Bab 7 - Kebohongan Laura

1141 Words
Sekitar jam 3, Olivia minta izin pulang lebih awal ke manajer yang bertugas di sana dan benar saja langsung diperbolehkan setelah dia menyebut nama Damian namun itu membuat tanda tanya besar di kepala para rekan kerjanya yang lain. Tapi, dia tidak begitu peduli karena yang terpenting sekarang adalah segera mengurus perceraian. Dia disambut oleh Dean di luar toko, membuatnya terlonjak kaget, belum terbiasa. Dean langsung membuka pintu jok belakang mobil. "Silakan Bu, saya ditugaskan Pak Damian untuk mengantarkan ibu kemanapun ibu mau pergi." Tanpa banyak bicara, Olivia langsung masuk ke mobil. "Ke pengadilan agama ya," pinta Olivia saat Dean sudah masuk ke mobil. "Baik, Bu." Di tengah perjalanan, Olivia kembali membuka tasnya, mengecek kembali dokumen penting atau persyaratan umum untuk mengajukan perceraian. Tekadnya sudah bulat dan dia tidak akan mundur. Setibanya di pengadilan agama, Dean menunggu di luar sementara Olivia masuk dengan langkah cepat. Sepatu haknya mengetuk lantai marmer lobi pengadilan. Di meja informasi, seorang petugas perempuan menyapanya hangat. "Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" Olivia mengangguk sopan. "Saya ingin mengajukan permohonan cerai." Petugas itu sempat menatapnya sejenak, seperti membaca raut wajah Olivia yang penuh tekanan sebelum mengangguk dan menyerahkan formulir. "Silakan isi data diri dan persyaratan berkasnya, Bu. Kalau sudah, serahkan ke loket tiga." "Terima kasih," ujar Olivia mantap. Ia duduk di salah satu kursi panjang, matanya menyapu ke sekeliling, ada beberapa orang yang datang dengan ekspresi serupa lelah dan tertekan yang kelihatan nasibnya tak jauh berbeda dengannya dan kebanyakan datang sendiri. Ia membuka map yang berisi dokumen penting itu lalu mengisi formulir tanpa ragu. Setelah itu dia pergi ke loket tiga, menyerahkan formulir beserta semua dokumen yang diminta. "Saya periksa dulu ya Bu," ucap petugas perempuan itu ramah. Olivia mengangguk. "Hm ... Maaf, sebelumnya apa suami Ibu nggak ikut?" "Tidak. Dia sedang sibuk." Olivia sengaja menekan kata sibuk seolah kata itu akan membuatnya naik darah setiap kali mendengarnya. "Baiklah. Apa Ibu sudah yakin?" "Ya, saya sangat yakin." "Baik, kalau begitu kami akan proses." Setelah mendaftar permohonan cerai, Olivia tinggal menunggu jadwal sidang pertama. Olivia keluar pengadilan agama dengan perasaan setengah lega, setidaknya dia sudah mulai memproses perceraiannya dengan Nathan. Sebentar lagi dia akan terbebas dari belenggu pria yang haus akan belaian dan tidak setia seperti Nathan. "Pak, sekarang kita ke kostan daerah cempaka putih ya. Saya mau mengambil barang-barang dan motor saya." Olivia baru teringat sudah meninggalkan motornya di depan kostan semalaman. Dia berdoa dalam hatinya semoga motornya tidak hilang, hanya itu satu-satunya benda berharga yang ia miliki, yang dibeli dengan uang kerja kerasnya sendiri. "Baik Bu." *** Sore menjelang malam, Olivia kembali ke apartemen menaiki motornya namun Dean tetap mengekor di belakang dengan mobil, mengawasi pergerakan Olivia, memastikan Olivia sampai dengan selamat. Setibanya di apartemen, Dean keluar menghampiri Olivia. "Apa kamu harus selalu mengikutiku?" tanya Olivia yang kelihatan mulai risih. Seumur hidupnya, Olivia tidak pernah diawasi seperti ini. "Saya hanya ingin memastikan Ibu sampai dengan selamat." Olivia berdiri bertolak pinggang sambil menatap Dean lekat seolah mengamati. "Pak Dean, apa kamu sibuk? Aku pengen ngobrol sama kamu." Olivia sudah mulai kenal dengan asisten pribadi calon suaminya itu dan dia ingin mengobrol banyak dengannya untuk menggali informasi tentang Damian. Mereka akhirnya duduk di lobi. Wajah keduanya kelihatan serius. Olivia meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan jemarinya yang bertaut. "Hm, ngomong-ngomong sudah berapa lama kamu kerja dengan Damian?" "Sudah cukup lama, sekitar 5 tahun," jawab Dean singkat. Olivia menganggukan kepalanya. "Ohh ... Berarti kamu mengenal baik beliau dong?Kalau boleh tahu dia orang seperti apa?" "Tentu saja. Beliau orang yang baik, ambisius dan pekerja keras. Apapun yang diinginkannya, dia pasti akan berusaha untuk mendapatkannya." "Bagaimana dengan hubungan asmaranya?" Tatapan Olivia tak lepas dari Dean. "Dia sudah lama single dan sekarang ... Bukankah ibu tahu siapa pemilik hati Pak Damian?" jawab Dean seraya menyunggingkan senyum kecil. Olivia hanya diam, Olivia tahu betul maksud dari perkataan Dean namun ia masih ragu apa Damian benar-benar tertarik padanya atau hanya sekedar untuk memenuhi syarat menjadi pewaris keluarganya. "Hei, kalian!" Keduanya sontak menoleh ketika suara seseorang menginterupsi. Dean langsung berdiri. "Sore, Pak Damian!" sapa Dean sopan. Damian hanya mengangguk, matanya melirik ke Olivia sekilas. Dean lalu mempersilakan Damian untuk duduk. Damian mengambil duduk di hadapan Olivia. "Kamu boleh pergi sekarang," Damian mengisyaratkan pada Dean untuk pergi. "Baik Pak. Kalau begitu saya permisi Pak, Bu." Olivia masih melirik punggung Dean yang semakin menjauh sementara Damian menatap lurus ke orang di hadapannya. "Ehem!" Damian sengaja berdehem untuk mendapatkan atensi Olivia dan benar saja Olivia mengalihkan pandangannya. "Silakan tanda tangani surat perjanjian ini." Damian menyodorkan sebuah map dan pena kepada Olivia. Olivia mengernyitkan dahinya lalu membuka map merah yang berisi kertas 'surat perjanjian' sah yang sudah ditempel materai. Manik mata Olivia bergerak membaca tiap kalimat yang tercetak di kertas tersebut. "Berlaku 1 tahun? jadi, maksudmu aku harus bertahan denganmu sampai 1 tahun ke depan?" "Ya, ini keputusanku. Kalau kamu tidak mau, tidak masalah." Olivia masih belum bisa memutuskan, ia kembali membaca isi surat perjanjian sampai baris akhir. Intinya surat perjanjian tersebut berisi tentang perjanjian antara kedua belah pihak untuk menikah dan berumah tangga selama setahun. Suami akan memberikan nafkah sebagaimana mestinya kepada istri dan uang kompensasi untuk istri sebesar 3 miliar akan diberikan di muka. Dan harus ditandatangani oleh kedua belah pihak. Surat perjanjian itu sah di mata hukum dan salah satunya harus membayar denda sebesar 3 miliar apabila melanggar aturan sebelum kontrak berakhir. Setelah berpikir panjang, Olivia akhirnya mengambil pena, meninggalkan tanda tangannya di sana tanpa ragu. *** Sementara itu di sebuah rumah kecil minimalis. Seorang wanita setengah baya mengintip dari balik gorden ketika anak gadisnya pulang dengan seseorang. Tok tok tok! Ceklek! "Pulang dengan Nathan lagi? Kamu kayaknya akrab banget sama suami kakakmu itu?" Laura sedikit terlonjak ketika Mamanya muncul di depan pintu dan langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan sampai membuatnya mengusap d**a. Ia buru-buru menutup pintu. "Kenapa kamu begitu?" "Mama ngagetin aku sih." Laura dengan cepat mengubah ekspresinya agar tidak kelihatan mencurigakan kemudian menarik lengan mamanya agak menjauh dari pintu. "Ma, mama tahu nggak sih kalau Kak Olivia sama suaminya mau cerai?" bisik Laura karena nampaknya Nathan masih di depan. Kelopak mata Lena, mamanya Laura membesar. "Yang benar kamu? kenapa? Kok bisa sampai mau cerai? Mama nggak dikasih tahu loh sama dia." "Kak Oliv ketahuan selingkuh. Jadi, Kak Nathan langsung mutusin buat cerai." "Hah, serius kamu Ra?" "Iya, Ma. Kak Nathan sendiri yang cerita ke aku." "Nggak tahu diri banget tuh anak. Udah dapat suami baik, punya kerjaan bagus malah diselingkuhi." Laura mengangguk-anggukkan kepalanya dengan bibir bawah yang dimajukan, mencibir. "Padahal Kak Nathan juga baik loh sama aku, adik iparnya. Apa coba kurangnya Kak Nathan? Tapi, Kak Oliv malah nyia-nyiain kak Nathan." Lena menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir. "Dah biarin aja dia sengsara dengan pilihannya sendiri. Kalaupun nanti dia kembali ke sini, mama nggak bakal sudi terima benalu kayak dia lagi," tutur Lena seraya mendengus sinis. Laura sempat menyunggingkan senyum tipis setelah berhasil membohongi mamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD