Episode 4. Aki-aki Juara

2535 Words
Dua minggu sudah berlalu, Raya sudah pulang dari rumah sakit. Terapi untuk pemulihan fisiknya berjalan dengan baik, alhasil, Raya sudah bisa berjalan dan bergerak dengan bebas. Kondisi mentalnya pun sudah stabil, namun memang masih bermasalah dengan penglihatannya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hal tersebut tidak dapat diobati secara medis. Keluar dari rumah sakit bukannya hilang para mahluk itu, malah semakin banyak. Mahluk yang berada di ruangannya mengikuti Raya, melayang dengan cepat di belakang membuat Raya ketakutan saja. Tidak sampai di situ, mahluk lain pun mengikuti Raya seolah ada magnet yang menarik. Keadaan itu membuat Raya semakin takut dan berteriak. "Pergi sana!! Jangan ikutin gue!! " teriak Raya pada mahluk yang mengikutinya. Para mahluk itu bukannya takut malah semakin mendekat. "To-long, " ucap pelan si mahluk dengan terbata meminta pertolongan Raya. "Gue bukan dukun, gak bisa nolong kalian! " jawab Raya menjelaskan. "To-long, " ucapnya lagi si mahluk. "Pergi sana, gue bukan dukun atau ustad yang bisa nolong lu semua! " ucap Raya semakin kesal. "Udah sayang, tenang. Biarkan saja mereka, jangan dilihat lagi ya, Nak, " ucap Ibu menenangkan Raya, menggandeng tangannya untuk mereda ketakutan. "Iya Bu, " jawab Raya singkat. Tangan Ibu yang menggandengnya dilepaskan secara perlahan, "Raya mau lari Bu, biar cepat sampai lobi, " kata Raya meninggalkan Ayah dan Ibu. Raya yang masih berjalan di lorong rumah sakit itu sedikit berlari agak tidak diikuti para mahluk. Dengan yakin dia berpikir, kalau di tempat ramai para mahluk itu tidak akan menampakkan diri. Namun, salah ternyata. Perkiraan Raya itu tidak berlaku, para mahluk ikut melayang mengejar Raya. "Ah kampret, dikira gue main kejar-kejaran apa ya, " gumamnya, Raya pun menoleh ke belakang tetapi para mahluk itu tetap mengejarnya. Raya gelisah menunggu di lobi utama bersama ayah dan ibu, sedangkan Fandi menuju ke parkiran membawa mobil. "Lama bener dah ini Kak Fandi, ambil mobil aja bisa sampai jamuran gini, " kesal Raya. "Sabar, Ya. bentar lagi juga nongol, " jawab Ayah. "Iya Yah, tapi kan Raya risih, Raya takut. Mahluk itu mengikuti Raya kesini, Yah, " bisik Raya pada Ayah. "Yuk, Fandi dah datang, " ajak Ibu segera bergegas. Ibu yang sedari tadi melihat Raya gelisah, dengan segera mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Akhirnya sampai juga di mobil, semoga aja mereka gak ikut, " ucap Raya menghela nafas panjang. "Kenapa lu,? " tanya Fandi kepo. "Itu Kak, banyak mahluk yang ngikutin gue, heran kenapa bisa ikut ya?! Padahal gue bukan dukun atau ahli agama gitu loh, mereka mepet gue terus, ya kali gue bisa nolong mereka, " jawab Raya mengadu. "Lah kirain apaan, ternyata masih tentang hantu gentayangan itu. Lu babacaan (berdoa) dong, ya ngaji gitu, kabur sendiri entar juga, " Fandi memberikan sedikit masukan. "Lah tumben kamu bener kasih masukannya, Fan?! Biasanya kan ngaco kemana wae, (kemana aja) " ucap Ayah meledek Fandi. "Fandi ge sieun atuh Yah, (Fandi juga takut), kalau ngomong sembarangan takut kualat, " sambung Fandi. "Bagus lah kalau begitu, biar mikir juga kamu, gak usah usil terus, " Ibu menimpali dengan santai. Tidak terasa sudah sampai di rumah, mereka disambut oleh mbok Minah, pembantu rumah tangga yang sudah lama ikut Sonia. "Halo, Mbok, apa kabar? " tanya Raya dengan ramah, menaikkan kedua alisnya menyapa mbok Minah. "Alhamdulillah Neng, kabar mbok baik. Gimana kabar Neng Raya? Mbok sedih sekali mendengar kabar Neng Raya, " jawab Mbok Minah dengan bahagia, memeluk gadis manis itu. "Alhamdulillah, gue baik-baik aja, Mbok. Sekarang udah pulang kan ke rumah ini, kangen Mbok Minah deh, pengen dimasakin sup ceker, boleh ya Mbok? " Raya membalas pelukan mbok Minah, dengan manja meminta dimasakin oleh mbok Minah. "Boleh Neng, boleh banget. Mbok buatin spesial buat Neng Raya, pakai cabe rawit lima belas hanya diiris tengahnya, pakai kemangi yang banyak, pakai tomat sedikit saja. Gitu kan, Neng? " dengan senang hati mbok Minah membuatkan sup ceker kesukaan Raya. "Siap Mbok, matur suwun yoo, " ucap Raya berterima kasih memakai logat Jawa seperti Mbok Minah. Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat sikap manja Raya pada mbok Minah, yang sudah mengurusnya dari sejak lahir. Fandi mengeluarkan segala macam bawaan dari dalam bagasi, kemudian membawanya ke dalam rumah. Tanpa harus disuruh, Fandi meletakkan semua barangnya di rumah keluarga. Dengan maksud agar mbok Minah tidak terlalu repot membereskan semua barangnya. Raya yang tampak kelelahan, tanpa basi-basi merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk warna hitam yang terletak di rumah keluarga, kemudian melihat remote yang tergeletak di meja langsung menyalakan televisi layar datar yang super lebar. Mencari hiburan untuk menemani istirahatnya. Ayah dan ibu masuk ke kamar untuk berganti pakaian dan kemudian beristirahat. Sedangkan Fandi langsung menyeduh kopi di dapur, sudah terbiasa melakukannya sendiri. Tiba-tiba suara teriakan Raya membuat semua panik. "Arghh.. Tolong.. " jerit Raya minta tolong ketakutan, duduk gemetar di atas sofa, dengan posisi tangan memeluk kedua kakinya yang sudah ditekuk terangkat ke atas sofa. Dengan kepala tertunduk, Raya seperti menghindari sesuatu. "Kenapa, lu? " tanya Fandi menghampiri Raya yang sedang menunduk. Dengan secepat kilat dia berlari dari dapur yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruang keluarga itu. "Ta-kut, Kak. I-tu a-da mah-luk hi-tam be-sar di si-tu, " jawab Raya terbata, menunjuk ke arah jendela di samping lemari. "Waduh, gimana dong, gue gak ngerti harus gimana. Lu babacaan (berdoa) aja, biar gak ada yang ganggu, " ucap Fandi memeluk Raya. Ayah dan ibu tergesa menghampiri ke ruang keluarga, sedangkan mbok Minah sudah ada di dekat Raya, menatap heran. "Maaf Den, Neng Raya kenapa ya? " tanya mbok Minah penasaran. "Gak ada apa-apa Mbok, dia hanya kaget saja, " jawab Fandi berbohong. "Ah mbok gak percaya, masa gak apa-apa begitu, lihat Neng Raya ketakutan begitu, " lanjut mbok Minah menunjuk ke arah Raya. "Begini Mbok, setelah bangun dari koma itu, Raya bisa melihat yang kita tidak bisa lihat. Tapi Mbok jangan khawatir, secepatnya saya akan mengobati Raya, " terang Darli. "Oalah, Neng Raya. Jangan lama-lama, Pak, takutnya nanti malah berabe urusannya, kasian Neng Raya, Pak, " ucap mbok Minah. "Iya Mbok, secepatnya saya akan bawa Raya ke tempat kakeknya untuk diobati, siapa tahu bisa sembuh dan tidak bisa melihat yang begitu lagi, " ucapnya menenangkan. "Sayang, tenang ya, ada Ayah, Ibu kak Fandi dan mbok Minah. Gak usah takut, " ucap Ibu memeluk menenangkan Raya. "Coba jelasin sama gue, apa yang lu lihat di sana, " tanya Fandi hati-hati. "Ada mahluk yang hitam serem, tinggi gede badannya. Bentuknya aneh, gue gak tahu apaan itu. Cuman itu mahluk, muncul di balik jendela itu. Mahluknya serem banget, lihatin gue terus, Kak, " terang Raya memberitahu. "Mungkin genderewo kali ya, tapi gue juga belum pernah lihat sih, cuman lihat di film saja, " ucap Fandi. "Fandi, gak usah ngomong sembarangan deh, mending bantu baca doa aja, kasian dong adiknya, " seru Ibu marah pada Fandi yang menebak seenaknya. "Sudah, Raya masuk kamar aja, ditemenin Ibu ya, " pinta Ayah. Raya mengikuti saran ayah untuk pindah ke dalam kamar ditemenin sama ibu. Sedang ayah dan Fandi masih berada di ruang keluarga. Mbok Minah kembali ke dapur, menyiapkan masakan permintaan Raya. Ayah terlihat sibuk, beberapa kali berbicara di telepon. Fandi hanya mengamati saja tanpa bertanya, karena kemungkinan besar ayah menghubungi kakek dan keluarga yang lainnya. Seperti yang sudah ayah jelaskan sebelumnya, Raya akan diajak berkunjung ke rumah sang kakek di daerah Sumedang. Lumayan jauh jarak yang akan di tempuhnya, sekitar dua jam perjalanan apabila menggunakan mobil. Dan hari ini Raya akan berangkat bersama keluarganya untuk mengunjungi kakeknya. Karena selama dua minggu ini, Raya masih melihat hal yang tak kasat mata. Bahkan semakin hari, semakin banyak mahluk yang dia lihat. Hal tersebut membuatnya kurang nyaman sehingga sering dilanda ketakutan yang berlebihan. Mereka sudah berada di dalam mobil yang jendelanya tertutup kain, guna untuk menghindari Raya melihat mahluk. Fandi seperti biasa menjadi sopir, ayah duduk di depan menemani Fandi. Raya dan ibu duduk di kursi belakang. Perjalanan pun dimulai, Raya sedikit tegang di tengah perjalan yang cukup lama ini. Tidak henti memeluk ibu, meski matanya sudah ditutup memakai kacamata hitam. Tidak pengaruh sih memakai kacamata hitam, tapi mau gimana lagi, itu permintaan Raya sendiri. Dua jam sudah berlalu, mobil pun berhenti di lahan parkir yang sangat luas. Beberapa pohon tua menjulang tinggi di lahan tersebut, mengelilingi hampir seluruh area dilengkapi dengan udara yang sejuk menambah kenyamanan. Di sana terdapat sebuah rumah kecil dengan model panggung seperti rumah jaman dahulu. Rumah yang masih sangat bagus dan terawat dengan baik, juga ada sedikit lahan untuk menanam sayuran berada di samping rumah, serta terdapat kolam yang cukup besar melengkapi keasrian tempat itu. Tidak selang lama, keluar pria paruh baya dari dalam rumah panggung. Iya betul, beliau adalah kakek Raya, Sudirman Wiradiningrat, beliau disapa dengan nama aki Dirman. "Assalamu'alaikum, Aki damang? (kakek, sehat? " ucap Ayah menghampiri, menanyakan kabar Aki Dirman. Ayah menyambut tangan hangat Aki, kemudian mencium punggung tangannya. Begitupun dengan Ibu dan yang lain. "Alhamdulillah, Aki mah sehat, kieu we, (begini saja), " ucap Aki lembut. "Hayu, langsung wae ke rumah, dingin diluar mah, " ajak Aki masuk ke dalam rumah. Mereka pun mengikuti langkah Aki menuju ke dalam rumah. "Sok, calik kadinya, (silakan duduk). Aki mau panggil nini dulu di belakang." Pinta Aki yang kemudian berjalan ke belakang. Mereka pun duduk di kursi sesuai permintaan Aki. Raya mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah, dan ternyata dia langsung bergidik. "Hiiiii... " ucap Raya bergidik. "Kenapa lagi lu? " tanya Fandi kaget. "Itu Kak, di sana banyak yang merhatiin kita, " tunjuk Raya ke arah jendela yang terbuka lebar mengarah pada kolam di samping rumah. "Masih bisa lihat lu? " tanya Fandi penasaran. "Masih Kak, padahal gue dah pakai kacamata hitam ini, " ucap Raya memperlihatkan kacamatanya. "Ya lu sih, pakai kacamata hitam, ya kagak ngaruh kali. Mestinya ya, tuh mata, ditutup pakai kain. Dasar oneng, lu! " jawab Fandi mengejek Raya. Memberitahu kacamata hitamnya tidak berfungsi menghindari mahluk lain. "Lah, entar gue kagak bisa lihat apa-apa dong?! " ucap Raya membela diri. "Serah lu aja deh, " ucap Fandi membiarkan Raya memakai kacamata hitam yang tidak berfungsi itu. Kemudian aki mengajak nini menghampiri, nini tersenyum bahagia bertemu dengan keluarga yang sudah lama tidak bertemu. "Ya Alloh, gening si Neng yang datang teh, (ternyata si Neng yang datang), meni awis tepang atuh, Nini mah sono pisan, (sudah lama tidak berjumpa, Nini kangen sekali), " ucap Nini segera memeluk Ibu. Terlihat jelas dari rona wajahnya, sangat merindukan Ibu. "Iya, Nini. Sonia juga kangen pisan sama Nini teh. Udah lama pisan ya, gak berkunjung kesini, maaf Sonia terlalu sibuk di Bandung, " Ibu meminta maaf pada Nini. Memeluk dan mencium kedua pipinya. Tidak lupa, mencium punggung tangan Nini yang halus meski sudah keriput. "Ari ieu teh saha wae? Nini mah teu pati kenal jigana, (kalau ini siapa saja? Nini tidak terlalu kenal kayaknya), " sambung Nini menyapa Fandi dan Raya. "Abdi Fandi, Nini. Emut keneh? (saya Fandi, Nini. Masih ingat?), " sapa Fandi membungkukkan badannya, kemudian salam pada Nini. Begitu pun dengan Raya. "Abdi Raya, Nini, (saya Raya, Nini), " sambung Raya yang masih memakai kacamata hitam. "Euleuh gening ieu teh Fandi sama Raya. Meni tos baradag. (Ya ampun, ternyata ini Fandi dan dan Raya. Sudah pada besar). Tapi Kunaon atuh eta make kacamata hideung sagala, (tapi itu kenapa pakai kacamata hitam segala), " tanya Nini heran melihat Raya. "Nanti Darli ceritakan sama Nini ya, " timpal Ayah yang menyalami Nini. "Oh kitu, iya sok atuh. Ke Nini nitah heula si bibi mawa cai nya, sakedap. (oh gitu, iya atuh. Sebentar Nini nyuruh dulu si bibi membawa air minum, tunggu ya), "ucap Nini seraya pergi ke dapur memanggil si bibi. " Raya, ikut Aki sebentar ya. Hayu kadieu. (hayu kesini), " ajak Aki pada Raya. Ayah pun mengikuti mereka pergi ke sebuah ruangan sebelah. Raya duduk di sebuah kursi tua yang terbuat dari rotan. Ayah berdiri melihat sekeliling ruangan yang masih tetap sama seperti terakhir ayah datang. Sedangkan aki mencari duduk berhadapan dengan Raya. "Raya, apa yang kamu lihat? " tanya Aki langsung, tanpa basa-basi. "Raya melihat semacam hantu Ki, tapi bentuknya berbeda-beda. Kalau Raya sih bilangnya, mahluk, Ki. Biar tidak terlalu kentara sama orang lain, takut disangka gila, " pungkas Raya. "Kamu tuh ada-ada aja, bukan gila, tapi wong edan, haha, " goda si Aki, tertawa mencairkan suasana. "Sama aja atuh, Ki, " jawab Raya ikut tertawa. "Jadi gini, Ayah kamu sudah cerita sama Aki. Kalau Aki perhatikan, akan susah untuk menutup penglihatan itu sekarang. Mungkin harus pelan-pelan, seiring waktu saja. Pesan Aki hanya satu, tidak boleh terlalu ikut campur urusan orang lain atau bahkan urusan si jurig (hantu) eta, " pesan Aki pada Raya, Ayah pun mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aki. "Tapi Ki, mahluk itu, minta tolong sama Raya. Suka ngejar Raya, katanya minta tolong sesuatu. Raya pun gak tahu apa yang harus dilakukan. Terus Raya harus gimana Ki, kalau ada yang minta tolong lagi? " tanya Raya dengan serius. "Tidak semua jin itu baik, tidak semua jin itu benar. Jangan sampai salah langkah, jadi kalau ada kejadian seperti itu, mending tidak usah dihiraukan. Masalah pertolongan itu, Aki juga bingung harus gimana, karena bukan urusan kamu dan bukan kewajiban kamu untuk menolong. Raya kan hanya melihat saja, tanpa tahu penyebab dia meninggal, iya kan?" tanya Aki meyakinkan Raya. "Iya Ki. Hanya bisa melihat saja, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, " jawab Raya. "Iya sudah, kamu selalu baca doa ini saja ya, kalau-kalau mereka dateng lagi, " ucap Aki, memberikan sebuah buku catatan tentang doa untuk mengusir para mahluk tak kasat mata. "Iya Aki, nuhun. Tadi juga Raya lihat mereka di jendela yang menghadap ke kolam, banyak di situ. Mereka memakai baju hitam untuk yang laki-laki, untuk wanitanya seperti memakai baju kebaya jaman dulu. Bajunya tidak lusuh, dan wajahnya tidak terlalu seram. Mereka hanya menatap Raya saja, seolah tahu Raya bisa melihat mereka. Tapi Raya baru melihatnya, sepertinya penghuni di sini, " ucap Raya, menerima buku itu. Kemudian memberitahu mahluk yang ada di jendela. "Enak aja, penghuni di sini mah, ya Aki sama Nini. Mereka mah hanya numpang, gratis pula, teu mayar kontrakan, (gak bayar sewa), " jawab Aki bergurau. Ayah dan Raya pun tertawa, geli mendengar lelucon aki yang cukup garing. "Kalau ada apa-apa telepon saja Aki, siapa tahu bisa membantu meski dari jauh. Jangan sungkan ya Raya, " ucap Aki dengan lembut. "Siap Aki, laksanakan. " jawab Raya. "Iya dong, kan Aki sakti. Aki juga sama kayak kamu, Ya. Bisa melihat dan bahkan berkomunikasi dengan mahluk halus, " ucap Ayah menerangkan. Raya pun sampai terperangah mendengar ucapan Ayahnya itu. "Serius, beneran itu, Aki? " tanya Raya kaget, sedikit penasaran dengan apa yang Aki alami. "Ya begitu lah, sama seperti kamu. Tapi bedanya, Aki bisa berkomunikasi, jadi bisa mengontrol. Kamu kan baru kemarin kejadiannya, jadi harusnya bisa langsung ditutup lagi. Nanti saja ya, pelan-pelan. Pokoknya baca doa yang Aki berikan, kalau terjadi sesuatu segera telepon Aki, " pesan Aki panjang lebar. "Pantesan Aki bilang, dia gak bayar kontrakan, haha, " ucap Raya mengundang tawa Aki dan Ayah. Aki adalah kakak dari kakeknya ayah, jadi bukan kakek kandung ayah. Namun sejak kecil, ayah sudah dekat dengan aki, oleh karena itu ayah menganggapnya seperti kakek kandung. Aki sendiri, memiliki penglihatan itu dari sejak kecil, sekitar umur tiga tahun. Bukan dukun sih, atau orang pintar. Lebih tepatnya indigo, IndiHome dan sejenisnya lah ya. Hanya saja, orang tertentu yang mengetahui akan hal itu, salah satunya adalah ayah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD