Episode 6. Teka-teki Silang

2436 Words
Pagi sudah menyapa, matahari pun sudah menampakkan diri bersinar lembut membuat Bandung hangat. Seperti biasa, ayah dan ibu sibuk dengan aktivitas masing-masing. Raya masih santai rebahan di sofa, memakai piyama warna coklat muda dengan motif tengkorak. Fandi pun sudah ganteng, siap untuk segera pergi. "Kak, mau kemana lu? " tanya Raya. "Gue mau pergi, nganterin Yayang gue ke Dago, " jawabnya jujur. "Hati-hati loh ya sama dia, " pesan Raya. "Apaan sih lu, suudzon banget sama Yayang gue, " seru Fandi tak terima. "Gue cuman ingetin lu aja, terserah aja itu mah, " "Gue tahu apa yang gue pilih, gak usah ikut campur. Mending lu urusin kuliah lu aja, udah lama kagak masuk kan, lu, " "Iya gue tahu kok, nanti siang mau ke kampus, " "Bagus lah kalau gitu, biar lu ada kerjaan, biar gak usah ngurusin urusan gue, " ketus Fandi seraya meninggalkan Raya. "Ih si Cau, dikasih tahu malah gitu, udah lah bodo amat dah." Gerutu Raya yang dicuekin sama Fandi. Fandi tidak menggubris omongan Raya sedikit pun, dia segera pamitan pada ayah dan ibu. Tidak lama kemudian, ayah dan ibu pun berangkat bekerja. Raya hanya berdua dengan mbok Minah di rumah. "Neng, mau sarapan apa? " tanya Mbok Minah. "Yang ada aja, Mbok, " jawab Raya. "Baik Neng, Mbok siapin ya di meja makan, " "Ok, Mbok, makasih ya." Raya segera menuju meja makan untuk sarapan, mbok Minah pun kembali ke belakang untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain. Raya makan dengan lahap, sesekali melihat telepon selulernya, membalas pesan dari Rahmat. Dia janjian pergi ke kampus bareng bersama Rahmat, karena tidak nyaman pergi sendiri. Apalagi setelah kejadian enam bulan yang lalu. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka Raya, luka hati yang membuatnya tidur panjang. "Hash, anjrit kaget gue, " ucapnya pada mahluk yang tiba-tiba menatapnya berdiri di depan meja makan. "Mau apa lu? Gue kagak takut ya, sorry banget nih, gak mempan sekarang, gue udah punya jimat, " ucapnya pada mahluk itu yang masih menatapnya. "Sana lu pergi, bikin mood gue hilang aja, kampret lu ya, dasar mahluk gak tahu diri, gak sopan banget ngagetin orang lagi makan, " omelnya pada mahluk itu. Sedangkan mahluk itu hanya bisa menatap Raya, tanpa perlawanan apa pun. "Sana-sana, jangan ganggu gue, " perintahnya. "To-long, " kata yang dilontarkan mahluk itu. "Ogah, gue bukan dukun, sana pergi lu, gue siram air panas lu ya, " omel Raya. "To-long, " ucapnya dengan sedih, meminta pertolongan pada Raya. Seketika Raya pun menatap mahluk itu dengan seksama. Mahluk wanita dengan rambut panjang, wajahnya pucat pasi dengan kelopak mata dan bibir sedikit menggelap, baju putih lusuh yang terdapat beberapa robekan. Ada rasa kasihan yang menyelimuti perasaan Raya, kemudian teringat pesan Aki Dirman. 'Dibiarkan boleh saja, namun tidak boleh bersikap bodo amat. Karena bagaimana pun, segala sesuatu itu ada sebab dan akibat, juga ada maksud dan tujuan.' "Mau minta tolong apa, lu? Gue harus gimana, harus berbuat apa? " tanya Raya akhirnya, pada mahluk wanita itu. "Ko-long jem-ba-tan Pa-su-pa-ti, " jawabnya terbata. "Itu saja? Ok, nanti gue ke sana, " ucap Raya melanjutkan sarapannya. "Te-ri-ma-ka-sih, " ucapnya. Mahluk itu pun seketika menghilang dari pandangan Raya. Raya sibuk dengan dengan telepon selulernya, meminta Rahmat datang dipercepat menjemputnya. Tanpa banyak tanya, Rahmat pun dengan sigap meluncur ke rumah Raya. Rahmat yang sudah dia tunggu, akhirnya tiba. Memakai sepeda motor matic berwarna hijau toska, dengan beberapa modifikasi sedikit alay. Dengan tidak sabar, Raya pun langsung mengajaknya pergi tanpa mempersilakan masuk ke rumah. Ya, mau tidak mau, Rahmat pun mengikuti keinginan Raya. "Ya, kita mau kemana sih ini? Jam segini administrasi kampus belum bisa kali, paling sejam lagi bukanya, " tanya Rahmat di perjalanan. "Gue gak ke kampus sekarang, anterin gue dulu ke kolong jembatan Pasupati, " jawab Raya santai. "Mau ngapain, lu? " "Gak usah banyak tanya, ikutin omongan gue aja, nanti gue traktir makan siang sama rokok, kalau perlu, nih gue isiin bensin motor butut lu ini, happy kan, lu? " "Siap, laksanakan komandan, " "Oke, deal!" ucap Raya mengakhiri. Rahmat pun kegirangan mendapatkan imbalan yang menggiurkan. Matanya menoleh kanan dan kiri, mengedarkan pandangan mencari sosok mahluk perempuan itu. Sekilas Raya menemukan mahluk itu, kemudian meminta Rahmat berhenti dengan mendadak. "Stop, udah stop di sini, Mat!! " pintanya. "Loh kok, di sini, Ya? Mau ngapain di sini? Lahan kosong gini, kumuh, banyak gundukan sampah, " tanyanya Heran. "Udah, gak usah banyak omong, gak usah banyak tanya. Ikutin gue aja, yuk parkir di sebelah sana, " tunjuk nya ke arah gundukan sampah. Mereka pun parkir di pinggir jalan di trotoar jalan, takut menghalangi kendaraan lain. Sebetulnya tidak boleh parkir di trotoar, namun ini sangat mendesak. Raya mengikuti mahluk perempuan itu. "Gue harus apa? " tanya Raya pada mahluk itu. "Si-tu, " tunjuknya ke gundukan sampah. "Kok, di situ? Gue harus bongkar gundukan sampah itu? " tanyanya. Mahluk itu hanya mengangguk tanpa menjawab lagi. Rahmat yang kebingungan pun mulai ngoceh. "Ya, lu ngomong sama siapa? Gak mungkin lu ngomong ama sampah-sampah itu kan? " "Ya bukan dong, ihh g*bl*k lu ya, dikira gue sinting apa, ngomong sama sampah. Pikir aja kali, Mat, " "Lah terus, lu ngomong ama siapa dong? Hantu? " "Iya, " "Ah, yang bener dong, jangan nakutin gue, " "Lah bener, tuh dia di sana berdiri depan gundukan sampah itu. Dia minta kita bongkar sampah itu, " "Ah gue gak percaya, lu cuman isengin gue doang kan? Becanda lu, kan? " "Ih, si kampret kagak percaya. Beneran gue, hayu kita bongkar sampah itu, cepat cari alat atau cari tongkat buat bongkar biar lebih cepat, " "Anjir lu ya, beneran ini? Gue jadi merinding loh ini, " "Iya kampret, gue beneran Rahmat bin Mamat!!! " "Ogah gue, mau pulang aja, Bye," "Eits, lu kira gue bakal ngijinin lu pulang? Lah, kagak lah. Udah temenin gue, cari tongkat sana, " ucap Raya menarik kaos Rahmat, menahannya agar tidak pergi. "Anjir lu ya, sial gue. Kampret lu, Nur Maha Raya!! " "Gak usah ngoceh kayak bocah, cepetan napa sih, " "Iyaaaaaa, gue cari!!! " Selama dua puluh menit mereka membongkar gundukan sampah itu, mengoreknya dengan tongkat ala kadarnya. Saat mereka hampir menyerah, tiba-tiba Rahmat menemukan sesuatu yang membuatnya kaget. "Itu apaan ya, kok gue familiar ya, " ucap Rahmat yang terus mengorek sampah. "An***g, setan, itu kaki manusia, " ucap Rahmat sontak membuatnya kaget dan berkata kasar. "Mana, sini gue lihat, " seru Raya mendekati Rahmat. "Astaga, sadar lu, tobat lu, hey, Nur Maha Raya. Kenapa setelah koma, lu jadi Sumanto?? " "An***g lu Mat, ngomong sembarangan. Gak usah banyak ngemeng, tutup mulut deh lu, kesel gue jadinya!! " "Tobat, Ya, tobat... Ampun Gusti anu Maha Suci, sadarkan teman hamba ini, " pekiknya berdoa. "Bacot lu, cepat bantuin gue, " "Mayat, maafkan gue. Gue hanya disuruh saja, " Raya semakin kesal, tidak menghiraukan ocehan Rahmat yang tidak berguna untuknya. "Ini tubuh, lu? " tanya Raya pada mahluk perempuan itu yang masih mengamati mereka. Mahluk itu pun hanya bisa mengangguk sedih tapi juga bahagia, akhirnya tubuhnya sudah ditemukan. Raya terus mengorek sampah itu sampai benar-benar terlihat jelas ada mayat terbujur kaku. Tidak lama, Raya pun merogoh tasnya untuk mengambil telepon seluler dan menghubungi seseorang. "Kak, tolongin gue. Sekarang gue ada di bawah kolong jembatan Pasupati, dan gue menemukan mayat di sini. Tolong lapor polisi dan susul gue ke sini ya, urgent. Thank's, " ucapnya di telepon. Ternyata Raya menghubungi Fandi. * Di sisi lain, Fandi kaget mendapatkan telepon dari Raya. Dia akan segera menyusulnya ke tempat itu. "Yang, kita pergi sekarang yuk! " ajak Fandi pada Kinanti. "Loh, mau kemana? Baru juga sebentar di sini, gak mau ah, " tolaknya. "Please Yang, ini si Raya ada masalah, dia menemukan mayat katanya, ayo ke sana sekarang, mau ya Sayang, " "Hah, serius? Gak mau ah, takut dong kalau gitu, " "Ya udah gue pergi sendiri kalau gitu, maaf ya gak bisa antar pulang, nanti pesan taksi online aja ya, " ucapnya seraya pergi meninggalkan Kinanti yang masih ngambek. Fandi pergi dengan tergesa, takut terjadi apa-apa sama Raya, sehingga tidak menghiraukan Kinanti. "Apa-apaan sih cewek gak jelas itu, pakai bilang ada mayat segala, akal-akalannya aja biar kakaknya pergi, kentara banget sih pengen bikin kencan gue kacau, br*****k memang tuk cewek!! " gerutu Kinanti dalam hatinya, sangat marah dengan ulah Raya. "Percobaan gue waktu itu hanya membuatnya koma saja, malah hidup lagi, nyebelin banget, nyawanya kayak kucing aja, bisa selamet gitu. Lihat saja nanti, lu bakal ngerasain lebih dari itu, gak akan gue bikin koma, langsung ke akhirat lu!! " Sambungnya dalam batin, jahat sekali. Padahal, Raya benar adanya, dia memang menemukan sosok mayat perempuan yang sekarang menjadi hantu gentayangan, mahluk perempuan itu. * "Ya, lu nelpon Kak Fandi? " tanya Rahmat. "Iya, sapa lagi emang kakak gue? " "Ya kali kakak-kakak yang lain, " "Ngarang lu, udah bantuin gue lagi, jangan mikir yang aneh, " "Takut gue, ada mayat, lu ngomong ama sampah pula, hiihhhhhh, " "Karepmu!! " Sedangkan si mahluk itu hanya menatap mayatnya sendiri dengan nanar, terlihat raut wajah yang begitu sedih. "Tenang, gue udah menemukan mayat, lu. Bentar lagi akan ada polisi, biar semuanya jelas, " ucap Raya si mahluk. "Ngomong ama gue? " "Bukan, " "Ih, lu bikin gue takut, merindinggg, brrrr, " "Jangan berisik deh, bentar lagi Kak Fandi datang kok, " "Semoga dengan secepat kilat doi datang, gak tahan gue, mana bau, mana serem, aj*g banget hari ini, sial, " Raya hanya menggelengkan kepalanya, ternyata si Rahmat sangat penakut dan payah. Dua puluh menit kemudian, Fandi datang bersama polisi. Mereka datang dengan tergesa-gesa dan panik. "Ya, lu gak kenapa-kenapa, kan? " tanya Fandi panik. "Enggak kok, " jawabnya. "Gue yang kenapa-kenapa, Kak, " samber Rahmat. "Bodo, " serunya. "Maaf Neng, ini kenapa bisa ada mayat di sini? Boleh kita minta penjelasan? " tanya Pak polisi. "Dia mendapat bisikan, " celetuk Rahmat. "Apaan sih, ngarang lu!" mata Raya melotot pada Rahmat, marah dengan ucapannya. "Oh, jadi gini Pak. Saya sama temen saya ini mau ke kampus, nah tiba-tiba melihat ada yang aneh, ada beberapa anjing yang mengorek sampah sambil menggonggong. Saya perhatikan, kok seperti ada manusia, eh ternyata mayat. Begitu Pak, " jelas Raya berbohong. Kemudian tangannya menyenggol lengan Rahmat, kode untuk tutup mulut. Rahmat pun hanya bisa menutup mulutnya. Sedangkan Fandi, merasa curiga, benar apa yang dikatakan Rahmat tadi, tentang bisikan. Namun Fandi pun memilih diam agar tidak ada yang curiga. "Oh gitu, untung saja ada Neng ini, kalau tidak, mayatnya pasti sudah dimakan anjing itu. Terima kasih Neng, sudah mengusir para anjing itu, sehingga mayat ini tetap utuh. Jadi, kami bisa melakukan autopsi dengan cepat, " ucap Pak polisi. "Iya, Pak sama-sama. Kasihan ini mayatnya, mana perempuan kan ya. Kalau begini, nanti mayatnya gimana, Pak? Bakal dikuburkan dimana? " ujar Raya. "Untuk mayatnya akan kami bawa ke rumah sakit dan bekerja sama dengan para ahli forensik dahulu untuk dilakukan autopsi, kemudian mencari informasi tentang mayat ini dan informasi keluarganya. Setelah mendapatkan hasilnya, kita akan menghubungi keluarganya. Tapi, bila tidak ada informasi apapun, tetap kami akan lakukan pemakaman yang layak. Tenang saja, " terang Pak polisi dengan ramah. "Terima kasih banyak, Pak. " ucap Raya senang, menatap kembali pada si mahluk itu yang sudah tersenyum. "Sama-sama Neng, itu sudah kewajiban kami. Baik kalau begitu, nanti saya akan hubungi Neng dan yang lainnya, bila kami membutuhkan informasi lainnya. Lebih baik kalian pulang saja, nanti bakal rame sepertinya, karena mengundang kerumunan. Terima kasih, sekali lagi. " ucapnya Pak polisi. Raya dan yang lainnya pun bersiap untuk pulang, karena sudah ada yang menangani mayat itu dengan baik. Tidak lupa, Raya pun pamit pada si mahluk itu. "Te-ri-ma-ka-sih, " ucap mahluk perempuan itu dengan senyum. Raya hanya menganggukkan kepalanya seolah menerima ucapan itu, kemudian tersenyum ikut senang. "Ya, pulang ke rumah. Gue mau ngomong, ikut gue naik mobil, " pinta Fandi. "Iya, Kak, " jawabnya. "Lah, motor gue gimana? " tanya Rahmat polos. "Dipake lah, emang lu mau buang di sini? " seru Fandi. "Bukannya barusan nyuruh gue naik mobil, Kak? " ucap Rahmat. "Raya, bukan lu, " ketus Fandi. "Gue sendirian dong, gue ikut ke rumah lu aja ya, takut gue, lagian juga gue harus tahu, apa yang sebenarnya ini sedang terjadi, " ujar Rahmat. "Naik motor ya, " jawab Fandi dengan ketus. "Baiklah, masa iya, motor gue di buang, kan sayang, " oceh Rahmat. Raya kemudian mengikuti Fandi masuk dalam mobil, sedangkan Rahmat belok beda arah untuk mengambil motornya. Dalam perjalanan pulang, Fandi menatap Raya penuh tanya. "Ya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lu bisa ada di sana? Bener kata si Rahmat itu ada bisikan? " tanya Fandi mencecar. "Bukan bisikan, hantu dari mayat itu datengin gue. Dari kemarin-kemarin dia nangkring di rumah terus, gue cuekin aja karena gue pun takut. Tapi setelah ketemu Aki Dirman, gue jadi gak takut. Nah, tadi pas sarapan itu dia nyamperin gue. Terus dia minta tolong ama gue, awalnya gue cuekin. Tapi dia terus-terusan minta tolong ama gue. Dia kelihatan sedih banget pas gue perhatiin, ya udah gue tanya lah, gue harus tolong apa, " "Terus, lu dia bilang apa? " "Kolong jembatan Pasupati, gitu doang sih. Terus gue datengin ke area situ, udah ada mahluk itu yang nangkring nungguin gue. Ternyata mayatnya itu d bawah gundukkan sampah, Kak. Gue ama si Rahmat itu udah sejam kali di sana, bongkar sampah-sampah itu. Akhirnya malah di Rahmat yang menemukan mayat itu, " "Oh gitu, horor juga ya. Berarti lu kayak Aki Dirman dong sekarang, bisa berkomunikasi, " "Gue rasa sih bukan komunikasi, gue hanya mendengar dan melihat aja sih. Gue aja gak tahu itu hantu kenapa dan siapa, " "Iya sih. Terus itu si Rahmat gimana? Mau dia bongkar sampah gitu? " "Kesel gue, ngoceh mulu dia. Tapi berkat dia sih, gue nemuin mayat itu, " "Terus si Rahmat gimana pas nemuin mayat itu? " "Ya gitu lah, lebay, semua hewan keluar, ngomong kasar. Yang bikin gue kesal, dia ngomong ama gue, katanya gue tuh udah kayak Sumanto aja mencari tulang mayat, kan Ko***k pisan, " "Haha, parah emang si Rahmat. Duh, gue ngakak asli ini mah, " "Bikin kesel, kan? Makanya gue semprot aja dia, nyebelin banget, " "Tapi dia tahu dong, lu sekarang bisa lihat penampakkan? " "Entahlah, gue juga gak ngerti. Bodo amat lah. Oiya, jangan bilang ayah sama ibu, gue takut mereka malah khawatir, " "Iya gue ngerti, tapi kalau ada apa-apa kabarin gue. Gue udah dititipin pesan sama Aki Dirman, " "Oalah, pantes aja lu, tadi cepat banget datangnya. Bukannya lu lagi kencan ya? " "Iya, gue tinggal aja Yayang gue. Takut katanya, jadi gak mau ikut, ya sudah, palingan dia naik taksi online baliknya, " "Oh, baguslah, " Rahmat yang mengikuti mobil mereka di belakang, berpikir keras sepanjang jalan apa yang sedang terjadi dengan Raya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD