Bab 15: Bom bius?

592 Words
Tidur dalam posisi yang tidak semestinya, Yi ran. Tidur dalam posisi memeluk kedua lututnya, ia sampai tidak sadar bahkan dirinya tidak tidur, tapi pada akhirnya. Sebuah benda jatuh baru saja masuk ke tempat ventilasi Yi ran tidak menyadari hal itu, asap tebal baru saja menyelimuti kamar, Setiap celah celah asap yang kemungkinan akan keluar telah di tutupi dengan kain lap basah.   Yi ran bingung tidak tahu harus bersikap apa, setelah ia bangun melihat semua yang terjadi di dalam kamarny. Sempat hendak mengetuk pintu tapi usahanya tidak berhasil ketika hendak membukan pintu, tidak ada respon berasal dari luar pada akhirnya, Yi ran menutup mengggunakan kain lengannya, tapi pada akhirnya sesuatu terjadi, ia tidak bisa menahan rasa kantuk yang amat sangat berat. Lalu tanpa sadar ia pun pingsan, sesudah asap memenuhi ruangan yang cukup tebal.   Kemudian Pintu kamar terbuka, dua orang pria yang masuk ke dalam menggunkan kain basah untuk memasuki ruangan tidak lupa ia pun juga menutupi sumber asap yang keluar dari benda buatannya, lalu kembali menutupi kamar, Yi ran. Tidak sadar dirinya ternyata Yi ran telah sengaja di buat pingsan oleh Xue tao, dan beberapa orang yang berada di rumah. “Dengan ini kesepakatan kita telah di mulai.” Ucap Xue tao kepada kakek tua, lalu menjabat tangan.” Bekal makanan seperti daging asap baru saja dia berikan kepada anaknya Xue ze, Hua ren bertugas menggendongnya. Tubuh Yi ran tidak terlalu berat, bahkan ia terlihat sangat pulas tertidur di punggung Hua ren sambil meneteskan air liuar. Hua ren yang menyadari hal itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah Yi ran, bukannya merasa jijik karena air liurnya.   Mereka pun mulai berangkat, putri Xue tao menggunakan kuda yang di gunakan kakek tua itu, sedangkan Yi ran malah di ikatkan tubuhnya bersama Hua ren menggunakan kain agar tidak jatuh ketika berjalan nanti. Mereka pun mulai berangkat sambill melambai, pagi – pagi buta mereka pergi, jam yang tepat untuk bepergian karena kota pasar gelap sedikit senggang.   Kakek tua hanya melambai tidak bisa berkata apa – apa selain mengamati cucunya yang sedang di bawa pergi oleh pelanggannya yang baru beberapa hari di kenal olehnya. Kini setelah ketiga penunggang itu hilang dari pandangannya,  kakek tua itu merasakan sunyi. “Suasana yang sangat damai.” Gumamnya, “sepertinya aku harus menuangkan teh  untuk perayaan karena Yi ran berhasil pergi.” Pergi ke dapur memasak air, bagian menunggu air matang adalah hal yang paling menganggunya saat itu. Karena, suasana yang sangat sepi. Hingga tidak sadar ia larut ke dalam masa lalu singkatnya dengan anak perempuan yang telah dia rawat seperti cucunya walaupun sebenarnya bukan. Tapi kenangan itu sangat mengganggu. Kemudian, ia tersadar setelah mendengar adanya suara mendidih air yang meletup – letup kecil. Langkah pendeknya, sedikit terengah – engah. Sesudah itu ia pun menuangkan teh ke gelas kecil yang dia ambil terlebih dahulu ke dalam meja yang berada di sana.   Keadaan yang sangat damai ketika mengetahui, semua bahwa tidak ada orang lain selain dirinya. Menyeruput teh hangat. Menatap tembok hitam yang berada di depannya. Lalu air mata pun menetes keluar, membayangkan semua yang terjadi. “Sangat aneh, aku baru saja ingin membawanya kembali. Tapi ya sudahlah ini sudah terlanjur, semoga kau senang dengan dunia baru yang akan kau gapai Yi ran.” --------------------------------------------------------------------------------------- Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD