Bab 14

1836 Words
Julia tersenyum saat naik satu persatu anak tangga. Saat ini, ia sudah menjadi Nyonya Samuel Albi, karena tadi siang ia resmi menikah dengan Albi. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah cantiknya saat dia membayangkan dia akan menjadi ratu di rumah ini. Saat sampai di atas, ia langsung masuk membuka pintu yang ia yakini bahwa kamar Iren. Benar saja, itu memang kamar Iren. Ia masuk lebih dalam dan melihat-lihat inci demi inci kamar tersebut. Wajahnya berbinar takjub saat melihat isi kamar milik Iren. Ranjang king Size, lemari yang penuh dengan tas dan sepatu mahal serta koleksi-koleksi lainnya. Ia membuka lemari dan mengambil satu tas milik Iren, wajahnya berseri-seri saat membayangkan bahwa semua akan menjadi miliknya. Setelah puas, melihat tas di tangannya, ia kembali lagi menaruhnya dan tangannya siap untuk mengambil tas yang lain. Namun, gerakannya terhenti saat pintu kamar terbuka. Brak Albi membuka pintu kamar dengan keras, membuat Julia terperanjat kaget. Rahang Albi mengeras saat yakin Julia baru saja membuka lemari milik Iren. "Bukankah sudah kubilang jangan pernah memasuki kamar ini, Hah!" teriak Albi. Ia langsung menarik tangan Julia untuk keluar dari kamar Iren, membuat Julia meringis. "Albi!" teriak Gani. Rupanya ia mendengar teriakan sang putra yang berteriak pada Julia hingga Gani menyusul anak dan menantunya. Albi mengertakan giginya menahan geram pada Julia, ia langsung tertunduk saat menyadari sang ayah menatap tajam padanya. "Ayah tak mau mendengar kau berteriak pada istrimu!" seru Gani, membuat Julia tersenyum penuh kemenangan karena mertuanya membelanya. "Dan kau! jaga sikapmu di rumah ini. Jangan menyentuh sesuatu yang bukan milikmu," tunjuk Gani pada Julia, membuat Julia menunduk. Setelah mengatakan itu, Gani meninggalkan anak menantunya untuk pergi dan kembali lagi ke bawah. Ia mengusap wajah kasar, permasalahan sang putra benar-benar menguras emosinya. Belum lagi, ia harus memikirkan cara untuk menjelaskan pada istrinya. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang, lalu menghela napas berat. Kelakuan anaknya, mengingatkannya pada kelakuannya dulu saat ia masih membenci istrinya. Yang membedakan, Mahira adalah wanita baik berbeda dengan Julia Mengingat nama Mahira, tiba-tiba ia rindu pada istrinya yang berada di turki, ia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Saat dia akan mencari nama istrinya, satu pesan masuk dari Khaila putri bungsunya. Khaila mengirimkan sebuah foto dirinya dan sang Bunda yang sedang berada di bandara. ["Ayah kami akan terbang ke Indonesia"] Tulis Khaila dalam pesannya membuat mata Gani melotot. Kondisi di sini belum stabil, dan kondisi Mahira sedang kurang sehat. Tapi sekarang, istrinya malah akan menyusulnya.. ••• Saat tau Kevin memanggilnya, Nio langsung mematikan panggilannya dan memasukan ponselnya kedalam saku. Ia kembali lagi berjalan ke arah Iren. "Kau mau kemana?" tanya Nio lagi saat jarak ia dan Iren cukup dekat. Iren memutar bola matanya jengah. Lalu ia menatap Nio dengan tatapan malas. "Buka pintu. Aku akan istirahat di kamar ayah!"/ucap Iren dengan ketus. " Ini kamarmu ... Istirahat di sini!" titah Nio, membuat mata Iren membeliak. "Tidur sekamar denganmu?" Tanya Iren dengan nada tak percaya. Nio pun mengangguk santai membuat Iren langsung tersenyum sinis. "Bagaimana mungkin kau sekamar bersama p*****r sepertiku," ucap Iren. Ia menekankan setiap kalimat demi kalimat yang ia ucapkan, membuat Nio langsung terpaku. Ya, ia lupa ia belum meminta maaf. "Saat itu aku sedang emosi. Jadi aku minta maaf," jawab Nio dengan datar. Ia sama sekali tak tau Cara meminta maaf yang benar, hingga perkataan maafnya terkesan tak serius. Padahal jelas-jelas ia menyesal atas ucapannya. Iren memutar bola mata jengah saat mendengar ucapan permintaan maaf Nio. "Maaf di terima! Buka pintu aku ingin keluar dari sini," jawab Iren dengan ketus. "Kau akan keluar saat jam makan malam. Sekarang istirahat di sini!" tanpa mendengar lagi jawaban Iren. Nio memutar tubuhnya kemudian berjalan ke arah tembok. Ia menekan tombol lalu lantai mulai terbuka. Ya, Nio mempunyai ruangan khusus di bawah kamarnya, tak ada yang tau termasuk Adnan, karena Nio benar-benar merancang kamarnya secara rahasia. Sebelum turun, Nio melirik Iren. Ia tersenyum tipis saat melihat reaksi Iren yang sepertinya terkejut ketika lantai terbuka. Saat menapak ke bawah, Ia menekan lagi tombol agar lantai menutup. Lalu berjalan ke arah dalam. Ruang di bawah lantai milik Nio sama seperti kamarnya yang di atas. Terdapa ranjang big size dan bebebrapa koleksi lain. Nio naik ke ranjang dan membaringkan dirinya, ia mengambil remot dari sampingnya kemudia mengarahkannya pada langit-langit, dan munculah sebuah lukisan di langit-langit membuat ia tersenyum. "Kau miliku," ucap Nio lirih saat memandang lukisan tersebut, senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya. •• Saat Nio sudah turun dan lantai sudah tertutup kembali, Iren masih terdiam. Kemudian ia kembali tersadar dan bergidik. Mungkinkah dia benar-benar Ardi. Lelaki yang dulu di tolong ayahnya. Lalu kenapa ia bisa sangat kaya. Namun tak lama, ia menggeleng, apa perdulinya begitulah pikirnya. Iren tak punya pilihan lain, ia pun berjalan ke arah ranjang dan kemudian membaringkan dirinya. Sebelum memejamkan matanya, ia melihat ponselnya. Ternyata sangat banyak pesan dan panggilan tak terjawan dari Albi. Sejenak, mata Iren menatap kosong kedepan. Tak di pungkiri, hatinya masih saja berdenyut nyeri kala mengingat nama Albi. Lelaki yang selama berbulan-bulan menyiksa batinnya dan mematahkan hatinya berkeping-keping. Tak lama, Iren terpikir sesuatu. Barang-barangnya masih di rumah mantan suaminya. Ia tak akan mengambil tas, sepatu atau koleksinya yang lain. Ia hanya akan mengambil pakaian dan beberapa dokumen seperti ijasah dan lain-lain.. Ia sudah tak ingin lagi memiliki dan memikirkan barang-barang dan koleksi di rumahnya..Walau pun semua koleksi Iren berharga fantastis, tapi iren sama sekali tak perduli. Setelah puas bergulat dengan pikirannya sendiri akhirnya Iren pun memejamkan matanya. ••• Waktu menunjukan pukul 18.05. Ponsel di samping Iren berbunyi, rupanya Iren memasang Alarm di jam tersebut karena Iren harus melakukan sholat magrib. Tapi, walau Iren mendengar suara itu, Ia seperti enggan terbangun. Rasanya ia begitu nyaman saat memejamkan matanya. Ia seperti bermimpi ada yang mengelus rambutnya. Namun ia juga merasa, elusan di rambutnya begitu nyata. Ia mengerjap. kemudian membuka mata. Tak ada siapa pun di sampingnya, kemudian terdengar suara pintu lemari tertutup, ia melihat Nio sedang mengambil kaos dan memakainya. "Mungkin hanya mimpi," gumam Iren dalam hati saat mengingat mimpi barusan. Tak mungkin juga Nio mengusap rambutnya. "Alat sholatmu ada di sana," ucap Nio tiba-tiba menyadarkan Iren dari lamunannya. Membuat Iren berdecih, kenapa orang di hadapannya ini begitu datar. Iren pun turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. ••• Setelah selesai dengan ritualnya, Iren mengganti pakaiannya dengan piama panjang serta kerudung yang lebar hingga menutupi sebagian tubuhnya, Iren sungguh cantik ketika ia memakai hijab. Setelah bercermin dan memastikan bahwa ia rapih, Ia pun keluar dari kamar, ia menghela napas lega saat pintu kamarnya tak terkunci. Saat ia akan berjalan ke arah lift untuk turun, Adnan memanggil Iren dari belakang membuat Iren menoleh. "Kau mau turun?" tanya Adnan, Iren pun menangguk. "Kau tidak penasaran kenapa aku di sini?" tanya Iren saat ia berjalan beriringan dengan Adnan. Adnan tersenyum dan mengangkat bahunya acuh, "Kau istri pemilik rumah ini. Kenapa aku harus terkejut," jawab Adnan. Ia menekam tombol lift dan mereka berdua pun masuk kedalam lift. "Kau sudah tau rupanya," lirih Iren, membuat Adnan tersenyum. Saat pintu lift terbuka, langkah mereka terhenti saat melihat Nio yang sepertinya akan naik. Adnan mengusap wajah pelan kemudian manarik sudut bibir saat melihat tatapan Nio yang menggelap. "Kau mau ke atas?" tanya Adnan pada Nio, dan Nio hanya menjawab dengan deheman "Ayo Ren! sepertinya sangat nikmat menikmati teh di taman belakang," ucap Adnan. Membuat tatapan Nio semakin menggelap. Adnan pun keluar dari lift di susul Iren di belakangnya. Namun tak lama, Adnan menghentikan langkahnya saat Nio memanggilnya. "Apa?" jawab Adnan. "Kau sudah meninjau berkas yang aku berikan?" tanya Nio. Nadanya terdengar mengeram seperti menahan amarah. "Semua sudah ku selesaikan," jawab Adnan acuh. Kemudian ia berbalik dan menyusul Iren. Sedangkan Nio hanya mengusap wajah kasar. Ia pun memasuki lift dan berniat kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu untuk di berikan pada Kevin, karena malam ini ia akan bertemu Kevin. ••• Nio menggeram kesal saat duduk di sebuah cafe, ia kesal kareka sudah satu jam ia menunggu Kevin dan Kevin belum juga muncul. Baru saja ia akan bangkit, gerakannya terhenti saat melihat Kevin memasuki cafe. "Maaf membuatmu lama menunggu," ucap Kevin. Kevin bisa berbicara maaf, tapi wajahnya sama sekali tak menunjukan penyesalan dan itu sukses membuat Nio mengepalkan tangannya. "Kau membawanya?" tanya Kevin. Nio menegakan duduknya, ia menatap Kevin kemudian bersidekap. "Aku ingin bernegosiasi lagi! Bisakah kau meminta hal yang lain!" ucap Nio yang sedikit keberatan dengan keinginan Kevin. Kevin mengangkat bahunya acuh, ia memandang mantan sahabatnya dengan tatapan meremeh. Ya, mereka adalah mantan sahabat. Namun, saat kuliah, persahabatan mereka merenggang karena suatu hal, belum lagi mereka selalu menjadi Rival jika bertemu di pengadilan. Nio selalu jujur jika menangani kasus, berbeda dengan Kevin yang selalu licik. "Aku tetap ingin bangunan itu, dan tak ada negosiasi lagi," jawab Kevin dengan tegas. Nio tak punya pilihan, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang berupa sertifikat. Kevin meminta Nio menjual sebuah Vila mewah di kawasan puncak, dan Nio terpaksa menjual Vila itu pada Kevin, karena Kevin sudah membantu membersihkan nama Aryan. . . Sejujurnya, Nio sangat berat menjualnya pada Kevin, karena Nio akan menghadiahkan Vila itu untuk seseorang. Tapi apa mau di kata, ia harus melepaskan Vila yang selama ini sangat di jaga olehnya. Keesokan harinya. "Iren pergi ya, yah!" Pamit Iren pada Aryan. Hari ini, ia akan kembali ke ruamh mantan suaminya untuk mengambil pakaian-pakaian dan berkas-berkas penting miliknya. "Ayah ikur ya, Ren!" jawab Aryan. Namun Iren menggeleng. "Ayah istirahat aja. Iren ga lama, Kok." "Iren udah mesen taxi?" tanya Aryan. "Iren pergi sama saya, Om," ucap Nio dari arah belakang membuat Iren menoleh dan membulatkan matanya. Aryan pun mengangguk dan tersenyum, membuat Iren tak enak hati untuk menolak Nio. ••• "Turunkan aku!" ucap Iren saat mobil sudah keluar dari gerbang. Nio tetap datar, ia meminggirkan mobilnya untuk berhenti, membuat Iren berdecak, kenapa lelaki di sisinya ini tak melarangnya untuk turun seperti pada lelaki umumnya. Saat turun dari mobil, Nio langsung memajukan kembali mobilnya, membuat Iren semakin berdecak. Beruntung ada taxi yang melewat di depannya, hingga ia langsung naik. Saat sampai di depan rumah mantan suaminya, Iren mengernyitkan kening saat pintu rumah terbuka, tak lama ia mendengar suara teriakan. Ia pun segara masuk kedalam. Saat ia sampai di ruang keluarga, ia menutup mulut saat melihat Mahira menampar Albi. "Bu-bunda," lirih Iren, ia tak menyangka bahwa kedua mertuanya sedang berada di Indonesia. Mendengar suara Iren, Gani, Albi, Mahira dan Julia melihat ke arah Iren. Dan Seketika Mahira berjalan ke arah Iren. "Iren, yang ayah bilang ga bener, kan?" tanya Mahira, Ia benar-benar belum mengerti apa yang terjadi. ia berniat datang ke indonesia untuk menyusul suaminya dan berlibur bersama. Tapi, ia malah mendapat kenyataan buruk tentang putranya. Iren mengigit bibir bawahnya, lalu ia menatap Julia dan Albi secara bergantian. Belum Iren menjawab, ada tangan yang merangkul bahu Iren. "Maaf, Iren istri saya sekarang. Kami baru saja menikah," ucap Nio yang ternyata diam diam mengikuti Iren. Saat mendengar suara Nio, Iren terperanjat kaget, ia langsung melihat ke arah Nio dan Nio langsung tersenyum padanya. Mahira merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Ia masih belum mencerna apa yang terjadi antara anak dan menantunya. Tak lama, Mahir terkulai tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD