- Gama point of view - Luna Candrawinata. Nama itu dulu selalu terngiang saat pertama kali aku bertemu dengan gadis yang aku anggap bocah. Luna, dia adalah cucu dari sahabat Papa. Di umurku yang baru menginjak kepala tiga waktu itu, Papa mendesakku untuk segera menikah. Itu hanya alasan. Jelasnya, Papa ingin aku menikah dengan Luna, cucu sahabatnya. Alasannya jelas, selain karena bisnis, Papa ingin punya hubungan keluarga dengan sahabat yang ia miliki sejak muda. Tidak tahu juga bagaimana mereka bisa bersahabat bisa awet hingga saat ini. Awalnya aku menolak, lebih tepatnya aku bernegosiasi dengan alasan Luna terlalu kecil untuk aku nikahi. Dia saja Memanggilku Om. Gadis yang aku anggap keponakan, tiba tiba dijodohkan Papa untuk menjadi istriku. Itu seperti lelucon. Aku sendiri tida

