Olivia menggenggam tas besar itu erat. Rumah kontrakan kecil itu tiba-tiba terasa asing, seperti bukan tempat yang pernah jadi tempatnya berlindung dan perjuangkan setiap hari meski dipenuhi air mata. Semua kenangan yang ia paksa tampak indah kini hancur seperti kaca pecah.
Napasnya tersengal, tapi langkahnya mantap. Ia bangkit perlahan, menahan isak yang ingin pecah. Olivia memalingkan wajah dan menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu rumah itu. Udara malam yang dingin menyambutnya, menusuk hingga ke tulang, tapi tak lebih dingin dari perlakuan suaminya sendiri.
Ia mengambil helm yang ia letakkan di kursi kecil dekat pintu. Tangannya gemetar parah, tapi ia tetap memaksa memasangnya.
Olivia melangkah menuju motornya. Menyalakan mesin. Tanpa menoleh lagi, Olivia naik ke motornya, melaju meninggalkan tempat bernaungnya yang sempat menemaninya walaupun hanya sebentar.
Olivia serasa kehilangan arah. Dia tidak mungkin kembali ke rumah orangtua angkatnya yang tidak menginginkannya. Dia berkeliling kota tanpa tujuan, matanya sembab dan basah sampai akhirnya ia kepikiran satu tempat. Dia pergi ke bar, ke tempat yang seharusnya ia jauhi namun dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya ke tempat itu, berharap setelah dari sana, ia bisa melupakan semua masalahnya.
Lampu neon dari papan nama bar itu berkelap-kelip, menyinari wajah Olivia yang sudah sangat lelah. Kakinya terasa berat saat melangkah masuk. Bau alkohol, asap rokok dan suara musik keras langsung menyapanya namun anehnya, di tempat bising seperti itulah ia merasa sedikit lega. Setidaknya di sana, tak ada yang mengenalnya. Tak ada yang tahu hidupnya baru saja hancur.
Olivia duduk di kursi paling ujung meja bar, tempat paling tersembunyi. Ia meletakkan tas besarnya di lantai, lalu menopang kepalanya yang terasa berat.
"Minum apa, Mbak?" tanya bartender, seorang pria yang tampak ramah.
Olivia mengangkat kepalanya, mengusap wajahnya yang basah. "Apa aja, yang paling murah."
Bartender itu menatapnya sejenak, seolah membaca kisah panjang dari mata sembab Olivia. Ia hanya mengangguk lalu menuangkan minuman.
"Silakan, nikmati minumanmu. Lupakan sejenak masalahmu, rileks ...," ujar pria itu sembari memberikan Olivia minuman beralkohol.
Olivia menerima gelas itu dan meneguknya perlahan. Ada sensasi perih membakar tenggorokannya, tapi itu justru membuatnya sedikit lebih hidup.
Namun ketika gelas kedua ia habiskan, pandangannya mulai kabur. Ia menunduk dalam, bahunya bergetar, kejadian berat hari ini kembali muncul dalam ingatannya dan itu membuatnya mual dan sakit kepala.
'Tuhan … aku harus ke mana setelah ini?'
"Permisi."
Seseorang berdiri di sampingnya. Olivia mengangkat wajahnya perlahan.
Seorang pria, mungkin sekitar awal 30-an, berkulit tan dengan kepala plontos mengkilap. Kelihatannya bukan seperti pelanggan mabuk, auranya lebih tenang dan lebih dewasa. Ia memakai kemeja hitam polos dengan lanyard kecil bertuliskan nama bar di lehernya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Suaranya rendah dan tidak menghakimi.
Olivia buru-buru mengusap matanya. "Saya nggak apa-apa, Mas."
Pria itu menatap gelas kosong dan tas besar di samping kaki Olivia. Terlihat jelas ia tidak percaya.
"Saya Bara," katanya memperkenalkan diri. “Saya manajer di bar ini.”
Olivia hanya mengangguk dan tersenyum tipis, bingung kenapa pria itu tiba-tiba menyapanya dan bersikap baik padanya.
Bara mencondongkan tubuh sedikit, Matanya sempat turun melihat tas besar Olivia. "Kamu lagi butuh pekerjaan?" tanyanya tiba-tiba.
Olivia menoleh cepat, tak percaya. Maksudnya bagaimana bisa pria itu tahu kalau dia baru saja kehilangan pekerjaan bahkan tempat tinggal. "Kerjaan?"
"Ya." Bara menyandarkan satu tangan di meja bar, tersenyum tipis. "Kebetulan banget, kami lagi kekurangan waitress buat shift malam. Jam kerjanya dari 9 malam sampai 5 pagi, kita bisa negoisasi kalau soal gaji. Kita juga punya ruang istirahat di lantai dua buat karyawan."
Olivia mematung, dia masih tidak menyangka. Keajaiban datang tiba-tiba padanya. "Kenapa ... kenapa Mas tiba-tiba nawarin saya kerjaan?"
Bara mengangkat alis samar. "Karena saya lihat kamu lagi butuh itu. Bukankah begitu?" jawabnya seraya melirik tas besar yang Olivia bawa. Olivia mengikuti arah pandang pria itu dan akhirnya mengerti.
"Ta-tapi saya nggak punya pengalaman kerja di bar," katanya cemas.
"Gampang, yang penting kamu mau belajar. Kerjanya gampang, hanya 'melayani' kok." Bara tersenyum kecil. "Kamu kelihatan pekerja keras."
Olivia menggigit bibir dan berpikir sejenak. Ia tidak punya pilihan lain. Tidak ada rumah, tidak ada pekerjaan, tidak ada keluarga yang akan menerimanya pulang. Tidak ada harapan lagi.
"Kalau saya terima kerjaannya," Olivia berkata perlahan, "Saya bisa mulai kapan?"
Bara menyeringai tipis. "Malam ini."
Olivia mengangguk paham. "Baik. Sa-saya ... Saya mau." Tanpa berpikir panjang, Olivia langsung menerimanya. Ia merasa tidak punya pilihan lagi.
Bara mengangguk mantap, wajahnya lega. "Ok, sebelumnya nama kamu siapa?"
"Saya Olivia." Mereka berjabat tangan singkat.
"Ok, sekarang ikuti saya. Saya akan tunjukkan ruang istirahat dan seragamnya."
Olivia mengangguk lalu meraih tas besar di kakinya, berdiri perlahan. Kakinya masih lemah, tapi dia merasa tidak kehilangan arah lagi.
***
Seorang pria tampan, berwajah tegas dan dingin, rapi dengan kemeja putih memasuki bar bersama seorang pria berjas rapi, kelihatan seperti asistennya. Langkahnya tegap dan panjang, tatapannya awas dan tajam seakan ingin menerkam.
Bara menyapa keduanya dengan ramah, bahkan kelewat ramah sampai merangkul pria itu menaiki tangga seolah teman akrab.
Bara mengantar dua pria itu ke ruangan VIP.
"Ruang VIP seperti biasa 'kan, bos?" Bara memastikan.
"Hm ...." Damian, pria itu hanya menggumam tanpa menoleh.
Ia terus berjalan sampai mereka tiba di depan pintu kaca buram ruangan VIP. Begitu pintu itu dibuka, aroma campuran parfum mahal dan alkohol premium langsung menyambut. Lampu remang dalam nuansa keemasan memantulkan cahaya lembut dari lampu gantung kristal kecil yang bergoyang pelan. Sofa kulit hitam berbentuk melingkar memenuhi hampir setengah ruangan, terlihat empuk dan mahal. Meja marmer di tengahnya dipenuhi gelas-gelas kristal dan satu botol wiski yang belum dibuka.
Damian duduk bersilang kaki, membentangkan kedua tangannya di sandaran sofa seolah menegaskan dominasinya. Sementara asisten pribadinya sudah berdiri di depan, menjaga pintu masuk.
"Apa ada request malam ini?" tanya Bara sebelum dia keluar.
"Aku hanya ingin minuman favoriteku seperti biasa. Tapi ... Aku minta yang mengantarnya ... Yang hot dan luar biasa."
Bara menyeringai, "Siap, Bos!"
Tidak lama setelah Bara keluar, pintu diketuk pelan.
Damian sedang menuang minuman ke gelasnya ketika pintu terbuka dan seorang perempuan masuk membawa nampan berisi botol wiski tambahan dan dua gelas tequila. Perempuan itu adalah Olivia.
"Permisi, pesanan anda sudah datang,"
Helai rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya saat ia berlutut meletakkan nampan ke atas meja dan seragam pelayannya tampak kebesaran di bagian lengan namun rok yang dipakainya terlihat pendek dan ketat hingga menunjukkan lekuk bagian tubuh bawahnya. Ia masih tampak canggung, belum terbiasa tapi ia tetap bersikap sopan.
Damian memperhatikannya sedikit lebih lama. Tatapan itu tajam dan intens seperti ada ketertarikan halus yang muncul di matanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Olivia meletakkan botol dan gelas dengan hati-hati. Tangannya beberapa kali bergetar kecil, karena gugup.
"Apa kamu baru di sini?" Damian bertanya saat Olivia berdiri, suaranya rendah dan dalam.
Olivia tertegun, kemudian mengangguk. "Iya, Pak. Hari ini … hari pertama saya."
Damian masih menatapnya, bola mata hitam legam itu bergerak liar, seperti sedang mempelajari setiap detail. "Ok, saya mengerti, terima kasih."
Olivia tersenyum tipis. "Kalau begitu saya permisi."
Damian hanya mengangguk sampai Olivia berbalik, ia masih memandang punggung kecil itu dengan senyum misterius.
Ketika Olivia akhirnya pergi, Damian mengambil gelasnya, tapi senyumnya masih terpatri di bibirnya.
"Menarik," gumamnya pelan diakhiri dengan smirk di bibirnya lalu melirik ke arah pintu.
"Dean!" panggilnya dengan suara lantang.
Dean assisten pribadi Damian langsung menghampiri atasannya. "Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?"
Damian mengangkat wajahnya, menatap Dean cukup lama sebelum melirik ke arah pintu lagi. "Saya ingin waitress cantik itu."