa salah satu orang, tapi setelah Xue tao hendak mencari sumber suara itu hasilnya tidak menemukan siapapun tempat ini masih banyak orang yang lalu lalang. Kemudian, Xue tao berusaha menghiraukan panggilan itu dan melanjutkan perjalanan.
Sebuah belati melesat tajam mengarah kepada Xue tao secara tiba – tiba, menyadari kehadiran akan bahaya yang datang padanya. Xue tao langsung menghindar dengan sedikit bergeser, setelah itu secara cepat pula Xue tao juga melepaskan belati yang berada sakunya dan melemparkan.
Sekejap pria itu langsung menangkapnya dengan tangan kirinya dengan hanya menggunakan kedua jarinya yang saling mengapit. “Aku suka dengan gayamu yang waspada itu.” ungkap Ban, orang yang baru saja melemparkan pisau kepada Xue tao.
Xue tao memasang wajah serius, mereka berdua saling memandang. “Apa yang kamu mau padaku?” tanya dirinya dengan nada serius.
“Hei – hei, tenang saja aku hanya ingin menyapa denganmu saja.” Balasnya sambil tersenyum lepas ke arah Ban, Ban menggunakan kuda lalu berjalan mendekati Xue tao. “Kebetulan tempat menginapku searah dengan yang kau lalui.” Sambungnya kepada Xue tao meski rekan barunya masih saja bersikap sangat hati – hati kepadanya. Mereka berjalan berdua beriringan menggunakan kudanya, tempat ini masih saja meriah, di tambah banyaknya wanita – wanita penghibur yang lalu - lalang menjajakan dirinya.
Suasana canggung baru saja tercipta, karena sikap Xue tao yang terlalu berhati – hati dengan orag yang bahkan belum di kenalnya. “Apa kamu ke sini sendirian?” tanya Ban, tapi sepertinya pertanyaan ini tidak akan di jawab oleh Xue tao. Karena sikapnya yang terlalu berhati – hati pada akhirnya, mereka berpisah karena Ban sudah sampai ke tujuan utama terlebih dahulu.
***
“Wow! Apa yang baru saja kau lakukan?!” kejut gadis muda itu, ia terkejut karena memergoki Hua ren yang baru saja menghancurkana alat latihan yang biasa di gunakan kakek untuk berlatih. Kayu besar itu menjadi patah karena tendangan kuat yang di lakukannya. “Kalau sudah begini sepertinya akan ada biaya tambahan untuk kau bayar.” Balasnya berucap secara materi, gadis seusianya yang tidak lain adalah Xue Ze malah terpukau dengan kekuatan Hua ren ketika menggunakan kaki palsunya.
“Hebat!” ucapnya memberikan tepuk tangan kepada Hua ren. Hua ren sampai bingung harus menanggapi seperti apa kepada gadis kecil yang kagum kepadanya, tapi di sisi lain ia juga bingung melihat wajah cemberut gadis yang bersebelahan dengan Xue Ze.
Suara keras itu tentu saja membangunkan pria tua dan langsung mengecek sumber suara, ia juga terkejut sekaligus senang. “Apa ini kau yang melakukannya?” tanya pria tua itu dengan wajah amat sangat senang. Hua ren mengangguk dan membenarkan pertanyaan kakek itu. Dia tampak terkejut dengan hasilnya. “Bagaimana rasanya? Apa kau merasakan sakit ketika menggunakan kaki ini?” tanya pria tua. Bahkan ia tidak terlalu perduli dengan barang yang di rusak oleh salah satu pelanggannya itu.
“Hanya sedikit gatal, aku hanya mencoba berlatih sebentar tapi sepertinya kaki ini terlalu besar kekuatannya meski di gerakan sedikit saja.” Balas Hua ren dengan nada berhati – hati dengan ucapannya.
“kalau benar begitu, ini berita sangat bagus. Kau sangat cocok menggunakannya, masalahnya adalah tidak banyak orang yang bisa mengendalikan tangan dan kaki buatannya, apa lagi dalam sekali coba. Rata – rata mereka akan langsung menyerah karena rasa sakit di area tertentu.” Paparnya, “Lalu kau, ini termasuk kabar gembira. Tidak terlalu banyak yang perlu di rubah, kakimu sudah mempunyai sedikit kekuatan yang bagus … duduklah, biar aku atur ulang kembali energi yang di keluarkan.” Perintah pak tuak kepada Hua ren tampak bergegas mengambil peralatannya, lalu mulai menyeting.
Ia menyetel dengan sangat hati – hati, beberapa kali Hua ren melakukan gerakan seperti menendang akhirnya ia mendapatkan hasil yang dia mau. “Apa sekarang sudah merasa baikan? Tanya pak tua kepadanya.
Hua ren menjawab dengan cepat, “iya.” beberapa sendi di bagian mata kaki serta bagian lutut sudah merasa sedikit enak. Tapi tampaknya ia merasakan lebih baik meski pun sedikit ada rasa dingin. “Di bagian in aku merasakan dingin, apa ini hal yang wajar?” tunjuk Hua ren di bagian antara kedua penghubung.
“Oh, tenang. Itu hal yang wajar. Paling penting kakimu harus terus dalam keadaan hangat, ini akan sangat merepotkan jika sudah merasakan dingin yang lama – lama semakin kuat.” Papar pak tua. “Aku punya penghangat kaki, mungkin kau akan menyukainya.”
Beberapa saat kemudian …
Kain wol berbahan tebal saat ini sudah menyelimuti sendi penghubung. Rasanya lumayan hangat walau secara fisik tidak bisa di bilang bagus. “Terima kasih …” ucap Hua ren.
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way