Bab 6. Taruhan Nyawa

1998 Words
"HANAMI!" Suara Jasson menggelegar, ia menyentak tangannya dari selimut, berdiri dengan napas memburu. Matanya yang semula meredup lelah kini menyala-nyala oleh amarah yang pekat. "Memberikannya kepada orang lain?" Jasson mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang mengerikan. Ia melangkah mundur, menatap Hanami seolah wanita di depannya adalah orang asing yang paling kejam. "Kau pikir anak ini barang titipan yang bisa kau kembalikan kalau kau sudah bosan? Kau pikir aku seburuk itu sampai membiarkan darah dagingku sendiri dibuang?" "Jasson, dengar dulu—" "Jaga bicaramu!" potong Jasson cepat, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Hanami. "Kau boleh membenciku sampai mati, kau boleh mengutuk malam itu sesukamu. Tapi jangan pernah berani menyentuh harga diriku yang tersisa di dalam perutmu itu!" BRAKK! Jasson meluapkan emosinya dengan menendang kursi kayu di dekat meja makan hingga terjungkal ke lantai. Bunyi benturan keras itu membuat Hanami terlonjak dan menciut di balik selimutnya. Tanpa menoleh lagi, Jasson menyambar jaket kulitnya yang tergeletak di sofa. "Aku pergi. Jangan berani-berani keluar dari pintu ini kalau kau masih sayang nyawamu," ancam Jasson dingin. Ia membanting pintu apartemen dengan kekuatan penuh. Suara dentumannya bergema di koridor sunyi, meninggalkan Hanami yang mematung dengan jantung berdegup kencang. Hanami meremas perutnya yang kembali nyeri, bukan karena kram, tapi karena rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit paru-parunya. Ia tidak menyangka Jasson akan semurka itu. Jasson memacu motor besarnya membelah jalanan Jakarta yang mulai mendingin. Angin malam yang menembus jaket tidak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih. Ucapan Hanami tentang memberikan anak itu pada orang lain terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Baginya, anak itu adalah satu-satunya alasan kenapa dia masih berdiri tegak setelah harga dirinya dihancurkan oleh Xander. Dan Hanami dengan entengnya bicara soal membuangnya? Langkah kaki Jasson terasa berat saat memasuki area parkir sebuah lounge eksklusif yang merangkap bengkel modifikasi kelas atas. Tempat ini biasanya dipenuhi koleksi mobil mewah Jasson, tapi malam ini ia datang hanya dengan dua roda. "Jasson? Tumben amat bawa motor, Man? Ferrari lo masuk bengkel?" Kev—pria dengan gaya santai dan kemeja flanel yang kancingnya dibuka dua, menyapa sambil menyesap minumannya. Ia mengerutkan kening melihat motor besar Jasson dan wajah temannya yang sedikit babak belur. "Lagi pengen angin malam," jawab Jasson pendek, ia duduk di salah satu kursi tinggi samping Kevin. "Muka lo kenapa? Habis berantem sama siapa lagi?" Kevin terkekeh, tidak curiga sama sekali. Baginya, Jasson Atmajaya yang babak belur adalah hal biasa setelah balapan atau keributan kecil. Jasson diam sejenak, menatap gelas kosong di depan meja. "Kev, kalau gue mau cari kerjaan... menurut lo yang pas buat gue apa?" Kevin langsung tersedak minumannya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "Kerjaan? Lo bercanda? Bokap lo punya gedung di setiap sudut Jakarta, Jasson. Tinggal tunjuk satu divisi juga besok lo jadi manajer. Kenapa nanya ke gue?" Jasson hanya tersenyum kecut. "Gue pengen yang... nggak ada hubungannya sama bokap." "Wah, lo beneran lagi puber kedua ya? Pengen mandiri?" Kevin menyenggol bahu Jasson, masih menganggap itu guyonan. "Tapi serius, kalau lo butuh tantangan, ada anak baru dari Surabaya. Songongnya minta ampun. Dia baru dapet kiriman Porsche 911 Turbo S dan lagi nyari lawan di jalanan lingkar luar. Katanya anak Jakarta cemen semua." Sebelum Jasson sempat menjawab, sebuah aroma parfum niche yang sangat ia kenal menusuk hidungnya. Evelyn— pacar harian Jasson, wanita yang punya kelas dan selalu menemani Jasson kemana pun pria itu pergi. "Sayang! Kau di sini?" Evelyn langsung merangkul leher Jasson, tidak peduli pada keramaian. "Aku telpon nggak diangkat. Kenapa mukanya luka gini, Babe? Siapa yang berani?" Evelyn mengelus pipi Jasson dengan cemas, lalu tiba-tiba ia menarik tengkuk Jasson dan mendaratkan ciuman dalam di bibirnya. Ciuman yang biasanya akan dibalas Jasson dengan liar, tapi kali ini terasa hambar. Jasson justru teringat bibir Hanami yang bergetar menahan tangis. "Eve, stop," Jasson melepaskan pagutan itu dengan halus namun tegas. "Kenapa? Lagi nggak mood?" Evelyn merengut manja, sama sekali belum tahu kalau pria di depannya ini sudah tidak punya akses ke kartu infinite yang biasa memanjakannya. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang melengking masuk ke area parkir. Sebuah Porsche merah berhenti tepat di samping motor Jasson. Seorang pemuda turun dengan gaya pongah, melirik motor Jasson dengan pandangan menghina. "Ini yang kalian bilang Legenda Jakarta?" tanya pemuda itu sambil meludah ke samping. Kevin bersiul pelan, menatap Jasson. "Tuh, anaknya dateng. Dia nantang balapan motor lawan mobil. Gila sih, tapi taruhannya lumayan. 40 juta tunai buat siapa pun yang sampai duluan di garis finish tol dalam kota." Jasson menatap Porsche itu, lalu beralih ke dompetnya yang menipis. Bayangan Hanami yang tadi meminta dielus perutnya karena kram kembali terlintas. Ia butuh s**u kehamilan, vitamin, dan biaya persalinan nanti. "40 juta?" Jasson berdiri, suaranya dingin dan stabil. "Terlalu kecil buat lo?" ejek si pemuda Surabaya itu. "Enggak. Cukup buat beli harga diri lo yang sombong itu," jawab Jasson sambil memakai helmnya kembali. Evelyn menahan lengan Jasson. "Jasson, jangan! Bahaya balapan motor lawan mobil di jalan raya!" "Diem, Eve. Tunggu di sini," Jasson menepis tangan Evelyn. Kevin menggelengkan kepala, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang terlihat. "Lo serius, Jass? Motor vs Mobil itu berisiko, apalagi lo lagi nggak fit." "Gue butuh uangnya, Kev. Bukan tantangannya," bisik Jasson pelan, hampir tidak terdengar. Jasson menaiki motornya, menderu mesinnya hingga suaranya memekakkan telinga. Di balik kaca helm gelapnya, matanya menajam. Ia tidak sedang balapan untuk kesenangan lagi. Ia sedang balapan untuk mempertahankan rumah yang baru saja ia bangun dengan penebusan dosa. Jasson menarik gas motornya dalam-dalam, membiarkan raungan mesin Ducati-nya memecah keheningan malam di bawah flyover Casablanka. Di sampingnya, Porsche merah itu menderu, suaranya berat dan mengintimidasi. "Gila lo, Jass! Beneran mau naik ke atas?" teriak Kevin dari pinggir jalan, suaranya nyaris tenggelam oleh mesin. "Angin di JLNT lagi kencang, motor lo bisa melayang kalau nggak stabil!" Jasson tidak menjawab. Ia hanya menurunkan kaca helmnya. Pikirannya tidak di sini. Pikirannya tertinggal di apartemen studio itu, pada wajah pucat Hanami dan kram perut yang menyiksanya. Ia butuh 40 juta itu. Sekarang juga. "Satu... dua... TIGA!" Porsche itu melesat lebih dulu, ban mahalnya berdecit meninggalkan bekas hitam di aspal. Jasson menyusul, tubuhnya merunduk nyaris menempel pada tangki motor untuk membelah hambatan angin. Mereka mulai menanjak naik ke JLNT Casablanka, jalan layang panjang yang meliuk di atas gedung-gedung tinggi Jakarta. Angin malam menghantam tubuh Jasson dengan beringas. Motornya sempat sedikit goyang saat ia mencapai titik tertinggi jalan layang itu. Di depannya, Porsche merah itu bermain licin, menutup jalan Jasson setiap kali pria itu mencoba menyalip dari kiri atau kanan. "b*****t," maki Jasson di balik helm. Luka di bibirnya berdenyut nyeri terkena tekanan udara yang kencang, tapi Jasson justru semakin menambah kecepatan. Spidometernya sudah menyentuh angka yang membuat nyawa terasa murah. Di kejauhan, ia melihat deretan lampu mobil patroli polisi yang sedang berjaga di ujung jalan—target mereka adalah putar balik sebelum mencapai barikade itu. Jasson melihat celah sempit antara badan Porsche dan pagar pembatas jalan yang terbuat dari beton. Celah itu hanya selebar badan motornya. Jika ia meleset satu inci saja, ia akan menghantam beton dan terpental jatuh dari ketinggian puluhan meter. “Demi s**u, demi vitamin, demi Hanami," batin Jasson seolah itu adalah mantra sihir. Dengan gerakan impulsif yang gila, Jasson memiringkan motornya ke arah celah sempit itu. Ia bisa merasakan hawa panas dari mesin Porsche yang bergesekan nyaris mengenai kakinya. Suara gesekan logam sempat terdengar nyaring saat spion motornya menyenggol badan mobil. "GILA LO!" teriak pengemudi Porsche itu, suaranya samar tertutup angin, ia refleks menginjak rem karena kaget melihat nekatnya Jasson. Jasson berhasil! Ia melesat di depan, memimpin balapan dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia menarik rem tangan tepat di titik putar balik, membuat motornya melakukan drifting tajam yang membakar ban belakangnya. Porsche itu terlambat mengerem dan harus berputar lebih jauh, memberikan Jasson keunggulan mutlak. Raungan mesin motor Jasson perlahan mereda saat ia sampai di garis finish darurat—sebuah jalan buntu di bawah flyover. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan liar. Tak lama, Porsche merah itu menyusul dengan suara decitan rem yang frustrasi. Si pengemudi turun, wajahnya merah padam antara malu dan tak percaya. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan empat ikat uang pecahan seratus ribu yang masih terbungkus plastik bank. "Gila lo. Lo beneran mau mati tadi," gerutu pemuda itu sambil melempar uangnya ke arah Jasson. Jasson menangkapnya dengan satu tangan. Ia menatap tumpukan uang di tangannya. 40 juta. Bagi seorang Jasson Atmajaya, dulu uang segini hanyalah harga satu botol minuman di club atau biaya servis rutin Ferrarinya. Tapi sekarang, ia memegang uang itu dengan cengkeraman erat. Uang ini terasa jauh lebih berat dari jutaan rupiah yang pernah ia gesek lewat kartu kredit ayahnya. Ini uang pertama yang ia dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa—untuk membeli s**u, vitamin, dan masa depan bayi yang bahkan belum lahir. "Jasson!" Evelyn berlari mendekat, wajahnya yang cantik terlihat sangat cemas. Ia langsung memeluk lengan Jasson. "Kau gila ya? Kalau tadi motormu oleng sedikit aja gimana? Ayo, kita rayakan kemenanganmu. Aku sudah pesan meja di tempat biasa." Jasson melepaskan tangan Evelyn dengan gerakan dingin. Ia memasukkan uang itu ke dalam balik jaket kulitnya, menepuknya pelan untuk memastikan uang itu aman di sana. "Gue balik," ucap Jasson singkat. "Balik? Ke mana? Kita belum pesta, Jasson!" Evelyn menatapnya bingung. "Ayo, semua anak-anak nungguin kamu." "Nggak bisa. Ada orang di rumah yang nungguin gue," balas Jasson tanpa menoleh. Ekspresinya datar, tapi matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Ia tidak butuh sampanye, ia hanya ingin memastikan wanita keras kepala di apartemennya baik-baik saja. Sesampainya di Apartemen napas Jasson masih memburu dengan keringat di pelipis. Jasson melangkah masuk dan seketika membeku di ambang pintu. Lampu utama masih menyala terang, membiaskan cahaya pada Hanami yang duduk tegak di sofa. Wanita itu tidak tidur. Ia hanya diam, memeluk bantal erat-erat dengan pandangan yang kosong mengarah ke televisi yang mati. Ekspresinya menunjukkan kekesalan yang dipendam, namun ada guratan lega yang tersirat sangat tipis saat melihat sosok Jasson muncul. Seolah-olah bayi di dalam perutnya itu baru saja memberi izin bagi ibunya untuk tenang setelah melihat sang ayah pulang dengan selamat. Jasson mengerutkan kening, melepas jaket kulitnya, meletakkannya dengan rapi di sandaran kursi, lalu menaruh tumpukan uang 40 juta itu di atas meja makan tanpa suara. Ia sempat melirik jam yang menunjukkan pukul 2 pagi. "Kenapa belum tidur?" tanya Jasson parau. Ia berjalan mendekat, tapi berhenti dalam jarak dua meter. "Anaknya rewel lagi?" Hanami tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh, seolah Jasson hanyalah udara kosong yang lewat. "Kau pengen sesuatu? Mau makan apa?" Jasson mencoba lagi, suaranya terdengar sedikit lebih lembut meskipun sisa adrenalin balapan masih terasa di nadinya. "Atau perutmu masih sakit?" Tetap tidak ada jawaban. Hanami hanya menarik napas panjang, bangkit dari sofa dengan gerakan lambat, lalu berjalan menuju ranjang tanpa sepatah kata pun. Ia memunggungi Jasson, menarik selimut hingga ke pundak, dan memejamkan mata. Jasson mendengus pelan, setengah kesal tapi juga bingung. Ia merasa risih dengan bau aspal dan asap yang menempel di tubuhnya. Ia segera masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meluruhkan sisa ketegangan. Sepuluh menit kemudian, Jasson keluar dengan pakaian santai. Ia merebahkan diri di sofa, tapi matanya tetap tidak bisa terpejam. Ia menatap punggung Hanami yang masih kaku di atas ranjang. Akhirnya, dengan dengusan pelan, Jasson bangkit dan berjalan menuju sisi tempat tidur. "Geser sedikit," perintah Jasson rendah. Hanami tersentak, ia menoleh dengan mata membulat. "Kau bilang mau tidur di sofa!" "Sofanya sempit, punggungku bisa patah," dusta Jasson. "Lagi pula, anakku ini rewel sekali kalau aku jauh. Kau mau kram perut lagi?" Hanami ingin membantah, tapi saat Jasson naik ke atas ranjang dan masih menjaga batasan, Hanami merasakan kehangatan yang menjalar. Jasson membelakanginya, namun tangannya meraba ke belakang, mencari jemari Hanami yang dingin dan menggenggamnya erat di atas kasur. "Tidur, jangan banyak protes," gumam Jasson, suaranya berat karena kantuk. Hanami tertegun melihat tangan besar Jasson yang menggenggamnya. Genggaman yang kasar tapi terasa sangat melindungi. Perlahan, Hanami memejamkan mata, membiarkan ego mereka kalah oleh rasa lelah. Malam itu, di apartemen yang asing, Hanami akhirnya tertidur pulas dengan satu kesadaran pahit yang manis. Ternyata, dia memang butuh Jasson untuk sekadar bisa memejamkan mata. Bukan aku, tapi anak ini. Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD