Bab 3. Arti Tanggungjawab

1206 Words
Di ruang pemeriksaan kandungan dengan sebuah layar monitor yang menunjukkan rekaman hitam putih, ada sebuah kantung kecil yang menjadi pusat perhatian Jasson saat ini. Pria yang biasanya selalu tenang itu tampak sangat tegang, matanya terpaku pada titik itu dan Hanami yang berbaring diam. “Usianya sudah 6 Minggu, detak jantungnya juga sudah bisa didengar. Saya akan meresepkan vitamin untuk istri Anda, Tuan. Semoga janinnya sehat-sehat ya.” Ucapan Dokter itu sangat lembut namun seperti lonceng kematian bagi Jasson. Ditambah setelahnya selembar foto hitam putih itu diserahkan ke tangannya beserta resep vitamin yang harus ditebus. Jasson merasa napasnya memburu tak karuan, ia bisa melihat sudut mata Hanami yang basah namun segera ditepis sesegera mungkin. “Sudah lihat hasilnya 'kan? Saya akan pulang," kata Hanami singkat, bangkit dari ranjang dan menyambar tasnya kembali. Jasson memejamkan matanya singkat, ia mencoba tersenyum pada Dokter yang baru saja memeriksa untuk menutupi kecanggungan dan mengucapkan basa-basi yang benar-benar basi. Ia kemudian melangkah dengan cepat, menahan tangan Hamani sebelum wanita itu melangkah lebih jauh. “Berhenti, Hanami. Ayo kita selesaikan masalah ini sekarang juga," ujar Jasson tegas, matanya yang merah semakin lelah karena kabar yang diterima luar biasa mengejutkan. Tatapan mata Hanami tak berubah, justru lebih dingin. “Masalah ini akan selesai kalau Tuan Jasson tutup mulut. Anda punya banyak uang 'kan? Berikan saja uangnya, saya akan menggugurkan anak ini." Amarah Jasson kembali hadir, ia ingin memaki namun masih bisa ditahan karena tahu Hanami sedang dalam keadaan yang tidak stabil. "Aku mungkin b******k, tapi aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri. Nyawa di rahimmu itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin menyebut diriku manusia. Jadi berhenti bertingkah bodoh, ayo ikut aku!" Dengan tarikan yang cukup kuat Jasson menarik pergelangan tangan Hanami. Tentu saja wanita itu meronta, Jasson tidak hilang akal. Ia segera merengkuh pinggang Hanami lebih posesif. “Sebaiknya kau diam atau aku bisa khilaf seperti dua bulan lalu," ancam Jasson pelan namun berhasil membuat Hanami yang keras kepala terdiam. Wanita itu menatap Jasson sangat tajam. “b******n!" Jasson hanya menarik sudut bibirnya tanpa mengatakan apa pun, segera membawa Hanami masuk ke mobil dengan cara paksa. Jujur saja Jasson belum punya rencana pasti, tetapi ia benar-benar tidak ingin lari dari tanggungjawab. Ia sadar ia telah membuat kesalahan, ia berdosa dan dosa itu telah menghadirkan nyawa baru di rahim Hanami. Ia siap jika memang pada akhirnya harus bertanggungjawab. Mobil itu akhirnya sampai tiba di kediaman Atmajaya, rumah megah yang terlihat sangat hangat. Namun, hari ini bagi Jasson tempat itu seperti tempat ekseskusi matinya. “Kenapa Anda membawa saya ke sini?" tanya Hanami dengan perasaan gugup, ia tidak mau punya banyak harapan. Mengangkat wajah pun tak berani karena ia sadar siapa pria di sampingnya. Putra kedua keluarga Atmajaya yang namanya sering keluar masuk media. Punya belasan koleksi pacar dan selalu menjadi raja di arena balapan. Punya keluarga cemara dan terpandang, akan sangat timpang rasanya jika pria seperti Jasson terlihat masalah dengan wanita jelata seperti dirinya. “Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Jasson menjawab acuh, melirik perut Hanami sekilas sebelum akhirnya turun dari mobil. Hanami sebenarnya enggan untuk turun namun Jasson jelas memaksa, pria itu merangkul bahu Hanami dan membimbingnya masuk ke dalam rumah. Hanami merasa sangat kecil sekali di rumah ini. “Duduk di sini dulu, jangan ke mana-mana sampai aku panggil," bisik Jasson tepat di samping telinga Hanami. Jasson tidak menunggu jawaban Hanami, pria itu melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sunyi itu. Kakaknya—Jourell memang sedang liburan bersama keluarga kecilnya di rumah Kakak ipar sehingga di rumah itu hanya ada Papa dan Mamanya. Ia melangkah dengan cukup berat, sempat terhenti saat melihat senyum ceria Mamanya yang berbagi cerita dengan Papanya di meja makan. “Jasson!" Serena—Mama Jasson yang sadar akan kehadiran putranya langsung berseru, kedua matanya membeliak mendapati Jasson pulang dengan penampilan yang sangat kusut itu. “Astaga! Kau dari mana saja? Tidak pulang, sekalinya pulang kayak gembel gini. Xander, lihat putramu!" adu Serena. “Balapan lagi? Kalah berapa?" Xander yang hafal tabiat putranya hanya menanggapinya santai. Namanya anak laki-laki, ya pasti seperti itu pikirnya. Jasson mengulum bibirnya, memaksakan senyum dan pura-pura tenang. Ia melangkah bergabung di meja makan, mengambil duduk di samping Mamanya. “Aku ... sebenarnya ingin memberikan kejutan," ucap Jasson pelan, penuh kehati-hatian. Menimbang bagaimana ia menjelaskan tentang kehamilan Hanami ini. “Kejutan? Siapa yang ulang tahun?" Serena mengernyit heran, melirik putranya dengan senyum tipis. “Jangan bilang baru jatuh? Minta ganti spare part mobil? Dasar!" tuding Serena seraya tertawa, lagi-lagi lebih hafal apa yang sering anaknya lakukan. “Hem, jika memang iya pantaslah wajahmu semurung itu. Ayolah Jasson, kapan kau berhenti bermain-main?" Xander ikut tersenyum tipis tanpa sadar badai yang sebenarnya dilalui anaknya ini. “Sebenarnya lebih dari itu ..." Jasson menarik napas panjang ketika kedua tatapan mata orang tuanya jatuh ke arahnya sepenuhnya. Dengan tangan yang gemetar, meletakkan sebuah foto hitam putih dimana nyawa baru telah hadir di sana. Xander dan Serena terpaku melihat foto itu, butuh beberapa detik mereka memahaminya lalu menatap Jasson dengan tatapan terkejut yang luar biasa. “Jasson!" Serena menatap putranya seraya menutup mulut, menggelengkan kepalanya berharap jika itu salah. Jasson menelan ludahnya gugup tanpa berani mengangkat wajah. “Hanami ... dia hamil anakku." Ucapan Jasson seperti sambaran petir di siang bolong yang mengejutkan. Serena tersentak syok, begitu pun Xander. Pria tua itu terdiam dengan kedua tangan mengepal. ”Hanami? Kalian ..." Serena tidak habis pikir, ia belum mencerna baik semua ini. Wajahnya pucat, panik hingga tangannya gemetar. “Ma, ini kecelakaan. Aku akan tanggungjawab, aku akan menikahinya," jelas Jasson langsung tanpa keraguan. “Coba ulangi." Xander yang diam angkat bicara, menatap Jasson dengan tatapan yang sangat tajam sekali. “Aku akan tanggungjawab, Pa. Aku akan menikahinya." “Ulangi lagi, Papa tidak dengar.” Suara Xander semakin berat, pun tatapan matanya yang jauh lebih tajam lagi. Jasson menelan ludahnya gugup, ia memberanikan diri menantang tatapan mata itu dan menjawab lugas. “Aku akan tanggungjawab, aku akan menikahinya. Aku akan—" Plak! Bukan jawaban yang Jasson dapatkan, melainkan tamparan keras yang membuatnya terjerembab ke belakang. Xander bangkit dari duduknya, tatapan matanya berubah gelap. “Xander! Apa yang kau lakukan!" Serena berteriak kaget, mencoba membantu Jasson namun Xander lebih dulu menarik tangannya kasar. “Sejak kapan Papa mengajarkanmu hal hina seperti ini, Jasson Atmajaya!" Xander berteriak sekeras-kerasnya tepat di depan wajah Jasson. “Kau berbicara tanggungjawab? Kenapa itu tidak pernah ada di otakmu sebelum kau melakukan perbuatan kotor ini!" Xander yang sudah terlalu murka kembali memberikan tamparan yang lebih keras dari sebelumnya. Kali ini berhasil membuat sudut bibir Jasson robek. “Xander sudah!" Serena mencoba memisahkan keduanya, memeluk Jasson yang meringis kesakitan. “Jangan berani membelanya, Serena! Anak ini tidak tahu diuntung, dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri!" “Pa!" Jasson mencoba memberikan pembelaan, bibirnya perih namun tak dihiraukan. “Aku tahu aku salah, berikan aku kesempatan untuk tanggungjawab." “Tanggungjawab?" Xander tertawa kecil, sedang menahan diri untuk tidak meludahi anaknya sendiri. “Lalukanlah, tapi jangan pernah memakai uangku apalagi namaku.” Xander mengambil kunci mobil sport Jasson dan dompet kulit yang tergeletak di meja, lalu melemparnya ke arah Serena. "Tinggalkan semuanya! Kunci, kartu kredit, semuanya! Pergi dari rumah ini sekarang juga!" bentak Xander. "Bawa wanita itu pergi dan jangan coba-coba kembali sebelum kau mengerti apa arti tanggungjawab!" Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD