Saat melihat Iren, Aryan tersenyum. Kemudian, ia mendudukan diri di depan Iren.
"Ayah kenapa?" tanya Iren. Tangannya terulur menggenggam tangan sang ayah. Melihat wajah ayahnya yang sembab, Iren yakin ayahnya sudah menangis dalam waktu yang lama.
"Ayah, ga apa-apa, Ren," jawab Aryan. Ia tersenyum. Namun, hatinya teriris perih kala melihat sang putri. Sekarang, ia tau kenapa Iren begitu kurus, bahkan sangat kurus.
Aryan harus menelan pil pahit, kala ia harus mendengar semuanya dari mulut menantunya.
Ya, semalam ... Untuk pertama kalianya Albi datang mengunjunginya.
Aryan pikir, menantunya akan membantunya untuk bebas. Namun, Aryan salah ... Albi malah mengatakan hal yang tak pernah ia duga.
Jantung Aryan serasa di tusuk ribuan jarum kala menantunya membeberkan hidup seperti apa yang Iren jalani. Albi mengatakan semuanya tanpa ada yang terlewat, termasuk tentang penangkapan Aryan yang sebenarnya adalah ulah dirinya.
Albi merasa terancam saat Iren mengatakan bahwa ia akan melaporkan semuanya pada kedua orangtuanya. Dan yang Albi bisa lakukan adalah bertemu mertuanya dan menekan Iren lewat Aryan, mertuanya.
Dengan senyum bengis, Albi sesumbar pada Aryan, bahwa dia bisa melakukan apa pun yang dia mau. Termasuk menghancurkan Iren sehancur-hancurnya. Albi meminta Aryan untuk menekan Iren agar Iren tak berani berbuat macam-macam. Karena Albi tau, hanya Aryan yang bisa menekan Iren.
"Ayah aku punya kabar baik buat ayah," ucap Iren sambil tersenyum membuat Aryan sadar dari lamunannya.
"Kabar apa, hmm?" tanya Aryan.
"Ayah, aku dapet bukti kalau ayah enggak salah. Ayah pasti cepet bebas," bisik Iren, ia sengaja menundukan kepalanya agar ia polisi di belakang Sang ayah tak mendengar ucapannya.
Aryan menghela napas gusar nan berat saat mendengar ucapan Iren. Kini, ia tau maksud menantunya saat berkata bahwa ia harus mencegah Iren melakukan hal yang macam-macam.
"Iren dengerin ayah," ucap Aryan. Ia menghentikan ucapannya sejenak, kemudian ia menatap putrinya lekat-lekat. Ia lebih memilih mengorbankan dirinya dengan mengikuti kemauan menantunya, dari pada ia melihat putrinya semakin di siksa oleh Albi
"Kenapa, yah?" tanya Iren sambil mengernyitkan kening
"Ayah sebentar lagi mau pindah ke lapas khusus di luar kota. Jadi Iren ga usah jenguk ayah kesini lagi," ucap Aryan. Ternyata pemindahan dirinya di percepat. Ia lebih memilih pasrah dan menerima semua keputusan dari pada putrinya semakin di siksa oleh Albi.
Mendengar ucapan sang ayah, mata Iren membulat. Bagaimana mungkin sang ayah di pindahkan secepat ini.
"Yah!" lirih Iren. Tiba-tiba, bulir bening jatuh dari pelupuk matanya, ia tak bisa membayangkan jika ia tak bisa melihat sang ayah setiap hari. Ia memang tau sang ayah akan di pindahkan. Tapi, Iren tak menyangka bahwa sang ayah akan dipindahkan secepat ini.
Iren menghapus air matanya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Yah, Iren mau ikut kemana pun ayah pergi. Iren mau liat ayah tiap hari. Iren mau masakin semua masakan kesukaan ayah Ir ...." Iren menghentikan ucapannya saat melihat gelengan dari sang ayah.
Aryan menggeleng, ia kemudian membalas genggaman tangan Iren.
"Iren dengerin, Ayah. Iren harus tetep di sini. Ayah ga akan tenang kalau Iren hidup sendiri. Kalau Iren sayang ayah, Ikutin, ya kata-kata Ayah," ucap Aryan. Bulir bening langsung terjatuh di kedua pelupuk matanya setelah berbicara. Tak bisa di bayangkan betapa pedihnya sepasang ayah dan anak tersebut saat harus terpisah, dan menderita karena seorang Albi Maheswari, yang mempunya ego selangit, tak mau kalah, namun pengecut yang hanya bisa mengancam.
"Yah!" lirih Iren. Seketika Aryan tersenyum. "Ayah ga boleh nyerah. Iren udah nemuin bukti kalau ayah ga salah. Iren nem ...." Lagi-lagi Iren menghentikan ucapannya saat melihat Aryan menggeleng
"Ga akan ada bukti yang bisa ngebebasin Ayah, Ren," ucap Aryan. Seketika Iren terdiam. Benar ucapan sang ayah, ia hanya mempunyai selembar cek, dan cek itu takan bisa menjadi bukti bahwa sang ayah tak bersalah. Tiba-tiba, ia merutuki dirinya sendiri, seharusnya ia menyelidiki terlebih dahulu semua.
"Iren sehat-sehat, ya. Doain ayah. Biar ayah panjang umur, terus Ayah bisa nemenin Iren setelah bebas."
Mendengar ucapan sang ayah, tangis Iren pecah. Ia mencium tangan sang ayah lalu menangis tersedu-sedu. Jika bisa, ia ingin mengulang waktu di mana ia tak pernah mengenal Albi, jika seandainya ia tak serakah. Tentu semua ini takan terjadi.
Aryan menahan tangisnya. Ia mengelus rambut sang putri yang sedang menangis. Ia hanya berusaha pasrah menerima takdir yang ada. Aryan yakin, akan ada masa di mana ia dan putrinya bahagia.
"Waktu jam besuk sudah habis," ucap polisi yang sedari tadi menunggu.
Iren masih tergugu menangis sambil mencium tangan Aryan. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya, kala sang ayah akan menarik tangan dari genggamannya.
"Iren sabar, ya. Allah ga tidur. Kita pasti bisa kumpul lagi kaya dulu," ucap Aryan, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Iren.
"A-ayah," lirih Iren saat melepaskan genggaman tangan sang ayah. Hatinya semakin perih kala melihat sang ayah masih bisa tersenyum, padahal ia tau, mata sang ayah sudah berkaca-kaca.
"Iren sehat-sehat, ya. Ayah masuk dulu," pamit Aryan. Langsung bangkit dari duduknya. Ia mengelus rambut Iren, lalu kembali berbalik dan pergi meninggalkan Iren yang masih tergugu menangis.
Iren berjalan ke mobilnya dengan langkah gontai. Ia merasa kakinya tak berpijak, tubuhnya sungguh lemas tak bertenaga. Rasanya, Iren ingin menyerah.
Saat masuk kedalam mobil, Iren menangis sekencang-kencangnya. Ia memukul-mukul kepalanya ke stir kemudi. Ia sungguh lelah, dan ingin menyerah.
tring!
Suara ponsel menyadarkan Iren. Dengan lemas, ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya.
Ia menghela napas berat saat melihat notifikasi adanya uang yang masuk ke rekeningnya. Itu adalah uang bulanan yang selalu abi kirimkan setiap bulan.
Lalu tak lama, ponselnya kembali berdering. Satu pesan kembali masuk, ternyata pesan dari Albi
["Duduk manis dan jangan bertingkah. Atau aku akan membuat ayahmu semakin sengsara"] tulis Albi dalam pesannya. Seketika, Iren menjatuhkan ponselnya setelah membaca Albi. Kini, ia mengerti kenapa sang ayah di pindahkan secepat itu dan kenapa wajah sang ayah terlihat sembab.
Tangis Iren kembali pecah. Di titik ini, Iren hancur sehancur hancurnya. Di titik ini pula, Iren menyadari sesuatu. Ia sadar, sampai kapanpun ia tak aka bisa melawan Albi, sekalipun ia mengadu pada mertuanya. Terbukti, Albi masih membencinya dan membawa ayahnya karena ia sudah menjebak Albi dulu, kebencian Albi pada dirinya sudah mendarah daging.
Cukup ia saja yang terluka, ia tak ingin membawa sang ayah terluka lebih dalam. Apa pilihan yang Iren punya?
Mundur dan mengugat cerai Albi secara diam-diam. Iren tak tau keputusannya benar atau salah. Tapi, dengan bercerai. Satu beban pergi dari hidupya.
Iren menarik napasnya beberapa kali, lalu menghebuskannya. Ia berusaha mengendalikan diri. Hal yang pertama harus ia lakukan adalah pergi ke pengadilan untuk mengambil berkas pengajuan perceraian.
Saat Iren akan menjalankan mobilnya, ponselnya kembali berdering. Satu pesan masuk kembali ke ponselnya. ia kembali mengambil ponselnya dan melihatnya. Ternyata, ada email yang masuk.
Iren membukanya, kemudian mengernyit heran saat melihat pengirim email tersebut.
Haidar entertaiment.
Iren mengenyirkan keningnya saat melihat email tersebut. Pesan email itu berupa tawaran menjadi model dan masuk ke agensi Haidar entertainment.
Seingat Iren, Iren tak pernah mendaftarkan dirinya pada Agensi Haidar entertainment, tapi dalam email tersebut, memuat data-data Iren termasuk tempat dulu Iren bekerja.
Iren tak mau ambil pusing, ia kembali menaruh ponselnya dan menyalakan mobilnya. Namun, gerakannya terhenti saat ia menyadari sesuatu.
Ia pun kembali mengambil ponselnya lalu memeriksa email tersebut secara rinci.
Setelah resmi bercerai, Iren butuh pemasukan untuk dirinya dan untuk sang ayah. Setidaknya, jika ia menjadi model, ia tak perlu repot-repot melamar kembali menjadi dokter. Apalagi menjadi model tak menyita banyak waktu hingga ia bisa fokus untuk melakukan pengobatan dengan kemo.
Iren langsung menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Ia membatalkan niatnya untuk pergi ke pengadilan dan mengubah tujuannya untuk pergi ke Haidar entertaiment, karena di undang hari ini. Tentu saja ia akan pergi ke salon terlebih dahulu karena harus membenahi tampilannya.
•••
Setelah pergi ke salon dan menyempurnakan dandanannya. Iren pun langsung pergi ke Haidar entertaiment.
Dan di sinilah, ia berada. Di basement Haidar entertaiment, banyak sekali mobil yang terparkir di basement, membuat Iren bingung. Ia pun terus memajukan mobilnya, hingga ia menemukan lorong besar dan masuk ke lorong tersebut.
Saat ia akan berbelok ia menginjak rem karena ada mobil yang maju berlawanan, dan mobil itu milik Nio, sayangnya, Iren salah memarkirkan mobilnya, ia malah masuk ke parkiran khusus mobil Nio.
Nio menggeram emosi saat ada orang lain yang masuk ke tempat parkir miliknya. Ia pun keluar dari mobil dengan rahang mengeras, begitu pun Iren. Ia langsung keluar untuk meminta maaf.
"Siapa kau, berani sekali kau masuk kemari!" ucap Nio saat ia keluar dari mobil. Ia menatap Iren dengan tatapan kesal.
Iren terdiam mengamati wajah Nio, mata itu seakan menghipnotis Iren. Namun, tak lama ia tersadar saat Nio menegurnya
"Maaf, saya tak tau jika tempat ini privasi. Kalau begitu saya akan memundurkan mobil saya," jawab Iren. Ia tak ingin berdebat dengan lelaki di depannya.
Nio menggeleng, ia masih kesal pada wanita yang berani masuk ke area pribadinya, hingga ia masuk kedalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.
Iren pun memundurkan mobilnya, dan kembali ke jalan semula. Membiarkan mobil Nio melaju.
"Apa itu dia," lirih Iren saat melihat mobil Nio melaju melewati mobilnya, tapi tak lama ia menggeleng, tak mungkin lelaki itu adalah orang yang sama yang ia kenal.
••••
Setelah mengirim uang untuk Iren, Albi tersenyum sinis, ayah dan anak itu sudah berada di genggamannya, hingga ia yakin, Iren takan mengadu macam-macam pada sang ayah.
Albi yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung menyenderkan tubuhnya kebelakang. Saat ia akan memejamkan matanya, pintu di ketuk.
Belum Albi berbicara, pintu sudah terbuka. Ternyata Julia lah yang masuk, dan kehadiran Julia, sukses membuat mata Albi membulat. Bagaimana mungkin Julia datang ke ruangannya.
"Kau mau apa kesini?" tanya Albi dengan sedikit berteriak. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Julia.
"Mas aku hamil!"
Jedeerrrrrr
Tamatlah riwayatnya.
Sebenernya kasus lelaki kaya Albi itu banyak, dia yang selingkuh trus kehilangan tapi dia nyalahin orang lain.