"Lama enggak ketemu, Jani."
Anjani tersenyum tipis melihat seseorang yang dia kenali berada di hadapannya. Siang ini saat murid sekolahnya sudah memasuki waktu pulang, Anjani bertemu dengan Haikal yang ternyata menjemput keponakannya.
"Ya, lama banget," balas Anjani.
"Gue enggak nyangka kalau kita bakalan ketemu lagi, terakhir banget waktu kelulusan dan habis itu lo kaya di telan bumi. Lo apa kabar?"
"Seperti yang lo lihat, gue dalam keadaan baik-baik aja. Gue rasa lo juga baik, enggak perlu basa-basi kan," balas Anjani.
Haikal terkekeh, tidak menyangka Anjani yang dia kenal dulu masih sama saja dengan Anjani yang sekarang. Tidak pernah mau berbasa-basi.
"Gue enggak tahu kalau lo ngajar di sini, perasaan gue sering banget jemput keponakan gue. Waktu gue lihat lo, awalnya gue agak ragu tapi pas gue tanya sama Sisil, terus sebutin nama lo. Ternyata gue enggak salah lihat." Jelas Haikal panjang lebar.
"Gue emang baru ngajar di sini, jadi enggak salah kalau lo juga baru lihat gue."
Haikal mengangguk, "Gue senang karena bisa ketemu sama lo lagi. Hubungan lo sama Raka--"
"Sorry, gue harus pulang sekarang." Anjani memilih untuk berpamitan, benar dugaannya kalau bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan Raka, pasti akan membahas tentang hubungannya dengan lelaki itu.
Anjani tidak mau membahasnya untuk sekarang, sudah lama luka itu sembuh dan dia sudah bahagia dengan keadaannya sekarang, bersama dengan si kembar meski tidak diketahui keberadaannya oleh Raka.
Haikal merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia tidak perlu membalasnya. Entah kenapa bibirnya dengan tidak sadar langsung menyebut nama Raka, teman semasa sekolahnya.
Bukan hal yang asing, kabar putusnya pasangan yang dikata serasi satu sekolah setelah kelulusan mereka. Bahkan menjadi pemain berbincang hangat apalagi saat malam kelulusan, Anjani tidak datang dan Raka hanya sendirian.
Semua teman mereka tahu perihal kandasnya hubungan Anjani dengan Raka. Namun Haikal sebagai teman dekat Raka, tidak mengetahui secara pasti kenapa hubungan yang dijalin oleh Raka malah kandas begitu saja. Sampai sekarang Raka seakan bungkam dengan alasan mereka putus.
**
Raka baru saja datang, bergabung dengan teman-teman semasa sekolahnya. Mereka baru kembali bertemu setelah cukup lama karena sibuk dengan kuliah masing-masing yang berbeda Universitas. Ada Erza, Ganis dan Haikal yang menunggu Raka sejak tadi.
"Apa kabar lo semua?" tanya Raka kepada mereka.
"Baik, kelihatannya lo juga baik." Erza menjawab seraya berpelukan ala lelaki. Pun dengan yang lainnya saling bergantian.
Haikal sejak tadi memerhatikan Raka. Apa lelaki itu tahu kalau Anjani sekarang sudah menjadi seorang guru taman kanak-kanak. Tetapi dia tidak mau juga menceritakan semuanya, apalagi membuat Anjani membenci dirinya nanti karena membuka mulutnya kepada Raka.
"Lo kenapa, Kal?" tanya Ganis yang melihat Haikal hanya melamun.
"Ah, enggak. Kepikiran ponakan, tadi udah gue jemput atau belum," balasnya.
"Ponakan mulu lo, nikah dong biar punya anak," ucap Ganis.
"Mentang-mentang lo udah nikah, sombong amat jadi orang," cibir Haikal.
Di antara mereka, Ganis memang yang sudah menikah. Lelaki itu menikah muda karena dijodohkan, namun beruntung pernikahannya berjalan dengan lancar, malah sekarang istrinya sedang hamil tiga bulan. Sementara yang lain masih asyik dengan hubungan pacaran, apalagi Haikal yang asyik menjomlo di antara mereka.
"Tuh si Raka juga mau nikah, iya kan, Ka?" tanya Erza membuat Raka langsung menatap mereka, karena barusan dia membalas pesan dari Sheina.
Raka mengangguk, "Rencana dulu deh, kan sekarang lagi sibuk sama persiapan lamaran si Ramon sama ceweknya," ucapnya.
"Lah iya, dia yang mau nikah duluan kan."
Mereka memang tidak asing dengan Ramon karena masih berteman saat sekolah dulu. Namun karena sedang mempersiapkan lamaran jadinya lelaki itu tidak bergabung dengan mereka sekarang.
"Eh gue kemarin enggak sengaja lihat Anjani di supermarket."
Perkataan Ganis yang tiba-tiba membuat Raka tersedak dan Haikal yang juga ikut terkejut. Padahal sejak tadi Haikal sudah menahan diri untuk tidak membahas tentang Anjani di depan Raka, tetapi malah Ganis yang membahasnya sekarang.
Raka tampak menetralkan keterkejutannya, untuk yang ke sekian kali dia kembali mendengar tentang Anjani. Bahkan kali ini benar-benar terkejut karena sebelumnya dia tahu dari Bani kalau Anjani berada di luar negeri, tetapi kali ini Ganis malah mengatakan melihat Anjani di sini.
"Lo salah lihat kali, beberapa waktu lalu gue sama keluarga ketemu kakaknya waktu selesai makan malam, terus dia bilang ke nyokap kalau Anjani masih di luar negeri," ucap Raka.
Haikal menoleh ke arah Raka mendengar perkataan Raka barusan. Apa keluarga Anjani sengaja tidak memberitahu bahwa Anjani masih berada di negara ini? Apa ini ada sangkut pautnya dengan hubungan Anjani dan Raka yang kandas?
"Iya kali, soalnya waktu itu gue juga buru-buru," ucap Ganis, karena memang waktu itu dia mengantar istrinya ke supermarket, melihat seseorang yang mirip Anjani namun hendak memastikan, sang istri meminta dirinya untuk mereka segera pulang saja karena sudah lelah.
"Lo udah lost contact banget sama dia, Ka?" tanya Erza yang tampak penasaran, pasalnya dia juga sama seperti yang lain, yang tidak menyangka hubungan Raka dengan Anjani akan berakhir begitu saja. Padahal selama ini mereka termasuk pasangan serasi dan jarang bertengkar.
Raka mengangguk tanpa mengatakan apapun. Kenyataan memang begitu, setelah putus mereka tidak pernah berkomunikasi. Bahkan Raka sadar kalau Anjani memblokir nomornya setelah hari kelulusan mereka dan tidak ada kabar yang Raka terima tentang Anjani.
**
Anjani bertemu dengan Yulia di salah satu cafe. Katanya sahabatnya itu akan memberikan sesuatu. Dan ternyata Yulia memberikan undangan pernikahan kepada Anjani, yang membuat Anjani ikut berbahagia.
Tidak lama setelah sidang dan wisuda, Yulia memang melangsungkan lamaran. Anjani juga datang di temani oleh kakaknya, Bani. Tidak terasa pernikahan akan segera di langsungkan.
"Gue senang banget karena lo sebentar lagi nikah, Yul." Anjani tersenyum lebar kemudian kembali memerhatikan undangan yang diberikan oleh Yulia kepadanya.
"Makasih ya, Jani. Pokoknya lo harus datang, tadinya sih gue pengen si kembar juga bisa datang tapi enggak mungkin kan. Lo juga masih belum mau bawa mereka keluar."
Anjani mengangguk, memang seperti itu. Apalagi tanpa keluarganya, Anjani tidak berani membawa si kembar keluar, karena pasti akan ada banyak kemungkinan mereka bertemu dengan Raka atau salah satu keluarga dari lelaki itu dan Anjani tidak mau keberadaan si kembar di ketahui oleh mereka, setidaknya dalam waktu dekat ini dia masih tidak rela.
"Gue datang sama Kak Bani aja kaya biasa," ucap Anjani.
"Iya, yang penting lo datang karena gue akan senang banget," balas Yulia.
"Pasti gue juga senang karena lo menemukan kebahagiaan lo."
"Lo juga harus bahagia, Jani."
Anjani tersenyum tipis, "Gue bahagia dengan kehidupan gue sekarang bersama si kembar."