BRAK!!
"ANJIR!!" Aku reflek terbangun dari tidurku karena terkejut dengan suara keras, seperti suara gebrakan meja. Aku mengangkat kepalaku yang awalnya aku telungkupkan. Memandang seseorang di depanku yang ternyata adalah Bu Yuli. Dia adalah seorang guru yang mengajar Matematika.
Aku mengucek mataku sesaat lalu kembali menatap Bu Yuli dengan lebih jelas. Dari wajahnya Bu Yuli terlihat sedang marah.
"Hehe ... Ada apa ya, Bu?" tanyaku tanpa rasa bersalah.
"Udah diingetin berkali—kali. Jangan tidur di kelas! Apalagi pas pelajaran saya! Kamu tuh bener—bener ya, Topa!" Bu Yuli menatapku tajam.
"Maaf, Bu. Ngantuk banget. Semalem abis begadang," ucapku beralasan.
Aku semalam tidur jam dua malam karena baru pulang dari tempat nongkrong. Biasalah anak muda.
"Bukan urusan saya. Saya gak peduli kamu mau begadang kek! Mau gak tidur kek! Intinya saya gak mau ada anak yang tidur pas pelajaran saya! Ngerti?!" tegas Bu Yuli.
"Ngerti, Bu. Ngerti."
Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan agar Bu Yuli gak bertambah marah.
"Awas kalau kamu tidur lagi! Ini bukan sekali dua kali ya, Topa. Kamu ini udah terkenal di sekolah, lho. Semua guru di SMP Citra udah ngecap kamu sebagai murid nakal. Kamu harusnya berubah!" kata Bu Yuli menasehati.
"Aku terkenal, Bu? Bagus, dong."
Bu Yuli menatapku datar tanpa ekspresi. "Iya bagus. Lebih bagus lagi kalau kamu gak ikut pelajaran saya. Mau Ibu keluarkan dari kelas?" tanya Bu Yuli dengan nada mengancam.
"Eh? Enggak, Bu. Enggak. Becanda doang tadi mah."
"Kalau gitu, fokus! Perhatiin kalau saya lagi nerangin."
Bu Yuli lagi marah-marah aja cantik banget. Tapi, sayangnya dia galak. Bukan galak sih, lebih ke tegas.
Aku mengangkat tangan. "Bu, izin ke toilet boleh?"
Bu Yuli menatapku sinis. Kemudian menghela napas kasar. "Yaudah sana!"
"Makasih, Bu."
Aku beranjak dari tempat duduk. Keluar dari kelas dan berjalan menuju toilet.
"Ah ... Segar."
Setelah selesai dari toilet, aku pun berniat mampir dulu ke Kantin Sekolah untuk membeli sesuatu. Dari pagi perutku keroncongan sekali.
Mampir dulu sebentar gak apa-apa kali ya? Kalau ketahuan, tinggal bilang aja lapar, di rumah belum makan sama sekali. Pasti di maklumin. "Hehe ...."
Aku pun tiba di Kantin Sekolah. Keadaan di sini sangat sepi karena belum memasuki waktu istirahat.
"Wuih ... Kalau sepi kaya gini 'kan enak."
Tidak jauh di depan, aku melihat seorang perempuan yang sedang membersihkan meja dan merapikan kursi. Aku menghampiri perempuan itu.
Dia menoleh karena mendengar langkah kakiku. Perempuan itu tersenyum ramah padaku. Aku membalasnya dengan senyum tipis. Canggung soalnya.
"Kakak kerja di sini?" tanyaku berbasa—basi.
"Eh? Bukan. Aku enggak kerja di sini. Aku cuma bantuin ibu," jawabnya.
"Bi Narsih maksudnya?"
"Iya."
"Kakak anaknya?"
"Iya. Hehe ...."
Aku cukup terkejut mengetahui kakak itu adalah anaknya Bibi Narsih. Aku gak pernah lihat dia sebelumnya. Ini pertama kalinya aku melihat dia di sekolah ini.
"Eh? Sebentar, bukannya ini belum jam istirahat, ya? Kok kamu keluyuran di luar?" tanya dia dengan tatapan heran.
"Keluyuran? Mana ada! Aku ini murid cerdas, Kak. Jadi, aku sama guru dibolehin keluar dari kelas kapanpun. Gitu!" jawabku ngada—ngada.
"Oh, gitu ya." Dia hanya mengangguk paham. Polos banget kakak ini.
"Aku pesen makanan dulu, Kak."
"Eh, iya. Silahkan." Kakak itu kembali tersenyum ramah.
Aku melangkah menghampiri Bi Narsih untuk memesan sesuatu. Dia terlihat sedang sibuk dengan peralatan masaknya. Seperti biasa, masakan Bi Narsih pasti selalu enak. Dari aromanya saja sudah diketahui.
"Bi, laper, nih. Bikinin nasi goreng dong," pintaku.
Bi Narsih menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan curiga. "Topa? Ngapain kamu di sini? Bukannya ini belum waktu istirahat? Hah! Jangan-jangan kamu bolos pelajaran, ya? Ngaku!" Bi Narsih tiba-tiba jadi Tukang Interogasi.
"Dih! Curigaan amat sih, Bi! Enggak kok. Aku habis dari toilet tadi, terus mampir ke sini sebentar. Lapar soalnya."
"Ya iya itu bolos pelajaran namanya, Topa!" semburnya.
"Hehe ... Eh iya, ngomong-ngomong cewek yang di sana beneran anak Bibi?"
"Cewek mana?"
"Itu yang lagi bersihin meja?" Aku menunjuk perempuan itu.
"Oh itu. Iya. Dia anak Bibi. Kenapa emangnya?"
"Cantik banget anaknya, Bi."
"Heleh! Masih bocah udah tahu yang cantik-cantik. Belajar dulu yang bener!"
"Ya enggak gitu. Tapi, 'kan Kakak itu emang beneran cantik, Bi."
"Ya terus, kalau cantik kenapa, hah? Kamu naksir sama anak Bibi?"
"Eh? Enggak gitu. Maksudku, kok aku baru lihat dia sekarang, Bi?"
"Ya emang baru hari ini Bibi ajak di ke sini."
"Oh ... Dia masih sekolah, Bi?"
"Ck." Bi Narsih berdecak lidah. "Kamu ini kok nanya—nanya terus. Katanya pesen Nasi Goreng. Mau dibikinin NasGor apa mau nanya—nanya terus?"
"Bikinin Nasi Goreng, Bi! Hehe ..."
"Yaudah. Bibi bikinin Nasi Gorengnya. Kalau mau tanya-tanya, tanya aja langsung sana sama anaknya."
"Iya-Iya, Bi. Galak amat, sih."
"Eh, Topa. Tapi ini Bibi gak tanggung jawab ya kalau kamu kena masalah lagi gara-gara makan di jam pelajaran."
"Iya, Bi. Tenang aja."
"Bibi tuh kok heran ya sama kamu. Kamu tuh kok bisa nakal kaya gini, lho. Padahal kamu ini ganteng, lho. Lebih cocok jadi anak baik."
"Jadi anak baik gak asik, Bi. Gak seru!"
"Lha ... Ya bukan gitu, Topa. Kemarin Bibi lihat kamu dihukum di tengah lapang, terus ditontonin sama orang-orang. Emang kamu gak jera apa?"
"Nggak sih. Biasa aja. Malahan aku pengen terus bikin masalah di sekolah."
"Lho... Aneh banget kamu ini. Emang kemarin kamu dihukum gara-gara apa?"
"Bukan apa-apa, Bi. Bibi gak perlu tahu. Biasalah. Namanya juga anak muda."
"Anak Bocah kamu mah!"
"Hehe ... Yaudah aku duduk dulu, Bi. Nanti kalau udah jadi, anterin aja."
"Iya-iya. Bibi bikinin sekarang. Tunggu, ya." Bibi membalikkan badannya dan terlihat beberapa kali menggelengkan kepala.
Setelah itu, aku pun melangkah menghampiri perempuan tadi yang merupakan anak dari Bibi Narsih.
"Aku duduk di sini boleh, ya, Kak?" ucapku meminta izin.
Sebenarnya gak izin juga gak apa-apa sih. Aku pingin ngobrol aja sama kakak ini.
Kakak itu menoleh. "Oh, Iya. Boleh-Boleh. Duduk aja."
Aku pun menarik kursi dan mulai duduk. Aku memandangi wajah perempuan itu sejenak.
"Kakak ini masih sekolah apa udah lulus?" tanyaku.
"Coba tebak! Menurut kamu, aku masih masih sekolah apa enggak?"
Aku memandangi wajahnya cukup lama. Cantik banget kakak ini. Sumpah! Kalau dilihat-lihat wajahnya mirip sama artis Beby Tsabina.
"Hm ... Kalau aku lihat dari wajah kakak, kayanya kakak masih sekolah deh."
"Kok lihatnya dari wajah aku? Emang wajah aku kenapa?"
"Ya enggak apa-apa. Maksudku, kakak ini kayanya belum terlalu tua gitu. Jadi masih kaya anak sekolahan."
"Hihi... Dasar kamu ini! Nah, itu kamu tahu."
"Kelas berapa, Kak?"
"Sekarang kelas 2 SMA."
"Kelas 2 SMA? Berarti beda 2 tahun kita."
"Oh ya? Kamu kelas 3?"
"Iya. Tapi, Ngomong-ngomong, kenapa kakak ada di sini? Emang gak sekolah?"
"Sekolah, kok. Aku masuk jam pelajaran siang."
"Oh gitu. Ngomong-ngomong nama Kakak siapa?"
"Panggil aja Riska."
Tidak lama setelah itu, Nasi Goreng pesananku pun sudah selesai dibuat.
"Nih, Nasi Goreng kamu." Bibi Narsih menyodorkan sepiring Nasi Goreng buatannya. Jangan ditanya kalau soal rasa.
"Makasih, Bi."
"Ris, nanti bantuin ibu cuci piring ya!" ucap Bi Narsih pada anaknya.
"Iya, Bu."
Tanpa berlama-lama, aku pun langsung menyantap Nasi Goreng yang masih mengepulkan uap panas.
"Ah ... Enak banget!" Baru suapan pertama, rasanya sepiring nasi goreng ini gak akan cukup buatku.
"Aku ikut duduk di sini, ya?" Kak Riska meminta izin padaku.
"Duduk aja, Kak."
Dia pun duduk. Meletakkan kedua sikunya di atas meja sebagai penyangga dagunya. Dia menatapku. Cukup lama dan tidak lepas. Meskipun aku tidak menatapnya balik, aku bisa merasakan tatapannya terus terkunci padaku. Ini membuatku merasa tidak nyaman.
Aku pun membalas tatapannya. Dia langsung memalingkan pandangannya ke arah lain. Nah, 'kan dia grogi.
"Kenapa lihatin aku terus, Kak? Suka ya?" tanyaku.
"Eh? Siapa yang lihatin kamu? Geer!" Wajahnya sedikit memerah.
"Hahaha ... Aku tahu kali!" Aku hanya tertawa melihat ekspresi gugupnya.
"Tapi, aku masih penasaran. Kamu beneran diizinin keluar di jam pelajaran karena kamu pinter? Aku kok gak pernah dengar yang kaya gitu ya di sekolah lain."
"Iyalah. Masa aku bo—"
"Bohong, Ris!" celetuk Bi Narsih dari belakang. "Topa itu bolos pelajaran!" Bi Narsih membeberkan semuanya.
Ah, Bi Narsih gak asih. Jadi gagal keren, 'kan jadinya?
Kak Riska terlihat terkejut. "Eh? Serius?! Kamu bolos pelajaran?"
"Iya. Hehe ...."
"Kok gitu? Eh, kamu gak boleh bolos pelajaran, lho. Kan nanti ada waktunya buat istirahat."
"Ya gimana lagi. Aku lapar banget soalnya."
"Ya tapi kan nggak gini juga, lho. Tadi siapa nama kamu? Topa ya?
"Iya, Kak."
"Gini ya, Topa. Kalau mau berangkat sekolah tuh sarapan dulu, jadinya kamu tuh bisa nahan lapar pas di sekolah. Kamu tadi sarapan dulu gak?"
"Enggak, Kak."
"Kenapa?"
"Di rumahnya juga gak ada siapa-siapa."
"Lho ... Emang orang tua kamu kemana?"
"Ada. Cuma ... mereka sibuk kerja."
"Emang mereka gak bikin sarapan buat kamu?"
"Enggak. Mereka kayaknya banyak urusan di tempat kerja. Jadi gak sempet bikin sarapan. Tapi, gak apa-apa, sih. Udah biasa soalnya. Paling mereka nyuruh aku buat beli sarapan di jalan."
"Oh gitu. Ya wajar juga sih kalau kamu gak bisa nahan lapar." Kak Riska hanya mengangguk paham seolah memaklumi.
"Ya udah, sok habisin makanannya cepetan! Nanti balik lagi ke kelas. Biar gak dimarahin guru."
"Iya, Kak."
Kak Riska ini sumpah cantik banget. Tatapan mata sama senyuman bibirnya bener-bener nggak bisa diungkapin dengan kata-kata. Udah gitu ramah banget lagi.
Syukur-syukur kalau dia terus ada di Kantin Sekolah ini, biar aku bisa ketemu sama dia tiap hari. "Hehe ..."
Setelah itu, aku pun kembali ke kelasku. Rupanya, aku cukup lama berada di Kantin Sekolah. Pelajaran Bu Yuli sudah selesai. Dia sudah tidak ada di dalam kelas.
Aku bernafas lega. Akhirnya pelajaran Bu Yuli selesai. Aku pun berjalan menuju kursiku.
"Dari mana aja lu? lontar seorang perempuan yang baru saja aku lewati.
Aku menoleh. Perempuan itu adalah Rania. Salah satu perempuan paling menyebalkan di sekolah ini. "Kepo lu!"
"Lu tadi dicariin sama Bu Yuli. Katanya kalau lu udah balik ke kelas disuruh masuk ke Ruang Guru buat menghadap Bu Yuli."
Aku menghela napas kasar. Malas sekali rasanya. "Ah elah ... ribet amat. Pasti bakal diceramahin lagi ini mah."
***
Jam istirahat pun tiba. Aku, Irvan, dan Reza berjalan menuju Kantin Sekolah. Di tengah jalan aku bertemu dengan Rendy, Tukang Tidur di kelasku. Tidak jauh berbeda denganku, sih.
"Top, lu dicariin Pak Surya, tuh," katanya.
Aku mengernyitkan dahi. "Pak Surya? Mau ngapain?"
"Mana gue tahu. Tanya aja sendiri."
"Pak Suryanya mana?"
"Gak tahu juga. Tadi elu disuruh buat datang ke Aula Olahraga."
Setelah itu, Rendy berlalu dari sana. Tapi, aku belum beranjak dari tempatku.
"Gimana, Top? Mau ke kantin apa ke Aula?" tanya Irvan.
"Sebentar! Tumben banget Pak Surya nyariin gue. Mau ngapain ya?"
"Lu nanya gue?" lontar Reza tiba-tiba.
"Kagak! Gue ngedumel. Kalian duluan aja ke Kantin. Nanti gue nyusul. Gue mau ke Aula dulu, deh. Rada aneh soalnya kalo Pak Surya nyariin gue."
Aku pun berbalik arah dan berjalan menuju Aula Olahraga.
Begitu tiba di Aula, aku sedikit terkejut melihat Pak Surya sedang mengobrol dengan dua orang yang terlihat tidak asing di mataku. Ada perempuan songong dari Kelas 3-B bernama Putri dan juga ada ada anak belagu dari kelas 3-D bernama Azel.
Mereka lagi ngobrolin apa ya?
Aku terus melangkah ke arah mereka. Pak Surya melihat kedatanganku.
"Nah, akhirnya datang juga jagoan kita. Ke sini Topa! Berdiri di sebelah Putri!" titahnya.
"Ada apa, Pak?" tanyaku merasa heran.
"Saya mau tanya sama kamu, kalau—"
"Jangan nanya pelajaran, Pak! Saya malas mikir!" Aku menyela ucapan Pak Surya untuk menegaskan kalau dia mau bertanya tentang pelajaran, aku memilih mundur dan pergi dari tempat ini.
"Elu bisa diem gak, sih?! Orang Pak Surya lagi ngomong!" celetuk Putri dengan tatapan sinis.
"Elu siapa? Mak gue? Jangan ngatur gue!" ucapku sewot.
"Hehe ... Gini-gini, tenang dulu. Saya mau tanya sama kamu, kalau gak salah, waktu kelas satu dan kelas dua kamu pernah ikut Ekskul Silat, 'kan?" tanya Pak Surya.
"Iya pernah, Pak. Tapi saya udah gak minat sekarang. Udah malas. Udah terlalu jago soalnya."
"Tanding sama gue aja kalah lu!" celetuk Azel songong.
Aku menoleh cepat ke arahnya. "Ha? Gue kalah dari elu? Lawak lu? Sini berantem sama gue di sini!"
"Ya ayo. Maju lu!"
"Lu berdua bisa diem gak sih!" teriak Putri dengan lantang. Kami berdua langsung kicep seketika. Gak saling beradu urat lagi. "Pusing gue denger suara lu berdua! Kalau masih ribut gue pukul satu—satu nih," gertaknya.
Aku hanya mendengus kesal. Menahan emosiku dan kembali fokus pada Pak Surya yang sedang tersenyum kaku melihat kami berdua yang terus bersitegang.
"Lanjut, Pak! Kalau mereka ribut lagi, biar saya yang pukul mereka satu-satu."
Ini apa lagi satu perempuan sok-sokan banget!
"Ah, iya. Satu lagi, kamu ini kalau gak salah pernah menang kejuaraan silat di Tingkat Provinsi ya, Topa?"
"Iya, waktu kelas dua."
"Tapi, masih ingat, 'kan dasar-dasar silat sama tehnik-tehniknya?"
"Inget, Pak. Bapak mau coba sparing sama saya?" tanyaku.
"Eh? Hehe... Nggak. Saya nanya aja."
"Oh. Kirain mau ajak sparing."
"Karena bisa dibilang kamu masih hafal tehnik—tehniknya, kebetulan nih, minggu depan bakal diadain Turnamen Beladiri antar sekolah di SMP kita. Nah, nanti kamu yang jadi perwakilan sekolah kita buat Beladiri Silat, ya?"
Aku terbelalak. Sedikit tak percaya."Ha? Serius? Saya yang wakilin sekolah?"
Setelah apa yang udah pihak sekolah lakuin sama aku? Dan sekarang mereka mau aku jadi perwakilan sekolah ini? Dih! Maaf saja.
"Nggak mau, Pak. Saya gak minat." Aku menolak mentah-mentah.
"Lho? Kok gitu? Kenapa? Padahal cuma kamu harapan satu—satunya," kata Pak Surya terdengar berlebihan.
"Kan masih banyak, Pak, kandidat lain di Ekskul Silat. Kenapa harus saya?"
"Gimana, ya? Sebenarnya saya tertariknya bawa kamu, sih. Kayanya di sekolah ini yang paling jago silat cuma kamu." Sekali lagi, Pak Surya ngomongnya ketinggian, nih.
"Enggak sih, Pak. Biasa aja. Saya gak jago-jago banget."
"Takut mah bilang aja lu, t***l!" celetuk Azel seperti biasa, bikin naik darah.
Aku melirik sinis ke arah Azel. "Lu ngomong apa barusan?"
"Apa?! Lu mau apa, hah?" Dia terlihat menantang.
PLAK!!
PLAK!!
Masing-masing satu tamparan mendarat keras di pipiku dan pipi Azel.
"Udah gue bilang diem ya diem! Kok masih ribut aja lu berdua?" ujar Putri dengan tegas.
Wah, stres nih perempuan! Udah dua kali aku kena tamparan dari dia. Mana tamparannya keras banget lagi.
Kami berdua hanya diam. Mengusap pipi kami. Perih banget rasanya. Sumpah!
"Lanjut, Pak!" ujar Putri pada Pak Surya.
"Nah, jadi gimana, Topa? Kamu mau, 'kan jadi perwakilan SMP Citra?"
Kalau aku nolak, aku pasti dikatain lagi sama Si b******k Azel. Lemahlah! Penakutlah! Harus dikasih pelajaran emang tuh anak.
"Yaudah. Iya-iya, deh. Saya mau, Pak." Akhirnya aku pun menerima tawaran Pak Surya buat jadi perwakilan sekolah.
"Nah, gitu dong. Kan jadi lengkap kandidat sekolah kita."
"Terus nih bocah berdua ngapain di sini, Pak?"
"Mereka berdua juga akan jadi perwakilan SMP Citra di bidang Beladiri. Putri perwakilan Beladiri Karate dan Azel jadi perwakilan Beladiri Kick Boxing."
"Oh. Nih kunyuk-kunyuk ikut juga ternyata."
"Apa? Lu bilang apa barusan? Mau gue hajar lagi lu?" sembur Putri sembari mencengkram kerah bajuku.
"Gue gak ngatain elu. Gue cuma ngatain orang sebelah lu!" kataku beralasan. Cari aman ajalah.
"Berisik lu!" bentak Azel yang masih mengusap pipinya bekas tamparan Si Putri.
"Ngomong—Ngomong, kalau saya menang, saya dapat apa, Pak? Ada hadiahnya gak, nih?" tanyaku penasaran.
"Belum juga mulai udah nanyain hadiah aja lu!" celetuk Azel.
"Iya, nih. Emang lu yakin bakalan menang?" tanya Putri terdengar meremehkan.
"Apa sih lu berdua? Siapa yang ngomong sama kalian? Gue ngomong sama Pak Surya."
"Hehe... Tenang aja. Mau kamu menang ataupun kalah, sekolah pasti ngasih kamu apresiasi karena udah ngewakilin. Kamu pasti dapat komisi nanti."
"Uang, Pak?"
"Kayanya begitu. Hehe..."
"Yaudah kalau gitu, Pak! Lihat aja nanti. Saya pasti menang!"
Oke. Mari kita bertarung. Demi uang! Bukan demi sekolah. Malas banget kalau buat sekolah.