Berulang kali aku menghela napas sambil melakukan pekerjaanku. Aku menyesal, aku merasa sedih dan aku merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Aku mengingat kembali bagaimana kemarin aku diculik untuk ikut menjemput Pak Abi ke bandara dan aku malah anteng dicium olehnya ah itu belum parah karena ada yang lebih parah. Aku tidur di pangkuannya, maksudku kepalaku di pahanya. Bahkan aku baru bangun saat kami tiba di hotel Kediri. Aku yakin pasti terjadi sesuatu saat mataku terpejam. Tapi dianya hanya memberi senyum devilnya padaku dan itu cukup membuatku ketar-ketir. Bahkan dua orang lainnya juga hanya senyum-senyum entah seperti ada yang lucu bagi mereka. Aku masih bekerja seperti biasanya dan berusaha tidak melamun karena aku harus menunjukkan semangatku kalau aku mau tetap bekerja di resto. Aku

