Suara gesekan kartu terdengar cukup nyaring, setelahnya pintu besar itu terbuka memperlihatkan ruangan satu kotak yang cukup luas dengan perabotan yang lengkap. Hanami masuk mengikuti langkah Jasson yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
Langit di luar sudah menunjukkan warna jingga yang indah, pertanda akan masuk waktu malam. Tetapi kedua anak manusia yang tengah dihukum oleh semesta itu baru mendapatkan tempat tinggal. Itu saja setelah terjadi perdebatan alot antara keduanya, Hanami yang memang pada dasarnya hemat ingin menekan mengeluarkan tetapi Jasson si pangeran Atmajaya itu justru menolaknya mentah-mentah.
“Aku tidak mau anakku kepanasan dan tinggal di tempat nggak layak. Menurut saja, kalian tanggungjawabku sekarang."
Well, yang super menyebalkan sekarang Jasson selalu saja menggunakan anak sebagai bahan ancaman untuk Hanami.
“Nanti kau bisa tidur di ranjang, buat dirimu senyaman mungkin. Aku akan tidur di rumah temanku atau dimana pun, jangan pikirkan aku," ucap Jasson sambil menunjuk ranjang tak terlalu besar yang berada di sudut ruangan itu.
Ya, mereka sekarang ada di Apartemen dengan jenis studio yang sangat minimalis. Jasson masih punya uang untuk sekadar membayar sewa untuk satu bulan pertama. Jadi Apartemen itu terasa nyaman meski ruangannya terbatas. Satu petak yang berisi ranjang, sofa yang menghadap ke televisi, dapur minimalis dengan jendela besar yang membias seluruh ruangan. Ada juga satu kamar mandi.
Hanami yang sudah terlalu lelah tidak menanggapi apa yang Jasson katakan, ia lebih memilih membongkar koper kecilnya dan mengambil baju karena ia ingin mandi lalu tidur. Ia ingin lari dari kenyataan ini. Ia tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Jasson kedepannya, tapi hati kecilnya mengatakan jika memang ia harus ikut dengan pria ini.
Jasson sendiri tidak mengatakan apa pun, ia juga jauh lebih lelah karena sejak semalam belum tidur. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, memijit kepalanya yang kembali berdenyut. Sekarang ia harus memikirkan strategi bertahan hidup agar tidak menjadi gembel karena tidak punya uang.
***
Hanami tersentak bangun dari tidurnya, ia kaget saat merasakan tubuhnya sudah dibungkus oleh selimut. Matanya mengedar, melihat langit di luar sudah gelap, kemudian terdengar gemercik air dari kamar mandi. Hanami semakin kaget, ia buru-buru mengecek bajunya yang masih lengkap. Ia bernapas lega, sepertinya tidak terjadi apa pun. Dirinya terlalu lelah sampai tidak sadar kapan Jasson menyelimutinya.
Pintu kamar mandi terbuka menimbulkan suara berderit yang menarik perhatian Hanami. Terlihat Jasson keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggang, tubuhnya masih setengah basah dengan sisa air yang menetes dari rambutnya. Di dadanya tak bersih, melainkan ada tato naga besar yang menutupi hampir seluruh d**a bidang itu. Tato naga itu seperti hidup dan siap menyembur kapan saja.
Ingatkan Hanami melayang pada malam kelam itu, ketika tubuh itu mendekap dan menghancurkannya ke titik paling rendah.
Brengsek!
“Udah bangun?" Jasson melirik Hanami sekilas, melangkah menuju koper miliknya dan mengambil selembar pakaian ganti. “Tadinya mau keluar beli makanan, karena kau sudah bangun ayo keluar. Mau makan apa?" tanyanya tanpa menoleh.
“Enggak." Hanami menjawab tegas, tatapan matanya tampak kosong dengan bibir yang gemetar.
“Kau mau mati kelaparan?" Jasson akhirnya melirik wanita itu lagi. Meskipun polos dan pendiam, Hanami ini sangat keras kepala ternyata.
“Ehem, mungkin itu lebih baik daripada hidup dengan dosa kan?"
Jasson mendengus kesal, ia memakai bajunya dengan cepat. Hanami yang tadinya sudah kesal semakin kesal saja melihat tingkah Jasson yang main ganti baju. Ia buru-buru membuang muka.
“Tolong kondisikan diri Anda, Tuan Jasson! Di sini ada orang!" seru Hanami tegas, sengaja memberikan batasan pada pria itu.
“Nggak usah sok polos, kau sudah melihat dan merasakannya," jawab Jasson dengan entengnya, ia justru menyeringai sinis melihat tingkah Hanami itu. Sudah melihat, sudah hamil juga kenapa masih malu pikirnya? Hih, wanita itu tidak tahu saja kalau dirinya ini eksklusif hanya untuk Hanami.
Hanami mendengus dongkol, ia bangkit dari ranjang. Malam ini sepertinya ia pun harus mencari cara agar bisa keluar dari lingkaran setan ini. Namun, karena gerakannya terlalu mendadak perutnya tiba-tiba nyeri.
“Aduh!" teriak Hanami meringis.
Jasson yang tadinya sibuk dengan ponsel untuk pesan makanan langsung sigap, ia mendekati Hanami dengan raut wajah khawatirnya.
“Kenapa?"
Hanami meliriknya sekilas sembari terus memegang perut. “Kram, sssh ..." Rasa sakit itu kembali menyerang membuat ia meremas perutnya lebih kuat.
“Coba buat tiduran." Secara impulsif ia langsung menggendong Hanami, membantunya berbaring di ranjang lebih nyaman. Ia kemudian melirik wajah Hanami yang kesakitan dan terus memegang perutnya. “Kenapa? Mau aku panggilkan dokter?" Jasson bingung, ia ingin mengelus perut itu namun takut Hanami akan marah atau bagaimana.
Hanami menggeleng tapi masih menahan sakit, tak tahu kenapa ia pun tiba-tiba menarik tangan Jasson agar menyentuh perutnya.
“Di sini ... sakit," lirih Hanami.
Jasson sempat terkejut untuk sepersekian detik namun ia segera sadar, dengan penuh kehati-hatian ia mengelus lembut perut itu. Bangsatnya tangannya terasa gemetar entah karena apa, padahal hanya memegang perut.
“Elus, sakitnya lebih ke bawah." Hanami menarik tangan Jasson lebih erat, meminta pria itu mengelus perutnya lebih dalam lagi. Entah kenapa telapak tangan besar itu cukup nyaman dan membuat sakitnya sedikit mereda.
Jasson hanya diam melakukan apa yang wanita itu minta, mengelus perutnya dengan selembut mungkin. Tangan Hanami mencengkram pergelangan tangannya, wajah wanita itu menahan sakit yang tidak dibuat-buat. Pertanda memang bayi di dalam sana sedang melakukan protes keras.
“Masih mau keras kepala? Anakku protes ini karena ibunya banyak nolak kebaikan Ayahnya," celetuk Jasson asal, tapi tangannya masih terus mengelus perut Hanami.
Hanami yang sudah menahan sakit membuka matanya sebal. Tapi saat ia ingin protes perutnya kembali keram membuat ia mencengkram erat tangan Jasson.
“Semakin sakit? Kita ke Dokter saja."
“Tidak mau."
Jasson menghela napas panjang, ia bangkit sejenak mengambil ponsel lalu kembali mengelus perut Hanami. Ia membuka artikel, mencari apa penyebab perut ibu hamil tiba-tiba sakit.
Jasson mengernyitkan dahi, matanya fokus menatap layar ponsel sambil sesekali melirik perut Hanami yang masih ia elus dengan tangan satunya.
"Katanya... ini bisa jadi karena stres berlebih atau kontraksi palsu," gumam Jasson, suaranya terdengar jauh lebih rendah. Ia menatap Hanami yang masih memejamkan mata menahan sakit. "Istirahatlah. Jangan pikirkan apa pun dulu. Ada nyawa yang sedang kau bawa, Hanami. Jangan buat aku gila karena takut terjadi apa-apa pada kalian."
Hanami tertegun, melihat keseriusan di mata pria itu membuat pertahanan dirinya runtuh. Ia diam saja, membiarkan Jasson terus mengelus perutnya namun sesekali ia melirik wajah Jasson yang serius. Luka di sudut bibirnya terlihat sudah membiru, rambutnya acak-acakan karena belum disisir tapi ia tidak bisa memungkiri jika pria di sampingnya ini terlalu sempurna untuk diungkapkan dengan kata. Dari bagian wajahnya, bibir tipis dengan senyum manis yang sering tersungging itu menjadi penarik utama.
Mungkin sadar jika diperhatikan Jasson menoleh, sebelum pria itu bertatapan mata Hanami langsung membuang muka.
Jasson menarik sudut bibirnya sedikit. “Aku sudah memesan makanan, vitaminmu belum kau minum 'kan?”
”Hmm." Hanami hanya menjawab dengan gumamam lirih.
Satu jam kemudian, Jasson terlihat menyuapi Hanami makan. Seperti biasa, awalnya menolak tapi lama-lama mau. Sepertinya bayi di dalam kandungan Hanami benar-benar protes jika ia terlalu keras dengan Ayah si bayi. Keheningan mencekam namun Hanami berhasil menyelesaikan suapan demi suapan yang diberikan Jasson.
Namun, Jasson ternyata benar-benar orang yang sangat teliti. Selesai makan ia mengambil vitamin yang diresepkan Dokter, memastikan Hanami menelan vitamin itu dengan benar.
“Ini cukup untuk satu bulan, tadi aku juga baca artikel katanya harus disupport s**u kehamilan juga." Jasson berbicara, lebih ke dirinya sendiri seolah menulis jadwal yang harus ia kerjakan. “Besok sebelum kuliah kita beli susunya, sekarang istirahatlah." Dengan cekatan ia membantu Hanami menata bantalnya lagi, mendorong bahu wanita itu hingga berbaring.
Hanami cukup kaget dengan sikap impulsif itu, matanya membulat saat mendapati wajah Jasson yang dekat di depannya. Kedua mata mereka saling memandang namun dengan cepat Hanami melepaskan tangan Jasson dari lengannya.
“Jangan menghamburkan uang, kita akan hidup untuk sembilan bulan ke depan," ucapnya mengingatkan.
“Justru itu, dalam sembilan bulan kesehatanmu yang paling utama."
Hanami melirik Jasson lagi. “Ya, setelah itu kau bebas dari tanggungjawab dan aku bisa pergi."
“Pergi?" Jasson menyipitkan matanya, mencoba mencerna baik apa maksud wanita itu.
Hanami menarik napas panjang untuk mengurangi sesak yang menghimpit, tangannya mencengkram selimut cukup kuat sebelum menjawab lirih. “Aku punya mimpi, banyak hal yang ingin aku raih. Setelah anak ini lahir ... kau tetap akan tanggung jawab padanya 'kan?”
“Maksudmu kau akan pergi setelah anak ini lahir?" Rahang Jasson mengeras, kilatan emosi hadir di pelupuk matanya yang semula teduh.
“Menurutmu bagaimana? Bukankah lucu jika kita membesarkan anak tanpa status yang jelas? Setelah anak ini lahir kau bebas, kita bisa memberikannya kepada orang atau—"
“HANAMI!"
Bersambung~