17. Penantian Berujung Manis

1881 Words

Kania duduk di tepi ranjang, setelah semalaman mengurung diri bersama Adrian. Kania merasa malu untuk keluar rumah, entah mengapa rasanya sangat aneh untuk bergabung bersama mama dan papa mertuanya. Takut, jika mereka tidak sepenuhnya menerima bahwa ia sudah mengalami keguguran. Kania tiba-tiba saja kembali menangis, menyentuh perutnya yang sudah datar. Berkali-kali berusaha menerima takdir yang sudah singgah padanya, tapi tetap saja, luka itu tidak bisa sembuh dari hatinya. Semakin Kania berusaha melupakan, kejadian itu semakin berontak, bertolak belakang dengan keinginannya. "Kamu menangis lagi?" Adrian bertanya dengan ekspresi datar, lantas duduk di samping istrinya. Adrian menyentuh bahu Kania dengan lembut, mengusapnya dengan sangat pelan. "Aku kangen sama anak kita."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD