Mendengar ucapan Albi, mata Julia membeliak dan langsung menatap Albi dengan tajam. "Bagaimana mungkin kau tak mengakui ini anakmu, Mas!" seru Julia setengah berteriak membuat Albi juga balik menatap Julia dengan tatapan tajam.
Gani mengusap wajah kasar saat melihat perdebatan Albi dan Julia. Ia bangkit dari duduknya membuat Albi kembali tertunduk.
"Ayah tak ingin mendengar alasan lagi. Kau harus menikahi dia!" titah Gani dengan tegas.
"Maaf, Yah. Albi gak bisa," lirih Albi dengan suara yang sangat pelan.
"Albi!" teriak Gani dengan keras, emosinya kembali bangkit saat mendengar jawaban sang putra. Sangking kerasnya teriakan Gani, Julia pun ikut terperanjat dan membuat lututnya melemas seketika.
"Kamu istirahat sekarang!" tunjuknya Gani pada Julia. Julia yang masih gugup pun hanya bisa mengangguk lesu.
•••
Setelah proses ijab qobule, Iren sudah kembali lagi berbaring di brankar. Ia berbaring dengan posisi meringkuk dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Bahunya bergetar, pertanda Iren tengah menangis. Dan setelah ijab qobule, Nio mengantar Aryan untuk pulang ke rumahnya, hingga kini Iren hanya seorang diri.
Ia tak menyangka, bahwa ia harus menikah dengan seorang pria yang ia benci. Sang ayah, telah menderita karena dirinya dan ia tak sampai hati untuk menolak keinginan sang ayah.
Ayahnya sudah banyak merasakan penderitaan karena terseret masalahnya hingga harus mendekam di penjara dam mengabulkan permintaan sang ayah adalah cara Iren meminta maaf.
Tak lama, pintu ruangan Iren terbuka. Iren yang sedang menangis dan menutup wajahnya dengan selimut, memejamkan matanya. Ia terlalu malas untuk melihat siapa yang datang.
"Iren!" panggil seseorang yang baru saja masuk, ternyata Adnan lah yang masuk ke ruangannya. Sedari kemarin, Adnan sudah tau kondisi Iren. Namun, kareja pekerjaannya yang menumpuk, ia baru sempat mengunjungi Iren sekarang
Iren yang mendengar suara Adnan langsung membuka selimutnya, ia menghapus air matanya kemudian langsung bangkit dari berbaringnya dan mendudukan dirinya.
"Bagaiamana kabarmu?" tanya Adnan, ia menarik kursi dan duduk di sisi brankar Iren.
Iren tersenyum, kemudian mengangguk.
"Maafkan aku yang tak bisa menjagamu hingga kau harus terkena masalah," ucap Adnan yang masih merasa bersalah atas kejadian Iren yang di jebak di hotel hingga Iren harus terkena masalah dan terkena amukan sang kaka.
"Ini bukan salahmu, Ad," jawab Iren. "Yang terjadi memang seharusnya terjadi," jawab Iren lagi, membuat Adnan tertegun. Ia bisa mendengar ada kerapuhan di dalam suara Iren.
"Kau sudah mengenalku dari pertama kita bertemu?" tanya Adnan. Iren pun mengangguk.
"Aku sudah tau bahwa kau dan Ar ...." Iren menghentikan ucapannya saat akan menyebut nama Ardi, tiba-tiba dadanya merasa sesak saat mengingat nama Ardi.
Ya, walaupun sempat ragu, tapi saat Iren menabrak Nio di pengadilan, ia bisa tau jika itu adalah Ardi.
Belum Adnan menjawab lagi ucapan Iren, pintu ruang rawat Iren terbuka. Membuat Adnan dan Iren menoleh, dan ternyata Nio lah yang masuk.
Nio memandang sang adik dengan tatapan yang tak bisa di mengerti, sedangkan Iren langsung memalingkan tatapannya kala matanya bersibobrok dengan mata Nio.
Adnan yang mengerti akan tatapan sang kaka bangkit dari duduknya. "Aku akan pulang, semoga kau cepat sembuh," ucap Adnan pada Iren, di tanggapi anggukan dan senyuman oleh Iren.
Adnan menggeleng saat berpapasan dengan sang kaka yang tak menegurnya, ia juga memutuskan untuk tak menegur sang kaka dan langsung keluar dari ruangan Iren.
Saat Adnan sudah keluar, Iren dengan cepat membaringkan dirinya dengan poisisi meringkuk, ia menyelimuti sekujur tubuhnya seperti tadi
Sedangkan Nio hanya menghela napas berat, ia bingung harus mulai pembicaraan dari mana bersama Iren. Apalagi Iren terlihat menjauhinya.
Nio melepaskan jasnya, ia duduk di kursi yang tadi di pakai untuk ijab qobul kemudian matanya memandang lekat-lekat punggung Iren yang sedang berbaring memunggunginya.
•••
Iren membuka matanya, ia melihat ke arah dinding untuk melihat jam. Iren mengucek matanya saat tau bahwa jam menunjukan pukul 02 pagi. Perlahan, ia bangkit dari berbaringnya dan turun dari brankar untuk ke kamar mandi.
Saat ia berbalik, ia di buat terkejut karena kehadiran Nio yang masih di posisinya. Rupanya Nio duduk sambil tertidur. Walaupun sedang tertidur. Iren bisa melihat bahwa Nio tak nyaman dengan posisinya. Tapi tak lama, Iren menggeleng. Apa perdulinya ... begitulah pikirnya.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri, karena ia ingin melakukan sholat malam. Mengadukan keluh kesahnya pada sang pencipta.
Saat Iren sudah masuk ke kamar mandi, Nio membuka matanya. Nyatanya, Nio sama sekali tak tertidur. Sedari tadi, matanya terus menatap punggung Iren. Ia berpura-pura memejamkan matanya saat Iren terlihat bangun dari tidurnya.
Keesokan harinya.
Waktu menunjukan pukul 7 pagi, Nio yang semalaman tak tidur masih betah duduk di posisinya. Ia akan bangkit hanya jika ingin pergi ke toilet. Sedangkan Iren, sama sekali tak menoleh ke arah Nio. Mereka sama-sama diam membisu.
Tak lama, pintu ruang rawat Iren terbuka. Ternyata dokter yang masuk dan beberapa orang perawat.
Iren mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter. Sebenarnya, saat ia di jebak dan di fitnah. Kondisi Iren mulai down, hingga berdampak pada kesehatannya.
Setelah melakukan sidang, dan mendapatkan akte cerai, Iren langsung pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi. Proses perceraian Albi dan Iren cukup cepat karena Iren memberikan bukti perselingkuhan Albi. Iren juga memakai jasa pengacara agar proses perceraiannya cepat selesai.
Iren masuk ke ruang operasi dengan perasaan ragu dan takut. Tak ada yang mendampinginya. Beruntung suster telaten mengurus Iren saat selesai operasi ... Ia melewatinya seorang diri, benar-benar seorang diri. Walau terkadang para asisten rumah tangga menjenguk Iren secara bergantian dan membawakan makanan untuk Iren, dan karena itu Iren tau bahwa Albi tak pulang selama berminggu-minggu.
Dan setelah beberapa minggu pasca operasi, kebahagiaan datang menghampiri Iren, sang ayah telah bebas dan ia bisa berkumpul lagi dengan sang ayah.
dan sekerang. ia bisa bernapas lega saat Dokter berkata ia bisa pulang hari ini. operasi Iren berhasil. Namun, Irem harus tetap menjaga pola makan dan hidup sehat agar sel kanker tak kembali tumbuh.
Saat dokter keluar, Iren langsung bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah nakas dan mendudukan dirinya, lalu membuka pintu nakas, mengeluarkan tas dan memasukan baju-bajunya. Karena memang Iren tau bahwa ia akan berada cukup lama di rumah sakit dan tak ada yang bisa di mintai tolong, Iren pun membawa baju yang cukup banyak.
Tentu gerak-gerik Iren tak lepas dari penglihatan Nio. Sampai saat ini, Ia masih belum berani menegur Iren karena Iren masih bersikap sama, tak menganggapnya ada seolah Nio hanyalah sebuah bayangan yang yang tak terlihat.
Setelah selesai Iren melepaskan dua tas besar, ia mengambil dres panjang serta kerudung dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap.
Saat Iren sudah masuk ke kamar mandi, Nio bangkit dari duduknya dan mengambil kedua tas Iren dan ia akan memasukannya ke mobilnya serta ia akan melunasi biyaya rumah sakit istrinya. Nio sengaja melakukannya saat Iren pergi ke kamar mandi, agar Iren tak ada alasan untuk menolak.
••••
Setelah selesai mandi, Iren keluar dari kamar mandi dengan wajah yang fresh. Matanya membulat saat tas besar berisi pakiannya hilang. Ia berjalan dengan cepat untuk keluar dari ruangan dan saat ia akan membuka pintu, pintu terbuka dari luar karena tentu saja karena Nio akan masuk lagi kedalam.
"Kau sudah selesai?" tanya Nio. Untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri berbicara pada Iren.
Iren masih bergeming, ia bahkan memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Aku sudah mengurus semua. Administrasi sudah kuurus Ayo kita pulang!" ajak Nio membuat Iren membulatkan matanya. Nio masuk kedalam ruangan dan melewati tubuh Iren untuk mengambil tas kecil milik Iren yang berisi dompet dan ponsel Iren.
"Ini!" Nio menyodorkan tas ke hadapan Iren, dengan gerakan malas, Iren mengambil tas dari tangan Nio lalu berjalan ke luar ruangan dan di susul oleh Nio.
"Kau tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil dulu!" titah Nio saat mereka keluar dari rumah sakit. Tanpa mendengar jawaban Iren, Nio pun berlalu meninggalkan Iren.
Saat berada di depan Iren, Nio turun dari mobilnya ia kemudian ia membukakan pintu mobil untuk Iren depan untuk Iren. Namun, Iren malah berjalan ke arah pintu belakang dan membukanya
Namun, saat membuka pintu mobil belakang, Iren menghela napas berat saat bagian belakang penuh barang milik Nio, ia pun kembali menutupnya dan terpaksa masuk ke kursi depan.
Saat Iren sudah masuk, Nio menutup pintu, lalu masuk kedalam kursi kemudi.
Hening, hanya keheningan yang terjadi sepanjang perjalanan. Iren memalingkan tatapannya ke arah lain, sedangkan Nio fokus mengemudi.
Satu jam kemudian, mereka pun sampai di rumah mewah milik Nio. Walaupun rumah mantan suaminya cukup mewah, tapi rumah Nio berkali-kali lebih mewah. Jika saja Iren belum hijrah dan masih memikirkan harta tentu dia akan tergoda oleh Nio. Namun sayangnya saat ini ia sudah tak ingin lagi memikirkan tentang harta.
Setelah ia selesia operasi, ia sudah memikirkan banyak hal, termasuk rencananya untuk bekerja lagi sebagai Dokter, ia tak ingin berpegang lagi pada siapa pun.
Saat mobil berhenti di garasi, Iren pun turun dari mobil. Ternyata sang ayah sudah menunggunya di depan pintu hingga ia langsung berjalan dengan cepat untuk menghampiri sang ayah. Sampai detik ini, Iren masih tak percaya bahwa sang ayah sudah bebas dan ada di depannya.
•••
Waktu menunjukan pukul 5 sore. Setelah Iren puas bercerita bersama sang ayah. Asisten rumah tangga Nio mengantar Iren untuk pergi ke kamar dan istirahat, tentu saja atas perintah Nio.
Dan di sinilah Iren sekarang, berada di kamar yang sangat besar dan megah dengan desain klasik serta tatanan yang cukup indah membuat Iren terkagum-kagum. Sudah sedari dulu ia ingin mempunyai kamar dengan tatanan seperti ini.
Ia meneliti semua inci kamar sampai matanya menagkap pada bingkai yang cukup besar, bingkai itu berisi foto Nio yang sedang berdiri dengan seekor singa.
tiba-tiba, Iren mengengguk salivanya, saat menyadari bahwa dia sedang berada di kamar nio. Setelah sadar bahwa ia ada di kamar Nio, Iren pun segera berbalik dan beniat keluar dari kamar Nio.
Namun saat ia akan membuka pintu, pintu terkunci. Membuat Iren heran. Padahal seingatnya saat ia masuk kedalam kamar ia tak mengunci pintu.
"Kau mau kemana?" suara itu menyadarkan Iren dan membuat Iren menoleh kebelakang. Matanya membulat saat melihat Nio sedang bersandar dan menatap padanya. Ternyata, Nio sudah menekan tombol kunci otomatis agar Iren tak keluar dari kamarnya.
Baru saja Nio akan menghampiri Iren, langkahnya terhenti saat ponsel di sakunya berdering. Ia menggeram kesal saat melihat id si pemanggil yang tak lain adalah Kevin, ia lupa ... Rivalnya takan membiarkan ia hidup tenang. Rivalnya adalah orang yang licik, mustahil jika Kevin tak meminta imbalan saat ia membantu Nio.
•••
Brakk
Pintu kamar di buka dengan keras membuat Julia yang sedang di dalam terperanjat kaget. Albi masuk dengan rahang mengeras, kemudia ia menarik keras tangan Julia untuk keluar.
"Bukankah sudah kubilang jangan memasuki kamar ini! Hah!" teriak Albi saat Julia masuk kedalam kamar yang pernah di tempati Iren.
Teriakan Albi sangat keras hingga Gani mendengar teriakan sang putra. Ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Albi dan Julia
Kemudian ...
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya