"Hah, serius?! jadi mereka itu hantu, Kak? " seru Raya bergidik sendiri.
Ayah, Ibu dan Fandi tidak bisa menjelaskan apapun.
Suasana menjadi hening seketika.
"Please, Kak! Jawab gue, jadi mereka itu semua hantu? " tanya Raya kembali memecah sepi.
"Begini, Ya. Kamu tenang dulu. Coba jelasin ke Ayah, maksud kamu itu seperti apa? Coba kasih tahu Ayah yang sebenarnya terjadi, " pinta Ayah dengan seksama.
"Iya Yah, terakhir Raya ingat itu saat kecelakaan. Nah, pas tadi Raya bangun, melihat mereka itu mengelilingi Raya dengan tatapan aneh. Raya pikir sudah di akhirat, ternyata masih di bumi yang kejam ini," ucap Raya sedih.
"Gue penasaran, lu kenapa bisa kecelakaan saat itu? Lu habis dari mana sih, Ya? Katanya sopir truk, katanya ada sepeda motor yang ngebut nabrak mobil truk miliknya," tanya Fandi mencecar. Ayah dan Ibu pun sudah siap mendengar penjelasan Raya.
"Jadi waktu itu, gue habis di kostan Rido. Gue dapet kabar aneh dari si Mamat, gue langsung cabut ke sana pulang dari kampus. Ternyata pacar gue yang cakep itu selingkuh depan mata gue, dia selingkuh sama temen kelas gue. Gue shock saat itu, terus gue pergi sambil ngebut. Ya, namanya juga galau jadi gue asal pergi, gak tahu tempat tujuan, " jawab Raya dengan sedih, sesaat kemudian dia menangis mengingat kejadian itu.
"Yang gue kesal, dia selingkuh ama laki lagi. Kan b******k banget itu orang. Kejam pisan, Kak! Marah campur malu gue, lu bisa bayangin kan, Kak?!" pekiknya sambil menangis.
"Haha. Buset sedih amat ya kisah percintaan lu itu. Baru juga puber lu ya, udah dikhianati sebegitunya, sial amat sih lu, Ya, " ucap Fandi mencemooh Raya.
"Fandi.. Hus ah. Gak boleh ngomong gitu sama adiknya. Pamali, " timpal Ayah.
"Iyah nih, gue kan lagi sedih tahu. Lu bisa-bisanya ya ngomong gitu. Gue baru bangun dari koma pula, nyebelin banget sih, lu! " ucap Raya minta dikasihani.
"Iyaa, maaf. Gue kan cuman bercanda aja, Ya. Lagian sih, lu beruntung kali dengan cepat mengetahui bahwa laki lu itu m**o. Ngeri amat ya, untung aja gue belum pernah ketemu ya. Bisa-bisa, gue digoda pacar adik sendiri, " ucap Fandi bergidik, kemudian tertawa terpingkal puas melihat ekspresi adiknya yang makin cemberut.
"Kak Fandi jahat banget, Ibu.. " Raya mengadu pada Ibu yang sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Ayah hanya menggelengkan kepala, tersenyum miris mengetahui pacar anaknya yang mempunyai kelainan s*****l.
"Jadi, begitu ya ceritanya, kenapa anak Ibu ini bisa koma selama enam bulan. Sekarang kamu mau makan apa? Dari tadi hanya ngobrol saja, kamu kan harus tetap banyak istirahat dan makan yang banyak biar cepat pulih fisiknya juga, " ucap Ibu menenangkan hati. Tangan halusnya membelai rambut panjang Raya yang terlihat kusut.
"Raya mau makan mie ayam, Bu, " jawab Raya memohon.
"Hus. Sembarangan. Makanan yang bener dong, yang sehat. Jangan makan mie dulu, nanti perutnya malah sakit. Karena kamu itu baru bangun dari tidur panjang, Ya. Kamu harus mengikuti anjuran dokter, biar lebih cepat pemulihannya. Gak bosen apa di sini terus?! " Ayah mengingatkan kesehatan Raya.
"Kan tadi dokter gak bahas mie ayam, yah. Jadi boleh kali, Yah," rengek Raya ingin memakan mie ayam.
"Heh, lu masih gak ngerti apa? Ya kali dokter bahas mie ayam, ya bodo amat kali!! Heran gue, lu udah mengalami koma tapi otaknya masih konslet kayak dulu. Gak ada yang berubah. Ckckckck, " timpal Fandi sarkas.
"Bodo amat!! " Raya menanggapi.
"Udah ah, berantem terus ini. Heran Ibu. Udah sana, Fandi belikan bubur ayam aja buat Raya, " perintah Ibu.
Wajah Raya kembali cemberut, tidak dapat menikmati mie ayam kesukaannya.
Fandi bergegas membeli bubur ayam buat adiknya. Sepanjang jalan dia tersenyum, bahagia dan haru karena sang adik masih hidup dengan nyata.
'Akhirnya gue bisa berantem lagi ama lu, Ya, ' gumamnya dalam hati. Tetes air mata membasahi pipinya. Di balik sikap usilnya, Fandi sangat menyayangi Raya.
Tanpa penjelasan dari Raya pun, ternyata Fandi sudah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya pada adiknya itu. Fandi mengerahkan semua temannya untuk mencari informasi tentang awal mula kecelakaan itu. Yang pada akhirnya, mengetahui tentang Rido yang menyukai sesama jenis.
Tentang Rahmat pun, Fandi sudah mengetahui. Fandi tidak menyalahkannya atas kecelakaan itu, karena yang namanya musibah tidak dapat dihindari apabila sudah menjadi takdirnya.
Kembali ke Raya.
"Ayah, Ibu. Jangan tinggalin Raya sendirian. Raya takut, mereka masih menatap Raya. Ternyata mereka semua itu hantu, ya. " pinta Raya. "Memang kalau bangun dari koma, jadi bisa melihat hantu ya, Bu? " tanya Raya melirik ke arah mereka.
"Ya, Ayah sama Ibu gak tahu. Malah baru pertama kali mengetahuinya sekarang. Ibu rasa, mungkin sepertinya efek tidur panjang selama koma. Tapi kita harus tanya langsung sama ahlinya. Nanti kalau kamu sudah sehat betul, kita pergi ke psikiater ya, " jawab Ibu ragu-ragu.
"Kok psikiater sih Bu, Raya kan gak gila Bu, " ucap Raya sedih hati.
"Ya udah, kita berkunjung ke rumah kakek aja ya. Siapa tahu kita mendapat jawaban yang baik, " timpal Ayah tidak ingin membuat Raya sedih. Karena Ayah yakin, Raya tidak sakit jiwa. Dia hanya shock setelah koma.
"Kok Ayah punya pikiran ke situ? " tanya Ibu kaget.
"Lah iya dong Bu, kan masalahnya Raya itu sehat dan waras. Tapi ada sedikit masalah dalam penglihatannya. Ayah rasa, kakek bisa menjawab ini semua, " jelas Ayah.
"Iya deh Yah, Raya mau. Mending ke tanya ke kakek dari pada ke psikiater. Malu, nanti Raya dikira gila bangun dari koma, " ocehan Raya membuat Ayah dan Ibu tertawa.
"Oh iya, teman-teman Raya suka nengok gak ke sini selama koma? " tanya Raya menanti jawaban.
"Suka kok, yang setia nemenin kamu si Mamat Rahmat itu. Terus Wildan sama Anne juga. Ibu sering melihatnya kok, para perawat pun suka memberitahu Ibu kalau ada yang berkunjung ke sini. Kecuali sih dia, pacar m**o kamu, " Ibu memberitahu Raya. Ibu tersenyum geli setelah mengucapkan pacar m**o Raya.
"Ih Ibu, ketularan Kak Fandi ini mah, " Raya tertawa mendengar kata m**o dari mulut Ibunya. Ibu dan ayah hanya tertawa saja.
"Ya, perasaan kamu sekarang gimana? Bukannya kepo, tapi Ibu khawatir dengan kondisi kamu, " tanya Ibu tiba-tiba.
"Raya sih biasa aja Bu, cuman sepertinya Raya agak trauma untuk pacaran lagi. Seperti mati rasa, gitu Bu. Untuk sekarang ya Bu, tapi gak tahu ke depannya, " jawab Raya jujur.
"Syukurlah, Ibu tenang kalau begitu. Jangan lama-lama ya mati rasanya, nanti malah repot. Tapi Ya, tidak semua laki-laki begitu kok. Buktinya Ayah setia dan normal, jadi jangan pernah takut untuk melangkah lagi, Ya, " jelas Ibu tersenyum malu.
"Lah pie toh Bu, Ayah normal dan perkasa. Buktinya ada Fandi sama Raya, apa perlu Ayah buktikan sekarang? " timpal Ayah merasa terpanggil untuk menjelaskan. Dengan genit menaikkan alis memberi kode pada ibu.
"Haha, iyah Yah, Raya ngerti kok. Nanti aja kalau udah pulang ke rumah," seru Raya.
"Mungkin Raya apes aja kemarin. Sekalinya pacaran, eh dapetnya begitu, terong lemah, " ucap Raya tertawa.
"Hus.. Kamu tuh, Ya. Tapi Ibu senang deh, kamu tidak berpikir sempit. Takutnya kamu nanti malah anti laki-laki gara-gara dia. Ibu sangat bersyukur Ya, kamu baik-baik saja, " ucap Ibu yang membuat Raya senyum.
"Nanti kalau ditembak cowok lagi, bilang Ayah aja, Ya. Biar Ayah ospek dulu, jadi kelihatan jantan atau terong lemah, " goda Ayah. Sontak Raya dan Ibu tertawa.
"Hayo ngomongin gue ya, " samber Fandi yang baru datang dari luar.
"Hih, pede banget sih lu, ogah banget gue bahas lu, gak ada bahasan yang baik tentang lu, " jawab Raya meledek Fandi. Ayah dan Ibu hanya tertawa, bahagia melihat anak-anaknya kembali seperti semula.
"Udah ah, jangan ribut terus. Mana sini buburnya, biar Ibu suapin Raya, " perintah Ibu mengakhiri keusilan Fandi.
Selama Raya koma, Fandi menjadi sedikit pendiam dan murung. Pulang ke rumah hanya pada saat malam saja, dan pagi pun sudah pergi untuk mengurus usaha kulinernya. Komunikasi dengan ayah dan ibu hanya seperlunya, maka dari itu sekarang ayah dan ibu sangat bahagia karena Fandi sudah kembali menjadi kakak yang usil lagi.
Tok..tok..tok..
Suara pintu di ketuk, tak lama pintu itu terbuka.
"Selamat sore, Om, Tante, Kak Fandi, " sapa Rahmat dengan ramah, membungkukkan badannya kepada keluarga Raya.
"Hey, lu dateng Mat. Bener kata Ibu, lu paling setia nemenin gue di sini, " ucap Raya menyambar.
"Iya Ya. Gue jadi malu, tapi lebih tepatnya gue ngerasa bersalah. Makanya gue sering ke sini buat nebus kesalahan. Maafin gue Ya, karena lu jadi begini gara-gara gue. Sekali lagi, maafin saya Om, Tante, Kak Fandi, " Rahmat meminta maaf dengan tulus pada Raya dan keluarganya.
"Lebay amat sih, lu. Selow aja dong, gue kan udah bangun sekarang, berkat lu juga kali, yang sering nemenin gue di sini, " jawab Raya menenangkan diri Rahmat yang merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa kok. Kita sangat mengerti dan itu adalah murni kecelakaan, musibah tidak ada yang tahu persis kapan itu datang. Dan bukan salah siapa-siapa menurut Om, ini semua sudah kehendak dari Tuhan. Kamu tidak usah merasa bersalah terus, sekarang Raya sudah bangun, meskipun sekarang jadi punya indra ketujuh, " jelas Ayah menenangkan semua orang. Namun, ada yang aneh dengan ucapan ayah, indra ketujuh. Maksudnya indra keenam kali ya.
"Iya Om, terima kasih. Tapi Om, indra ketujuh apa ya? " tanya Rahmat merasa heran.
"Haha, ah Bangke lu Mat. Gitu aja gak ngerti, maksud Ayah itu, indra keenam. Bisa melihat hantu gentayangan. Nah, di belakang lu sekarang, katanya ada hantu banyakan disitu. Sok, tanya adik gue. Dia bilang gitu soalnya tadi, " jawab Fandi mengolok Fandi, hingga tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke pojokan tempat Rahmat berdiri.
Tanpa menjawab, Rahmat menoleh ke arah pojokan. Namun tidak ada apa-apa di sana.
"Iya, mereka masih disitu kok, " tunjuk Raya ke arah Rahmat.
"Anjir, serius lu?! Gue merangsang, eh merinding, duh maaf Om Tante saya keceplosan, " ucap Rahmat gugup, dengan spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tak heran, bila semua yang ada di ruangan itu tertawa akibat kekonyolan Rahmat.
"Kampret emang lu, bisa-bisanya ngomong gitu ke hantu. kualat lu, Mat! Nanti ikut lu pulang loh, " semprot Raya menakuti.
"Jangan dong, gue masih perjaka ini, " jawab Rahmat polos.
"Haha, kagak nafsu kali tuh hantu, lihat lu, Mat! " timpal Fandi mengejek. Rahmat hanya melongo di pojokan.
"Hus ah, jangan sompral. Udah jangan bahas itu, kasihan Raya, " ucap Ibu menghentikan Fandi.
"Makasih Tante sudah bela saya, " seru Rahmat percaya diri.
"Bukan bela kamu, Tante kasihan sama Raya, Mat. Dia kebingungan dan ketakutan dengan apa yang dia lihat sekarang, " jawab Ibu memperjelas maksudnya.
"Mampus lu, nyokap gue kagak belain! " seru Fandi mengejek Rahmat lagi. Fandi yang suka usil, kepada siapapun pasti usil, apalagi kalau sudah berhubungan dengan Raya dan temannya.
"Udah ya, jangan bahas lagi itu sekarang. Fandi, mending kamu pulang aja, daripada ribut terus di sini, " perintah Ibu kesal.
"Nah loh, Kak Fandi pulang aja, yuk bareng saya aja. Lama-lama horor juga di sini, " ajak Rahmat yang mulai merinding ketakutan. Meskipun tidak melihat sosok itu, namun dia merasa ada yang aneh dengan hawa di dalam ruangan itu.
"Ah lu mah cemen, Mat. Gue kira lu pemberani, malah mau pergi. Kemarin katanya nemenin gue terus di sini, kok malah mau pulang lagi, " protes Raya yang tidak akan membiarkan Rahmat pulang dengan cepat. Banyak hal yang ingin Raya tanyakan padanya, bukan tentang Rido, tapi Ilyas. Raya penasaran, kenapa Ilyas sampai begitu.
Karena, sepengetahuan Raya, Ilyas itu baik dan murah hati. Selalu menghormati kaum wanita dan selalu membanggakan ibunya.
"Kan sekarang beda, Ya. Gue tahunya kemarin itu lu sendirian, lah sekarang katanya jadi keroyokan gini. Lah takut gue, mending pulang aja, ih horor, " jawab Rahmat polos.
"Kagak boleh pulang lu, nanti aja! Temenin gue dulu! " perintah Raya.
"Besok siang aja deh, gue janji. Sekarang kan ada keluarga yang nemenin lu, besok gue janji deh, kesini lagi ama Wildan dan Anne, " pinta Rahmat meyakinkan.
"Ayok, Kak Fandi, pulang bareng saya aja, " ajak Rahmat.
"Kagak, gue mau di sini aja, ogah banget gue pulang bareng sama lu, nanti gue dikira M**o, " ucap Fandi bergidik jijik.
"Yaelah Kak Fandi, gue bukan Rido kali. Eh gue salah ngomong ya. Duh maaf lagi, maafin saya lagi Om, Tante, maaf saya khilaf bilang nama itu. Habisnya Kak Fandi yang mulai pertengkaran ini, " bela Rahmat dengan lebay.
"Anjis, kampret lu, " Fandi Mengejek Rahmat,
Semua di ruangan itu pun tertawa melihat perdebatan Rahmat dan Fandi.
"Baiklah, saya pamit, besok saya ke sini lagi, siang hari dan membawa teman nyata, " ucap Rahmat seraya pamit dengan lebay.
"Udah sana pergi lu, " seru Raya kesal.
Setelah Rahmat keluar dari ruangan, seketika ruangan itu pun menjadi hening. Ayah dan ibu hanya tiduran saja di kasur sebelah Raya, sesekali melihat telepon seluler. Sedangkan Fandi, duduk di sofa membaca majalah.
"Emang bener, lu bisa hantu di sana-sini? " tanya Fandi memecah keheningan.
"Bener Kak, mereka masih ada. Cuman hanya diam dan lihat gue aja, karena ada kalian. Pas tadi gue sendiri, mereka nyamperin gue ke depan muka, " jawab Raya serius.
"Serem gak, penampakkannya? " tanya Fandi penasaran.
"Gak serem, gak terlalu mungkin ya. cuman bajunya itu loh, serba putih tapi lusuh. Terus Mukanya pucat, bibirnya hitam, kelopak matanya juga hitam, rambutnya kusut, itu sih yang gue lihat, " jelas Raya meyakinkan kakaknya.
"Kayak di film mungkin ya, " ucap Fandi.
"Iya, kayak gitu, Kak. Dah ah, gue ngantuk." Jawab Raya mengakhiri pembicaraan dengan Fandi.
______
Terima kasih sudah membaca tulisan Bukan Cenayang Cinta, jangan lupa tap love ya, ❤
Selamat menikmati, semoga berkenan.