Dua hari kemudian.
Iren menghela napas lega saat melihat email dari Haidar entertaiment. Ternyata ia terpilih. Ia pun dengan segera bersiap untuk datang ke Haidar entertaiment, hari ini dia akan menandatangani kontrak dan memulai pemotretan.
Satu minggu kemudian.
Albi menggeram emosi saat melihat artikel di ponselnya, ia melihat foto Iren menjadi model untuk brand kesehatan. Bagaimana mungkin ia tak tau bahwa istrinya menjadi model.
Selama ini, semua orang tau bahwa Iren adalah istri dari Samuel Albi dan menantu dari Samuel Gani yang merupakan seorang konglomerat. Dengan Iren menjadi model harga diri Albi seakan hilang, karena ia akan di cap tak mampu untuk menghidupi Iren.
Dengan emosi, Albi bangkit dari duduknya, kemudian ia keluar dari apartemennya, ia berniat pulang ke rumahnya untuk bertemu Iren.
•••
"Iren ... Iren!" teriak Albi saat membuka pintu rumahnya. Ia memanggil Iren seperti orang yang sedang kesetanan.
Iren yang masih terbaring lemah karena baru selesai melakukan kemo, membuka matanya saat mendengar teriakan Albi. Ia berdoa semoga ia kuat menghadapi lelaki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.
Saat Iren akan bangkir dari berbaringnya. pintu terbuka dengan keras membuat Iren terperanjat kaget.
"Berani sekali kau!" teriak Albi sambil berkacak pinggang di hadapan Iren. Sungguh, ia sangat takut pada Albi saat ini, ia takut Albi akan berbuat nekad menyakitinya sedangkan dia tak ada tenaga untuk melawan.
Albi yang emosi karena Iren tak menjawabnya, langsung menarik selimut yang di pakai Iren dengan keras, membuat tubuh Iren bergidik. Ia mengepalkan tangannya menahan ketakutan, keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuhnya, badannya menggigil. Lamat-lamat kepalanya mulai memberat, sedetik kemudian ia langsung tak sadarkan diri.
Albi yang baru saja akan menghampiri Iren lebih dekat menghentikan gerakannya. Ia mengusap wajah frustasi, berusaha mengendalikan dirinya. Ia pun takut jika ia kalap dan melukai Iren, hingga akan terjadi malasah baru. Ia pun keluar dari kamar dengan membanting pintu. Sayangnya, ia tak menyadari bahwa Iren tak sadarkan diri
••••
Iren membuka matanya, kepalanya berdenyut nyeri. Ia melihat ke jam yang menunjukan pukul 11 malam, ternyata Iren sudah tak sadarkan diri selama 3 jam. Ia bersyukur bahwa Albi tak menyakitinya.
Ia mengambil ponsel, ternyata ada satu pesan yang masuk dari orang yang tak di kenal, membuat Iren mengernyitkan kening karena isi pesan tersebut.
["Besok ada pemotretan di hotel Shingrie pukul 8 malam. Mohon datang tepat waktu"] tulis pesan tersebut. Iren pun membalas dan menyutujui pesan tersebut karena ia pikir, pesan itu dari agensinya.
••••
Keesokan harinya ...
Iren sudah sampai di hotel yang di perintahkan, ada beberapa orang wanita yang sudah menunggunya di lobi, Iren pun di arahkan untuk masuk ke kamaf yang telah di pesan.
Tanpa curiga, Iren pun mengikuti langkah wanita yang tadi menunggunya. Saat masuk, beberapa wanita tersebut pamit beralasan untuk mengambil peralatan. Iren pun mengangguk, lalu menunggu di dalam.
10 menit kemudian, Saat Iren duduk di sofa, muncul satu orang lelaki yang hanya memakai handuk kimono, lelaki itu keluar dari kamar mandi, membuat Iren terperanjat kaget.
Lelaki itu menyeringai, kemudian ia berjalan mendekati Iren. Wajah Iren berubah menjadi pias. Ia langsung mundur berniat berlari ke arah pintu.
Namun, belum sempat ia berlari ... pintu di dobrak, tiba-tiba ada wanita masuk dan langsung memukul tubuh Iren secara membabi buta.
"Dasar p*****r ... Dasar p*****r! berani sekali kau menggoda suamiku!" teriak wanita itu sambil memukul tubuh Iren. Iren yang bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa diam dan tak melawan.
Baru saja Iren akan melawan, terdengar suara gaduh dari luar. Beberapa wartawan masuk, serta beberapa polisi yang langsung memisahkan Iren dan wanita tadi.
Masih dengan kondisi bingung, Iren pun menurut saat polisi menggiringnya keluar. Tentu saja dengan para wartawan yang mengambil fotonya.
Saat Iren sudah masuk kedalam mobil polisi, ada seseorang yang tersenyum, senyuman itu begitu kejih, seolah puas dengan apa yang dialami oleh Iren. Dan siapa lagi jika bukan Albi.
Ya, Albi menjebak istrinya sendiri. Ini semua adalah rencananya. Ia sempat bingung bagaimana cara menghentika Iren. Namun, ia mendapat ide untuk menjebak Iren agar Iren di sangka seorang wanita simpanan dan seorang wanita panggilan. Dan semua orang akan bersimpati padanya karena memiliki istri seperti Iren.
Dan jika keluarganya tau tentang apa yang dia lakukan selama ini, ia bisa memutar balikan fakta.
•••
Kabar penggerebekan Iren sudah tayang di media cetak dan media online, kabar itu cukup heboh dan membuat geger karena Iren membawa beberapa nama besar. Nama suaminya, nama Haidar entertaiment dan nama brand yang ia promosikan.
Saat membaca kabar yang beredar, Nio langsung memanggil beberapa Staff karyawannya. Mereka sempat heran siapa Nio karena yang mereka tau, Adnan, lah, direktur utama, Haidar entertaiment.
Saat semua berkumpul, Nio langsung melempar gelas kehadapan para Staff perusahaanya. Ia kecewa saat para karyawannya tak memilih model dengan benar. Hingga perusahaan yang selama ia dirikan dengan susah payah harus hancur hanya karena satu orang dan satu berita.
Semua karyawan terperanjat kaget saat nio melempar gelas kehadapan mereka, hingga mereka pun refleks memundurkan langkahnya. Terlihat jelas wajah Nio menyimpan amarah yang membara. Bahkan, tatapan Nio mampu menusuk siapa saja yang melihatnya.
"Apa kalian bodoh, Hah! Bagaimana mungkin kalian memlilih seorang model yang ternyata adalah seorang p*****r!" Teriak Nio dengan keras pada para staff di depannya.
Para Staff hanya bisa tertunduk, mereka memejamkan matanya saat Nio berteriak, seketika suasa mencekam sangat terasa di ruangan itu karena teriakan dari Nio dan amarah dari Nio.
"Kau!" tiba-tiba Nio berteriak lagi, matanya melotot tajam ke arah pintu saat melihat Iren sedang berdiri mematung.
Saat kabar itu di luncurkan, Adnan bergerak cepat, ia menyusul Iren ke kantor polisi dan membiarkan pengacara yang mengurusnya hingga ia bisa membawa Iren. Ia akan mengintrogasi Iren di kantor.
Dan tepat saat Iren dan Adnan akan masuk, Iren mendengar teriakan Adnan yang menyebutnya p*****r.
Lutut Iren melemas saat Nio menghinanya dan menyebutnya seorang p*****r di hadapan orang lain . Jantungnya terasa di tikam ribuan jarum. Harus sedasyat ini kah karma yang ia terima, harus sehebat inikah rasa sakit yang ia tanggung.
Ia memang pernah melakukan kesalahan pada satu orang. Tapi kenapa semesta ikut menghukumnya sebesar ini. Mendengar orang lain menghinanya dan menyebutnya seorang p*****r dunia Iren menggelap. Ia merasa bahwa ia adalah wanita yang paling hina dunia ini.
Tak adakah yang bisa membelanya sekarang, membebaskannya dari siksaan yang tak berujung.
Melihat Iren, emosinya Nio kembali meradang. Dengan langkah lebar ia berjalan ke arah pintu Sedangkan Iren, ia tak masih berani mengakat kepalanya.
"Nio!" sentak Adnan. Ia menahan tubuh Nio saat Nio akan mendekati Iren, ia takut sang kaka akan melukai Iren.
"Kau pergilah. Aku akan menghubungimu nanti!" ucap Adnan pada Iren. Ia masih menahan tubuh Nio karena takut, Nio akan mencelakai Iren.
"Argghhhh!" teriak Nio. Ia berteriak setelah Adnan melepaskan dirinya. "Bodoh!" teriak Nio di hadapan wajah Adnan. Ternyata, Adnan pun harus terkena amukan dari kakanya.
•••
Iren berjalan dengan menuduk, ia tak berani mengakat kepalanya karena semua karyawan Haidar entertaiment yang berpapasan dengannya memandangnya dengan tatapan sinis.
Saat masuk kedalam mobil, tatapannya kosong. Ini titik terendahnya sebagai manusia. Di mana ia lelah, dan ingin mengakhiri semuanya.
Masih dengan tatapan kosong, Iren menjalankan mobilnya. Saat berada di jalan raya, Iren tiba-tiba tertawa nyaring. Namun, mengeluakan air mata.
Ia memejamkan matanya saat melihat pembatas jalan, dan berniat menabrakkan dirinya, rasanya ia sungguh tak sanggup lagi menerima ini semua.
Ia menjalankan mobilnya di dengan kecepatan penuh. Tapi, tak lama ia kembali mengerem mendadak karena wajah sang ayah terlintas di otaknya.