Ch.6 — Masa SMP | Nakal Tapi Berprestasi

1198 Words
Dua Minggu Kemudian Seperti biasa, setiap Hari Senin aku pasti bangun kesiangan. Entah apa alasannya. Bangun kesiangan itu seolah sudah menjadi kebiasaan. Terlambat di Hari Senin sepertinya sudah mendarah daging dalam tubuhku. Dengan tergesa-gesa, aku berlari menuju kamar mandi untuk mandi. Tentu saja! Mau ngapain lagi? Memakai seragam seadanya. Memasang dasi secepat kilat dan sengaja tidak membawa topi. Kalau pakai topi sekolah nanti rambutku yang membahana bisa hancur berantakan. Lebih baik dimarahin dari pada rambutku harus rusak. Begitu tiba di sekolah, aku melihat Gerbang Sekolah sudah ditutup. Aku langsung memanggil Penjaga Sekolah di Pos. Penjaga itu namanya Pak Samsul. "Pak, bukain pintunya, dong, Pak!" pintaku sedikit merengek. Pak Samsul keluar dari Pos. Kemudian melangkah ke arahku dengan tatapan menyelidik. "Eh, Topa? Kamu terlambat lagi, ya? Kenapa setiap Hari Senin kamu datangnya selalu siang?" "Enggak tahu, Pak. Udah jadi kebiasaan kali. Buka gerbangnya cepetan, Pak. Nanti upacaranya keburu selesai," desakku. "Ya nggak bisa, lho, Topa. Saya 'kan sudah ditugaskan buat menjaga gerbang. Kalau ada anak yang kesiangan, saya ya enggak bisa bukain." "Gak apa-apa, Pak. Tenang aja. Bapak gak kasihan sama saya? Saya tiap Hari Senin kesiangan, lho. Tapi, saya masih mau datang ke sekolah. Masa nggak ada apresiasinya, Pak? Bapak gak ngehargain perjuangan saya?" "Ya bukan gitu, Anak Pinter. Tapi, setiap kamu kesiangan di Hari Senin, pasti kata-kata itu yang kamu ucapin. Saya udah bosen dengernya." "Masa sih, Pak? Emang iya?" Pak Samsul menggelengkan kepalanya lesu. "Yaudah, deh. Kalau kamu, saya udah gak aneh lagi." Pak Samsul pun mulai membukakan Gerbang Sekolah. "Hehe ... Makasih ya, Pak." Aku pun langsung melajukan motorku ke parkiran. Memarkirkan motorku dengan cepat lalu berlari menuju Lapangan Upacara. Kebetulan sedang berlangsung Sesi Pembina Upacara memberikan amanat. Yang jadi Pembina Upacara senin ini adalah Bu Eni, Guru Bahasa Indonesia. Bu Eni melihat kedatanganku yang berjalan di belakang barisan murid. "Hei! Itu siapa yang baru datang? Coba maju ke depan!" Nah, kan! Setiap Hari Senin pasti gini. Padahal harusnya siswa yang datang kesiangan tuh diapresiasi. Dihargai! Karena dia masih mau datang ke sekolah. Ngasih hukuman boleh, aku gak masalah dengan itu. Beneran. Tapi, yang aku permasalahin tuh yang kaya begini. Mempermalukan dengan kedok Mendisplinkan. Untung mentalku kuat. Jadi psikisku masih aman. Tekanan seperti ini masih bisa aku hadapi. Dengan rasa percaya diri dan langkah tegap, aku pun maju ke depan. Menghadap Pembina Upacara di hadapan semua orang. Aku memberi hormat kepada Pembina Upacara. Iseng aja, sih. "Berbalik! Menghadap ke sana!" Bu Eni menyuruhku untuk berdiri menghadap semua murid yang tengah mengikuti upacara. "Nah, lihat anak-anak! Seperti yang ibu katakan tadi, disiplin itu sangat penting! Jangankan untuk disiplin dalam hal lain, datang tepat waktu saja anak ini tidak mampu. Bagaimana mau disiplin dalam kegiatan sehari-hari?" Sok tahu, nih Bu Guru! Apa iya karena selalu terlambat datang ke sekolah, itu berarti gak disiplin dalam kehidupan sehari-hari? Dia, 'kan gak tahu aku di rumah kayak gimana? "Sekarang kamu ke pinggir lapangan! Selesai upacara jangan dulu masuk kelas! Paham!" Aku pun berjalan ke pinggir lapangan dan mengikuti upacara sampai selesai. Kalau kepanasan rambutku yang membahana ini jadi lepek gak ya? Itu sih yang aku pikirkan, bukan yang lain. Upacara pun sudah memasuki Sesi Akhir. Sekarang waktunya bagian pengumuman-pengumuman penting yang terjadi di SMP Citra seminggu ke belakang. Tiba-tiba, Pak Surya dan dua guru lainnya datang membawa tiga buah piala. Dua piala berukuran sedang dan satu piala berukuran besar. Besar sekali malah! Mewah dan mengkilat. Aku hanya menyunggingkan bibir sembari melihat kedatangan Pak Surya yang terus menatapku dengan senyum bangga seraya menggelengkan kepala. Terdengar riuh bising dari para murid yang membicarakan soal ketiga piala yang dibawa oleh Pak Surya. "Eh, itu pialanya besar banget yang di tengah?" "Piala apa, ya?" "Itu piala dari turnamen kemarin bukan, sih?" "Gak tau." "Iya kayaknya. Tapi, itu siapa yang dapat piala paling gede, ya?" "Kayaknya Kak Azel, deh. Atau Kak Putri?" "Keren banget bisa menang piala segede itu!" "Pasti juara satu itu mah. Fix!" "Kak Azel keren banget!" Aku hanya tertawa cekikikan mendengar ocehan mereka yang tidak tahu apa-apa. Sok tahu semuanya! Pak Surya mengambil microphone dan melangkah memasuki Lapangan Upacara. Dia mengatakan kata pembuka yang cukup singkat kemudian langsung pada intinya, yaitu memberikan apresiasi kepada para siswa yang sudah ikut mengharumkan nama sekolah dalam Ajang Turnamen Beladiri kemarin. "Azazel Pratama dari Kelas 3-D!" Si b******k Azel dari barisan kelas 3-D pun melangkah maju ke depan diiringi tepuk tangan dan sorak teriak dari para perempuan alay. "Sri Putri Utami dari Kelas 3-B!" Si Cewek Songong dari barisan kelas 3-B ikut melangkah ke depan diiringi riuh tepuk tangan dan teriakan dari semua orang. Para guru pun ikut memberi tepuk tangan. Beberapa ada yang mengambil gambarnya. Gak heran, sih. Perempuan songong itu juga salah satu anak paling berprestasi di sekolah ini. Dan yang terakhir, tentu saja! "Topa Mahendra dari Kelas 3-A!" Dengan langkah tegap dan percaya diri. Aku pun melangkah maju. Aku tidak berharap banyak, sih. Aku tidak terlalu peduli dengan sorak dan tepuk tangan orang lain. Aku tahu bagaimana pandangan mereka tentangku. "Yosh! Topa keren!" "Topa, aku fans kamu!" What? Ada ternyata. Aku langsung menoleh cepat ke arah suara barusan. Ah, Kamprett! Ternyata itu hanya kedua temanku, Reza dan Irvan. "Topa ayo Topa, semangat!" teriak Reza gak tahu malu. "Topa! Aku penggemarmu! Minta nomor w******p-nya dong." Irvan sama bobroknya. Rasa percaya diriku langsung hilang seketika. Kalian berdua bisa diam gak, Kamprett! Malu aku, woii! Pingin menghilang rasanya. Aku terus melangkah menghampiri Pak Surya sembari menahan malu. Kami bertiga berbaris menghadap semua murid, dengan senyum bangga di bibir kami tentunya. Aku tidak tahu mereka berdua tersenyum karena apa. Tapi alasanku tersenyum hanya satu, Uang Komisi! "Hehe ..." Satu per satu Piala dan Piagam Penghargaan diberikan kepada Kami bertiga untuk dilakukan pemotretan. Aku hanya tersenyum miring melihat ekspresi para siswa yang terkejut begitu melihat Azel dan Putri menerima piala berukuran sedang. Dan yang tersisa hanya aku dan piala yang super besar. Dengan senyum bangga, Pak Surya menyerahkan piala megah itu kepadaku. "Selamat, ya, Topa. Bapak udah yakin sih kamu pasti menang." "Makasih, Pak. Jangan lupa uang komisinya. Hehe ..." "Hish ... Kamu ini! Iya! Nanti juga dikasih." "Sip lah." Aku mengacungkan jempol pada Pak Surya. *** Upacara pun selesai. Semua murid sudah kembali ke kelasnya masing-masing dan ketiga piala tadi sudah dibawa ke Ruang Guru untuk dijadikan pajangan dalam lemari kaca. Aku kecewa, sih. Padahal aku ingin membawa piala itu ke rumah buat dijadiin gantungan kunci kamarku. Lumayan juga. Biar kalau lupa nyimpen, tinggal nyari pialanya. "Hehe ..." Begitu aku akan melangkahkan kakiku, keluar dari Lapangan Upacara, seseorang memanggilku dari belakang. Aku membalikan badanku dan terlihat Ibu Guru yang jadi Pembina Upacara tadi, Bu Eni, sedang melangkah ke arahku. "Mau ke mana kamu?" "Mau balik ke kelas, Bu." "Tadi di awal saya nyuruh apa? Setelah selesai upacara jangan kembali dulu ke kelas!" "Emang mau ngapain, sih, Bu? Kan di sini panas." "Karena kamu udah datang terlambat, kamu harus nyapu lapangan upacara sebagai hukuman kamu! Kalau sudah selesai, kamu boleh kembali ke kelas! Paham!" Aku hanya mendengus kesal. Menatap sinis kepergian Bu Eni. Setiap hari rasa benciku kepada sekolah ini semakin besar. Dan rasa ingin membangkangku semakin bergejolak. Lihat saja! Kalian pikir dengan hukuman seperti ini, aku bakal berubah, hah? Maaf saja, tapi itu tidak akan pernah terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD