"Kenapa, kau takut?" tanya Iren saat Albi terdiam karena ia menyebut nama kedua orang tuanya.
Mendengar ucapan Iren, Albi tersadar kemudian ia meradang. Ia kembali mendekat ke arah Iren dan kembali mencengkram leher Iren.
"Kau pikir, mereka akan percaya dengan ucapamu!" geram Albi, ia menyeringai saat Iren terlihat susah bernapas.
"A-aku, mempunyai bukti perselilngkuhan mu!" ucap Iren dengan terbata, tapi ia berhasil menyelesaikan ucapannya.
Mendengar ucapan Iren, Mata Albi membulat. ia bisa habis jika sang ayah mengetahui bahwa ia berselingkuh. Gani takan mentolelir sikap anak-anaknya yang bermain-main dalam pernikahan. Apalagi ia adalah anak lelaki satu-satunya.
Melihat Albi yang terdiam, Iren tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung mendorong tubuh Albi hingga Albi berhasil menjauh.
"Kau terkejut?" tanya Iren dengan senyum sinis. "Selingkuhanmu yang mengirimkan semua bukti perselingkuhan kalian!" ucap Iren lagi saat Albi masih terdiam.
"Julia!" geram Albi dalam hatinya saat mengetahui bahwa selama ini Julia mengirimkan foto-fotonya pada Iren.
"Apa mau mu!" tanya Albi. Sebisa mungkin, ia mencoba mengendalikan diri.
"Ceraikan aku dan bebaskan ayahku!" jawab Iren dengan setengah berteriak. Iren pikir, Albi akan menuruti keinginannya. Namun, Iren salah! Albi malah menyeringai, seolah ancaman Iren tak berpengaruh padanya.
Albi dengan santai memasukan kedua tangannya pada saku celananya dan berjalan ke arah Iren. "Kau pikir, aku takut! Lakukan apa mau mu. Tapi, kau harus bersiap saat mendengar hukuman ayahmu di perberat!"
Mulut Iren menganga tak percaya dengan apa yang di katakan Albi, Sedangkan Albi, sebenarnya, ia pun merasa gugup dan takut. Ia takut bahwa Iren benar-benar akan mengadukannya. Tapi ia berusaha untuk memprovokasi Iren, ia tak bisa membebaskan ayah mertuanya, karena jika ayah mertuanya bebas, ia sendiri yang akan terkena maasalah.
"Liat saja! akan kubuat kau menyesal!" geram Iren. Ia pun keluar dari ruangan suaminya, karena ia sadar, tak ada gunanya berdebat dengan Albi
Setelah Iren keluar, Albi langsung membanting tubuhnya ke sofa. Ia mengambil ponsel yang berada di meja lalu menghubungi Julia.
"Sial!" lagi-lagi, Albi menggeram kesal saat nomer ponsel Julia tak bisa di hubungi. Ia melempar ponselnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
•••
Sedangkan di tempat lain.
Nio baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia meregangkan tubuhnya, kemudian menyenderkan kebelakang. Ia menoleh ke arah jendela, di mana gedung-gedung menjadi pemandangannyan. Lalu tak lama, ia mengambil remot kecil di hadapannya dan menekannya hingga musik klasik menyala.
Nio menyenderka kepalanya kebelakang. Ia memejamkan matanya. Tiba-tiba, kilasan masa lalu kembali melintas di otaknya.
"Kaka, aku lapar. Aku ingin makan," celoteh Adnan pada kakanya yang tak lain adalah Nio. Adnan yang berusia 8 tahun, merengek pada Nio karena ia lapar.
Nio meringis. ia pun lapar. Tapi, ia berusaha tersenyum. Ia yang sedang berada di kamar langsung bangkit berjalan melihat ke arah luar. Melihat sekitarnya. Saat di rasa tak ada seorang pun di luar. Nio dengan cepat, berjalan ke meja makan dan mengambil piring yang berisi tahu. Lalu, kembali lagi masuk ke kamar.
"Makan ini, habiskan cepat!" titah Nio, sambil melihat ke arah luar. Berharap sang bibi tidak datang.
Ia menelan ludah kala melihat sang adik begitu lahap memakan tahu. Ia ingin meminta satu potong saja. Namun, rasanya ia tak tega.
kehidupan Nio dan Adnan kecil sungguh penuh ironi. Sang ayah memilih meninggalkan mereka untuk menikah dengan wanita lain. Sedangkan sang ibu, pun menikah dengan lelaki lain. Mereka sama-sama tak mau membawa Adnan dan Nio, hingga Nio di titipkan pada neneknya. Namun, sebulan berlalu. Nenek mereka meninggal. Hingga mau tak mau, Nio dan Adnan di asuh oleh bibi mereka.
Sayangnya, bibinya tak memerlakukan Adnan dan Nio dengan baik, karena keluarga bibinya pun orang yang kurang mampu, hingga kehadiran Nio dan Adnan menjadi beban bagi mereka.
Hingga mereka tak terlalu memerhatikan kedua anak kecil itu, mereka makan atau tidak, sang bibi tak perduli. Hingga mereka selalu kelaparan. Sedangangkan kedua orang tuanya sama sekali tak pernah menjenguk Nio dan Adnan. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Hingga Nio dan Adnan saling menguatkan.
Dan masih banyak lagi kepedihan yang Nio dan adnan tanggung saat mereka masih kecil. Dan jujur saja, sampai saat ini, walaupun sudah puluhan tahun berlalu, Nio masih mengingat dengan jelas, kepingan-kepingan saat masa kecil mereka yang penuh luka.
Tak terasa, bulir bening mengalir pada di kedua pelupuk matanya saat mengingat masa-masa kecilnya yang penuh luka dan air mata. Ia mempunyai segalanya dan berhasil mencapai semuanya. Tapi, ia merasa hidupnya hampa. Ia pun tak mengerti kenapa hidupnya terasa ada yang kurang.
Nio membuka matanya saat mendengar pintu ruangan terbuka. Ia langsung menghapus air matanya saat melihat sang adik berjalan ke arahnya.
"Aku butuh tanda tanganmu!" ucap Andan sambil menhyerahkan berkas kehadapan kakanya. Selama ini, semua hanya tau bahwa Adnan lah pemilik Haidar grup, Nio sama sekali tak berniat untuk mempublikasikan identitasnya. Ia lebih memilih pekerjaan yang telah lama ia geluti, pekerjaan sebelum ia mendirikan haidar grup.
"Kau sudah makan?" tanya Adnan, seketika Nio menggeleng. Ia masih sibuk memeriksa berkas-berkas yang akan di tanda tanganinya.
"Mau aku pesankan makanan?" tawar Adnan, namun, lagi-lagi, Nio menggeleng.
"Kau sudah mendapat suster atau dokter yang mau masuk ke agensi kita untuk pemotretan nanti?" tanya Nio.
"Aku sudah memilih beberapa kandidat, aku akan memberikan semua fotonya padamu, nanti." Setelah mengatakan itu Adnan pun pergi meninggalkan ruangan kakanya.
Nio menghela napas sejenak. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan ternyata waktu menunjukan pukul 05 sore, ia pun bangkit dari duduknya, memakai jasnya dan menyambar kunci mobil. Ia berjalan ke arah lift yang berada di ruangannya. Lift itu ia menghubungkan langsung ke tempat parkir khusus mobilnya.
Ia sengaja membuat lift di ruangannya agar tak ada yang melihatnya masuk kedalam gedung perusahaannya.
Saat sudah berada di mobil, Nio merogoh sakunya, untuk mengambil ponsel. Lalu jarinya dengan lincah menari-nari di atas layar, mencari nomer ponsel seseorang.
"Apa kau belum berhasil menemukan mereka?" tanya Nio pada orang yang sedang di telponnya.
Nio menghela napas berat saat orangnya mengabarkan belum menemukan apa yang Nio cari. Setelah mendengar jawaban dari orangnya. Nia pun kembali menutup panggilannya.
Ia menyenderkan kepalanya kebelakang. "Dimana kalian sebenarnya," gumam Nio dengan suara pelan. Selama ini, ia mencari orang yang telah membantunya.
•••..
Iren keluar dari ruangan suaminya dengan kondisi yang sangat kacau. Ia tak memerdulikan tatapan aneh dari orang yang berpapasan dengannya. Ia terlalu lelah untuk membenarkan tampilannya.
Saat sampai di mobil, Iren memukul-mukulkan kepalanya ke stir kemudi, kemudian ia meraung menangis, merutuki kebodohannya. Hingga sang ayah menjadi korban.
Keesokan harinya.
Iren sedang duduk dengan harap-harap cemas. Ia sedang menunggu sang ayah untuk keluar menemui dirinya. Namun, Iren mengernyitkan keningnya saat melihat wajah sang ayah yang sembab, seperti sudah menangis dalam waktu yang lama.
Iren
Sebernarnya Nio udah sempet hadir lho, di cerita dokter Bunga.
Ada yang bisa nebak, Mak siapa Nio ??