Bab 2. “A-aku Hamil ..."

1114 Words
“Bagaimana bisa? Bukankah hanya satu kali?” Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibir Jasson diantara deru knalpot yang menggelegar, ia memandang mata Hanami mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, ia justru menemukan dosa yang mematikan. Hanami tidak langsung menjawab, ia justru mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya, test pack. Bukan hanya satu, tapi cukup banyak dan dilemparkan ke arah Jasson dengan kasar. “Kau pikir aku bohong untuk apa? Aku hamil, Jasson!" seru Hanami tak bisa menahan dirinya lagi. Jasson yang menerima itu gelagapan, ia mencoba menangkap salah satu dan seketika kedua matanya terbelalak lebar begitu mendapati dua garis merah yang sangat nyata. Dadanya tiba-tiba terasa dihantam sesuatu yang menyakitkan, ia melihat test pack lainnya lalu memandang ke arah Hanami. Jasson menarik napas panjang mencoba menguasai diri, menjambak rambutnya dengan kasar. “Hanami, ini tidak bercanda 'kan?" Sekali lagi Jasson bertanya, ia berharap jika semua ini mungkin prank. “Kau pikir aku punya banyak waktu untuk bercanda?" Tatapan Hanami jauh lebih tajam, air matanya sendiri terus mengalir tak ingin berhenti. “A-aku hamil ..." Ia kembali mengulangi kata yang seperti kutukan maut untuk Jasson. Untuk sepersekian detik Jasson mematung karena kebingungan, ia mengusap wajahnya kasar dan sesekali menjambak rambutnya. Ia jelas mustahil, mereka baru melakukan itu satu kali dan tanpa kesengajaan kenapa langsung hamil? “b*****t sekali, kenapa langsung hamil?" maki Jasson dalam hatinya. “Kita gugurkan." Ucapan itu tiba-tiba terdengar dengan tegas, Jasson membelalakkan matanya memandang Hanami yang sudah tampak putus asa. “Jangan gila, Hanami!" bentak Jasson, mencengkram kedua lengan wanita itu cukup kuat namun ia sadar itu salah sehingga langsung dilepaskan, ia memegangnya dengan lembut kali ini. “Dengarkan aku, ini ... terlalu mengejutkan. Mungkin saja ini salah 'kan? Kita bisa periksa ke Dokter besok," tutur Jasson lembut, berusaha menenangkan hati Hanami atau mungkin hatinya sendiri. Hanami tersenyum hambar, memandang Jasson dengan mata sayunya. “Bagaimana kalau hasilnya sama?" Mata Jasson terpejam singkat, pertanyaan itu sejujurnya tak bisa ia jawab sekarang. Bagaimana? Ia pun tak tahu, ia dan Hanami hanya sekadar mengenal. Tidak ada ikatan yang bisa dijadikan tumpuan, tetapi jika benar memang ada nyawa yang tumbuh di rahim wanita itu Jasson tetaplah orang yang paling berhak untuk bertanggungjawab. “Kita periksa dulu, tenangkan dirimu, ya. Aku—" “Bagaimana kalau hasilnya sama?" Hanami kembali mengulangi pertanyaan itu dan terus menatap Jasson sayu. Ia tahu, ini sangat lancang, ia tahu wanita seperti dirinya tidak akan pernah bisa masuk dalam lingkup kehidupan Jasson yang Hedon. Setidaknya, Hanami butuh jawaban. “Aku—" “Kak Jasson!” Suara Jasson tertahan di kerongkongan tatkala terdengar panggilan yang sangat familiar itu, matanya membesar begitu tahu sosok sepupunya—Meadow datang dengan tatapan penuh kecurigaan. Jasson terpaku sedetik, kemudian buru-buru menginjak tespack yang jatuh dan menendangnya ke sembarang arah. Demi menghindari kecurigaan lagi, ia langsung mendekati Meadow sebelum wanita itu sampai ke posisinya. “Astaga kau lagi, ada apa sampai ke sini?" seru Jasson pura-pura kesal menutupi kegelisahan dalam dirinya. Meadow mengernyit. “Aku dapat kabar kau akan balapan makanya aku datang, tapi kau ada di sini ...” Meadow semakin mengernyit saat melihat sahabat dekatnya juga ada di sana. “Kalian bersama?" Tatapan wanita itu berubah penuh kecurigaan. Jasson berdehem, melirik Hanami agar segera beranjak. Wanita itu menurut, mendekati Meadow setelah menghapus air matanya. Namun, Meadow sadar ada yang salah sehingga ia langsung mendorong Jasson dengan kasar. “Kau pasti mau menganggu Hanami 'kan?" tudingnya dengan tatapan lebih sebal lagi. “Stop ya, Jasson! Kalau mau main-main jangan sama sahabatku, ayo Hanami." Meadow meraih tangan Hanami lalu diajak beranjak karena ia sudah hafal tabiat sepupunya yang gemar mempermainkan wanita itu, tentunya ia tak ingin sahabat baiknya terkena jebakan manis dari Jasson meski masih berstatus sepupu. Hanami menurut namun matanya sempat saling pandang dengan Jasson, seolah dari tatapan mata itu sedang meletakan harapan di hadapan Jasson sepenuhnya. Jasson yang ditatap seperti itu dihantam perasaan yang membingungkan, kaget, panik sekaligus takut. Malam ini sepertinya malam kehancurannya telah tiba-tiba. *** Sepanjang malam Jasson tak bisa tidur dengan tenang, ia akhirnya memutuskan pergi membawa mobilnya menuju dimana sumber utama yang membuat kepalanya sangat pusing. Ia memarkirkan mobil sportnya di ujung gang perumahan Hamani, menyalakan rokok beberapa kali lalu dibuang begitu saja demi mengusir pening yang luar biasa. Jujur saja Jasson takut, ia memang seorang pemain wanita tetapi tak pernah sekali pun ia bermain melewati batas. Ia hanya pernah melakukan hal itu bersama Hanami, dan hanya Hanami. Namun, ia tidak menyangka jika ketidaksengajaan itu justru membawa sebuah petaka seperti ini. Hanya satu pertanyaan di benak Jasson saat ini, bagaimana dengan kedua orang tuanya? Wajah hangat Mamanya di rumah, Papanya? Apa mereka bisa menerima semua dosa ini? Pemikiran itu benar-benar membuat Jasson nyaris gila. Sepanjang malam ia tidak tidur sama sekali, duduk di dalam mobil sampai pagi menyingsing. Entah jam berapa pastinya sampai akhirnya sosok Hanami muncul, wanita itu sendiri terkaget-kaget mendapati Jasson berdiri di sana dengan penampilan yang berantakan. Mata merah, kemeja kusut dan rambut yang acak-acakan. Jasson menegakkan tubuhnya, mendekati Hanami dengan langkah tegasnya. “Naik," titah Jasson. “Aku mau kuliah," sahut Hanami lirih, enggan menatap mata Jasson. “Aku bilang naik, Hanami." Jasson mengulangi perintah itu lebih tegas namun bisa dengan suara lembut. “Aku akan membawamu ke dokter sekarang.” Hanami menggenggam tasnya semakin kuat dengan bibir yang digigit pertanda ketakutan merayap. Ia sadar akan status sosial mereka sehingga ia sengaja memberikan jarak tegas. “Kalau Tuan Jasson tidak percaya, aku—" “Ini bukan masalah percaya tidak percaya. Aku hanya ingin memastikan jika memang benar dia ada, dia dalam keadaan sehat," tukas Jasson dingin, wajahnya yang kelelahan itu sudah menggambarkan betapa dirinya menahan diri sekarang. Hanami masih diam tanpa ada niat bergerak, hal itu membuat amarah Jasson sampai diambang batasnya. Ia menarik lengan Hanami dengan cukup kuat lalu membawanya ke mobil cepat. ”Jasson, aku bilang mau kuliah!” sentak Hanami berusaha melawan, ia tidak ingin Jasson semena-mena lagi meski ia tahu kekuatannya tak akan bisa melawan pria ini. “Kita hanya periksa ke dokter, tidak memakan waktu lama. Jadi menurutlah sebelum kau tahu siapa aku sebenarnya!" Jasson balas menghardik dengan suara yang jauh lebih keras. Tubuh Hanami terjingkat karena terkejut luar biasa, matanya tanpa sadar langsung berkaca-kaca dan bibirnya gemetar. Jasson memejamkan mata sesaat, menyesali suaranya yang barusan meninggi. Ia tidak bermaksud membentak, dia hanya sedang ketakutan. “Hanami, tolong kali ini bekerjasamalah. Aku mungkin b******k, tapi aku tidak akan lari dari tanggungjawab. Jadi, kita periksa, ya?" bujuk Jasson, suaranya kembali melembut meski jantungnya berdegup tak karuan saat ini. Hanami mengangkat wajahnya, lagi-lagi menunjukkan mata sayu yang membuat Jasson seperti ditelanjangi habis-habisan. “Kau ingin tanggungjawab atau ingin membersihkan namamu, Tuan?” Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD