BAB 16

4792 Words
Raiga dan Yuna telah berhasil sampai di depan gerbang rumah Zapar, mereka lega, tapi, para penjaga yang menjaga rumah teman mereka terlalu banyak, membuat Raiga mual saking tidak pedulinya. Syukurnya, Yuna memiliki suatu cara untuk membuat mereka bisa masuk ke dalam kediaman Zapar. ☆☆☆ "Huh~ membosankan sekali," ucap seorang pria salah satu penjaga rumah Zapar yang sedang berdiri tegak di sisi sebelah kanan gerbang, dia terlihat lelah, buktinya, keringat manja telah mengucur ke lehernya seperti air terjun bidadari. "Andai saja dulu aku sekolah dengan benar, mungkin aku tidak akan berakhir menjadi seorang penjaga gerbang seperti ini, aku sangat menyesalinya." Temannya yang ada di sisi gerbang bagian kiri malah menertawakan nasibnya. "Hehehe, aku tidak sangka kalau kau ternyata memiliki masa lalu yang kelam, hehehe!" "Berisik kau!" "Tapi, itu benar, kan? Heheh!" "Padahal nasib kita sama, tapi mengapa kau berkata seolah-olah kau lebih baik dariku?" "Itu jelas, karena--" Tiba-tiba, Yuna datang di depan mereka, memotong pertengkaran para penjaga tampan itu, dia terlihat percaya diri sekali, membuat dua pria itu tidak mengerti apa yang membuat gadis mungil itu senyam-senyum sendiri. "Maaf?" ucap Yuna dengan nada yang super seksi. "Apakah kalian pria tulen?" Mendengar pertanyaan konyol Yuna, membuat muka para penjaga itu terkejut. "Tentu saja kami tulen, memangnya kenapa?" "Yah ... umm ... anu, aku ingin meminta sesuatu pada kalian," Semakin lama, nada Yuna yang menggoda membuat s**********n para penjaga itu bergetar. "Selama ini, aku ingin merasakan sensasi nikmatnya saat membuat ... bayi." "ARGH! JANGAN! HENTIKAN!" Mereka, para penjaga yang mendengar rengekan Yuna langsung pingsan serentak karena tidak tahan mendengar suara desahan gadis itu. Sementara Raiga sedang menunggu di balik pohon, dia sendiri sedang tidur dengan menampilkan pertunjukkan heboh di hidungnya, yaitu mengorok. Sadar aksinya membuahkan hasil, Yuna pun meloncat senang. "Akhirnya, aku berhasil menyingkirkan dinding penghalang rumah Zapar, kalau begitu, aku harus cepat-cepat beritahu Raiga sebelum para penjaga bangun kembali!" Yuna pun segera menemui Raiga, dia agak kesal melihat temannya malah enak-enakan ngorok di saat dirinya sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya di hadapan para penjaga. "Raiga! Raiga! Ayo bangun, kita harus cepat masuk ke dalam gerbang sebelum mereka sadar kembali!" Yuna menggoyang-goyangkan hidung Raiga agar temannya itu bangun, beruntung, lelaki berambut putih itu langsung membuka matanya dan menguap lebar. "Bagaimana?" tanya Raiga masih menguap. "Apa kau berhasil?" "Pokoknya! Kita harus cepat!" Yuna langsung menarik hidung Raiga dan berlari untuk masuk ke dalam gerbang. Mereka melewati para penjaga yang tergelepar tak bernyawa di permukaan tanah karena desahan Yuna. Raiga sendiri masih bingung mengapa Yuna bisa membuat para penjaga pingsan, tapi dia tidak peduli tentang itu, yang penting, intinya mereka telah berhasil melewati rintangan. Semoga saja tidak ada rintangan lagi yang menunggu mereka di depan. Setelah agak jauh dari keberadaan para penjaga, Yuna dan Raiga memelankan langkah mereka, kembali berjalan normal, hidung lelaki itu juga telah terbebas dari jepitan jari gadis berambut biru itu. Mereka sedang menginjak sebuah rumput hijau yang luas, banyak pepohonan menjulang tinggi di sekitar rumah Zapar. Raiga penasaran, mengapa Zapar tidak memberitahu padanya kalau dia itu putra dari Tuan Garelio? Bukankah Zapar memiliki sifat sombong? Tapi mengapa dia tidak menyombongkan kekayaannya pada mereka? ☆☆☆ "Mencari siapa?" Setelah sampai di depan pintu besar, mereka ditanyai oleh seorang pelayan wanita yang kebetulan membuka pintu untuk membuang pembalutnya yang bau bangkai. "Kami mencari teman kami, Zapar." jawab Yuna dengan sopan agar pelayan wanita itu dapat membantunya untuk masuk ke dalam rumah mewah milik Zapar. Jujur saja, Yuna sedari tadi tidak henti-hentinya mengagumi keindahan rumah ini, karena itulah, dia juga penasaran bagaimana tampilan bagian dalam dari rumah besar ini. "Oh, mencari Tuan Zapar, ya?" timpal pelayan itu dengan wajah datar. "Kurasa Tuan Zapar saat ini sedang berada di kamarnya, aku tidak tahu sedang apa dia, tapi banyak gosip mengatakan kalau dia sedang melakukan ritual di dalam kamarnya setiap saat." Yuna terkejut tidak paham, sementara Raiga hanya bisa memasang wajah lesunya seperti biasa. "Ri-Ritual? Apa maksud Anda seperti seorang malaikat yang mengabdikan dirinya kepada Yang Mulia dengan cara memotong bagian tubuhnya untuk dikorbankan, begitu?" duga Yuna dengan sedikit ngeri. Raiga tidak nyaman terus-terusan berdiri seperti ini, dia ingin cepat-cepat duduk di kursi, tapi sayangnya, Yuna bersama pelayan wanita itu sedang memperbincangkan sesuatu tentang Zapar. Tidak ada cara lain selain menunggu para wanita bodoh itu berbicara. "Kebanyakan orang menduga seperti itu, tapi, Tuan Zapar sama sekali tidak melakukan ritual semacam itu," ucap pelayan wanita itu dengan bisik-bisik. "Ritual yang kumaksud adalah kebiasaan seorang lelaki di saat hawa nafsunya sedang meledak-ledak, kau tahu maksudku, kan? Bahkan, Tuan Zapar melakukan itu sambil memandang gambar wanita telanjang, mengerikan bukan?" "MENJIJIKAN SEKALI! KAU ZAPAR!" Yuna menjerit hingga semua penghuni rumah terkaget mendengarnya. ☆☆☆ Karena Yuna menjerit seperti itu, pelayan wanita itu langsung kabur untuk membuang pembalutnya di tong sampah. Raiga akhirnya tersenyum. "Sudah selesai? Kalau begitu, bagaimana kalau kita ketuk pintunya untuk masuk?" "Menjijikan-menjijikan-menjijikan-menjijikan!" Sayang sekali, Yuna sedang berada di mode rusak, gadis itu malah berbaring di tanah dengan ibu jari digigit-gigit seperti seorang bayi. Pertanyaan Raiga sama sekali tidak terjawab, karena terpaksa, akhirnya dia sendiri yang mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! Membutuhkan waktu beberapa menit hingga akhirnya seseorang membuka pintu, menyambut Raiga dengan senyuman hangat. "Ah, terima kasih telah berkunjung ke rumahku, Nak Raiga." Tidak disangka-sangka, akhirnya Raiga dipersilakan duduk di rumah Zapar oleh seorang malaikat elit tingkat sembilan, yaitu Tuan Garelio. Sementara itu, Yuna ditinggalkan di depan pintu oleh Raiga karena pikiran gadis itu telah rusak oleh omongan pelayan wanita tadi. Raiga menjadi tamu pertama yang berkunjung ke rumah Tuan Garelio, bahkan dia dilayani sendiri oleh malaikat terkenal itu. Penampilan dari Tuan Garelio sangat glamour dan mewah, dia mengenakan sebuah jubah merah berbulu seperti seorang raja. Dia juga memakai sebuah mahkota di kepalanya, membuatnya semakin terlihat mirip seperti raja, bahkan sayapnya yang lebar dan bercahaya dikibaskan dengan mengagumkan. Jika dibandingkan dengan Claudio Geriz, malaikat elit tingkat sepuluh, Tuan Garelio lebih berwibawa dan bijaksana, terlihat sekali dari tatapannya yang tajam namun menghangatkan, cara berjalannya pun penuh dengan kegagahan seorang pria. Betul-betul jantan, pikir Raiga. "Jadi, apa yang membuat Nak Raiga berkunjung ke gubuk kecilku ini?" tanya Tuan Garelio dengan merendahkan diri. "Zapar," jawab Raiga dengan polos. "Aku ingin bertemu dengan Zapar." Tuan Garelio menganggukkan kepalanya. "Jadi alasannya karena ingin bertemu dengan Putraku Zapar, ya?" Kemudian, Tuan Garelio menghela napas. "Dia sudah kuusir dari rumah ini." Raiga terbelalak mendengarnya, dia tidak percaya kalau Tuan Garelio telah mengusir Zapar alias putranya sendiri. Tapi mengapa dia melakukan itu, apakah Zapar telah membuat kesalahan? Raiga terus bertanya-tanya dari dalam hati. "Bukankah, Pelayan Wanita yang tadi mengatakan bahwa Zapar sedang berada di dalam kamarnya? Dia juga bilang kalau Zapar sering melakukan sebuah ritual tertentu?" Tuan Garelio langsung tertawa mendengarnya. "Maksudmu, seorang wanita yang mengenakan baju pelayan yang menggenggam sebuah pembalut tadi, ya?" Raiga mengangguk sebagai respon. "Itu Istriku, bukan seorang pelayan atau apalah itu." Raiga semakin bingung. "I-Istri Anda? Tapi mengapa dia mengenakan pakaian pelayan dan menyebut Zapar ditambahi dengan 'Tuan'? Seperti seorang pelayan menyebut majikannya begitu, kenapa?" Lagi-lagi Tuan Garelio tertawa. "Hahaha! Itu jelas karena aku memperbudak Istriku sendiri, bahkan Zapar pun kuperlakukan seperti kecoa di rumah ini, tapi sayangnya, dia telah kuusir, jadi, perkataan Istriku itu bohong, Zapar tidak ada di kamarnya, melainkan di luar, entah di mananya aku tidak peduli." Raiga langsung menahan emosinya. "Ternyata dugaanku salah," ucap Raiga dengan bangkit dari kursi. "Kau lebih buruk dari Tuan Claudio, aku permisi." Karena marah, Raiga meninggalkan Tuan Garelio yang masih tersenyum menatapnya keluar dari pintu. "Dasar anak-anak." Tuan Garelio menggelengkan kepalanya. ☆☆☆ "APA!? ZA-ZAPAR DIUSIR!?" Yuna memekik setelah mendengar cerita singkat yang dikatakan Raiga, mereka masih ada di depan pintu rumah Zapar. "Ya, begitulah," jawab Raiga dengan malas. "Terus, apa yang harus kita lakukan?" Hidung Yuna kembang-kempis saking jengkelnya. "Tentu saja kita harus mencari Zapar! Ayo, Raiga!" Namun, Raiga menepis tangan Yuna yang akan menyentuhnya. "Aku tidak mau," jawah Raiga dengan santai. "Aku tidak mau mencari Zapar." "Raiga!?" Yuna terkejut mendengarnya. "Kenapa?" "Lebih bagus kalau kau membantuku untuk melenyapkan sumber masalah di rumah ini, Yuna." Yuna tidak mengerti. "Sumber masalah? Apa maksudmu?" "Tuan Garelio," kata Raiga dengan nada ditekan. "Dialah dalang dari semua ini, kita harus melenyapkannya." ☆☆☆ "Harganya 20 cahaya, Tuan." Saat ini, Zapar sedang berada di meja kasir, sedang mengocek kantongnya untuk membayar makanan yang baru dibelinya di supermarket itu. Setelah itu, dia keluar dari supermarket, berjalan-jalan santai dengan mengunyah keripik kentang yang baru dibelinya itu. "Sekarang, aku harus ke mana, kawan? Aku bingung." Karena melamun sambil berjalan, badan Zapar tidak sengaja menabrak seorang lelaki berambut pirang hingga jatuh. "Oh! Maaf-maaf, kawan!" Zapar langsung membantu lelaki itu untuk berdiri kembali. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." jawab lelaki itu dengan tersenyum walaupun dirinya membiarkan Zapar membantunya untuk berdiri. Setelah berdiri, lelaki pirang itu terkejut saat membaca nickname dikaos yang dikenakan Zapar. "Ka-Kau Zapar!?" pekik lelaki pirang itu. "Jadi, kau ya, malaikat yang membantu Raiga saat dia bertugas di Bumi?" Mendengarnya, Zapar mengangguk. "Benar, kawan!" Zapar tersenyum sombong. "Memangnya kau siapa hingga bisa mengenal Raiga?" "Aku Melios! Musuh Raiga!" Zapar terkaget mendengarnya. "Hmm? Benarkah itu?" Kuruga Fuuma Bolton, ayah kandung Raiga saat ini sedang berada di kediaman Claudio Geriz, malaikat elit tingkat sepuluh. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang berhubungan dengan aksi Raiga ketika bocah itu berada di Bumi. "Benar, awalnya, aku menilai Putramu sebagai malaikat gagal karena dari turunnya dia ke Bumi, sikap dan perilakunya sungguh tidak baik untuk dilakukan seorang malaikat. Tapi, setelah dia bersama teman-temannya menghadapi berbagai masalah, akhirnya aku menemukan sesuatu yang masih tergolong sebagai sifat asli dari seorang malaikat di dalam diri Putra Anda, Tuan Fuuma," ucap Claudio dengan tersenyum hangat, mereka berdua duduk di kursi emas yang saling berhadapan di ruang tamu yang megah. "Itu merupakan keberuntungan karena berkat hal itu, aku langsung mengubah penilaianku terhadap Putra Anda, begitu juga teman-temannya, yang hasilnya, mereka bertiga telah resmi kululuskan dari misi di Bumi tersebut, yah, walau terlihat agak memaksa, tapi kuharap, setelah semua itu, Putra Anda menjadi seorang malaikat yang bisa menegakkan kebenaran." Fuuma tersenyum mendengarnya, dia bangga putra kesayangannya dipuji-puji oleh Claudio yang salah satu dari malaikat elit, itu merupakan prestasi yang bagus untuk bocah seperti Raiga. Terakhir kali Fuuma bertemu dengan anaknya ketika Raiga masih bayi, setelah itu dia pergi untuk melaksanakan misi di Bumi, tapi, karena banyaknya masalah, dia pun tidak kembali lagi ke rumah hingga bertahun-tahun sampai lelaki itu lupa kalau anaknya sudah tumbuh dengan cepat. Setelah kepulangannya, dia terkejut melihat putranya sudah besar dan sangat tampan, itu merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang ayah. "Terima kasih atas pujiannya, Claudio," kata Fuuma dengan tersenyum hangat. "Selain menanyakan tentang Putraku, aku juga ingin bertanya sesuatu mengenai teman-temannya juga. Kudengar, saat berada di Bumi, Raiga berteman dengan seorang pemuda bernama Zapar? Apa itu benar?" Claudio mengangguk. "Ya, itu benar," Claudio pun kembali menjelaskan. "Berdasarkan pengamatanku, nama lengkap dari anak itu adalah Kuruga Zapar Bolton, tapi setelah kuselidiki kebenarannya, ternyata bukan itu nama aslinya. Nama asli dari pemuda itu ternyata adalah Turga Zapar Serro." Fuuma mengernyitkan alisnya, karena wajahnya mirip seperti Raiga, akhirnya, dia malah kelihatan seperti bocah itu dikala sedang penasaran begitu, tapi yang membedakan hanyalah jenggot dan kumis tipisnya saja. "Turga Zapar Serro?" ulang Fuuma dengan sedikit terkejut. "Bukankah itu adalah nama keluarga dari Garelio, malaikat yang pangkatnya ada selangkah di atasmu?" "Betul," balas Claudio. "Aku sendiri terkejut saat pertama kali menyadarinya, soalnya, Tuan Garelio tidak pernah menceritakan apa pun mengenai kondisi keluarganya, termasuk nama dari putranya sendiri, banyak sumber mengatakan kalau dia itu hidup sendirian, tapi rupanya itu hanya rumor belaka, kenyataannya, dia memiliki seorang istri dan juga anak lelaki." Fuuma semakin tidak mengerti mengapa Garelio menyembunyikan identitas keluarganya sendiri. Bukankah seorang malaikat elit harus mengatakan segalanya dengan jujur walau itu adalah aibnya sendiri. Semakin lama memikirkannya, semakin membuat kepalanya serasa pusing. "Bagaimana dengan yang satunya?" Claudio paham maksud dari pertanyaan Fuuma barusan. "Maksud Anda, Zelila Yuna Birikawa? Teman satunya dari Putra Anda?" Fuuma mengangguk sebagai respon, kemudian Claudio menjelaskan lagi mengenai Yuna. "Dari hasil pengamatanku, tidak ada yang spesial dari gadis itu, dia hanya seorang malaikat biasa yang hidupnya pun penuh dengan kebiasaan dari orang-orang biasa." Fuuma ingin sekali tertawa, tapi dia harus menahannya karena saat ini dia sedang berhadapan dengan salah satu malaikat elit yang disegani oleh masyarakat. "Jadi begitu, ya," ucap Fuuma sambil berdiri dari kursi. "Kalau begitu, sepertinya saya akan pulang saja, sepertinya malam ini Felis akan memasakan makanan kesukaanku, jadi aku ingin segera merasakannya, hahah!" Claudio pun ikut beranjak dari kursinya. "Aku mengerti. Kapan-kapan, Anda boleh datang ke rumahku lagi, Tuan Fuuma, itu pun jika Anda sedang ingin menanyakan sesuatu padaku." Setelah itu, Fuuma pun pulang, meninggalkan kediaman Claudio Geriz dengan terhormat. Di tengah perjalanan, Fuuma masih memikirkan tentang bocah bernama Zapar, entah perasaannya saja, atau dia memang penasaran pada hidup anak itu. ☆☆☆ Raiga kembali masuk ke dalam rumah Tuan Garelio, tapi kali ini, Yuna juga ikut bersamanya. Mereka sudah membuat keputusan bulat untuk menyelesaikan masalah yang ada di dalam keluarga ini, karena bagaimana pun, Tuan Garelio adalah salah satu anggota keluarga Zapar. Dan Zapar sendiri adalah teman mereka, karena itulah, satu-satunya jalan untuk membuat bocah itu kembali adalah menyelesaikan permasalahan yang dibuat oleh Tuan Garelio sendiri. "Kembali lagi bersama seorang gadis, sangat mengagumkan, rumahku jadi seperti tempat p*****r saja, ya?" sindir Tuan Garelio dengan nada bercanda. Yuna hampir meledak mendengar sindiran tajam itu, tapi untungnya, Raiga sudah bilang padanya bahwa dia harus bisa menahan emosinya karena perkataan dari Tuan Garelio selalu terdengar menyakitkan. "Aku kembali untuk menyelesaikan urusanku di sini," kata Raiga tanpa basa-basi. "Dan aku ingin bertanya sesuatu padamu, Tuan Garelio." Mengangkat sebelah alisnya, Tuan Garelio merasa penasaran. "Kuis lagi? Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu dengan baik, Nak Raiga." Raiga menghela napas, dia tidak duduk di kursi, masih berdiri bersama Yuna di hadapan Tuan Garelio. "Mengapa seorang Malaikat Elit tingkat sembilan seperti Anda melakukan hal keji pada keluarganya sendiri, atas dasar apa kau memperbudak Istrimu dan mengusir Putramu sendiri, Tuan Garelio?" Yuna sedikit kaget mendengar Raiga bertanya begitu, baru kali ini dia mendengar pertanyaan dari pemuda berambut perak dengan serius. Sepertinya, walau terlihat suka malas-malasan dan tidak punya gairah hidup, mungkin Raiga adalah orang yang jenius. Tapi itu hanya kemungkinan saja. "Tembakan yang sangat hebat," ucap Tuan Garelio dengan terkekeh. "Pertanyaanmu itu seperti suara tembakan dari pistol, mendengarnya saja sudah membuatku seolah-olah telah tewas tertembak peluru-peluru mematikan itu. Lupakan pengandaian konyol itu, baiklah, akan aku jawab pertanyaanmu, Nak Raiga. Pertama, mengapa aku, sebagai seorang Malaikat Elit melakukan hal keji pada keluargaku sendiri, jawabannya adalah 'mengapa aku harus menjawab pertanyaan dari bocah ingusan sepertimu?' Itulah jawabanku, bagaimana?" Raiga jadi kesal sekarang. "Tolong, jawab pertanyaanku dengan baik, Tuan Garelio," balas Raiga dengan nada yang malas. "Anggap saja ini termasuk ke dalam pelayanan masyarakat yang wajib dilakukan oleh malaikat elit sepertimu." "Pelayanan?" Tuan Garelio tertawa. "Apa-apaan itu? Kau membuatku sakit perut, Nak Raiga." "Sikap dan tingkahmu, aku membencinya!" Karena sudah tidak tahan, akhirnya Yuna bersuara dengan lantang, membuat Tuan Garelio dan Raiga memalingkan pandangannya pada gadis berambut biru itu. "Aku tidak pernah menduga kalau malaikat elit sepertimu memiliki sifat yang sangat buruk! Apa kau tidak sadar kalau saat ini kau adalah contoh bagi kami! Jika perilakumu buruk begitu, bagaimana aku mengambil sisi baiknya darimu! Wahai malaikat ke sembilan! Apakah kau sudah lupa mengenai upacara saat kau akan dilantik menjadi malaikat elit? Bukankah kau sudah berjanji di hadapan seluruh malaikat untuk melindungi, melayani, mengayomi, mempertahankan keadilan! Kebenaran! Dan kesejahteraan! Tapi mengapa! Mengapa kau bersikap buruk seperti ini! TUAN GARELIO!" Raiga dan Tuan Garelio tersentak mendengar pekikan Yuna yang meledak-ledak, emosi dari gadis itu sudah membakar tubuhnya, dia tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Yuna agak menyesal karena telah berani meneriaki seorang malaikat terhormat, tapi, untuk apa dia menghormati malaikat buruk seperti Tuan Garelio? Mungkin, ini baik untuk memperjuangkan haknya sebagai warga negara malaikat. Siapa pun pasti akan melakukan itu jika melihat seseorang yang seharusnya dihormati malah bersikap busuk begitu. Setidaknya, Yuna sedikit lega setelah melakukan itu. "Oho? Teriakan yang begitu indah, mendengarnya saja membuatku terenyuh, kau memang sangat cocok jika mengucapkan hal-hal yang berbau kebenaran," ucap Tuan Garelio dengan bangkit dari kursinya, sepertinya dia mulai serius sekarang. "Namun, aku tidak suka itu." Tiba-tiba, sebuah cahaya mengumpul di jari telunjuk Tuan Garelio, dan cahaya itu langsung melesat ke mulut Yuna sampai masuk ke dalam kerongkongannya. Semakin lama, cahaya itu menyinari tenggorokan Yuna hingga Raiga dapat melihat aliran darah yang ada di tubuh temannya itu, sampai akhirnya, cahaya itu meredup seketika. Tuan Garelio tersenyum. "Aku telah memberikannya cahaya hukuman pada mulutnya, cahaya itu akan membuatnya tidak bisa berbicara selamanya, satu-satunya cara untuk melepaskan cahaya itu dari mulutnya adalah bersujud padaku, memohon padaku, dan menjilati sepatuku. Jika dia mau melakukan itu semua, maka dengan senang hati aku akan membebaskan mulutnya itu dari hukuman, tapi, itu terserah padanya. Jujur saja, aku kurang suka memaksa orang." Raiga terkejut mendengarnya, lantas, dia langsung menepuk bahu Yuna dan bertanya dengan tergesa-gesa. "Apa itu benar? Yuna, cepatkah bicara! Aku harap itu bohong." Baru saja Yuna akan membalasnya, tapi ternyata tidak bisa, mulutnya tidak bisa terbuka, rapat seperti ditutupi selotip. Kalau begini terus, bagaimana Yuna melakukan kegiatan makan dan minum untuk mengisi energinya jika mulutnya saja tidak bisa dibuka? Yuna hanya menggeleng dengan wajah yang putus asa, seolah-olah, dia berkata 'ini sudah berakhir, aku tidak bisa berbicara' yang membuat muka Raiga semakin tidak percaya. "Tolong, buat dia bisa membuka mulutnya, Tuan Garelio!" "Oho? Permintaan macam apa itu?" Tuan Garelio berjalan mendekati Raiga, kemudian dia menatapnya. "Kau mau aku mengabulkan permintaanmu? Kalau begitu, kau saja yang bersujud padaku, memohon padaku, dan menjilati sepatuku, bagaimana?" Raiga mendecih mendengarnya. ☆☆☆ "Musuhnya Raiga?" Saat ini, Zapar dan Melios sedang bertatap muka di trotoar jalan, mereka melakukan itu di tengah banyaknya orang berlalu-lalang disekitarnya. "Ya, aku adalah musuhnya Raiga! Dan aku tidak suka padamu! Karena kau telah membantu Raiga dalam menjalani misi di Bumi! Karena itulah, kau sekarang jadi musuhku juga! Zapar!" "Wow, padahal kita belum minum kopi bersama, bergurau bersama, tapi kau langsung menganggapku musuh? Kau sangat lucu, kawan." ucap Zapar dengan tertawa renyah. "Sebaiknya, kau jangan memusuhi orang secepat itu, kawan. Kau kan masih belum tahu aku itu orangnya bagaimana? Mungkin kalau kita dekat, kita bisa jadi teman yang baik. Bukankah itu bagus, kawan?" "Berhentilah mengoceh! Aku jijik mendengar kau mengatakan hal-hal yang memuakkan itu! Zapar bodoh!" Melios malah semakin jengkel. "Dan apa itu? Kau membeli satu keripik kentang ke supermarket? Menyedihkan sekali! Kenapa kau tidak sekalian membeli sepuluh biji saja? Dasar memalukan! Kau pikir, supermarket itu warung pinggir jalan?" Zapar jadi berkedut kesal. "Haha! Aku setuju! Kau memang benar, seharusnya aku tidak membeli satu saja, ya? Tapi, apa boleh buat, lagi pula aku ke sana hanya ingin merasakan AC saja, kawan! Soalnya di luar sangat panas, kawan!" "Menyedihkan," Melios terlihat jijik. "Dasar gelandangan." BELEDAG! Sebuah pukulan berhasil mengenai pipi Melios hingga bocah pendek itu terlempar menabrak punggung orang lain, semua orang riuh melihatnya. "Ada apa ini?" "Pemuda itu memukul pemuda lain!" "Sepertinya akan ada pertarungan! Aku suka ini!" "Ayo kita lihat!" Karena aksi tersebut, banyak orang yang mengerubungi mereka sampai Zapar dan Melios berada di tengah-tengah penonton. "Kekerasan," Melios bangkit kembali dengan tubuh yang terluka karena tergores tanah. "Aku benci kekerasan!" Melios mengaktifkan sayapnya, kemudian dua buah sayap keluar dari punggungnya, membuat lelaki pendek itu terlihat mulia seperti seorang malaikat elit. Tidak mau kalah, Zapar pun memunculkan sebuah sayap yang besar, namun, warna sayapnya merah seperti rambutnya. Konon, banyak yang mengatakan kalau seorang malaikat memiliki sayap berwarna merah, maka dia adalah malaikat yang mencintai peperangan. Sedangkan malaikat yang memilik sayap berwarna putih adalah malaikat yang mencintai perdamaian. Tapi sayangnya, warna sayap Melios bukan putih atau pun merah, tapi berwarna abu-abu, yang menandakan kalau dia adalah seorang malaikat yang cengeng atau bisa dibilang, pengecut. "Kita mulai, kawan!" Dengan sayap merahnya, Zapar terbang melesat ke arah Melios dengan menyeringai, membuat semua orang menilai kalau orang jahatnya adalah Zapar. "Ak-aku siap!" Melios dengan gugup berusaha melindungi dirinya dengan melipat kedua sayap abu-abunya di seluruh tubuhnya. "Aku tidak akan kalah dari malaikat jahat sepertimu!" "Tolong, buat dia bisa membuka mulutnya, Tuan Garelio!" "Oho? Permintaan macam apa itu?" Tuan Garelio berjalan mendekati Raiga, kemudian dia menatapnya. "Kau mau aku mengabulkan permintaanmu? Kalau begitu, kau saja yang bersujud padaku, memohon padaku, dan menjilati sepatuku, bagaimana?" Raiga mendecih mendengarnya. Dia sudah kesal sekali melihat tingkah Tuan Garelio yang semakin memuakkan, tapi dia tidak punya pilihan selain melakukan hal itu. Raiga memang terkenal dengan ketidakpeduliannya, tapi, itu hanya berlaku untuk orang lain. Jika menyangkut teman, dia akan rela mengorbankan apa pun agar temannya selamat. Karena itulah, saat ini, kedua lututnya sudah siap untuk jatuh ke lantai. Setelah lutut-lututnya menyentuh daratan, dia juga bersiap mendaratkan telapak tangannya di lantai bersama keningnya juga, dia membungkuk secara perlahan-lahan. Tuan Garelio benar-benar senang sekali melihat orang bodoh yang ada di depannya, jujur saja, sebenarnya syarat yang dia kemukakakan hanyalah candaan semata, mau Yuna atau pun Raiga melakukan itu, tetap saja dia tidak akan mengembalikan kutukan yang telah mengenai mulut gadis berambut biru itu. Namun, dia bahagia karena ternyata, masih ada orang yang benar-benar t***l untuk melakukan hal itu, lihatlah, bahkan Raiga sudah hampir bersujud untuk menyelamatkan temannya. Ini akan menjadi hiburan yang menarik, pikir Tuan Garelio. Yuna tidak mau melihat Raiga melakukan tiga hal yang diucapkan Tuan Garelio untuk menyelamatkannya. Karena itulah, dia langsung mencengkram punggung Raiga saat kening lelaki itu akan menyentuh tanah untuk bersujud pada Tuan Garelio, Yuna menghentikan memontum itu dengan cengkramannya. Raiga terkejut, punggungnya tiba-tiba ditarik untuk kembali berdiri seperti semula, dia tidak mengerti mengapa Yuna melakukan ini. Tapi, Raiga membiarkan Yuna menariknya hingga berdiri dan menatap wajah temannya itu. Setelah benar-benar berdiri, Raiga memandang Yuna dengan kekecewaan. "Kenapa kau--" PLAK! Ucapan Raiga terpotong karena wajahnya langsung ditampar oleh Yuna hingga kepalanya beralih ke samping. Padahal dia belum mengatakan apa-apa, tapi mengapa Yuna marah kepadanya? 'Bodoh! Apa yang kau lakukan! Hah!? Mencoba untuk menyelamatkanku dengan melakukan hal konyol begitu? Aku tidak mau diselamatkan dengan cara begitu, bodoh' Ingin sekali Yuna berkata demikian, tapi sayangnya kemampuannya dalam berbicara telah lenyap hingga akhirnya dia hanya bisa melakukan tamparan pada pipi Raiga untuk mewakilkan perasaan kesalnya. Yuna tahu, Raiga tidak akan mengerti, tapi dia berharap, lelaki itu bisa cepat-cepat sadar untuk tidak melakukan persyaratan konyol yang dikatakan Tuan Garelio karena itu percuma saja. Yuna tahu kalau Tuan Garelio tidak akan melepaskan kutukan ini walaupun dia sendiri atau pun Raiga melakukan persyaratannya, karena malaikat elit ke sembilan hanya ingin bersenang-senang melihat orang bodoh bersujud, memohon, dan menjilati sepatunya. Sadar kalau pertunjukkan yang akan dia tonton dihancurkan oleh Yuna, Tuan Garelio sedikit marah. Dia menghela napas sebelum akhirnya memberikan peringatan kecil pada Yuna. "Kau terlalu membosankan, gadis mungil. Seharusnya kau biarkan Nak Raiga bersujud padaku, karena dia akan menyelamatkanmu, lho? Apa kau tidak ingin kutukan yang melekat di mulutmu lepas? Sungguh kemunafikan yang tidak termaafkan. Dengan begitu, aku akan menambah hukuman pada kalian, tapi sekarang, hanya untuk Nak Raiga saja." Yuna dan Raiga terbelalak melihat jari telunjuk Tuan Garelio bercahaya lagi, yang menandakan akan ada orang yang dihukum olehnya, mendengar apa yang diucapkan malaikat elit itu, lelaki berambut perak hanya bisa tersenyum pasrah. Raiga tahu, cepat atau lambat, dia juga pasti akan terkena kutukan, sama seperti Yuna. BLATS! "BODOH!" Raiga dengan spontan berteriak kasar karena cahaya yang baru saja akan melesat masuk ke dalam tubuhnya malah dihalangi oleh Yuna yang mendadak berdiri di hadapannya, membuat cahaya kutukan itu lagi-lagi masuk ke dalam mulut gadis itu. "ARGH!" Yuna tiba-tiba pingsan setelah dia menelan cahaya itu, dia ambruk dengan darah menetes-netes dari mulutnya membasahi lantai. Raiga langsung membungkuk dan menyentuh kepala Yuna, dia memandangi wajah gadis itu sampai beberapa saat, Tes. Tes. Air matanya jatuh, menetes-netes, membasahi leher Yuna yang sudah tidak sadarkan diri. Seumur hidupnya, Raiga tidak pernah menangis seperti ini, terakhir kali dia menangis saat dia mencoba menyelamatkan temannya yang akan jatuh ke jurang, tapi sayangnya dia gagal melakukan itu, karena lengannya tiba-tiba keram yang membuat dia melepaskan pegangan dari temannya yang masih bergantung padanya dan akhirnya jatuh ke dalam jurang, akibat kesalahannya. Itu sebabnya Raiga menangis, dia menyesali perbuatannya karena telah gagal menyelamatkan teman masa kecilnya, dan sekarang, dia menangis untuk pertama kalinya dalam masa-masa SMP ini. Menangis karena Yuna malah ceroboh untuk menyelamatkannya, membuat gadis itu terkena dua kutukan sekaligus di tubuhnya. "Kenapa kau menyelamatkanku, Yuna! Padahal, kau melarangku untuk bersujud karena aku tahu, kau pasti marah aku melakukan hal bodoh pada malaikat sialan itu! Tapi ... mengapa kau juga melakukan hal bodoh untukku! AKU MARAH PADAMU! YUNA!" Raiga sangat terpukul melihat Yuna pingsan di hadapannya, rasanya dia telah ditusuk oleh sebuah pedang dari belakang, benar-benar menyakitkan. Untuk yang kedua kalinya, dia memandang teman dekatnya jatuh ke dalam lubang keputusasaan. Raiga tidak mau mengingat masa kecilnya saat itu, tapi perbuatan Yuna sudah membuat dirinya teringat akan kesalahannya di masa lalu. Tuan Garelio tertawa, akhirnya, pertunjukkan yang dia impi-impikan telah terjadi di depannya. Seorang gadis yang rela berkorban untuk menyelamatkan temannya, dan seorang lelaki yang menangis penuh penyesalan karena memandang temannya ambruk di hadapannya. Tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari pada ini, pikir Tuan Garelio. "Hahahaha! Istimewa sekali, ini sangat istimewa bagiku, aku tidak habis pikir kalau akhirnya, saat ini, aku dapat menonton suatu pertunjukkan yang meriah! Dan penuh dengan unsur perjuangan! Aku jadi ingin menangis melihat drama kalian." ledek Tuan Garelio dengan menyeringai pada Raiga yang sedang berlutut menangisi Yuna. "Aku ... muak." Tidak tahan lagi, akhirnya Raiga tidak punya pilihan selain bertarung melawan malaikat b******k itu. "Oho? Rupanya peran utamanya akan membalaskan dendam pada bos terakhir? Hahah! Terdengar seperti film-film super hero, bukan? Menarik sekali! Hahah!" Tuan Garelio terkekeh-kekeh, ini adalah hari yang menyenangkan baginya. Dia sudah bosan menyiksa istri dan putranya, dan secara mengejutkan, dua orang sukarelawan berkunjung ke rumahnya untuk melenyapkan rasa bosan itu dengan memberikan pertunjukkan yang menarik padanya, sungguh, Tuan Garelio jadi ingin berterima kasih pada Raiga dan Yuna. BLATS! Sebuah sayap muncul di punggung Raiga, sayapnya berwarna biru, yang memandakan kalau dia saat ini sudah menjadi seorang malaikat pendendam. Raiga tidak peduli, dia hanya ingin meluapkan rasa kesalnya pada Tuan Garelio. "Kau membuatku muak, sialan!" Raiga langsung terbang kencang menuju Tuan Garelio, menyadari dirinya akan diserang, malaikat kesembilan itu langsung menghindarinya dengan perlahan, membuat tubuh Raiga malah tertabrak kursi tamu sampai dia terpelanting ke tembok. "Kau mau melawanku? Boleh-boleh saja," ucap Tuan Garelio dengan menyeringai. "Tapi sepertinya, kau tidak memiliki keahlian dalam melakukan bela diri, ya? Yang bisa kau lakukan hanyalah terbang, terbang, dan menerjang musuhmu, tidak ada gerakan-gerakan lain dalam menghadapi lawanmu. Kalau kau sedang menghadapi bocah seumuranmu, sih, mungkin kau bisa menang dengan bermodalkan gerakan-gerakan menyedihkan itu, tapi sadarlah, wahai anak muda, posisimu saat ini sedang melawanku, lho? Seorang malaikat elit tingkat ke sembilan yang tentunya lebih berpengalaman dalam menghadapi pertarungan antar malaikat." Mendengar hal itu membuat kuping Raiga panas, dia sudah muak dengan ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Tuan Garelio. Karena itulah, Raiga bangkit kembali, tidak mempedulikan tubuhnya yang terluka karena menabrak kursi-kursi tamu hingga terpental ke tembok, yang ada di pikirannya saat ini adalah, "Melenyapkan malaikat sialan yang telah melukai temanku!" ☆☆☆ BRAK!! Melios lagi-lagi terkena serangan dari Zapar sampai dia tidak mampu untuk bergerak, semua orang yang mengamati pertarungan itu tak henti-hentinya merinding karena tegang. "Tarik kembali ucapanmu, kau menyebutku seorang gelandangan, kan? Ayo! Tarik kembali ucapanmu itu! Kawan!" Zapar terus memaksa Melios untuk menarik ucapan itu agar dia menghentikan pertarungan ini, karena jujur saja, dari awal, dia merasa kalau perkelahian ini berat sebelah. Sayap milik Melios berwarna abu-abu, yang artinya, bocah itu merupakan seorang malaikat penakut, dan Zapar tahu itu. Dan semua penonton pun sudah bisa menebak alur dari pertarungan ini setelah melihat warna sayap dari kedua pemuda itu. Merah melawan abu-abu, sudah jelas siapa yang akan menang, bukan? "Tendang aku lagi! Pukul aku lagi! Teruslah! Teruslah lakukan hal itu padaku, karena aku tahu, malaikat bodoh sepertimu pasti dengan senang hati melakukannya!" pekik Melios di saat tubuhnya sudah tidak bisa berdiri lagi karena telah terkena bermacam-macam serangan sebelumnya, mukanya saja sudah babak belur, tapi dia masih saja punya keberanian untuk memprovokasi Zapar. "Kau ... sebenarnya, apa maumu, kawan!?" Zapar sudah tidak mau menyerang Melios, karena lawannya memang sudah tidak berdaya. "Apakah hanya karena aku ini temannya Raiga? Yang membuatmu berpikir kalau aku juga adalah musuhmu? Hey, Melios! Aku tidak akan ikut campur pada masalahmu dengan Raiga, aku bukan orang seperti itu, aku memang terkenal sebagai anak yang nakal dan sombong, tapi untuk urusan musuh-memusuhi, aku tidak ahli dalam hal itu, kawan! Terserah kau masih ingin menganggapku musuh atau apalah, yang jelas, detik ini, kau sudah tercatat menjadi teman baruku, kawan!" Setelah mengatakan itu, Zapar langsung terbang, meninggalkan Melios yang masih terkapar di sana dan gerombolan penonton. Saat berada di ketinggian, Zapar merenung sesaat. Wajahnya seperti sedang memikirkan masalah yang membebaninya. Entah masalah apa itu, yang jelas aku pun sebagai penulisnya hanya bisa bertanya-tanya. ☆☆☆ "Heheheh! Akhirnya, kau sedang berada di dalam masalah besar, Kuruga Raiga Bolton, aku tidak sabar menantikanmu mati di tangan malaikat berjiwa sombong itu, hehehe!" Sosok bayangan hitam yang ada di gerbang kediaman Zapar sedang terkekeh-kekeh mengamati pertarungan antara Raiga dan Tuan Garelio. "Eh? Kau siapa?" Tiba-tiba, Zapar muncul di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD