Bab 67

1603 Words
Ohio, Colombus (US) Begitu menyelesaikan jam belajarnya, satu-satunya hal yang sangat ingin Aurora lakukan adalah segera menghubungi ayahnya. Entah kenapa Aurora merasa jika ayahnya tengah menyembunyikan beban yang berat di dalam pikirannya. Aurora sangat mengenal ayahnya, pria itu tidak akan pernah mau membagi masalahnya dengan siapapun. Ia akan memilih untuk berdiam diri dan mencari jalan keluar sendirian. Alfred tipe orang yang begitu tertutup, bahkan kepada keluarganya sendiri. Ketika mereka masih tinggal bersama, Aurora sering melihat ayahnya menyelinap keluar rumah di tengah malam hanya untuk duduk sendirian di teras sambil menikmati secangkir teh. Alfred akan duduk tanpa melakukan apapun selama berjam-jam ketika ia sedang menghadapi sebuah masalah. Alfred sangat sibuk dengan pekerjaannya, begitu juga dengan ibunya. Mereka adalah pasangan yang serasi, tapi mereka tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk saling berbicara satu sama lain. Dari hubungan kedua orang tua kandungnya, Aurora jadi mengerti jika dalam sebuah hubungan, komunikasi adalah sebuah kunci utama yang harus terus dijaga sekalipun saat mereka tengah bertengkar satu sama lain. Ibunya terlalu sibuk untuk mendengarkan keluh kesah ayahnya, begitu juga sebaliknya. Mereka berdua saling berhenti peduli, mereka hilang dalam kesibukan masing-masing. Sejujurnya, hingga saat ini Aurora masih sering menyayangkan kehancuran rumah tangga orang tuanya. Memang benar jika Aurora sangat menyayangi Dalton dan ia juga bahagia karena bisa mengenal Charlotte, namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Aurora masih sering merindukan momen kebersamaan sebelum keluarganya hancur dan memiliki kehidupan masing-masing. “Hei, Princess.. kenapa kau terlihat gelisah?” Aurora berpapasan dengan Dalton ketika ia turun ke dapur untuk mengisi gelas yang biasanya ia letakkan di meja kamar sebelum ia berangkat tidur. Aurora sering merasa kehausan di malam hari, oleh sebab itu ia terbiasa untuk menyiapkan minuman sebelum tidur. “Aku.. aku hanya sedang memikirkan tentang pelajaran sekolah.” Aurora menjawab sambil tersenyum. Aurora yakin jika Dalton pasti sudah mendengar mengenai masalah kebocoran sistem regulasi matahari buatan yang ada di benua Asia. Sejak pulang dari Washington, D.C, hanya Dalton yang mau mendengar cerita Aurora mengenai New York dan Washington, D.C. Abigail seakan menghindar dari topik yang berhubungan dengan ayahnya, oleh sebab itu dia tidak pernah menanyakan sesuatu mengenai keadaannya saat sedang berada di New York maupun Washington, D.C. “Kau tidak pandai berbohong. Haruskah Daddy memaksamu untuk bercerita?” Tanya Dalton. Aurora juga bukan tipe orang yang suka membagikan kecemasannya. Aurora justru cenderung memendam perasaannya seorang diri karena dia sering merasa kesulitan saat sedang berusaha mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan. Namun kadang Aurora juga merasa lelah dengan dirinya sendiri, ia ingin membagikan kecemasan dan kegelisahannya kepada orang lain.. Namun, sama seperti yang sudah Aurora katakan sebelumnya, ia akan selalu merasa kesulitan. Satu-satunya orang yang selalu mengerti bagaimana perasaan Aurora adalah Dalton. Pria itu tahu jika Aurora sedang gelisah dan ingin memiliki teman bicara untuk menceritakan segala masalah yang membebani pikirannya. “Daddy pasti sudah mendengar mengenai kebocoran sistem regulasi di benua Asia..” “Ya, Daddy sudah mendengar mengenai berita itu. Apakah kau sudah menghubungi ayahmu? Dia pasti membutuhkan dukungan darimu. Sekalipun tidak ada masalah dengan proyek matahari buatan di benua Amerika, tapi menurut berita yang Daddy dengar, proyek tersebut saling berhubungan satu sama lain..” Aurora menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah membaca banyak informasi mengenai matahari buatan. Sekalipun dibangun di benua yang berbeda, proyek tersebut saling berhubungan satu sama lain. Jika ada proyek yang mengalami masalah, maka proyek yang berada di benua lain juga berpotensi untuk menghadapi masalah yang sama. “Aku sempat menghubunginya beberapa jam yang lalu. Ia mengatakan jika segalanya baik-baik saja, tapi aku bisa melihat dengan jelas jika ia sedang menyembunyikan sesuatu..” Aurora meletakkan gelas yang ia genggam ke atas meja. Dapur bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan pembicaraan, namun Aurora dan Dalton sama sekali tidak berniat untuk berpindah tempat. Oleh sebab itu Aurora mengambil inisiatif untuk menarik kursi yang ada di sisi kanan dapur, biasanya Aurora dan Dalton akan duduk di kursi itu ketika mereka sarapan di pagi hari. “Ternyata kau memiliki sifat yang sama dengan ayah kandungmu..” Dalton mendekati Aurora dan mengusap kepalanya dengan pelan. Aurora tersenyum singkat. Ada banyak orang yang sering memuji warna matanya yang terlihat begitu terang di bawah sinar matahari, juga rambut pirangnya yang tampak berkilauan setiap kali tertiup angin di musim panas. Aurora selalu merasa senang setiap kali ada orang yang memuji kemiripannya dengan ayahnya. Tapi Dalton melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Aurora sendiri baru menyadari jika ia memiliki banyak sifat yang mirip dengan ayahnya. “Apakah dia memiliki seseorang yang bisa membantunya untuk mendengarkan rasa cemasnya?” Tanya Dalton. Setelah perceraian, ibunya sama sekali tidak ingin mendengar, menyebut, dan membicarakan apapun yang berhubungan dengan ayahnya. Aurora merasa wajar dengan sifat ibunya, ia selalu mencoba mengerti dan memahami perasaan ibunya. Namun belakangan ini Aurora merasa jika ibunya terlalu berlebihan. Ketika tinggal di Washington, D.C selama beberapa minggu, Aurora bisa melihat dengan jelas jika ayahnya selalu tampak antusias saat Aurora mulai menceritakan mengenai keluarganya di Ohio. Alfred tidak pernah keberatan jika Aurora menceritakan mengenai Abigail dan Dalton, justru Alfred terlihat senang ketika Aurora mengatakan jika ia memiliki ayah tiri yang begitu baik. Namun Abigail tidak melakukan hal yang sama. Ibunya masih membenci Alfred sekalipun hubungan mereka telah berakhir sejak bertahun-tahun yang lalu. Mendengar pertanyaan yang Dalton ajukan membuat Aurora merasa terharu. Meskipun ibunya sama sekali tidak peduli mengenai keadaan ayahnya, Dalton ternyata melakukan hal yang berbeda. “Aku belum sempat bercerita tentang Charlotte.. Tapi jika Daddy bertemu dengannya, Daddy akan merasa jika Charlotte adalah wanita baik yang begitu tulus. Awalnya aku sangat tidak suka kepadanya, aku cukup sulit untuk menerima keberadaannya.. tapi Charlotte adalah wanita yang begitu sulit untuk dibenci..” “Charlotte.. apakah dia istri ayahmu?” Tanya Dalton. “Mereka tidak menikah.. dan kemungkinan besar mereka tidak akan menikah karena Charlotte adalah tipe wanita yang tidak terlalu mempermasalahkan mengenai status. Mereka sudah menjadi pasangan kekasih sejak dua tahun lalu, dan mereka tampak sangat serasi. Charlotte sangat mengerti mengenai pekerja, mimpi, dan juga harapan ayahku. Mereka saling mendukung satu sama lain sehingga hubungan mereka bisa berjalan dengan baik. Kurasa Charlotte memiliki sifat yang mirip seperti Daddy..” Aurora tersenyum ketika mengatakan kalimat terakhir. “Kurasa ia adalah seorang wanita mandiri yang begitu cantik..” Aurora menyipitkan matanya dan menatap Dalton dengan pandangan geli. “Bagaimana Daddy bisa tahu?” “Alfred selalu memiliki selera yang bagus mengenai wanita. Ia selalu dikelilingi orang wanita hebat yang begitu cantik. Kau dan ibumu adalah salah satu contohnya..” Aurora kembali tersenyum ketika mendengar jawaban asal yang dikatakan oleh Dalton. Sama seperti biasanya, Dalton selalu tahu bagaimana cara untuk mencairkan suasana. Awalnya Aurora merasa sangat khawatir dengan keadaan ayahnya, namun sekarang Aurora sudah lebih tenang dari sebelumnya. Aurora tahu jika seburuk apapun keadaan ayahnya saat ini, ia sama sekali tidak perlu khawatir karena di samping Alfred akan selalu ada Charlotte. Wanita itu bukan hanya menjadi pasangan yang baik, tapi dia juga akan memberikan dukungan yang terbaik untuk Alfred. Sulit untuk memahami kesibukan ayahnya, tapi Charlotte berhasil bertahan dengan pria itu selama dua tahun lamanya. Bahkan Charlotte bisa menerima masa lalu dan juga status Alfred sebagai seorang ayah. Charlotte menerima segalanya, dia juga menerima keberadaan Aurora dengan tangan terbuka. Bahkan wanita itu juga berusaha untuk mengerti dan memahami Aurora. “Charlotte pasti akan menenangkan ayahku. Dia wanita yang sangat baik.. kurasa aku tidak perlu merasa khawatir lagi..” Aurora tersenyum. *** Di hari kedua setelah beredar kabar mengenai kebocoran sistem regulasi matahari buatan di benua Asia, pemerintah mulai memberikan peringatan darurat mengenai kenaikan suhu yang kemungkinan juga akan dirasakan di beberapa wilayah Amerika. Peringatan yang diberikan oleh pemerintah membuat Aurora kembali ingat pada kejadian di akhir tahun lalu dimana ia terjebak di New York saat terjadi badai gelombang udara dingin. Jujur saja, hingga saat ini Aurora masih belum bisa melupakan pengalaman mengerikan yang ia dapatkan ketika terjebak di hotel yang ada di Manhattan. Saat itu udara dingin membekukan segalanya, bahkan Aurora merasa menggigil meskipun ia berada sangat dekat dengan perapian. “Karena peringatan yang diberikan oleh pemerintah, hari ini sekolah memutuskan untuk membatasi jam belajar siswa. Kalian diizinkan untuk pulang lebih awal demi meminimalisir terjadinya masalah yang tidak diinginkan.” Wali kelas yang biasanya menyampaikan pengumuman mengenai perlombaan dan juga jadwal ujian, kini ia memberikan pengumuman mengenai pembatasan jam belajar siswa. “Miss, apakah besok kami masih harus datang ke sekolah? Jika pemerintah memberlakukan pembatasan kegiatan, bukankah artinya kami harus tetap berada di rumah?” Tanya salah satu teman kelas Aurora. “Kalian masih harus mengikuti pelajaran. Besok pagi sekolah akan tetap berjalan normal, tapi jam pelajaran akan dipotong menjadi lebih singkat dari biasanya. Kegiatan di luar jam belajar tidak diizinkan oleh kepala sekolah, jadi kalian harus langsung pulang begitu jam pelajaran berakhir. Pihak keamanan sekolah akan melakukan pemeriksaan di beberapa tempat di sekitar sekolah, jika ada murid yang ketahuan tidak mematuhi peraturan, maka mereka akan mendapatkan hukuman langsung dari kepada sekolah. Oleh sebab itu, kalian dihimbau untuk langsung pulang begitu sekolah usai..” Aurora membereskan beberapa buku pelajaran yang memenuhi mejanya. Sekalipun merasa tidak senang dengan kebijakan baru yang dibuat oleh kepala sekolah, Aurora tetap harus mematuhi setiap peraturan yang sudah disampaikan oleh wali kelasnya. “Jika tidak ada pertanyaan lain, maka sekarang kalian diizinkan untuk keluar dari kelas.” Wali kelas kembali berbicara sambil berjalan meninggalkan kelas. Aurora menarik napasnya dengan pelan. Kali ini dia harus pulang sendirian karena Dalton jelas tidak akan bisa menjemputnya. Pria itu pasti sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Ya, Aurora sama sekali tidak pernah merasa keberatan jika ia harus pulang sendirian, namun ia tahu pasti jika ibunya akan marah karena Aurora memilih untuk pulang tanpa memberikan kabar kepada mereka. Kadang Aurora merasa jika orang tuanya terlalu overprotective kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD