"Ayah di sini, Ren, ayah di sini," ucap Aryan. saat Iren terus menangis di pelukannya. Iren yang tadinya menangis langsung menghentikan tangisannya saat melihat orang di belakang ayahnya. Ia sungguh terkejut setangah mati saat melihat Nio.
Tiba-tiba, dadanya terasa sesak saat melihat Nio kembali. Kilatan saat Nio menghinanya terlintas lagi di otaknya. Nio yang sadar di tatap oleh Iren langsung memalingkan tatapannya ke arah lain. Lidahnya seolah terkunci untuk sekedar menyapa.
"Iren!" panggil Aryan, membuat Iren tersadar dari lamunannya. Iren melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aryan lekat-lekat.
"Iren ga mimpi, kan, Yah. Ini ayah, kan?" ucap Iren lirih. Ia terus bertanya pertanyaan yang sama karena tak percaya bahwa sang ayah ada di depannya.
Aryan tersenyum, ia menghapus air mata Iren lalu mengecup kening putrinya. "Iren ga mimpi, ini ayah," jawab Iren. Sebenarnya bukan hanya Iren yang tak percaya. Ia pun tak percaya bahwa ia akan bebas secepat ini.
Iren menatap Aryan lekat-lekat, ia seolah belum percaya bahwa sang ayah berada di depannya. Ia sempat hilang harapan, karena ia pikir sang ayah sudah di pindahkan keluar kota, hingga ia hanya bisa pasrah.
Albi yang sudah bangkit dari posisinya, terdiam. Ia bingung harus bereaksi bagaimana. Beberapa minggu lalu, ia masih bisa mengancam mertuanya dan menindasnya. Tapi sekarang, saat ia sadar tentang kesalahannya pada Iren, ia sudah kehilangan kesempatan.
Seketika ia teringat almarhum mantan suami kakanya yang juga sama seperti dirinya. Ya, sang Kaka pernah hidup seperti Iren, selalu di siksa dan di jadikan pelampiasan oleh mantan suaminya.
p tanpa sadar, ia melakukan hal yang sama kejinya seperti mantan suami kakanya. Menyiksa istrinya dan melukainya psikisnya. Obsesi pada mantan kekasihnya membuatnya. buta mata, selalu menyalahkan Iren, padahal dia yang bersalah. Mengkhianati Iren, padahal Iren mencintai setulus hati.
Aryan langsung melihat ke arah Albi, lalu melihat ke arah Iren, ia bersyukur sang putri sudah lepas dari Albi. Ya, Aryan tau Iren sudah bercerai dari Albi, bahkan Aryan tau tentang apa penyakit apa yang di derita oleh putrinya. Tentu saja karena Nio malaporkan semuanya.
Selain mengawasi Iren diam-diam, Nio pun menyelidiki semua tentang Iren, ia memiliki koneksi cukup kuat di pengadilan, hingga ia bisa tau bahwa Iren sudah menceraikan suaminya.
Aryan menghela napas sejenak, ia tau kelakuan mantan menantunya tak bisa di tolererir, tapi ia pun tak ingin memupuk dendam atau membalas kejahatan dengan kejahatan.
Aryan meninggalkan Iren, ia berjalan ke arah Albi yang sedang menunduk. Ia menepuk lembut pundak Albi membuat Albi mendongak dan langsung mengangkat kepalanya.
"Pergilah! Jangan temui anak saya lagi. Saya sudah memaafkan kesalahan kamu ... Saya juga tak akan menuntut kamu dan jangan ganggu kami lagi," ucap Aryan membuat Albi terpaku. Ia sudah menyakiti lelaki parubaya di depannya. Bersikap arogan dan berlaku semena-mena. Tapi, balasaannya Aryan sungguh tak terduga.
Saat Aryan menghampiri Albi, Iren dan Nio berhadap-hadapan secara langsung. Nio yang sedang memalingkan tatapannya ke arah lain, kembali menatap kedepan, lalu matanya dan mata Iren saling bersibobrok. Mata mereka saling mengunci hingga beberapa detik.
Iren ingin sekali menampar lelaki di depannya ini dan ia sungguh muak untuk melihat wajah Nio. Nio berdehem, ia bisa melihat kekesesalan dan amarah dari tatapan Iren saat menatapnya.
"Permisi!" suara pintu terbuka, seseorang menyembulkan kepalanya kedalam membuat Nio menoleh kebelakang.
"Silahkan masuk," ucap Nio.
Kening Iren mengernyit saat melihat bebera orang masuk dan memakai jas. Tepukan di bahu Iren menyadarkan Iren dari lamunannya.
"Ren!" panggil Aryan, seketik Iren menoleh. "Hemm, Yah."
Aryan mengelus pipi Iren, lalu menggenggam tangan putrinya. "Iren sayang ayah?" tanya Aryan Iren pun mengangguk.
"Boleh ayah minta sesuatu sama Iren?" tanya Aryan dan lagi-lagi Iren mengangguk.
"Ayah pengen kamu sama Ardi nikah, sekarang," ucap Aryan membuat mata Iren dan Albi membeliak. Bagaimana mungkin sang ayah memintanya untuk menikah denga lelaki yang Iren benci.
Aryan tau dan Aryan yakin, Ardi adalah pilihan terbaik untuk putrinya. Ia tak ingin sang putri hidup dengan bayang-bayang Albi, begitu pun sebaliknya. Ia tak ingin Albi mengusik putrinya lagi.
"Tolak Ren, kumohon ... Tolak. Ijinkan aku menebus kesalahanku," batin Albi menjerit saat Iren melihat ke arahnya. Albi menggeleng pelan, ia menatap Iren dengan tatapan memohon.
Iren memutar bola matanya, bulir bening tergelincir dari pelupuk matanya. Ia melihat pada sang ayah, terlihat jelas netra sang ayah melihatnya dengan tatapan memohon dan penuh harap.
Iren menghela napas sejenak, lalu menghembuskannya. Ia melihat lagi ke arah Albi, lelaki yang mematahkan hatinya, cintanya, menyiksa batinnya. Kemudian ia mengangguk lemah menyetujui ucapan sang ayah, untuk menikah dengan Nio, membuat Aryan menghela napas lega.
Dunia Albi seakan berhenti berputar saat melihat Iren menyetujui untuk menikah dengan lelaki lain, rasa sesal yang baru beberapa jam ia rasakan sama sekali tak berguna. Sesak menghimpit dadanya. Ia benar-benar badjingan yang tak bisa termaafkan.
Nio menghela napas lega saat melihat anggukan Iren, ia merogoh saku dan mengetik untuk mengirimkan pesan Hanya dalam 10 menit, orang-orang masuk, membawa kursi dan meja.
Dan kini, Sudah ada wali, penghulu dan para saksi, duduk di posisinya masing-masing. Termasuk, Iren dan Nio yang duduk bersebelahan.
"Saya nikahkah dan kawinkan Engkau Antonio Ardi Haidar bin Edgar Haidar dengan putri saya Isabela Iren Giani binti Aryan hutomo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Isabela Iren Giani binti Aryan hutomo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
Setelah selesai dengan ijab qobul, saksi serempak berkata sah, lalu kemudian semua berdoa. Tangis Iren luruh, bagaimana mungkin ia bisa bernasib sial. Ia hancur dengan pernikahan pertamanya. Lalu sekarang, ia menikah dengan lelaki yang menghinanya dan menyebutnya p*****r. Bisakah Iren berharap ini hanya mimpi.
Ini bukan mimpi, karena ini sangat menyakitkan.
Albi masih terdiam, otaknya kosong seketika, bagaimana mungkin ia menyaksikan wanita yang ia masih anggap istri menikah dengan orang lain. Ia tak mampu berpikir jernih. Bahkan ia menatap Iren dengan tatapan kosong. Ia merasa nyawanya direnggut paksa dari raganya, perih dan sangat menyiksa.
Saat semua saksi berkata sah, napas Albi memburu. Ia melihat Nio dengan tatapan nyalang. Albi rasa, ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Pulang adalah jalan terbaik sebelum ia kehilangan akal.
•••
Ia berjalan dengan lemas, tatapannya masih kosong. Bahkan, ia merasa kakinya tak berpijak.
Saat masuk, ia melihat orang yang sedang duduk, lampu di ruangan keluarga memang gelap. Tapi, dari bayangan siluet, ia bisa tau bahwa sang ayah lah yang sedang duduk di sofa dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Habislah dia ...
Gani menatap sang putra dengan tatapan tajam, rahangnya mengeras. Ia tak menyangka bahwa anak yang selama ini ia didik dengan sungguh-sungguh menjadi seorang pria yang b******k. Dulu, ia memang b******k, tapi ia tak sampai mengkhianati istrinya sekalipun mereka sempat berpisah selama 7 tahun.
Putrinya pernah di siksa oleh suaminya. dan kini, ia tak menyangka putranya melakukan hal yang sama seperti mantan suami putrinya.
Lutut Albi gemetar, ia meraba-raba dinding untuk menyalakan saklar. Lampu menyala hingga matanya langsung bersibobrok dengan mata ayahnya.
Gani langsung bangkit dari duduknya untuk menghampiri sang putra, ia berjalan dengan langkah lebar membuat Albi langsung tertunduk.
Saat sampai di depan sang putra, Gani langsung mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan pada pipi putranya.
Plakk
Satu tamparan mendarat di wajah Albi, membuat Albi hampir terhuyung karena tamparan sang ayah begitu keras, ini kali pertamanya Gani murka pada sang putra.
Setelah tamparan melayang ke pipinya dan hampir terjatuh, Albi meringis dan masih tak berani menatap Gani.
Gani yang masih tersulut emosi, memegang kerah kemeja Albi lalu dengan secepat kilat, ia meninju pipi Albi hingga Albi terhuyung dan jatuh ke bawah, pukulan Gani sangat keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Bangun!" teriak Gani saat Albi masih terduduk. Karena takut dengan emosi sang ayah, Albi pun bangkit dari duduknya dan kembali berdiri.
"Siapa yang mengajarimu untuk menjadi pria b******k, Hah!" teriak Gani. Ia kembali mencekal kerah kemeja Albi, rahang Gani mengeras. Ia tak menyangka putranya akan melakukan hal yang sehina ini.
Awalnya Gani tak tau apa-apa, ia menganggap kehidupan putranya berjalan baik-baik saja. Namun, ia menemukan aliran dana yang tak wajar mengalir kedalam rekening putranya.Dan yang tak seharusnya di simpan oleh Albi
.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk tanpa sepengetahuan Mahira, Gani menyelidiki semuanya. Betapa terkejutnya Gani saat mengetahui tingkah putranya yang menyiksa Iren dan memenjarakan orang yang tak bersalah. Tadinya ia takan turun tangan, tapi ternyata Julia menghubunginya dan mengatakan bahwa Ia hamil anak Albi.
Karena belakangan ini Albi sangat sulit untuk di hubungi dan selalu menghindar, Julia yang dulu sudah diam-diam menyimpan nomer Gani pun langsung menghubungi Gani. Dan itu titik emosi seorang Samuel Gani.
Ia tak berkata apa-apa pada istrinya, karena Mahira sedang dalam kondisi tak sehat, ia beralasan ada urusan bisnis hingga ia hanya pergi seorang diri ke indonesia.
"Jawab!" bentak Gani saat Albi tak kunjung menjawab pertanyaanya. Albi bergeming, sekeras apa pun nada bicara sang ayah, ia masih tak berani untuk menjawab. Jangankan menjawab, mengangkat kepalanya saja ia tak berani.
"Arghhhh!" teriak Gani saat sang putra masih bungkam. Ia menghempaskan tubuh Albi ke samping lalu ia kembali duduk di sofa.
Albi yang masih merasa takut dan sakit di sekujur tubuhnya hanya bisa terdiam, ia masih belum berani mengangkat kepalanya.
Gani mengambil ponsel dari meja di depannya, jarinya dengan lihai menari di atas layar, mencari nomer seseorang kemudian menelponnya.
"Bawa dia kemari!" titah Gani. Mendengar ucapan sang ayah, Albi mengangkat kepalanya ia heran saat mendengar ucapan sang ayah yang memerintahkan seseorang.
Tak lama terdengar suara derap langkah membuat Albi menoleh. Matanya membulat saat melihat Julia berjalan ke arahnya. Ia memejamkan matanya menahan geram saat melihat Julia diam-diam menyeringai padanya.
"Kalian harus menikah sekarang juga!" ucap Gani saat Julia sudah berdiri di dekatnya.
Mata Albi terbelalak saat mendengar ucapan sang ayah. Ia langsung menatap Julia dengan tatapan membunuh.
"Dia sedang mengandung anakmu bodoh!" teriak Gani, seketika Albi kembali menunduk lagi saat Gani berteriak.
"Tapi bayi di kandungannya bukan anakku, Yah," lirih Albi dengan pelan membuat Gani dan Julia membelalakan matanya.
Gani ....
Tinggalin like dan Komenya ❤❤❤