Juna sedang ada di rumahku sekarang. Dia datang untuk membantuku mengoreksi tugas-tugas siswa. Tentu saja aku tidak memaksanya, justru dia yang memaksaku. Bukan tanpa alasan, itu hanya karena dia masih penasaran dengan apa saja yang kulakukan bersama Gazza selama 3 hari ini. Untuk itu sepanjang 1 jam dia hanya melontarkan pertanyaan yang sama sembari membolak-balik buku tugas siswa kelas XI A. "Jadi, apa yang kalian lakukan setiap malam?" Itulah pertanyaan yang diulangnya entah sudah berapa puluh kali.
"Aku bahkan sudah menjawabnya. Kami tidak melakukan apapun seperti yang otak mesummu bayangkan."
"Haish, aku hanya mengkhawatirkanmu. Tapi kalau kamu pilih dia aku bisa apa."
"Apa maksudnya? Kami bahkan tidak saling mengenal."
"Sungguh? 3 hari tidur bersama dan kalian tidak saling mengenal? Wah, orang gila mana yang tidur dengan orang asing tanpa saling mengenal?"
"Ya!" bentakku memukul punggungnya dengan tangan kanan. "Bagaimana bisa aku tidur dengannya? Ah, ya, sekali karena tidak sengaja." Mengingat malam panjang ketika Gazza tiba-tiba ambruk dan tertidur di bahuku.
"Sungguh?"
"Hei, itu hanya karena kami ketiduran, bukan tidur seperti yang kamu bayangkan. Ah, boleh minta tolong belikan aku sabun cuci?"
"Jelang malam begini mau mencuci? Besok saja."
"Tidak, aku mau mencuci otakmu itu, kotor sekali semacam celana petani yang baru saja pulang dari menanam padi."
Juna mengerucutkan bibirnya, diam untuk beberapa saat tapi sebenarnya dia masih mengkhawatirkan banyak hal. Dia bahkan dengan gamblang mengatakan bahwa dia takut aku jatuh cinta dengan Kim Gazza. Tentu saja aku menjawab bahwa semua perempuan pasti menyukai Gazza, bohong jika tidak. Akan tetapi, untuk jatuh cinta tidak akan semudah itu sepertinya. Bukankah cinta butuh waktu untuk tumbuh?
"Tapi tiga hari bersama itu cukup untuk saling jatuh cinta."
"Ya, memangnya kalau aku jatuh cinta dengannya, apa yang salah?"
"Anu, ah, aku mau pulang. Besok sore aku datang lagi untuk menjemputmu."
"Ke mana? Besok hari sekolah libur dan tidak ada kegiatan apapun di sana."
"Menepati janjiku."
"Janji?"
Mengangguk. Ternyata janji membawaku ke tempat yang paling indah untuk menikmati matahari terbenam karena aku sudah berkata jujur tentang Kim Gazza dan karena dia tidak mempercayai ucapanku. Aku langsung menyentujuinya karena aku ingin menikmati senja terbaik di Guangsi.
Selamat sore, Jingga. Mengapa dirimu begitu indah hingga membuatku jatuh cinta setiap kali hari berganti dan kita bersua lagi? Warnamu sama seperti saat terakhir kali melihatmu bersama seorang selebriti. Namun hari itu terasa lebih berisi dibandingkan saat ini yang seolah kosong melompong tiada arti. Maaf, aku lupa bahwa di sampingku saat ini ada Juna yang matanya berbinar jatuh cinta, menyesap sedikit kopi. Aku benar-benar tersenyum mengetahui kenyataan bahwa dia adalah anak indie dari Guangsi.
"Indahnya senja mampu mengalahkan indahnya senyummu saat menyapaku," tutur Juna membuatku tertawa. Anak indie selalu melakukannya, senja, kopi, dan sastra. Ketiganya bertaut, menali, teranyam menjadi kisah romantis yang diidam-idamkan. "Sayang, senja lebih ikhlas menghibur tanpa kepalsuan. Hara, kamu tahu saat pertama kali kamu datang? Saat mata kita saling bertemu dan bertautan?"
Mengangguk. Tentu saja aku mengingat semuanya tanpa terkecuali.
"Saat itu lah, aku menyukaimu. Apa terlalu mendadak?" Jantungku. "Ya, pasti kamu terkejut. Matamu mirip sekali dengan gadis di pemakaman pagi itu. Tidak ada air mata, tapi kesedihanmu tumpah ruah, sesak memenuhi kornea. Mata gadis itu indah, seperti matamu dengan bola mata hitam kecoklatan. Dia memberiku permen kacang dan dia bilang, 'Hidup tidak berhenti hanya karena kematian.' Aku selalu mengingatnya dan saat bertemu denganmu, kupikir dia adalah kamu. Itu sebabnya aku menyukaimu."
"Pemakaman? Atau jangan-jangan itu memang aku?" selorohku ingin mengubah percakapan yang kaku. Aku tidak pernah bertemu laki-laki asing di pemakaman ayah dan ibuku. Kecuali anak-anak dari rekan ibu.
"Bukan, dia meninggal 1 tahun yang lalu karena kecelakaan. Dan, em, maaf, aku memeriksa rekam jejakmu di kantor guru dan ternyata kamu seorang wartawan, sama seperti dia."
"Oh ya?"
"Hem, dia wartawan khusus politik sepertimu."
"Apa aku mengenalnya?"
"Tidak, ah tidak tahu juga, dia berbeda perusahaan denganmu. Tatapan matamu hanya mirip saja, aku sungguh merindukannya hingga aku sangat menyukai pertemuanku denganmu. Aku tidak mengatakan itu cinta, aku hanya menyukaimu."
Termenung beberapa saat. Padahal jantungku sudah tidak karuan ketika dia menyatakan rasa sukanya. Namun, aku kecewa ketika dia mengatakan aku mirip seseorang dari masa lalunya. Rasa suka itu nampak sia-sia dan hambar rasanya untukku.
"Anehnya, aku kesal mengetahui kenyataan bahwa Kim Gazza ada di rumahmu beberapa hari. Entah ini cemburu atau tidak, tapi aku tidak menyukainya."
"Kami bahkan tidak melakukan apapun dan aku hanya menolongnya, tapi kamu terus menerus menunjukkan sikap tidak suka."
Juna menoleh setelah sekian lama dia hanya menjadi pemerhati senja. Kami sedang ada di atas batu karang di ujung timur Distrik Guangsi, di Pantai Saraung Guangsi. Debur ombak dan matahari yang hampir tenggelam, perpaduan manis bersama sesap kopi instan.
"Bagaimana jika aku berakhir jatuh cinta denganmu dan melupakan perempuan itu?"
Aku tidak bisa menjawab apapun.
"Aish, aku terlalu banyak bicara saat menikmati senja," racaunya melempar beberapa pecahan karang ke tengah pantai. "Aku terlalu senang memiliki teman sekarang. Di distrik yang jauh dari perkotaan. Bagaimana denganmu, Hara?"
"Ya, aku pun senang. Guangsi benar-benar potongan surga yang jatuh ke bumi. Aku merasa lebih tenang setelah mengkhianati negaraku."
"Mengkhianati negara? Apa yang kamu lakukan memangnya?"
Mengalihkan pandanganku ke tengah laut. "Tidak. Aku hanya berpura-pura tidak mengetahui keadaan negaraku, padahal sebenarnya tahu."
"Semua rakyat melakukannya. Negara tidak sungguh baik-baik saja tapi kita semua menganggapnya baik-baik saja."
Tersenyum getir.
"Hara, aku tidak tahu apa masalahmu tapi lepaskan tatapan pilumu itu di sini. Mungkin karena aku pernah mengalami kesedihan yang menyesakkan, sehingga aku benar-benar paham bagaimana matamu menyimpan kesedihan."
Tersenyum. "Aku juga melihat hal yang sama di mata Gazza. Ada kesedihan yang dia sembunyikan. Seperti saat kamu melihat mataku, begitulah aku saat melihat matanya."
"Oh ya?"
Mengangguk-angguk. "Dia bahkan menangis dalam tidurnya."
"Sungguh?"
Mengangguk.
"Memang tidak ada hidup yang mudah sebagai seorang idola. Kudengar aturannya ketat."
"Kupikir bukan hanya itu."
"Lantas?"
"Tidak. Aku hanya menebak."
"Apa kamu merindukannya?"
Tertawa terbahak-bahak, hingga mengalahkan ombak. "Mana mungkin?"
"Kalau merindukanku?"
Menelan ludahku.
"Jadikan itu kemungkinan meskipun tidak mungkin."
Juna benar-benar menjadi sastrawan di bawah senja. Kalimatnya mengandung makna dan sedikit indah dengan diksinya. Sayang sekali, aku masih merasa amat sangat hampa. Seolah ada lubang udara dalam ruang yang sesak.
"Ayo, kita harus segera pulang. Sebelum waktu ibadah kita habis," serunya menggenggam tanganku. Genggaman yang erat dengan sedikit gerak mengayun. Pantai, senja yang beberapa detik lagi menghilang, deburan ombak, dan genggaman tangan. Romantis di tengah kehampaan.
Tiba di rumah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Aku duduk di depan televisi. Menyaksikan acara ragam Super X, menikmati tawa Gazza yang lebar. Dia benar-benar menjadi orang lain di depan dan di belakang televisi.
"Aku benar-benar sakit, Kak. Apa kamu tahu? Aku bahkan Menato punggungku agar lekas sembuh, tapi wartawan terus mengatakan aku bertengkar dengan manajer," ungkapnya tersenyum dengan penuh dusta.
"Oh ya?" Sang Pemimpin, Andrew memainkan peran seolah tak percaya, padahal dia sudah pasti mengetahui segalanya. "Mana buktikan tato di punggungmu!"
"Ya, Kak. Aku malu!" protes Gazza.
"Tunjukkan saja, dan kamu harus berterima kasih pada si pembuat tato, karena dia sudah menyembuhkanmu dan membungkam para wartawan." Park Delvin menyela. "Bukankah asisten rumah tanggamu yang membuat tato tradisional di punggungmu?"
Gazza sedikit kikuk. "Ya, benar. Tapi aku akan mengucapkan terima kasih secara langsung nanti."
Aku segera mematikan televisi dan berusaha melupakan Gazza. Dia juga tidak mungkin kembali dan mengingatku. Aku juga sedikit kesal ketika mengingat kembali bagaimana dia memprotesku saat hendak mengerok punggungnya. Dia terkesan sombong tapi saat ini dia justru menggunakannya sebagai alibi yang baik. Memang lah, semua manusia terlahir munafik.
Malam Selasa sepulang acara makan malam guru di pusat Distrik Guangsi. Aku kembali lebih dulu karena hatiku terasa sesak dengan lubang udara dan sayup angin yang menderu. Angin yang membawa serta bisik nama Gazza di telingaku. Terngiang-ngiang dan terus terulang kejadian malam itu serta malam-malam berikutnya. Apakah sebuah rindu?
Aku berada di bibir pantai tak jauh dari rumah, tempat pertama aku bertemu dengan Gazza yang tak sadarkan diri dan terus mengumpat. Berjalan lagi ke arah Toko Bibi Ni, duduk di bawah pohon berteduh Gazza malam itu. Semuanya terasa seperti mimpi untuk beberapa saat, tapi itu sungguh kenyataan yang masih terngiang. Ah, bagaimana aku harus menjelaskannya sekarang.
Selamat malam teruntuk yang meninggalkanku tanpa berpamitan, seseorang yang berhasil membuat malamku terasa sepi. Andaikata dia tidak hadir, aku tak akan mensyukuri pertemuan kami. Benar, ini malam kesekian tanpa ada Gazza yang merepotkan. Ini malam kesekian di mana aku tidak perlu melihat bayi menangis di hadapanku. Sialnya, ini adalah malam pertama aku menyesali kalimatku. Ketika Gazza ada di rumahku, aku merasa menjadi manusia yang paling s**l karena terus menerus direpotkan, tapi sekarang aku pikir aku sangat beruntung sempat bertemu dengannya dan sedikit merasa s**l karena ternyata aku merindukan kehadirannya.
Kembali lagi ke arah pantai, menikmati kesendirian dan kesepian di distrik terpencil. Mengingat masa-masa kelam ketika aku harus kehilangan, lantas berganti pada masa-masa menakutkan saat teror datang di tengah malam. Berharap ketenangan tapi tak banyak yang kudapatkan. Sebab apapun masa yang kulewati aku selalu merindukan kehadiran seseorang. Ayah, Ibu, Nenek, dan sekarang aku merindukan Gazza. Lucu, tapi begitulah adanya. Seolah aku hidup hanya untuk merindukan.
Kurasa aku harus segera menghapus Gazza, dia tidak akan kembali lagi bahkan meski aku merindukannya ribuan kali. Tidak, tidak, ini mungkin juga bukan rindu. Mungkin aku salah menafsirkannya.
"Semua hal di dunia ini memang hanya sementara, pelan tapi pasti, semua akan terhapus oleh ombak." Tersenyum getir.