Dua Minggu Kemudian Setelah selesai makan malam, seperti biasa, aku membaringkan tubuhku di kasur sembari memainkan ponselku. Tiba-tiba Irvan menelponku. "Top, dimana lu?" "Di rumah. Kenapa emang?" "Ke sini nongkrong!" "Gak ah! Lagi males gue." "Lha... Lu kenapa, sih? Akhir-akhir ini lu jadi aneh banget, dah. Di sekolah juga gue perhatiin lu jadi pendiem. Ada apa, sih?" "Gak ada apa-apa. Gue lagi males aja. Udah ya. Gue tutup." "E—Eh... Tunggu dulu, k*****t!" "Apaan lagi? Gue ngantuk, mau tidur." "Lu beneran gak mau cerita sama gue? Kita 'kan udah temenan lama. Masa lu main rahasia-rahasiaan sama temen sendiri." "Siapa yang rahasia-rahasiaan? Gue emang lagi males, Van. Udahlah jangan mikir yang aneh-aneh lu!" "Gue kayanya tahu, nih, penyebab lu jadi lemah-letih-lesu kay

