Episode 5. Aki-aki Juara 2

2159 Words
Sore itu terdengar tawa lepas dari Raya, setelah beberapa minggu selalu murung dan ketakutan. Namun, berkat Aki Dirman Raya bisa tertawa kembali. Perbincangan mereka terdengar menyenangkan, padahal yang mereka bincangkan adalah sosok mahluk yang tak kasat mata. Dengan penasaran, Raya mencoba mengorek ilmu dari Aki untuk menangkal para mahluk yang menakutkan itu. "Aki, Raya boleh tanya, " ucapnya menghentikan tawa. "Tanya apa memang? " jawab Aki yang malah bertanya balik. "Aki dari umur tiga tahun itu kan bisa melihat mahluk. Nah, mahluk apa yang pertama kali Aki lihat saat itu? " tanya Raya. "Aduh Raya, mana inget atuh umur segitu. Aya-aya wae kamu mah. Cuman Aki hanya dikasih tahu saja sama Bapaknya Aki, katanya Aki sering nangis karena melihat mahluk, seperti yang kata kamu bilang. Tapi saat umur Aki enam apa tujuh tahun, Aki memang melihat mahluk itu. Masih sekarang sampai sekarang, " terang Aki. "Seperti apa penampakannya? Terus cara ngusirnya gimana?" tanya Raya kembali. "Penampakkannya seperti yang pertama kamu lihat itu. Aki tidak bisa mengusirnya, membiarkannya mengikuti Aki. Karena diusir pun, dia tidak mau pergi. Ya sudah jadinya dibiarkan saja, " ucap Aki mengingat kembali. "Oh gitu, terus selanjutnya hidup Aki gimana? Normal atau gimana, Ki?" tanya Raya. "Kalau itu, Aki biarkan aja semuanya, mengalir saja. Karena Aki sangat yakin, penglihatan yang Aki miliki ini ada maksud dan tujuannya. Aki hidup normal aja seperti yang lain, " jelas Aki. "Loh, Aki gak takut emang?" tanya Raya penasaran. "Kenapa mesti takut, mereka tidak bernyawa. Tidak bisa berpijak di tanah, dan kita lah sebagai manusia yang harus ditakuti mereka. Coba tantang mereka berpijak di tanah, kan tidak bisa, iya kan? Kita mah sudah menang telak, kaki kita masih bisa berdiri tegak dan berpijak di tanah. Kemenangan telak nya," terang Aki menjelaskan. "Kita ini masih hidup, masih bisa melakukan apa yang kita inginkan. Makan, mandi, bernafas, memegang benda yang kita inginkan. Jadi, apa yang harus ditakuti dari mereka? Karena wajahnya serem? Wajah serem mah bisa dilukis, bisa digambar, sama saja kan seperti badut yang wajahnya dicoret-coret serem oge nya, " lanjut Aki menerangkan. "Bener oge nya, Ki. Hebat euy si Aki, juara lah. Keren pisan, " ucap Raya seraya mengacungkan dua jempol tangannya. "Makanya, kamu jangan takut lagi, Ya, " samber Ayah. "Iya, Yah. Raya juga yakin sekarang. Raya sekarang tidak akan takut lagi pada mereka. Karena Raya yang harus ditakuti, karena Raya masih bisa bernafas dan masih hidup, " jawabnya dengan tenang. Sekarang Raya sudah mengerti, kenapa Ayah mengajaknya untuk bertemu Aki. Ada maksud dan tujuannya, juga ada hikmah dibalik musibah. "Oiya Ki, sejak kapan Aki bisa berkomunikasi sama mereka? Kenapa bisa berkomunikasi gitu, Ki?" tanya Raya lagi. "Iraha nya, (Kapan ya), jigana mah (sepertinya) pas umur genep belas taun (enam belas tahun). Jadi, pas Aki pulang sekolah tuh nya, Aki teh gak langsung pulang ka rumah, tapi malah ulin heula (main dulu) sama temen-temen Aki ke Simpang Jaya. Disana teh banyak jajanan, seperti pasar malam lah sekarang mah. Waktu itu sore-sore, Aki main sepuasnya sampai malam. Dulu mah belum ada mobil, motor ge belum ada. Paling sepeda lah, itu juga sedikit orang yang punya. Jadi Aki pulang jalan kaki berdua sama temen Aki itu, nah di jalan teh seperti ada yang ngikutin, " ucap Aki sambil mengingat. "Lah temen Aki yang lain kemana? " potong Raya. "Rumahnya banyak yang di daerah Simpang Jaya itu, kebetulan hanya Aki dan temen Aki itu yang rumahnya berbeda arah, " ucap Aki. "Terus, udah gitu gimana, Ki? " tanya Raya kembali. "Makanya jangan asal samber, Ya. Orang tua lagi menjelaskan juga, kasian Akinya mikir lagi kan sekarang, " seru Ayah menyela. "Iya, Aki teh ngerasa seperti ada yang mengikuti. Tapi ah biarin weh, ada temen Aki ini Jadi moal nanaon meren (gak akan apa-apa), pikir Aki teh. Eh, ternyata temen Aki itu teh ngerasa ada yang mengikuti juga. Dan si jurig teh, nembongken tah (menampakkan diri), atuh temen Aki teh pingsan da rewas (karena kaget). Nah, dari situ Aki memberanikan diri. Memarahi si jurig, karena membuat temen Aki pingsan. Mana sepi kan, terus kumaha coba ieu bawa temen Aki, rek di akod ge da hese berat, (mau di gendong pun susah karena berat), " kata Aki menceritakan kisahnya. "Terus sama Aki teh, di carekan weh si jurig na, (di marahin hantunya). Nanaonan ari maneh jol ngarewasken, tingali tuh baturan aing jadi pingsan. Saha anu rek ngagotongna? Ges nyaho berat si eta teh. (Ngapain sih kamu menampakkan diri, lihat tuh temen saya jadi pingsan. Siapa coba yang akan mengangkatnya? Udah tahu berat dia tuh). " "Hayang dikepret siah ku aing!! Ngagangu weh, teu puguh-puguh. (Mau saya gampar apa!! Mengganggu saja, tiba-tiba). " ucap Aki. "Terus hantunya gimana, Ki? " tanya Raya tambah penasaran. "Si jurig teh, diem weh, tungkul, (diem saja, nunduk). Terus dia bilang ke Aki, dia hanya minta tolong. Minta tolong untuk menyampaikan pesannya pada keluarga yang ditinggalkan, " jelas Aki. "Emang dia baru meninggal atau gimana, Ki? Jurigna Laki atau perempuan?" tanya Raya semakin dalam. "Katanya mah meninggalnya belum terlalu lama, jadi gentayangan karena masih ada pesan yang belum tersampaikan. Jurigna lalaki, " jawab Aki menjelaskan dengan seksama. "Oh gitu, Ki. Emang bakal gentayangan gitu kalau orang yang sudah mati, tapi ada pesan yang belum tersampaikan? " tanya Raya kembali. "Aki sih tidak tahu persis, Ya. Cuman kebanyakan sih begitu," jelas Aki. "Terus, pesan si jurig eta, Aki sampaikan enggak? " tanya Raya. "Akhirnya disampaikan, kasihan juga sih, seperti orang tersesat. Aki lihat sekilas, dia teh sewaktu hidupnya seperti baik. Cuman itu, ada pesan yang belum tersampaikan, jadi masih belum menerima kematiannya itu, " terang Aki menurut sepengetahuannya. "Terus, Ki. Darli mah penasaran, kumaha eta atuh temen Aki teh anu pingsan? " tanya Ayah tiba-tiba. Sedari tadi menyimak dengan seksama. "Di gusur weh ku Aki teh da berat, bongan saha kalah pingsan, (suruh siapa malah pingsan), " sahut Aki tertawa. "Eh isukan, ngambek ka Aki, da bujurna bared tapak di gusur. Calana saragamnya nepi ka saroeh. (Eh besoknya, marah sama Aki. Soalnya pantatnya lecet bekas di geret-geret. Celana seragamnya sampai pada sobek), " seru Aki kembali. Tertawa lepas mengingat kejadian itu. "Gusti, si Aki tega banget loh, kasian dong temen Aki, udah mah ketemu jurig, pingsan, eh pantatnya lecet pula, " ucap Raya terbahak-bahak. Raya dan Ayah pun tidak bisa menahan tawanya. Sungguh lucu pengalaman Aki dulu, saat pertama kali berkomunikasi dengan mahluk. Tidak terasa waktu sudah sore, Nini pun mengetuk pintu ruangan tersebut. Tok, Tok, Tok "Aki, hayu tuang heula, tos sonten, (Aki mari kita makan dulu, sudah sore)," kata Nini memberitahu. "Enya, sakedap. (Iya, sebentar). " Jawab Aki. Mereka pun keluar dari ruangan itu, menuju ke ruang makan. Dimana sudah ada Ibu, Fandi dan Nini yang susah menunggu. "Seru amat di dalam, sampe terdengar ke luar loh, tawa kalian, " ucap Ibu. "Iya bu, seru banget tadi cerita sama Aki. Keren deh pokoknya Aki, " puji Raya pada Aki Dirman. "Bisa aja kamu mah, " ujar Aki. "Tumben lu bisa ketawa gitu, biasanya kan muyung terus, kayak ayam tetelo, " ledek Fandi. "Iya dong, udah dapet ilmu dari Aki. Jadi, gue udah gak takut lagi. Bodo amat sekarang mah, iya kan, Ki?" ucap Raya seraya bertanya pada Aki. "Bukan gitu juga, dibiarkan saja, tapi bukan berarti tidak peduli dan bersikap bodo amat, " jelas Aki. "Hihi, siap Ki, " pekik Raya. "Jangan sotoy makanya, " ledek Fandi kembali. "Hey, udah dong. Malu sama Aki dan Nini loh, gak dimana gak dimana, pasti ribut mulu, gak habis pikir ibu mah, " pinta Ibu. "Iya, Bu, " ucap Fandi dan Raya kompak. "Gitu dong, " timpal ayah mengacungkan dua jempolnya. "Hayu makan dulu, " perintah Aki mengakhiri. Mereka pun makan dengan lahap, suasana pedesaan yang sangat sejuk dan asri, dilengkapi dengan makan khas Sunda. Nasi merah dengan lauk goreng ayam kampung, sambal dadak yang super pedas, tumis kangkung segar, tahu sumedang yang masih panas, di tambah kerupuk. Lengkap sudah kenikmatan ini, disuguhi dengan air teh tawar yang panas. Tanpa basa-basi, setelah mereka selesai makan, Ayah berpamitan untuk kembali pulang ke Bandung. Saat itu tepat pukul lima sore. Pertemuan singkat dengan Aki sangat mengesankan untuk Raya. Mendengar cerita dari Ayah, Fandi ikut senang mendengarnya. Sekarang Raya sudah jauh lebih baik, tidak merasa takut akan penglihatannya. Beberapa wejangan Aki membuka pikiran luas Raya untuk bagaimana menyikapi mendapat penglihatan itu. Ibu pun ikut lega, sedangkan Raya menjadi lebih tenang. Sudah menerima dengan ikhlas apa yang telah didapatnya. Segala sesuatu itu ada sebab dan akibat, ada maksud dan tujuan. Begitu pula dengan penglihatan Raya, ada maksud dan tujuan untuk dia jalani ke depannya. Perjalanan pun tidak terasa lama, mereka terlelap karena kekenyangan. Kecuali Fandi, yang menjadi sopir. Berkali-kali menahan kantuknya, malang sekali nasibnya. Mereka pun sampai di rumah dengan selamat. Seperti biasa disambut mbok Minah yang baik hati. Fandi yang sudah menahan kantuk dari tadi, langsung menjatuhkan badannya di atas kasur. "Raya, mandi sana, anak gadis kok kucel sekali, " perintah Ibu. "Iya Bu, ini juga udah gerah, udah bau acem, " ucap Raya sambil mengibaskan keteknya. "Jorok, mandi sana!! " teriak Ibu. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, telepon seluler Fandi berbunyi. Dia pun terbangun dari tidurnya. Mencoba membuka matanya, kemudian melihat telepon selulernya. "Yaelah, baru sejam doang tidur, " gumamnya sambil melihat telepon seluler. "Eh, yayang gue telpon ya, " ucapnya seraya bangun dari tidur. Kemudian Fandi memanggil kembali panggilan yang tak terjawab itu. "Halo, Yang. Maaf gue ketiduran, kenapa Yang? " ucap Fandi di telepon. "Halo Beb, kamu lupa ya, janji mau anter aku ke Dago, gak ada kabar dari tadi pagi. Sekarang malah baru bangun, kamu kemana aja sih, Beb?" jawab Kinanti, pacar Fandi. "Maaf Yang, dari pagi aku pergi ke Sumedang bareng keluarga. Seperti biasa aku jadi sopir, jadi gak sempet pegang handphone. Terus tadi pulang jam tujuh kalau gak salah, maaf ya Sayang, " sambung Fandi. "Ih kamu mah, gitu aja. Gak pernah ngasih kabar kalau ada apa-apa teh, kebiasan banget sih, kesel deh aku, Beb," "Iya Sayang maaf ya, besok tuh aku anter ke Dago. Gimana, mau yaaa, " "Ya udah janji ya, Beb. Jangan kayak tadi, aku nunggu lama, gak ada kabar pisan. Besok aku telepon lagi ya, bye, " ucap Kinanti seraya menutup telepon. "Lok, gue yang telepon, dia yang nutup. Kebiasaan perempuan nih kalau lagi ngambek, " ujarnya menatap layar handphone yang sudah mati. "Gue gak gitu kok, gue mah kalem, " ucap Raya mengagetkan. "Anjirr, kaget gue. Ketok dulu napa masuk kamar orang, gimana coba kalau gue lagi telanjang bulat? " sembur Fandi yang sangat terkejut. "Lah, gue udah pernah lihat orang lain telanjang juga, jadi selow aja," "Idih, gila lu ya. Lu berani gituan ya?? " "Hey, Kak Fandi. Sadar oi!! Siapa coba yang gituan, kan gue bilang, udah pernah lihat orang lain telanjang. Apa mesti gue gituan gitu, kalau lihat orang telanjang??? " "Iya lah, atau lu ngintip orang mandi? Parah emang lu, Ya!! " "Ih ngarang deh, gue lihat si Rido sama si Ilyas, koplak dasar, lu, " "Oh ya??? Mereka lagi ngapain emang???? " "Main pedang kali, udah ah, jangan bahas itu, males gue. Bikin sakit kepala aja, " "Lah, lu ngapain masuk kamar gue?" "Oh iya, lupa gue. Tadi disuruh Ibu, suruh bangunin, suruh solat dulu, " Bugh.. Pintu kamar Fandi pun tertutup, Raya keluar dari kamar dengan santai. Fandi hanya melongo melihat tingkah adiknya itu. "Koplak, ngeselin amat punya adek, " gerutunya. Fandi pun bangun, kemudian mengambil air wudhu. Setelah selesai solat, Fandi pun tidak bisa tidur lagi. Dia pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Menikmati kopi di teras depan, ditemani sebatang rokok filter. "Kak, " ucap Raya, mengagetkan Fandi kembali. "Uhuk, uhuk, sialan lu ya, " Fandi tersedak kopi. Kaget saat Raya memanggilnya, pas lagi seruput kopi. "Idih, apaan sih, nyalahin gue terus deh, " "Lu udah dua kali bikin gue kaget, belum ada sejam loh tadi. ketok kek, apa kek, biar gue kagak kaget, bikin gue jantungan aja sih! Kasian nanti Yayang gue kalau gue mati karena kaget, " "Amit-amit deh, amit-amit yang mau jadi yayang lu tuh, hiihhh" "Kampret lu, mau apa lagi lu sekarang? Gue udah solat kok, " "Gak ada apa, cuman mau nyapa aja. Gue penasaran ama pacar lu yang baru itu, siapa namanya? " "Kinanti, kenapa lu? " "Itu teman seangkatan gue bukan, ya?" "Kalau iya, memang kenapa? Apa urusannya sama lu?" "Kagak ada apa-apa, cuman tanya aja. Kalau emang iya bener, hati-hati aja lu di porotin, " ucapnya seraya meninggalkan Fandi. Lagi-lagi dibikin melongo yang kedua kalinya oleh Raya. "Enak aja ngatain Yayang gue, dia tuh cinta mati ama gue, " gerutunya. "Tapi, masa sih Kinanti begitu, ya? jadi ragu gue karena omongan si somplak tadi, gue harus cari informasi berarti, tapi ama siapa ya? Gak mungkin juga gue minta tolong si Raya, ih ogah," sambungnya. Fandi kemudian sibuk dengan telepon selulernya. Seperti sedang menghubungi seseorang, tapi tidak tahu siapa. "Dah, aman berarti. Gue bisa tidur nyenyak, besok harus bangun pagi, nemenin Yayang gue. " ujarnya seraya menutup pintu depan. Fandi pun langsung masuk ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD