Hampir saja bertemu

1049 Words
Pertemuan Anjani dan Haikal waktu itu nyatanya membuat mereka kembali bertemu karena Haikal yang memang selalu menjemput keponakannya. Namun kali ini Haikal tidak membahas tentang masa lalu, apalagi tentang Raka kepada Anjani. Biarlah menjadi urusan mereka karena Haikal tidak ada hak untuk ikut campur kan. Hari ini Anjani dan Haikal juga kembali bertemu saat Haikal menjemput Sisil, keponakannya. Anjani malah keluar kelas dengan Sisil karena anak perempuan itu begitu dekat dengan Anjani setelah dia menjadi guru di sini. "Gue mau ajak lo makan siang banget, Jan," ucap Haikal membuat Anjani menatapnya. "Dalam rangka apa?" tanya Anjani. Haikal terkekeh, "Emangnya harus ada dulu sesuatu ya buat ngajakin makan siang sama lo." "Enggak sih. Cuma heran aja gue," balasnya. "Jadi mau enggak?" "Boleh deh, lumayan di traktir kan." "Iya deh, tapi gue anterin Sisil dulu gapapa kan?" Anjani mengangguk, mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran di mana mobil milik Haikal berada. Tidak ada salahnya kan kalau Anjani menerima tawaran dari Haikal seperti ini, lagipula sudah lama dia tidak makan bersama dengan teman, kecuali dengan Yulia. ** Anjani dan Haikal berada di tempat makan siap saji. Pilihan Anjani yang katanya sudah lama tidak ke sini dan Haikal setuju saja, ikut apa mau temannya itu. Mereka sudah memesan, sedang menikmati makanan masing-masing sembari berbagi cerita tentang apa saja yang mereka lakukan setelah lulus sekolah. Terutama Haikal yang penasaran karena tidak bertemu dengan Anjani cukup lama, tahu kabarnya pun tidak. "Gue kira lo lanjut kuliah di luar negeri, ternyata masih di sini tapi kok bisa kita enggak pernah ketemu." Haikal baru saja mendengar cerita Anjani tentang perkulihannya dan tidak menyangka apa yang dia dengar dari Raka malah jauh berbeda dengan apa yang di ceritakan oleh Anjani. Haikal semakin menduga kalau memang keluarga Anjani menutup informasi tentang Anjani apalagi kepada Raka. "Kampus tempat Kak Bani kerja juga, dia dosen di sana." Haikal mengangguk, "Lo mungkin punya bakat buat hilang ya, sampe enggak tahu di mana keberadaannya," ucap Haikal terkekeh. Anjani pun terkekeh. Iya benar, sepertinya dia memang memiliki bakat untuk menghilang dan sulit di temukan. Tetapi tentu saja karena semua itu bantuan dari kedua kakaknya, membuat Anjani tidak pernah ketahuan oleh siapapun yang berasal dari masa lalu, apalagi Raka. Mereka pun membahas hal lain, Haikal berusaha untuk tidak membawa nama Raka dalam pembicaraan mereka, tidak mau kalau Anjani menjadi tidak mood karena mendengar nama Raka dan sejauh ini Haikal bisa memastikan kalau memang temannya tidak menjadi bagian dari pembahasan bersama Anjani. "Gue ke toilet dulu, Kal." Anjani beranjak dari kursinya, tidak lupa membawa tasnya ke toilet. Biasa perempuan harus merapihkan penampilannya kembali. Haikal pun menunggu Anjani di meja mereka, tidak terasa sambil makan mereka sudah menghabiskan waktu untuk bercerita. Haikal senang bertemu dengan Anjani dan hubungan mereka kembali akrab, kalau dulu mana bisa karena Raka yang selalu cemburu saat Anjani dekat dengan lelaki lain, sekalipun itu temannya. "Lo di sini, Kal?" Haikal tidak menyangka akan bertemu temannya di sini, saat dia sedang bersama dengan Anjani sekarang. Semoga saja Anjani tidak selesai lebih cepat dari toilet. ** Raka sedang menemani Sheina membeli sepatu dan tas di salah satu mall terdekat. Biasanya Raka akan malas kalau harus antar belanja begini, tetapi kali ini tidak karena mereka juga akan makan siang bersama di sini. Saat berjalan dan melewati tempat makan cepat saji, Sheina langsung mengajaknya untuk masuk dan memilih makan di sana. Mau tak mau Raka menurut saja dan membiarkan kekasihnya memesan makanan untuk mereka. Namun perhatian Raka teralihkan saat melihat Haikal duduk di dekat jendela hanya seorang diri. Karena itu Raka pun mengajak Sheina untuk duduk di dekat Haikal, sekalian menyapa temannya itu. "Lo sendiran doang?" tanya Raka pada Haikal. "Eh tapi masa lo makan sebanyak ini, porsi dua orang," lanjutnya. "Gue lagi mau naikin berat badan," balas Haikal berbohong. Tidak mungkin juga dia mengatakan kepada Raka kalau sekarang dia sedang makan siang bersama dengan Anjani. "Rakus lo yang ada," cibir Raka. "Gue ini yang bayar, udah lo makan aja sana," ucap Haikal setengah mengusir dan Raka pun menghampiri Sheina yang sudah duduk tidak jauh dari mereka. Sementara itu, Anjani terpaku di ujung jalan keluar dari arah toilet, jantungnya berdebar kencang melihat siapa yang berada bersama dengan Haikal. Anjani tentu masih ingat wajah lelaki yang selama ini dia cintai, hanya postur tubuhnya saja yang lebih tinggi dari terakhir mereka bertemu saat sekolah dan lelaki itu lebih terlihat gagah. Tidak mau ketahuan, Anjani langsung keluar dari tempat makan yang untungnya ada jalan lain yang tidak harus melewati meja mereka tadi, sembari mencari kontak Haikal dan mengatakan kalau dia pulang lebih dulu. Anjani tidak mau bertemu dengan Raka, tidak untuk sekarang ini karena hatinya akan kembali sakit mengingat apa yang terjadi kepada mereka di masa lalu. Setelah mengirim pesan kepada Haikal, Anjani pun segera keluar dari area mall dan mencari taksi untuk pulang ke rumah. Hari ini dia masih beruntung karena Raka tidak melihatnya, mungkin Anjani harus terus waspada karena akan ada kemungkinan mereka bertemu seperti hari ini. ** Raka mengucek matanya, melihat ke arah pintu keluar di mana tadi dia seperti melihat seseorang yang mirip dengan Anjani. Tetapi orang itu berjalan begitu cepat sebelum Raka memastikannya. "Kenapa?" tanya Sheina menyadari kekasihnya sejak tadi menatap ke arah pintu keluar. Raka menggeleng, "Enggak, tadi kirain teman sekolah. Ternyata salah orang," balas Raka berbohong. "Gue duluan, Ka." Haikal berpamitan pada Raka yang tengah makan bersama dengan kekasihnya. "Lo beneran makan sendiri?" tanya Raka yang masih tidak percaya kalau Haikal menghabiskan makanan untuk dua orang seperti itu. "Yaelah masih aja di bahas. Yaudah gue cabut duluan ya," pamit Haikal kemudian segera keluar dari tempat makan, dia menerima pesan dari Anjani dan seperti yang Haikal duga, Anjani ternyata melihat keberadaan Raka di sini. Raka melihat Haikal yang berjalan terburu-buru, kenapa semua orang yang dia lihat berjalan buru-buru sekali, tadi perempuan yang dia kira Anjani, sekarang temannya sendiri. Apa karena hari ini kerja dan banyak yang sibuk? "Nanti ambil gaun dulu ya, buat ke acara Ramon. Pakaian kamu juga kan belum di ambil, sekalian habis makan," ucap Sheina. Raka menoleh menatap kekasihnya, hampir saja dia lupa kalau sekarang sedang bersama dengan Sheina. Kenapa juga tadi sampai kepikiran pada Anjani lagi, otak Raka sepertinya sedang salah. "Iya, habis ini kita ke butik." Raka pun menikmati makanannya kembali, meski pikirannya masih melayang pada seseorang yang mirip dengan Anjani tadi. Raka menepisnya, tidak mungkin Anjani di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD