Bab 15

1626 Words
Makan pagi sudah terjejer rapih di meja makan. Gani menghela napas saat anak menantunya belum juga turun. Semalam, ia mendengar lagi keributan di kamar anak menantunya. Tapi tubuhnya terlalu lelah hingga ia tak menegur Albi dan Julia. Belum lagi, istrinya akan segera tiba dan ia harus memikirkan bagaiamana caranya menjelaskan masalah anaknya pada istrinya. "Tolong panggilkan mereka di kamar!" titah Gani pada asisten rumah tangga. Art itu pun mengangguk. Lalu bergegas pergi untuk memanggilkan Albi dan Julia. Gani mengadahkan kepalanya ke atas, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari belakang, membuat Gani menoleh "Alia!" panggil Gani pada sang cucu dari putri pertamanya. Alia maju lalu mencium tangan kakeknya. "Bunda belum datang, Yah?" tanya Dita dari arah belakang yang datang bersama suaminya. Gani sengaja memaggil Dita dan Aris untuk berbicara serius tentang manajemen rumah sakit miliknya. Gani juga sudah memberi tau pada Dita dan suaminya tentang permasahalan yang menimpa Albi dan Iren. Belum Gani menjawab, Albi dan Julia terlihat berjalan ke arah meja makan, Dita menggeleng saat melihat sang adik, dia sungguh kecewa melihat kedua orang itu "Ayo kita sarapan!" ajak Gani pada keluarganya. Mereka pun langsung duduk di meja makan. Albi duduk dengan menunduk karena ia masih malu untuk melihat sang kaka. Julia yang sedang duduk di sebrang Dita melirik pada Aris yang tampak lebih tampan dari pada Albi dan rupanya Dita melihat tatapan Julia yang menatap suaminya dengan tatapan lapar. Seketika Dita membanting sendok yang di pegangnya. Membuat semua orang terperanjat kaget, termasuk Julia yang langsung menunduk. "Kau sudah menggoda adikku, apa kau ingin menggoda suamiku sekarang!" seru Dita dengan menahan geram. Ia berbicara sedikit berteriak dan menatap tajam pada Julia. Saat sang ayah menceritakan semua padanya. Ia ingin sekali membunuh Julia dan sang adik. Dita pernah di posisi Iren yang di siksa oleh suami pertamanya yang sudah meninggal, dan ketika mendengar sang adik melakukan hal yang sama seperti mantan suaminya dulu, rasanya ia ingin sekali membakar Albi dan selingkuhannya hidup-hidup Mendengar ucapan putrinya, Gani menutup wajahnya, suasana di meja makan mendadak menengangkan. Ia tak berani menegur Dita karena Gani tau dan mengerti apa yang di rasakan oleh putri pertamanya. Aris yang berada di sebelah istrinya menggengam tangan Dita, agar Dita tenang. "Alya tunggu di atas ya, nanti ayah bawain sarapan buat Alya!" tita Aris pada putrinya. Ia tak mungkin membiarkan sang putri terlibat dalam obrolan orang dewasa. Aris menggeleng saat putrinya tak mau beranjak, ia merogoh saku dan mengambil ponselnya lalu memberikannya pada Alia. Tanpa di perintah dua kali, remaja itu langsung meninggalkan ruang makan, karena akan membobol rekening sang ayah. "Sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu," ucap Aris. "Aku ga napsu makan liat mereka berdua!" ucap Dita membuat Albi dan Julia semakin menunduk. Albi mengerti apa yang di rasakan sang kaka hingga ia tak berani melawan. Sedangkan Gani lagi-lagi menghela napas berat saat sang putri masih terlihat kesal. "Makan, ya," ucap Aris dengan penuh kasih sayang membuat Dita akhirnya menurut. Setelah selesai sarapan pagi, mereka pun berkumpul di ruang keluarga. Gani langsung mengatakan pada semua bahwa Aris akan menggantikan posisi Albi. Ia tak mungkin memercayakan lagi posisi direktur utama pada Albi. Albi masih tak berani mengangkat kepalanya, ia juga tak membantah sang ayah. Ia pasrah jika ia harus kehilangan posisinya. Berbeda dengan Julia yang diam-diam menggeram kesal, bagaimana mungkin suaminya tak menjadi direktur utama lagi. "Yah, Aris bisa nanganin rumah sakit. Tapi Aris masih harus mimpin perusahaan Aris. Jadi Aris akan ngontrol rumah sakit dari jauh," ucap Aris membuat Gani mengangguk "Mas ayo ke atas, males aku liat dua orang ini," ucap Dita ia tetap melirik sinis pada Julia dan adiknya. Aris pun mengangguk lalu pamit dan menyusul langkah Dita Setelah Aris dan Dita pergi, Gani pun bangkit dari duduknya dan berniat pergi. Namun, belum dia melangkah, terdengar derap langkah, membuat Gani menoleh. Ternyata Mahira dan putri bungsunya batu saja tiba. Baru saja Gani mendengar kegeraman sang putri, sekarang ... Ia harus menjelaskannya semuanya pada sang istri. "Ayah!" teriak Khalia, ia berhambur memeluk sang ayah. Saat memeluk sang ayah mata Khalia menyipit saat melihat wanita yang berada di sisi kakanya. "Ayah dia siapa? mana ka Iren?" tanya Khail. "Lho, Mas. Iren mana?" Sela Mahira yang datang dari belakang. Ia sama seperti Khaila yang heran karena melihat wanita lain di samping putranya. Mendengar suara Mahira, Albi langsung bangkit dari duduknya. Ia menatap sang Bunda dengan mata berkaca-kaca. Ia tau, jika sang ayah membuka mulut, ia akan melihat tatapan kecewa dari sang Bunda. Gani menghela napas sejenak, "Khaila, kamu keatas ya, ada kak Dita di atas!" titahnya pada sang putri sebelum ia menjelaskan pada Mahira. "Ini ada apa, sih, Mas!" ucap Mahira sedikit berteriak pada suaminya karena suaminya tak kunjung menjawab. Gani menghela napas berat, ia memegang kedua tangan Mahira dan menceritakan secara garis besarnya saja pada istrinya. Mendengar ucapan suaminya, lutut Mahira melemas. Ia tak menyangka, anak yang dulu ia didik dengan baik malah menjadi seorang pria b******k. Albi menggigit bibir bawahnya saat sang bunda melihatnya dengan tatapan kecewa. Hatinya berdenyut nyeri kala ia melihat sang bunda kecewa untuk pertama kali padanya. Dengan lutut gemetar, Mahira maju ke arah putranya, matanya membasah karena menangis. Hatinya teriris perih ketika membayangkan betapa hancurnya Iren karena kelakuan putranya. "Bun .... " ucapan Albi terputus saat Mahira menamparnya. Plak satu tamparan mendarat di pipi Albi, Tamparan Mahira cukup keras hingga mengeluarkan suara yang cukup nyaring. Membuat Julia yang berdiri di sebelah Albi terperanjat kaget. Mahira menatap tajam pada Julia, baru saja ia akan menampar Julia. Gerakannya terhenti saat mendengar suara Iren. Dengan langkah pelan, Mahira berjalan ke arah Iren. Dia menatap mantan menantunya dengan tatapan rasa bersalah. "Iren, yang ayah bilang ga benerkan?" tanya Mahira. Belum Iren menjawab, ada lelaki di belakang Iren, yang mengatakan bahwa lelaki itu adalah suami Iren. Kepala Mahira terasa berputar-putar, ia belum bisa mencerna apa yang terjadi. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri. ••• Setelah Mahira di bawa oleh Gani ke kamar, semua duduk di ruang keluarga, termasuk Aris dan Dita yang sudah bergabung. Julia tetap menempel di sisi Albi, sedangkan Iren duduk di sebelah Nio. Suasana di ruang keluarga itu terasa menegangkan, Albi menatap Iren dengan tatapan sendu. Iren berkali-kali lipat lebih cantik saat memakai hijab. Nio yang menyadari tatapan Albi, menegakan duduknya, ia memberanikan diri menarik tangan Iren dan menggenggamnya membuat Iren terkesiap. Napas Albi memburu saat melihat Nio dan Iren, amarah menjalar dalam d**a. Ia tersadar saat Julia mencubit pinggang Albi, membuat Albi menggeram kesal. Tak lama, Gani bergabung di ruang keluarga. Ia mendudukan diri di sofa tunggal sebelah Iren. "Iren!" panggil Gani. Iren yang sedang menunduk, menoleh kearah Gani. "Atas nama Albi, ayah minta maaf. Maafin Albi kalau selama ini selalu nyiksa Iren, bikin hidup Iren ga nyaman dan ngebuat Iren sengsara." Mendengar ucapan Gani, mata Iren berkaca-kaca. Ia pun tak menyangka bisa sekuat dan berada di titik ini. Iren tersenyum, kemudian menggeleng. "Ga ada yang harus di salahin, Yah. Ini udah takdir kita masing-masing. Iren makasih, ayah, Bunda, kak Dita kak Aris udah nerima Iren di keluarga ini ...." Iren menghentikan ucapannya saat bulir -bening tergelincir dari pelupuk matanya. Bukan hanya Iren yang menangis, Dita pun ikut menangis, ia pernah merasakan jadi Iren, dan itu sungguh menyakitkan. Hati Albi masih teriris perih saat melihat Iren, kenapa ia tak sadar dari awal, kenapa ia tak bisa melihat cinta Iren, kenapa ia harus mementingkan egonya. pikiran-pikiran itulah yang membayangi Albi. Iren merasa sesak bukan main, tak di pungkiri, hatinya berdenyut nyeri saat melihat Albi dan Julia. Mungkin pergi dari rumah mantan suaminya secepatnya adalah pilihan terbaik. Iren melepas genggaman tangan Nio, lalu ia bangkit dari duduknya, dan menatap semua yang ada di ruang keluarga."Maaf semuanya, Iren minta ijin buat ngambil barang-barang Iren di kamar," ucap Iren, setelah mendapat anggukan dari Gani, Iren pun melangkahkan kakinya dan meninggalkan ruang keluarga. Mendengar Iren yang akan pergi ke kamar, seketika Albi ikut bangkit dari duduknya untuk menyusul Iren. Namun, lagi-lagi, gerakan Albi terbaca oleh Nio, hingga Nio pun ikut bangkit. "Saya mohon ijin untuk menemani istri saya," ucap Nio, ia berbicara sambil menatap Albi dan menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Menyadarkan Albi, bahwa Iren adalah istrinya. Albi terdiam, ia mengurungkan niatnya untuk menyusul Iren karena Nio sudah terlebih dulu pergi menyusul ke atas. Iren membuka kamarnya, ia langsung menangis saat memasuki kamar yang selama ini menjadi saksi rasa sakitnya. Kamar yang menjadi saksi perjuangannya untuk bertahan ... Ia pergi, membebaskan rasa yang sakit yang selama setahun ini membelenggunya. Ia menelisik inci demi inci kamarnya, perasaan menyayat kembali hadir saat mengingat dirinya pernah menjadi orang yang sangat menyedihkan dan bersembunyi di kamar ini. Iren mengahapus air matanya. Ia mengambil koper memasukan berkas-berkas miliknya dan beberapa pakaian yang selama ini sangat nyaman di pakai di tubuhnya. Ia meninggalkan pakain-pakain yang lain karena ia tak ingin terus teringat dengan masa lalunya. Saat sudah selesai, Iren pun berbalik dan menggeret kopernya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Nio ada di belakangnya. Dengan ekpresi datar, Nio berjalan menghampiri Iren. Lalu mengambil alih koper di tangan Iren. Tanpa berucap sepatah kata pun, Nio berbalik meninggalkan Iren sambil menggeret koper, sedangkan Iren pun langsung menyusul langkah Nio. ••• "Akhirnya kamu bangun, Sayang," ucap Gani saat masuk kedalam kamar dan ternyata Mahira sudah sadar. "Mau makan?" tanya Gani sambil mendudukan dirinya di sebelah Mahira. Mahira menggeleng, "Mas, aku minta. Mas ambil rumah ini, cabut semua fasilitas Albi, ambil kartu-kartu dan semuanya ... Biarin dia ngerasain gimana rasanya kerja keras dan gimana rasanya ngejaga sesuatu," ucap Mahira dengan berapi-api. Ia terlanjur kecewa pada putranya. Gani tersenyum, ia menggenggam tangan sang istri, "Ia, Mas lakuin apa yang kamu mau." Julia menutup mulut saat mendengar ucapan mertuanya. Ia berencana untuk mengambil hati Mahira. Namun, saat akan mengetuk pintu ia malah mendengar hal yang sangat mengejutkan. "Sedang apa kau?" tanya Dita dengan kesal saat melihat Julia berdiri di depan kamar ibunya. Julia ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD