*** Kania benar-benar sudah merasa sangat putus asa. Tidak tahu bagaimana harus nelanjutkan hidup ke depannya. Anak yang sangat Kania sayangi kini sudah enyah dari dalam kandungannya, membuat demangat hidupnya benar-benar sudah hilang. Kania merasa dirinya mati, tidak akan pernah bisa melanjutkan hidup. Sekarang, Kania sudah berada di atas gedung rumah sakit. Angin kencang berhasil menyapa tubuh Kania. Air mata Kania lolos dengan kentara. Membasihi pipi yang tak pernah kering oleh air mata. Kania sudah memutuskan, mengakhiri hidup dengan melompat dari ketinggian ini, adalah pilihan paling baik. Kania sudah kehilangan akal sehatnya, tidak memikirka siapapun di sekitarnya. Sementara itu, Adrian berjalan pelan-pelan menghampiri Kania, sengaja tidak memanggil istrinya. Adrian tah

