Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan perasaan kacau. Bahkan mataku terlihat cukup sembab karena semalam menangis. Nathan memandangiku dari kejauhan setibanya di kelas. Sewaktu sampai di mejaku, segera saja Nathan menghampiri dengan senyum ramahnya. “Apakah sesuatu terjadi?” tanya Nathan ingin tahu. Lalu, tangannya merogoh sesuatu dari kantong celananya. “Seperti biasa. Aku dan Ayah berselisih paham.” “Bersemangatlah. Semua pasti bisa dilalui. Makanlah ini.” “Kau tahu dari mana?” tanyaku keheranan. Nathan mencoba menghiburku dengan menyodorkan sebungkus cokelat almond yang sangat kusukai. Aku heran entah mengapa Nathan selalu menyukai kesukaanku terhadap sesuatu. Bahkan, aku tidak pernah mengatakan kepadanya kalau menyukai almond. Walaupun perasaanku sedang kacau, mendapatk

