Hari-hari penuh dengan masalah masih saja kujalani. Kali ini karena pertengkaran terakhir dengan Bunda. Ayah berkata untuk menemuinya di taman belakang. Aku tahu pasti Ayah sangat marah karena aku membocorkan rahasia kami. Namun, minggu lalu aku terlalu emosi dengan Bunda sehingga mengungkapkan semuanya. Kalau Ayah masih mempunyai perasaan terhadap Mama. Walaupun sekarang sudah ada Bunda di antara mereka. Aku memasuki taman dengan perasaan tidak menentu. Seperti rasa takut dan sedikit kecewa. Selama ini aku tidak pernah berharap lebih. Hanya menginginkan perhatian Ayah. Bukan sebuah hukuman yang terus-menerus diberikan kepadaku. Rasanya ingin protes. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Bagi remaja berumur enam belas tahun sepertiku, tidak ada yang bisa kulakukan selain menerima semuanya.

