Bab 11: Ban

1143 Words
Hua ren serta keduanya di tawari untuk menginap karena memang di perlukan untuk evaluiasi selama beberapa hari kedepan agar kakinya dapat di gunakanan secara maksimal sesuai kemauannya. Mereka melakukan beberapa   Bab 10   mereka saat ini sedang melakukan beberapa percobaan sederhana, efek samping sederhana seperti rasa gatal di area kulit. Jika di biarkan akan berefek jangka panjang yang kemudian berganti dengan rasa sakit, ini sudah jelas akan menimbulkan masalah apa lagi jika kita lebih memfokuskan misalnya untuk mengangkat beban berat.     "Bagaimana rasanya kali ini? Apa sudah mulai terbiasa dengan kaki buatan cucuku ini?" tanya kakek tua, setelah beberapa kali mengatur kaki baru milik Hua ren.   Hua ren tampak menggerakan ibu jarinya, tapi beberapa jari di buat lebih sederhana. "Aku merasa baikan kali ini dari pada sebelumnya.   "Kalau begitu, kalau merasa ada yang aneh. Beritahu padaku saja, aku akan segera mengurusnya ... banyak - banyaklah bergerak. Kau bisa berlatih dengan bagian yang paling sederhana seperti peregangan kaki ringan." ucap kakek dengan nada sedikit serak sambil menata peralatannya serta bangkit menahan berat tubuhnya yang sedikit sakit pada area pinggang.   Hua ren melihat kakek tua itu yang sedikit meringis kesakitan lalu menyingkirkan tirai pintu meninggalkan Hua ren sendirian di tempat itu.   Hua ren sedikit bingung harus mengawali dari mana, yang jelas kali ini ia hanya menatap kaki kirinya yang sudah berganti menjadi besi.   Rasa dingin pada besi yang di kenakannya terasa sedikit ngilu. Namun, ia masih bisa menahannya sedikit dengan mengelus perlahan pada bagian penghubung antara pahanya dan juga besi kaki miliknya. "Tapi tetap saja rasanya memang sedikit geli, aku bisa merasakannya." Ia mulai bangkit dari tempatnya dan mulai berlatih pada hal-hal yang sederhana.   ***   Kota jika di lihat dari malam hari tampak meriah bagian sudut-sudut kota yang tidak terlalu di terangi oleh penerangan lilin sedikit menambah was – was.  Tapi karena Xue tao sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, hal ini sudah tidak terlalu mengancam baginya yang ada malah ia merasa nyaman serta nostalgia akan suasana kota yang seperti ini.   Xue tao berniat keluar kota dengan meminjam kuda dari pemiliki toko yang saat ini menawari mereka untuk menginap, ia berniat untuk berburu sebentar menggunakan panah miliknya yang sudah lama tidak pernah di gunakan. Namun kali ini telah berbeda, Xue tao harus kembali mengasah kemampuannya dalam memanah yang telah lama tidak di gunakan dengan serius atau untuk mencederai orang yang berniat untuk mencelakai Xue Ze dan juga dirinya.   Kuda berjalan lambat, karena jalannya yang sempit serta sedang ramai di lalui banyak orang meski malam hari. Seorang pria mabuk tampaknya sedang bersenang – senang dengan wanita penghibur, “Ayo sayang … beri aku ciumanmu, kalau tidak mau aku akan membawamu ke kamar sekarang juga.” Pria mabuk itu tampak merayu dalam kondisi mabuk, wanita – wanita yang saat ini sedang bersamanya hanya tersenyum tersipu malu dengan rayuan serta ajakannya. Tiba – tiba pria itu memandangi Xue tao yang sedang menaiki kuda, keduanya saling memandang. “Hei – hei apa yang kau liat?” Pria mabuk itu mendekati Xue tao lalu menghadang kuda yang di tungganginya. Xue tao tersenyum, tangannya sudah menyiapkan sesuatu di balik kedua lengan panjangnya. “Ayolah ikut aku sebentar temani aku untuk minum sebentar, aku sedang kesepian.” Ajak pria itu, sambil mengelus – ngelus kuda serta mencium kuda Xue tao.   “Maaf aku tidak bisa menemanimu saat ini, ada yang harus ku selesaikan.” ungkap Xue tao, menolak halus. Tapi sepertinya orang tersebut tidak terlalu menyukai gaya penolakan yang di Xue tao.   “Aku tidak menerima tolakanmu, sebaiknya kau ikut saja.” Balas pria asing yang berada di sana dengan nada serius. Karena tidak mau ada masalah yang lebih besar Xue tao lebih memilih untuk menurutinya. Lantas pria itu langsung tersenyum setelah Xue tao turun dari kudanya kemudian menaruhnya kembali ke kandang yang berada di depan tempat itu tidak jauh dari tempatnya.   Mereka tidak terlalu peduli dengan perilaku orang – orang yang sedang b******u di depannya. “Ayo – ayo duduk.” Ajak pria itu, kemudian beberapa wanita berada di samping Xue tao, serta pelayan yang datang menghampirnya. “Tolong pesankan makanan dan minuman yang hangat.” Pinta pria asing itu kepada pelayan. Pelayan itu langsung mengangguk dan sudah mengerti maksudnya. “Namaku  Ban, mungkin kau sedikit mengenal nama itu di sekitar sini,” ia menenggak kuat minumannya, tapi karena reaksi Xue tao yang datar. “Apa kau pendatang baru di sini?” tanya Ban, sambil menuangkan minumannya lalu menggeser ke depan Xue tao. “Silakan minum, ini bukan racun. Kau melihatku minum di gelas itu bukan?”   “Tidak aku, aku sedang tidak minum malam ini.” balas Xue tao dengan nada yang amat sangat halus menghormatinya, lalu menggeser gelas itu kepada Ban.   Ban kembali menangkap gelas kecil, “rugimu bukan rugiku.” ungkap singkat Ban kembali menenggak kuat.   Pelayan kembali datang, ia membawakan pesanan menu makanan dan minuman hangat. “Makanlah, aku sudah mengira kau akan menolak minumanku tadi.” Xue tao, hanya memandangi makanann itu. Sedikit rasa ragu, ia mulai menciumnya. Akhirnya ia pun mulai menyantap secara perlahan. “Bagaimana tidak ada yang aneh bukan?” tanya Ban, ia pun merangkul wanita di kanan dan kirinya. Kedua wanita itu tampak senang berada di rangkulannya. Berbeda dengan Xue tao tampak mengacuhkan wanita  yang berada di sebelahnya, dan hanya fokus untuk makan saja hingga tidak tersisa.   “Berapa harganya?” tanya Xue tao hendak mengeluarkan kantung uang miliknya. Wanita di kanan kirinya tampak gatal, ia terus menerus meraba tubuh Xue tao tanpa henti. Tapi ia membiarkan hal itu dan hanya bersikap dingin seolah wanita yang berada di sebelahnya tidak ada.   “Woah, jangan begitu … ini gratis aku yang akan membayar, jadi kau akan pergi sekarang?” ucap pria itu sambil menahan pria yang baru di kenalnya. Xue tao mengangguk tanpa penolakan. “Kalau begitu paling tidak kau harus memberitahu namamu, misal di lain hari. Aku akan lebih mudah jika menyapamu tanpa harus bingung.” Sambungnya.   “Xue tao.” Balasnya dengan nada dingin kepada pria yang berlaku baik kepadanya. “Baiklah, selamat bersenang - senang.” ucap Ban memberi salam, lalu membiarkan Xue tao pergi tanpa membalas balik ucapannya. “Sepertinya ini akan sedikit merepotkan.” Gumam Ban, setelah Xue tao jauh tak terlihat lagi. Suara ramai – ramai orang yang sedang bermain dengan wanita penghibur, membuatnya mudah melupakan hal serius yang baru saja di ucapkann serta larut dalam kesenangan.   *** Xue tao kembali menunggangi kudanya, ia melanjutkan perjalananya untuk melakukan perburuan singkat. Tapi sikap waspadanya tidak pernah lepas, sedari tadi Xue tao sudah mempersiapkan diri untuk menggunakan pisau yang tersembunyi di dalamnya.   --------------------------------------------------------------------------------------- Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD