bc

Dosa Terakhir Sang Don Juan

book_age18+
227
FOLLOW
1.6K
READ
one-night stand
family
HE
fated
friends to lovers
pregnant
playboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
kicking
campus
city
friends with benefits
office lady
like
intro-logo
Blurb

( 21+ ONLY )

"Aku sudah mencicipi banyak bibir, tapi hanya milikmu yang terasa seperti hukuman mati yang paling aku inginkan. Jadi, jangan menangis... karena isakanmu justru membuatku ingin menghancurkanmu lebih dalam lagi."

“Jasson... h-hentikan... ini sakit!"

***

Jasson Nathanael Atmajaya— pria yang punya segalanya untuk menaklukkan dunia. Wajah rupawan, harta melimpah, dan reputasi sebagai penakluk wanita yang tak pernah gagal. Di mata publik, dia adalah sang Don Juan yang berganti pasangan semudah membalik telapak tangan. Namun, tak ada yang tahu rahasia terbesarnya—bahwa di balik sikap sombong itu, tak ada satu pun wanita yang benar-benar pernah menyentuh sisi terdalamnya.

Hingga takdir menemukannya dengan Hanami.

Hanami bukan kiriman musuh, bukan pula wanita yang ingin mencari muka. Dia hanyalah sebuah ketidaksengajaan yang membuat Jasson kehilangan kendali atas akal sehatnya.

Bagi Jasson, Hanami tidak pernah masuk radar wanita yang ingin ditaklukan. Gadis itu tidak memuja kehebatannya, justru menatapnya dengan luka yang membuat Jasson merasa telanjang.

Di tengah pelarian dan kejaran maut yang mengancam klan Atmajaya, Jasson terjebak dalam ruang sempit bersama Hanami. Di sana, ego Jasson runtuh. Gairah yang selama ini ia tekan di balik topeng playboy-nya meledak hebat. Bukan karena nafsu semata, tapi karena rasa ingin memiliki yang begitu merusak.

Jasson sadar, Hanami adalah dosa yang tak ingin ia hindari. Untuk pertama kalinya, sang Don Juan ingin menyerahkan segalanya—termasuk kesucian yang ia jaga dengan angkuh—hanya untuk satu malam yang abadi bersama gadis itu.

Di antara sisa-sisa pengkhianatan dan gairah yang menyesakkan, sang Don Juan harus memilih: Menyelamatkan kehormatan keluarganya, atau tenggelam selamanya dalam dosa terakhir bersama wanita yang paling dilarang untuk ia cintai?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Rasa Sakit Yang Nikmat
Kemenangan di lintasan balap malam itu berubah jadi neraka dalam hitungan menit. Jasson merasakan darahnya mendidih, bukan karena adrenalin, tapi karena racun yang diselipkan musuhnya ke dalam botol minumannya. Sialan. Pandangannya kabur, dunia berputar, dan satu-satunya yang ada di kepalanya adalah rasa haus yang sanggup membakar isi kepalanya. Ia tak sempat mencari hotel. Di sebuah jalan buntu yang gelap, Jasson menarik seorang gadis yang apesnya lewat di waktu yang salah masuk ke dalam mobil sportnya. Kabin mobil itu seketika berubah jadi menjadi sangat panas. Dengan kasar, dia menghimpit gadis di jok penumpang yang disetel rendah. "Tuan Jasson! Apa yang—lepas! Lepaskan saya!" jerit Hanami. Ia memukul d**a Jasson, mencoba mendorong tubuh besar yang terasa . Di sisa kesadarannya, Jasson melihat wajah gadis itu. Ia tersentak saat sadar jika mengenalinya. Dia adalah Hanami —sahabat sepupunya yang beberapa kali datang ke rumah. Jasson sempat sadar untuk sesaat, namun hasrat kembali menguasai dirinya. Persetan dengan dosa! "Diam, Hanami... atau aku akan menyakitimu lebih dari ini," geram Jasson. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman yang kotor. Jasson merangsek, menjamah kulit halus Hanami dengan tangan yang gemetar hebat namun posesif. Ia membungkam bibir Hanami dengan ciuman yang lebih mirip gigitan liar dan tidak terkendali. Di atas jok kulit yang panas, Jasson menuntaskan dahaganya dengan cara yang paling biadab. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa itu, mengabaikan rintihan Hanami yang pecah di sela-sela napasnya yang memburu. "Jangan! Hiks... Sakit, Jasson! Sakit!" rintih Hanami. Suaranya pecah saat ia merasakan dunia yang ia kenal hancur seketika. Tubuhnya melengkung kaku, jemari kakinya menekuk menahan perih yang amat sangat saat Jasson merampas paksa mahkota yang selama ini ia jaga. Jasson mengabaikan tangisan itu. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa. Hanya butuh satu jam bagi badai itu untuk sedikit mereda. Jasson tersentak mundur, napasnya masih pendek-pendek saat kesadarannya menghantam kembali. Ia tidak menunggu sampai pagi untuk merasa jijik pada dirinya sendiri. Jasson keluar dari mobil dengan gerakan kaku, berdiri di samping pintu yang terbuka. Rambutnya acak-acakan, kemejanya menggantung berantakan di bahu, memperlihatkan bekas cakaran di dadanya. Dengan tangan yang masih bergetar, ia merogoh saku, menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul di udara malam yang dingin, sangat kontras dengan hawa panas yang masih tertinggal di dalam mobil. Di dalam sana, Hanami meringkuk. Isakannya pelan namun menyayat, suaranya teredam oleh bunyi mesin mobil yang masih menyala. "Jangan menangis," ucap Jasson dingin, tanpa menoleh. Ia membuang abu rokoknya ke aspal dengan gerakan angkuh yang dipaksakan. "Anggap saja ini upacara pendewasaanmu. Dan aku adalah guru yang paling berhak melakukannya." “b******n!" teriak Hanami dengan suara yang gemetar tak karuan. Jasson melirik Hanami lewat kaca spion, rasa panas itu kembali merayap di bawah kulitnya. Sial. Obat itu belum sepenuhnya pergi. Jasson membuang rokoknya yang baru setengah habis, lalu menginjaknya hingga padam. Matanya kembali menggelap, menatap Hanami yang masih terisak dengan tatapan lapar yang belum tuntas. "Kau tahu, Hanami? Sepertinya satu kali tidak cukup untuk memadamkan api ini," bisik Jasson sambil kembali merangkak masuk ke dalam mobil. Ia tidak peduli seberapa b******k dirinya terlihat. "Bersiaplah, karena malam ini masih sangat panjang untuk kita berdua." Jasson kembali menarik Hanami ke dalam pelukannya, menutup pintu mobil dengan dentuman keras, dan menenggelamkan isakan gadis itu dalam dosa yang ia ulang secara sadar. Sudah terlanjur basah, biar basah sekalian. *** Dua bulan berlalu setelah malam berdosa itu, Jasson terlihat berdiri bersandar pada kap mobil sport hitamnya, memutar kunci di jari dengan gayanya yang biasa. Di sampingnya, Evelyn—dengan gaun mini yang memamerkan kaki jenjangnya terus merapat, mencoba mencuri perhatian sang Don juan yang malam ini tampak lebih banyak diam. "Jas, fokus dong! Kamu kan yang bakal pimpin start malam ini," rengek Evelyn sambil menyentuh lengan Jasson manja. Jasson hanya menyeringai tipis, tanpa menjawab apa pun. Belakangan ini ia memang berubah menjadi lebih pendiam. Ia yang biasanya setiap malam selalu sibuk menggoda wanita, balapan atau asyik chatingan untuk meminta pap buah d**a. Kini rasanya ia sama sekali tak berselera untuk melakukannya. Bahkan di rumah pun ia menjadi begitu hambar, entahlah ia selalu terbayang-bayang wajah kesakitan Hanami pada malam itu. Beberapa kali ia mencoba mencari gadis itu di kampusnya, atau sekadar lewat perumahan yang dulu menjadi saksi kebrutalannya. Jasson bukan ingin lari dari tanggungjawab, terakhir kali mereka bertemu saat Hanami datang bersama sepupuny, tetapi gadis itu justru enggan menatap apalagi berbicara padanya. Hal itu Jasson anggap, mungkin saja Hanami ingin melupakan malam panas yang telah mereka lalui. Lagipula tidak ada yang rugi bukan? Malam itu juga pertama baginya, untuk apa saling menyalahkan? Setidaknya itulah yang Jasson pikirkan. Namun, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat matanya menangkap siluet yang sangat asing di tengah kerumunan di depannya. Di antara gadis-gadis sirkuit yang berpakaian minim, berdiri seorang gadis dengan hoodie kebesaran dan tas kain yang didekap erat talinya. Hanami. "Jasson! Mau ke mana?" teriak Evelyn saat Jasson tiba-tiba menegakkan tubuh dan melangkah lebar, mengabaikan semua pasang mata yang menatapnya heran. Jasson tidak menghiraukan panggilan itu, ia segera mendekati Hanami. Seperti biasa, gadis itu hanya menunduk dan memegang tali tasnya dengan sangat erat. “Nyari aku?” tanya Jasson dibalas anggukan pelan oleh Hanami. Hanami hanya mengangguk pelan, jemarinya memutih karena mencengkeram tali tasnya terlalu kuat. Jasson sadar ini bukan tempat yang tepat. Ia melirik ke arah tribun yang gelap dan area belakang gedung teknis yang sepi. "Ikut aku," titah Jasson pendek. Ia membawa Hanami menjauh dari hingar-bingar musik dan deru mesin. Mereka berhenti di balik pilar beton gedung teknis yang remang-remang, di mana suara balapan hanya terdengar seperti dengungan jauh. Hening mendadak terasa mencekam. "Ada apa?" Jasson bertanya, mencoba tenang meski dadanya mulai berdegup tidak keruan. Matanya sejak tadi terus terpaku pada Hanami sampai akhirnya gadis itu mengangkat wajah, memperlihatkan matanya yang merah dan sembab. Firasat Jasson langsung tidak enak. “Ada apa dia tiba-tiba datang? Dan kenapa dia terlihat menyedihkan seperti ini," batin Jasson penuh tanya. "Aku..." suara Hanami tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya bersama sebuah kalimat yang meruntuhkan seluruh langit Jasson malam itu. "Aku hamil." Seketika, suara sorakan penonton dari arah lintasan terdengar seperti sesuatu yang mematikan di telinga Jasson. Pria itu terpaku, tangannya yang tadi hendak merogoh saku membeku di udara. “Bagaimana bisa? Bukankah hanya satu kali?” Bersambung~

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.1K
bc

Kali kedua

read
219.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook