bab 8

1109 Words
Mendengar ucapan Julia, Albi terasa di sambar petir di siang bolong, bagaimana mungkin ... "Katakan yang kau katakan tak benar, kan?" Albi mencengkrem kedua baju Julia membuat Julia meringis. "Ma-mas," ucap Julia terbata-bata. Ia meringis dan takut secara bersamaan. Ini, kali pertamanya ia melihat Albi semarah ini. Albi menghela napas, ia melepaskan cengkramannya pada bahu Julia. Ia mengusap wajah kasar, kenapa masalah muncul lagi, padahal satu masalah baru saja selesai. Jika sang ayah tau, riwayatnya akan benar-benar habis. Setelah melihat Albi tenang, Julia pun menghambur memeluk Albi, sedangkan Albi hanya terdiam. Tubuhnya limbung, membuat Julia hamil sama sekali tak ada dalam kamusnya. Lalu sekarang, dia harus apa. "Mas!" panggil Julia. Ia melepaskan setengah pelukannya, lalu mendongak melihat Albi. Saat mata Albi bersibobrok denga mata Julia. Albi lagi-lagi menghela napas gusar, ia harus memikirkan cara membereskan semuanya. Cara agar ia tak terkena masalah. "Ayo duduk!" ajak Albi, ia berusaha berbicara dengan kepala dingin. Julia pun mengangguk, ia melepaskan pelukannya lalu duduk di sebelah Albi, kemudian memeluk pinggang Albi, membuat Albi menggeram kesal. Semenjak ia tau bahwa Julia mengirim foto-fotonya pada Iren. Rasa suka Albi pada Julia mengurang. Bahkan saat ini, ia menggeram kesal karena Julia memeluknya..Padahal, biasanya, ia sangat senang dengan sikap manja Julia. "Mas, aku hamil. Jadi kita harus gimana?" tanya Julia lagi, membuat Albi memejamkan matanya karena bingung. "Mas belum, tau. Kita jalanin aja pelan-pelan," jawab Albi. Mendengar jawaban Albi, Julia melepaskan pelukannya. "Jadi mas ga mau nikahin aku?" tanya Julia, ia berbicara dan menatap tajam pada Albi, membuat Albi terpaku. Ini kali pertamanya Julia berteriak padanya. Melihat tatapan Albi, Julia tersadar. Kemudian ia kembali memeluk pinggang Albi. "Maaf, aku ga maksud buat teriak. Maksudku, aku, kan, lagi hamil ... Mas harus nikahin aku. Bisa gawat kalau kecium sama media," ucap Julia. Lagi-lagi membuat Albi menghela napas berat. "Kamu pulang, dulu, ya. Nanti Mas nyusul. Mas masih banyak kerjaan," jawab Albi dengan malas. Ia harus memikirkan semua matang-matang. "Aku pengen pulang sama, Mas," pinta Julia, membuat Albi diam-diam mengepalkan tanganya. Dalam sekejap, Julia berhasil membuatnya ilfeel. Albi melepaskan tangan Julia yang melingkar di pingangnya. Lalu bangkit dari duduknya, ia merogoh saku dan mengambil dompet lalu menarik kartu dan memberikannya pada Julia. "Kamu boleh belanja sepuasnya. Jangan hubungin, Mas, kalau Mas ga hubungin kamu," ucap Albi membuat mata Julia membulat sempurna. Tanpa di perintah dua kali, Julia pun mengambil kartu itu dan secepat kilat keluar dari ruangan Albi. Albi membanting tubuhnya ke sofa, ia harus memikirkan cara yang pas untuk mengakhiri semua ini. Bayangan sang ayah murka sudah terlintas di depan matanya. ••• Iren meremas tanganya karena gugup. Ia sedang menunggu juri dan coach yang akan menilainya tentu saja Iren tak sendiri. Ia bersama wanita lainnya.. Tak lama, pintu terbuka. Beberapa orang masuk, termasuk Adnan. Saat masuk mata Adnan langsung menatap pada Iren, begitu pun Iren. Sadar akan tatapan Adnan, Iren pun memalingkan tatapannya ke arah lain. Penjurian di mulai, mereka melakukan beberapa test dan mulai berfoto menggunakan contoh dengan memakai beberapa brand ternama. Sudah hampir 3 jam, mereka melakukan beberapa test dan pemotretan, hingga akhirnya semua proses itu selesai. Mereka hanya tinggal menunggu kabar dua hari kemudian. Saat Adnan mengajak semua tim untuk makan bersama, Iren terpaksa harus menolak. Tubuhnya begitu lemah tak bertenaga, ia merasa perut bawahnya kembali sakit, hingga ia terpaksa harus pulang lebih cepat. "Kalau begitu saya permisi duluan," pamit Iren saat semua akan bersiap untuk pergi. Mereka pun mengangguk sebagai respon atas ucapan Iren. Saat Iren pergi, Adnan sama sekali belum melepaskan pandangannya, ia terus menatap punggung Iren yang terus berjalan menjauh. Ia merogoh ponsel, lalu jari-jarinya dengan lincah menari di atas layar, ia mengirim pesan pada seseorang. •••• Sinar matahari memasuki jendela, suara burung berkicauan, membuat Iren terbangun dari tidurnya. Ia menghela napas saat melihat jam yang ternyata pukul 7 pagi. Dengan pelan, Iren bangkit dari duduknya dan menyenderkan punggungnya ke belakang. Tubuhnya terasa lemas, ia ingin berbaring seharian ini. Tapi ia harus pergi ke pengadilan untuk mengbamblil formulir perceraian. Ia pun turun dari ranjang, dan langsung pergi ke kamar mandi kemudian segera bersiap. . Dan di sinilah Iren berada, di depan gedung pengadilan. . Iren menatap pengadilan di depannya dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca, ia tak menyangka bahwa ia akan berada di titik ini. Titik yang tak pernah ia duga sebelumnya, titik di mana ia akan menyerah pada hal yang selama ini ia perjuangkan. Iren menghirup napas dan menghembuskannya beberapa kali "Kau pasti bisa Iren." Iren menguatkan dirinya. Ia mulai melangkahkan kakinya dan masuk ke pengadilan. Saat akan berbelok ke ruangan yang telah di tunjuk oleh petugas. Iren yang sedang menuduk menabrak seorang lelaki, berjas yang tampak rapih, terlihat jelas lelaki itu adalah seorang pengacara. "Maaf," lirih Iren. Ia mengangkat kepalanya hingga matanya bersibobrok dengan mata lekali yang di tabraknya. "Tolong perhatikan jalanmu!" ucap lelaki itu membuat Iren terdiam. Lalu, Iren menggeser tubuhnya, membiarkan lelaki itu melewatinya. Kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan yang akan di tujunya. ••• Setelah mengambil formulir perceraian. Iren mendudukan dirinya sejenak. Perutnya kembali nyeri. Sepertinya, ia tak bisa mengisi formulir tersebut dan mengajukannya sekarang. Ia harus beristirahat, agar kondisinya tak semakin buruk. Saat ia akan menjalankan mobilnya, ponselnya berdering, satu pesan masuk ke ponselnya. Dan ternyata Julia yang mengiriminya pesan. ["Aku harap kau mundur. Aku sedang mengandung anak suamimu. Dia bahkan memberikan kartu ini sebagai tanda terimakasih karena aku mengandung anaknya"] Tulis Julia dalam pesannya, tak lupa ia memoto blackcard yang tadi albi berikan. Tentu saja Julia berbohong karena ingin memanas-manasi Iren. Test! Membaca pesan tersebut, bulir bening langsung tergelincir dari kedua pelupuk matanya. Iren tau hal ini akan terjadi, dan Iren yakin itu, hingga ia sudah menyiapkan dirinya untuk menerima kabar ini, tapi tetap saja saat ia tau, rasanya menyesakkan. Dulu, ia pernah membayangkan akan mempunyai keluarga yang utuh bersama Albi, anak-anak yang lucu dan keluarga yang hangat. Tapi Nyatanya, semua tak sejalan dengan apa yang ia inginkan. Semua berbalik, Rumah tangganya hancur, ia menderita kanker rahim yang ia sendiri tak yakin apa dia bisa sembuh atau tidak, dia tak yakin ia bisa mengandung dan ia yakin, ini semua adalah karma yang ia terima karena berbuat dosa di masa lalu. Iren menaruh kepalanya di stir, ia menangis sejadi-jadinya. Cobaan datang terus menerus, hingga terkadang, ia merasa menyerah lebih baik dari pada harus menerima ini semua. Setelah puas menangis, Iren mengangkat wajahnya, ia kembali mengambil ponselnya dan memblokir nomer ponsel Julia. Ia tak ingin terus di bayang-bayangi hal yang akan menyakitinya. Ia harus bangkit demi sang ayah. Lalu tak lama, ia teringat Bunga. Ia terpikir sesuatu. Mungkin, meminta maaf pada Bunga akan sedikit meringankan bebannya. Ia pun mengambil ponsel dan mulai menelpon Bunga, dan mengajak Bunha untuk bertemu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD