Hari sudah berganti. Kini sudah hampir enam bulan Raya masih belum sadar dari komanya.
Hampir setiap hari Rahmat berkunjung ke rumah sakit untuk menemani Raya, sebagai permintaan maafnya atas kejadian yang dia sebabkan sebelumnya. Karena Rahmat lah, Raya mengalami kecelakaan itu. Itu yang dirasakan Rahmat selama ini.
Selain Rahmat, Wildan dan Anne pun suka mengunjungi Raya, meskipun tidak setiap hari.
Sedangkan kabar Rido dan Ilyas, seperti hilang ditelan bumi. Mereka mengasingkan diri dari keterpurukan dan rasa malu.
Bandung yang biasanya super dingin, tetapi pagi ini terasa hangat. Ayah dan Ibu masih seperti biasa, berkutat dengan aktivitas paginya. Ayah memanaskan mobil sebelum berangkat bekerja, ibu menyiapkan sarapan dan bekal makan siang. Sedangkan Fandi, kakak laki-laki Raya, sibuk dengan teleponnya menerima orderan catering.
Fandi seorang wirausahawan yang bergelut di dunia kuliner dan catering di Bandung. Fandi menyewa sebuah rumah untuk dijadikan kantornya yang dekat dari rumah agar lebih leluasa untuk bekerja.
Pukul enam tiga puluh, Ayah dan ibu berangkat bekerja. Ayah bekerja sebagai Dosen di salah satu Universitas Swasta di Bandung, sedangkan ibu sebagai guru di salah satu SD negeri di Bandung. Karena jarak dari rumah sedikit jauh, mengharuskan mereka berangkat lebih pagi.
Sedangkan Raya, masih tidur panjang di rumah sakit. Nampaknya, belum ada tanda untuk bangun dari komanya. Keluarganya pun sudah mengikhlaskan kondisi Raya, apabila dia sudah tak mampu bertahan.
Ayah dan ibu baru bisa mengunjungi saat akhir pekan, karena harus tetap bekerja untuk tetap memenuhi kebutuhan rumah sakit Raya.
Fandi pun sama, hanya sesekali mengunjungi adik manisnya. Fandi ikut membantu Ayah dan ibu untuk kebutuhan di rumah sakit. Lumayan fantastis harga untuk kebutuhan tersebut, bagi keluarga Raya. Mereka bukan orang yang kaya seperti Sultan, oleh karena itu mereka tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang.
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Hiruk pikuk di rumah sakit terasa sangat jelas, berbeda halnya di ruang perawatan Raya. Suasana hening menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar nafas halus dan suara detak mesin dari monitor.
"Arrrggghhh... " pekik Raya merasa kesakitan. Mata yang sudah tertidur lama itu terbuka perlahan. Terlintas di benaknya saat kecelakaan itu terjadi, dia pun mengingat kejadian naas itu
"Gue udah mati sepertinya. Tapi kenapa banyak orang mengelilingi gue begitu ya, " gumamnya heran. Raya mengedarkan pandangan ke segala arah. Terlihat jelas olehnya, beberapa orang memakai pakaian putih lusuh menatapnya penuh tanya.
"Eh, maaf kalau boleh tanya, gue dimana sekarang, apakah gue di neraka atau surga? " tanyanya kepada beberapa orang itu. Tidak ada jawaban dari mereka, Raya pun berusaha untuk bangun mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun beberapa kabel dan selang yang telah menempel pada tubuhnya sedikit tertarik sehingga menimbulkan kegaduhan.
Tiba-tiba monitor berdengung kencang dari ruangan itu. Alarm pun dengan spontan berbunyi pertanda terjadi sesuatu di ruangan pasien, sontak membuat para dokter dan perawat kaget akan hal itu.
"Ada keajaiban.. " teriak seorang perawat yang pertama melesat ke ruangan.
Beberapa dokter dan perawat lainnya bergegas menghampiri Raya yang sudah terbangun. Tersirat jelas raut wajah Raya kebingungan melihat banyak orang berdatangan.
' Gue kira udah mati, ternyata gue masih terdampar di bumi ini!! " Ucapnya dalam hati.
" Mbak Raya, sudah bangun. Alhamdulillah, suatu keajaiban dari Tuhan. Maha Besar Tuhan. " ucap haru dari seorang perawat paruh baya memeluk Raya. Perawat yang bernama Tina ini lah, yang beberapa bulan merawatnya dengan telaten. Tanpa disadari, perawat itu menitikkan air mata bahagia melihat Raya sudah bangun dari tidur panjang.
Masih dalam kebingungan, Raya hanya tersenyum saja tanpa berkata apapun.
"Jangan dulu bangun, tetap seperti itu saja. Saya akan memeriksa keadaan mbak Raya. " perintah seorang dokter yang memperhatikan gerakan Raya. Tanpa bersuara, Raya hanya mengangguk pelan tanda setuju.
"Ok, semuanya baik. Tanda vital sudah normal, jantung berfungsi dengan baik. Apakah ada keluhan mbak Raya? Pusing, mual atau sakit kepala? " tanya dokter antusias.
"Enggak ada dok, saya tidak ada keluhan. Tapi, kenapa ya badan saya agak lemas, dan kaki saya sepertinya berat untuk bergerak? " jawab Raya penuh tanya.
"Wajar saja mbak, kamu itu baru terbangun dari koma selama enam bulan. Jadi sangat wajar, apabila badan dan kakinya sedikit berat dan sulit untuk bergerak. Syukurlah kalau tidak ada keluhan apapun. Saya akan mengabarkan kabar gembira ini kepada keluarga mbak Raya. Nanti akan ada beberapa test tambahan ya mbak. Sekarang istirahat saja ya mbak. " jelas dokter dengan ramah.
"Baik dok, terima kasih. " ucap Raya dengan wajah yang masih terkejut. 'Gue koma selama enam bulan?! buset dah bisa gini hidup gue. ' Ratapnya dalam hati.
Para dokter dan perawat meninggalkan Raya sendiri di ruangan agar bisa beristirahat, dengan maksud membiarkan Raya merasa tenang.
Suara pintu menutup terdengar jelas di telinganya, namun kenapa masih banyak orang menemaninya, pikir Raya.
Semakin mendekat, semakin jelas mereka menatap Raya yang masih berpikir.
"Kalian siapa? Kalian mau apa?" tanyanya penasaran.
"Kamu bisa lihat kami? benar kamu memang bisa melihat kami? " bukan menjawabnya, si mahluk malah bertanya balik pada Raya.
"Iya, gue bisa lihat kalian. Kalian siapa? Kenapa tidak ikut pergi bersama dokter tadi? Gue mau merenung, gue pengen sendiri! " jawab Raya sekalian memberitahu ingin sendiri.
"Tidak! Kami tidak akan pergi sebelum kamu membantu kami. " perintahnya dengan tatapan yang tajam.
"Lu gila ya, gak denger apa?! Tadi gue disuruh istirahat, gue baru bangun dari koma. Gue gak mau diganggu. Pergi sana!! " teriak Raya kesal.
Raya pun tidak bisa beristirahat karena masih saja diganggu oleh para mahluk itu. Raya yang masih belum menyadari, masih beranggapan kalau mereka itu adalah manusia, dia berpikir kalau mereka adalah pasien yang sama seperti Raya.
Beberapa umpatan kasar terlontar dengan lantang dari mulut Raya. Namun para mahluk itu tidak perduli, mereka hanya ingin Raya membantunya sehingga tidak membiarkan Raya istirahat.
Ayah dan ibu mendengar di balik pintu sebelum masuk, terdengar suara Raya yang ketus seolah sedang berbincang dengan orang lain. Dengan cepat, Ayah membuka pintu ruangan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam.
Praakk....
"Raya.. Kamu sudah bangun, Nak? " tanya ayah, berjalan masuk ke dalam ruangan memeluk Raya. Ibu yang sedari tadi diam, memperhatikan sekeliling ruangan yang kosong.
"Ayah.. Ibu.. Raya kangen.. " isak Raya, menangis bahagia bertemu dengan orang tuanya.
"Iya sayang, ibu juga kangen.. " jawab Ibu ikut memeluk Raya.
"Wow.. Adik gue yang paling jahara ini sudah bangun, dahsyat. Hebat lu, bisa bertahan. " ucap Fandi memecah suasana. Raya pun menoleh dengan sebal, namun ada rasa kangen yang menyelimuti hatinya untuk bertemu dengan kakaknya itu.
"Sini, peluk gue.. " pinta Raya merengek manja.
"Kasian yang baru bangun, gue kasih hadiah pelukan hangat penuh cinta buat lu, dari kakakmu yang paling keren se Bandung Raya. " ucap Fandi memeluk erat Raya. Bahagia dengan sangat, akhirnya Raya sudah bertahan dan melewati masa yang tidak tentu arah itu.
Raya sangat bahagia masih bisa bertemu dengan keluarganya, rasa yang tidak bisa dipungkiri.
"Oh iya, tadi kamu ngobrol sama siapa, Ya? " tanya Ibu penasaran.
"Maksud Ibu, gimana? " jawab Raya bingung.
"Iya tadi, pas sebelum Ayah dan Ibu masuk, Ibu dengar kamu seperti lagi ngobrol. Memang tadi ada siapa di sini? " tanya Ibu.
"Oh iya lupa , tadi banyak yang datang mengunjungi Raya. Katanya mau minta tolong sama Raya. Tuh, mereka masih disitu kok berdiri di belakang Ibu. " tunjuk Raya memberitahu.
Ayah, ibu dan Fandi hanya diam mematung. Bagaimana tidak, mereka tidak melihat siapapun di belakang ibu. Hanya ada mereka berempat saja di ruangan tersebut.
"Loh, kenapa Ibu jadi diem. Kan tadi tanya, tuh mereka di sana. Di belakang Kak Fandi juga ada tuh, " beri tahunya polos, sambil menunjuk ke arah Fandi.
"Sebentar yah, Ayah akan panggilkan dokter. " Ayah segera melesat keluar ruangan.
"Dek, lu okay kan?! " tanya Fandi dengan gugup.
"Iyah dong, okay banget gue. Tadi juga dokter bilang, gue baik-baik aja kok, " jawab Raya percaya diri.
"Raya, disini hanya ada kita bertiga sekarang. Tadi kita berempat sama ayah. Raya tidak sedang halu kan?! " tanya Ibu hati-hati, sedikit bercanda.
"Enggak atuh Bu, masa Raya halu sih?! Raya yakin kok dengan mata dan penglihatan Raya, itu masih bisa terlihat kok. " Raya menunjuk ke segala arah memberi tahu posisi para mahluk itu.
Ibu dan Fandi menghela nafas lesu, antara takut dan bingung. Takut dengan keadaan Raya setelah kecelakaan, bingung apabila benar apa yang dilihat Raya. Berarti yang Raya lihat itu adalah mereka para mahluk tak kasat mata.
Ayah dan dokter sudah memasuki ruangan, dengan cekatan segera memeriksa Raya kembali.
Tidak ada hal yang aneh bahkan penglihatannya pun masih normal. Dokter menjelaskan, keadaan Raya sudah baik-baik saja, tinggal terapi untuk pemulihan fisiknya yang sudah lama tertidur.
Tidak lama, dokter pun pamit meninggalkan mereka.
"Ayah, kenapa panggil dokter lagi? Kan Raya udah bilang, baik-baik aja. " omel Raya kesal.
"Gak apa-apa, Ya. Ayah hanya pengen tahu aja langsung dari dokter, keadaan kamu. Kan biar Ayah dan Ibu tenang. " jawab Ayah menenangkan Raya.
"Heh, lu! Serius lu bisa lihat yang lain disini, selain kita?? " tanya Fandi penuh penekanan pada Raya.
"Fandiiiiiiii.... " pekik Ayah dan Ibu, melototi Fandi.
"Iyaaaaaaa.. Kan Fandi pengen tahu, siapa tahu dia beneran halu, ya kan?! " jawab Fandi membela diri, mengangkat bahu lebarnya.
"Serius Kak, sumpah, gue gak bohong. " jawab Raya dengan kesal, karena dianggap bohong.
"Loh, bentar, jadi kalian gak bisa lihat, apa yang gue lihat. Begitu?! Terus yang gue lihat itu, apaan dong? " tanya Raya yang menjadi bingung sendiri.
"Hantu kali.. " jawab Fandi.
"Fandiiiiiiii....... " Ayah dan Ibu kembali teriak pada Fandi. Ibu mencubit pinggangnya, mengingatkan agar tidak bicara sompral.
"Aww.. Sakit buuuuuuu... " keluh Fandi memegang pinggangnya.
"Makanya jangan ngomong sembarangan dong!! " ucap ayah membela Ibu.
"Hah, serius?! jadi mereka itu hantu, Kak? " seru Raya bergidik sendiri.
Ayah, Ibu dan Fandi tidak bisa menjelaskan apapun.
*****
Jangan lupa tapi love yah, selamat menikmati semoga berkenan. ❤