“Dokter Kariiiin!” Karin menoleh mendengar suara cempreng yang sangat dikenalnya ini. “Astaga, Daisy. Kecilkan suaramu, ini rumah sakit,” bisiknya pada gadis itu. Daisy menyengir lebar dibuatnya, “Maaf. Eh, Dokter Karin. Kenalkan, ini teman baruku.” Gadis mungil itu tersenyum lebar sambil menarik seseorang di belakangnya. Karin yang baru menyadari keberadaan gadis cantik itu, menatapnya dengan ramah dan tersenyum manis. Sharon turut mengembangkan senyum membalasnya. “Karin,” ujarnya seraya menjulurkan tangan. Sharon menyambut uluran tangan itu dengan lembut, “Sharon.” Daisy yang melihat keduanya pun bertepuk tangan. “Yeay! Ayo kita makan bersama.” Daisy mengapit lengan keduanya. Tinggi Sharon yang nyaris sebanding dengan Karin, membuat bibir mungil Daisy mengerucut, sebal. Ia mera

