Ohio, Colombus (US)
Kabar mengenai ledakan yang terjadi di sistem kendali matahari buatan di benua Asia semakin ramai dibicarakan. Hampir semua media masa memberitakan mengenai masalah tersebut sehingga semua orang ikut larut di dalam kepanikan karena takut akan terjadi bencana yang sama seperti beberapa bulan lalu. Masyarakat dibiarkan merasa panik dan gelisah tanpa ada kejelasan apapun dari pemerintah. Kabar terakhir yang Aurora dengar adalah keputusan pemerintah untuk tidak ikut campur mengenai permasalahan yang terjadi di Asia. Pemerintah Amerika tidak akan memberikan bantuan ataupun dukungan apapun karena mereka memilih untuk mengambil keputusan sendiri.
Aurora menyadari jika pemerintah mengambil keputusan yang sulit demi menjamin keamanan masyarakat. Benua Amerika memerlukan panas dari matahari buatan untuk menormalkan suhu udara, jika sistem kendali matahari buatan dimatikan, maka suhu udara akan semakin rendah. Aurora sendiri masih sering merasa ketakutan jika udara dingin mulai memasuki rumahnya. Trauma karena terjebak di dalam badai gelombang dingin ketika ia berada di Manhattan masih mengganggu pikiran Aurora hingga saat ini. Ia menyimpan semua ketakutan dan kecemasan yang ia rasakan seorang diri. Saat ini Aurora merasa sangat beruntung karena ada Victor di sampingnya, jika tanpa Victor, sepertinya Aurora tidak akan bisa bertahan.
“Kenapa kau mengikuti berita mengenai matahari buatan, Aurora? Berita itu akan membuatmu merasa ketakutan.” Abigail datang dan merampas remote televisi dari genggaman Aurora.
Abigail menekan beberapa tombol untuk mengganti saluran televisi, tapi seluruh stasiun televisi dengan menayangkan berita yang sama yaitu ledakan sistem kendali matahari buatan di Asia. Akhirnya Abigail memilih untuk mematikan saluran televisi.
Aurora menarik napasnya sambil memejamkan matanya. Bertahun-tahun hidup bersama dengan ibunya membuat Aurora hafal dengan sifat dan kebiasaan ibunya. Kadang Aurora merasa kesal karena Abigail terlalu menguasai keputusan di dalam hidup Aurora, tapi kadang Aurora merasa bersyukur karena memiliki ibu yang begitu peduli dengan keadaannya.
“Kita harus mengikuti berita itu, Mommy. Bagaimana jika ada informasi penting yang kita lewatkan?” Tanya Aurora.
Sejujurnya Aurora tidak perlu menonton televisi untuk mendapatkan informasi mengenai matahari buatan, seluruh artikel di internet juga sedang membicarakan hal yang sama. Proyek matahari buatan sedang menjadi trending topic di seluruh media sosial. Aurora jelas tidak bisa menghindari informasi tersebut.
“Tidak ada informasi yang penting. Semua ini hanya drama yang dibuat oleh pemerintah. Ledakan nuklir di Asia sudah cukup menimbulkan banyak kekacauan, sekarang kita tidak boleh terpengaruh dan mengikuti drama yang mereka buat..”
Aurora tidak habis pikir mengapa ibunya berpikir jika masalah tentang matahari buatan adalah sebuah drama. Ada banyak orang yang berencana untuk melakukan protes di halaman kantor Alfred karena ayahnya adalah penanggungjawab matahari buatan. Masyarakat merasa tidak setuju dengan keputusan yang Alfred buat, mematikan sistem kendali matahari buatan membuat suhu udara jadi semakin menurun. Rasanya cukup mengerikan jika mereka harus kembali berjuang dengan suhu udara yang begitu rendah hingga menyentuh titik beku.
“Aku pernah terjebak di dalam badai gelombang udara dingin. Apakah Mommy berpikir jika itu adalah drama?” Tanya Aurora.
“Kau terjebak dan berhasil selamat. Itu artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai badai tersebut. Sudahlah, Aurora.. tolong jangan membicarakan mengenai badai tersebut, Mommy merasa terganggu setiap kali mengingat kejadian yang tidak menyenangkan..”
Aurora menghembuskan napasnya dengan perlahan. Dia tidak bisa menentang pendapat ibunya karena wanita itu tidak akan terpengaruh dengan kalimat-kalimat panjang yang Aurora katakan. Tidak ada orang yang bisa mengubah pikiran ibunya selain wanita itu sendiri. Sepertinya lebih baik Aurora berdiam diri di dalam kamar dan berusaha untuk menghubungi ayahnya demi bisa mendapatkan kepastian mengenai pertemuan yang ia lakukan kemarin malam.
Jujur saja, hanya Alfred yang bisa Aurora percayai saat ini. Seluruh berita yang dimuat di internet maupun di saluran televisi adalah berita yang sudah diolah oleh para wartawan demi mendapatkan perhatian dari masyarakat. Aurora tidak bisa langsung mempercayai setiap informasi yang ia dapatkan, hanya Alfred saja yang bisa memberikan konfirmasi terpercaya mengenai berbagai berita yang beredar.
Sayangnya, Alfred juga sangat sulit untuk dihubungi karena pria itu sedang sibuk mengurus beberapa masalah yang terjadi di proyek matahari buatan. Aurora mengerti jika ayahnya tidak bisa meluangkan waktu untuk selalu menghubunginya, pria itu bahkan lupa pada keadaannya sendiri jika sedang sibuk mengurus suatu hal. Saat ini Aurora hanya bisa menghubungi Charlotte dan menanyakan mengenai keadaan di Washington, D.C kepada wanita itu.
Charlotte adalah seorang teman yang begitu mudah untuk dihubungi, bahkan sebelum Aurora menelepon, Charlotte sudah menghubunginya lebih dulu. Sepertinya bukan hanya Aurora saja yang merasa kesepian.
Sejak sekolah berhenti beroperasi setelah konfirmasi mengenai ledakan sistem pengendali matahari buatan di Asia, Aurora jadi tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan Victor. Sudah hampir 4 hari mereka tidak bertemu dan hanya berkomunikasi lewat panggilan video. Biasanya Aurora harus menunggu hingga tengah malam karena Victor sibuk dari pagi hingga malam untuk mengurus pekerjaannya. Jujur saja Aurora merasa senang karena bisnis makanan Victor berjalan dengan sangat lancar, tapi kadang Aurora merindukan saat dimana mereka bisa menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk melakukan panggilan video.
Keegoisan akan menghancurkan segalanya. Aurora tidak ingin membebani Victor dengan perasaannya, Aurora ingin memberikan dukungan terbaik kepada pria itu. Masa depan Victor adalah hal yang terpenting yang harus diperjuangkan dengan maksimal, tidak ada orang yang boleh mengganggu mimpi-mimpi Victor.
Aurora belajar banyak hal dari Charlotte. Wanita itu begitu memahami setiap mimpi dan cita-cita ayahnya yang kadang terasa begitu berlebihan. Charlotte selalu berusaha mengerti dan memberikan dukungan terbaik untuk setiap langkah yang diambil oleh ayahnya. Hasilnya? Mereka memiliki hubungan yang begitu baik. Mereka saling peduli, saling mengerti, dan saling memahami. Tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan pasangan, dan mereka selalu mencoba untuk saling membahagiakan satu sama lain.
“Aku tahu kau akan menghubungiku” Terdengar suara tawa Charlotte di akhir kalimat.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Aurora memilih untuk menghubungi Charlotte.
Belakangan ini Aurora selalu menghindari perdebatan dengan ibunya. Oleh sebab itu, ketika keadaan mulai terasa memanas, Aurora akan pergi ke kamarnya dan mencari kesibukan lain untuk mengalihkan kekesalannya. Aurora pernah merasa tersiksa karena sebuah penyesalan setelah ia bertengkar dengan ibunya, Aurora tidak ingin mengulangi hal yang sama. Seburuk apapun keadaan yang sedang terjadi, Aurora akan selalu berusaha untuk menghindari perdebatan.
“Kau seperti seorang cenayang..” Aurora ikut mengatakan lelucon.
“Ada apa? Kau terlihat tidak bersemangat..”
Aurora menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, ia juga memperbaiki posisi duduknya agar seluruh wajahnya bisa terlihat di kamera.
Melakukan panggilan video dengan Charlotte adalah hal yang cukup menyenangkan. Berbicara dengan wanita itu membuat Aurora merasa terhibur.
“Aku hanya mencemaskan keadaan Daddy..” Aurora menjawab dengan jujur.
Selama beberapa hari belakangan, Aurora menyimpan kecemasan karena ayahnya terlihat sedang tidak baik-baik saja. Berbagai berita miring mengenai ayahnya terus bermunculan di internet. Aurora tidak suka membaca berita yang mencoba menjatuhkan ayahnya, ia berusaha untuk menghindari berita tersebut, tapi saat ini media sedang ramai memperbincangkan permasalahan proyek matahari buatan, berita mengenai ayahnya tidak bisa Aurora hindari. Aurora juga tidak bisa mengungkapkan kecemasannya kepada siapapun, tidak kepada ayah dan ibunya, juga kepada Victor maupun Dalton. Aurora harus menyimpan segalanya seorang diri.
“Dia baik-baik saja, dia hanya sedikit sibuk. Beberapa masalah terjadi di sini, tapi kau tidak perlu khawatir. Kita mengenal ayahmu dengan baik, dia akan menangani semua masalah yang terjadi..”
Aurora melihat Charlotte bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Tampaknya wanita itu sedang sendirian di apartemen. Ayahnya pasti sangat sibuk di kantor sehingga ia tidak bisa pulang ke rumah padahal sekarang sudah hampir tengah malam.
“Aku mendapatkan banyak informasi mengenai keadaan di sana. Apakah benar ayahku mendapatkan tuntutan dari wakil presiden?”
Kadang Aurora bertanya-tanya kenapa ayahnya bisa begitu berani dalam mengambil keputusan. Pria itu mempertaruhkan segalanya, ia mengambil keputusan yang begitu beresiko. Jika salah dalam melangkah, Alfred bisa kehilangan karir dan pekerjaannya.
“Aku tidak bisa berbohong dan mengatakan jika itu adalah berita yang tidak benar. Kenyataannya, Alfred memang mendapatkan surat tuntutan sejak beberapa hari yang lalu. Tapi kau tidak perlu khawatir, sejak menghadiri rapat bersama dengan wakil presiden dan beberapa ilmuan yang berasal dari negara bagian lain, tampaknya surat tuntutan itu telah dicabut oleh wakil presiden..”
Aurora memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan pelan. Setidaknya ada satu masalah yang telah berhasil diselesaikan oleh ayahnya.
“Masih belum ada kejelasan apapun mengenai tuntutan tersebut. Namun menurut informasi yang kudengar, Alfred tidak mendapatkan surat panggilan dari pengadilan padahal seharusnya ia menjalani pemeriksaan beberapa hari yang lalu..”
Sekalipun masih belum pasti, Aurora bersyukur karena setidaknya ada kemungkinan jika tuntutan tersebut sudah dicabut oleh wakil presiden.
“Apakah Daddy tidak pernah pulang?” Tanya Aurora.
Hampir 4 hari berturut-turut Aurora menyaksikan jika Charlotte sendirian di apartemen. Sepertinya Alfred memang tidak pulang karena ia terlalu sibuk dengan urusan di kantornya. Beberapa bulan lalu saat Alfred sedang memimpin proyek pembangunan matahari buatan, pria itu juga sering menginap di kantor dan melupakan waktu istirahat. Aurora harap ayahnya tidak melakukan kebiasaan buruk yang bisa mempengaruhi kesehatannya. Bekerja keras adalah hal yang wajib dilakukan di tengah situasi seperti sekarang, tapi kesehatan adalah hal utama yang harus diperhatikan.
“Dia akan pulang begitu dia ingat. Jangan khawatir, aku selalu datang ke kantor untuk memastikan jam makannya. Aku akan mengurus dia dengan baik..”
Aurora kembali menganggukkan kepalanya. Ia percaya jika Charlotte akan mengurus ayahnya dengan baik. Wanita itu bisa memahami kesibukan Alfred, dia selalu mengerti setiap kali Alfred lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan dirinya, tapi Charlotte tidak akan pernah memaklumi sifat buruk Alfred yang selalu lupa jam makan dan istirahat. Aurora rasa Alfred sangat beruntung karena memiliki Charlotte di dalam hidupnya.