Suara derasnya hujan yang amat terasa deras meski tidak turun hujan sekali pun, Lumut yang hidup di pohon lapuk membuat kehidupan kecil yang berada di sana berkembang biak sangat banyak tanpa hambatan.
Di antara semua kehidupan di sana, ada beberapa hewan buas yang saat ini sedang berkembang pula, mereka hidup dengan memangsa hewan – hewan yang berada di sana. Terutama, ini musim semi dimana tempat ini menjadi sarang baru bagi hewan - hewan yang baru bangun dari tidur panjangnya.
“Aaa! Lepaskan aku! Kenapa kalian melakukan hal ini padaku?!” kejut Yi ran dengan nada teriak melengking, membuat hewan – hewan yang berada di dekatnya merasa terganggu dan ketakutan. Burung – burung lantas pergi terbang karena terkejut.
Xue tao langsung datang dan berakata, “Diamlah kau tidak berhak mengatakan demikian, ini semua terjadi karena kakekmu yang menyuruhku untuk membawamu.” Papar Xue tao berkata tegas kepadanya, lalu Xue Ze datang. “A-Aku tidak tahu harus berakata apa, tapi yang di katakan ayahku semua benar. Ini semua sudah di serahkan kepada kakekku ... kau tenang saja, semua akan baik – baik saja.” Demikian ucap anak Xue tao sambil memberikan beberapa daging yang sudah masak menjadi sop daging. Kali ini Hua ren pun datang, ia juga mendekatinya. “Kami hanya akan mencarikanmu tempat. Lagi pula jika kau ingin berjalan kaki, kau tentunya tidak akan tahu arah. Lihat sekelilingmu baik – baik.” Ungkap Hua ren, menunjukkan sekelilingnya hutan tebal, “Kau sudah mengerti maksudku bukan? Lebih baik kau diam saja. Kami sebenarnya tidak mau membawamu, kakekmu malah lebih memaksa dari pada kami yang telah menolak. Kalau pun kau kembali ke sana, bayangkan saja apa yang terjadi jika kau datang kembali ke sana.” Sambung Falco demikian.
Yi ran seketika berhenti memberontak, “Aku mengerti ... setidaknya lepaskan dahulu ikatanmu.” Pintanya dengan nada kasar.
“Sudahah, aku sangat mengerti maksudmu berhenti membuat keanehan.” Papar Hua ren mendapati niat aneh yang akan segera di lakukan gadis puber tersebut.
“Cih.” Nadanya tampak tidak puas, “aku lapar.” Ucap kasar kembali, kemudian Xue Ze yang sedari tadi memegangi daun besar berisi daging hasil buruan kemarin, lalu menyuapinya karena tangan Yi ran di ikat rapat membuatnya tidak bisa bergerak. Lari pun susah baginya apa lagi makan.
Sekilas Hua ren sudah tampak seperti manusia normal pada umumnya. Kaki palsu rakitan gadis kecil itu sangatlah sempurna, membuatnya tidak terlihat seorang pria yang telah kehilangan kakinya. “Apa kau menyukainya?” tanya Yi ran yang memperhatikan sedari tadi kaki rakitannya sendiri.
“Aku menyukainya, ini sangatlah sempurna bagiku.” Demikian papar Hua ren menunjukkan besi dengan cara di ketuknya. “Apa ini bisa bertahan lama?” tanya Hua ren, kepada Yi ran yang memang sedang di ikat serta di suapi langsung oleh tangan Xue ze.
“Padahal aku sudah pernah membahasnya, Kaki itu bekas pemilik sebelumnya yang memang seorang tentara gugur.” Demikian balasnya mengoceh, “Kalau kau masih tidak percaya, silakan saja tendang saja kayu yang berada di depan sana.” Tunjukk Yi ran dengan bola matanya, Hua ren sempat melihat kakinya, meski sudah mengecek sendiri ketika tidak sengaja menendang alat berlatih milik kakek Yi ran, tapi menurutnya itu hanya kebetulan yan di tendangnya adalah benda lapuk. Hua ren ingin mencoba pada benda yang super kuat untuk mengecek kekuatan maksimal kaki miliknya, sementara ini hanya ada Pohon, tapi ini masih cukup.