Sambil tertawa-tawa dengan ponsel yang terjepit di antara telinga dan bahunya, Yara menyelesaikan beberapa lukisan lagi hari ini. Ia bersyukur karena Zen sudah memberikan cukup banyak bantuan sehingga hari ini ia tidak merasa ingin menangis lagi karena tertekan. Ditambah kehadiran Bisha lewat telepon yang menemaninya, membuat suasan hati Yara meningkat pesat. Suara Bisha tersengar serak, dan kakaknya itu menceritakan begitu banyak hal. Katanya, ia mencoba terlalu banyak makanan di sana sini dan mengakibatkan tenggorokannya sakit. Jadi lah suara Bisha terdengar mengerikan begini. Tadinya, tentu saja Yara sempat cemas. Tapi mendengar bagaimana antusiasnya yang kakak bercerita, kecemasan itu memudar berganti dengan rasa antusias yang sama. Yara sendiri nyaris tidak ingat kapan sang kakak te

