Part 11 (Mata Yang Saling Menatap)

1203 Words
Madame Bovary karya Gustave Flaubert tahun 1856 merupakan karya sastra perihal perselingkuhan ibu rumah tangga bernama Emma Bovary, istri dari seorang dokter bernama Charles Bovary. Sebelumnya Charles Bovary telah menikah dengan janda kaya namun istri pertamanya itu meninggal dunia. Lantas ia menikah dengan Emma Bovary yang sangat menyukai novel romantis. Sementara Charles Bovary adalah orang yang kaku dan kikuk tapi sangat mencintai istrinya. Emma merasa tidak puas dengan rumah tangganya karena berharap kehidupannya seperti novel romansa yang dia baca. Dari situlah dia mulai berselingkuh dengan laki-laki lain yang dikenalkan suaminya sendiri. "Jadi, si Charles Bovary ini tidak menyadari istrinya selingkuh dengan kenalannya. Bahkan ketika sang istri merasa depresi ditinggalkan begitu saja oleh selingkuhannya, Charles tetap tidak menyadari perselingkuhan itu dan merawat istrinya. Ketika mulai membaik, istrinya bertemu selingkuhan yang sebelumnya pergi untuk menuntut ilmu dan mereka kembali memadu kasih." "Sebentar, Bu. Otak lambatku ini menangkap bahwa selingkuhan Emma itu Leon Dupius dan Rudolphe Boulanger. Ditinggalkan Leon karena hendak menuntut ilmu dan kemudian ditinggalkan Rudolphe karena sebenarnya Rudolphe hanya ingin main-main. Lalu dia kembali lagi dengan Leon karena bertemu pada sebuah pertunjukkan." Salah satu siswa ke kelas XI C. Beruntung hari ini belum ada celetukan konyol dari Udin. "Maaf, Bu." Baru saja aku membatin tentangnya tapi dia sudah mengangkat tangan untuk menyampaikan sesuatu. "Rasanya kok novel tersebut hambar untuk dibaca. Di masa sekarang bahkan drama perselingkuhan tayang 6 kali sehari. Hanya berhenti karena ada jeda acara musik untuk penyanyi baru. Jadi, sudah umum tema perselingkuhan dan si korban laki-laki menderita. Tolong lah, Bu. Berikan kami karya sastra yang menakjubkan, pantas untuk disembahkan pada kekasih hati. Kahlil Gibran, Sapardi Djoko Damono, dan teman-teman sepermainannya." Menghela napas. "Jika kita baca saat ini tanpa pernah tahu keadaan di masa lalu memang akan sangat hambar. Benar katamu, bukan? Drama perselingkuhan dan azabnya ditayangkan 6 kali dalam sehari. Akan tetapi, masa itu adalah masa beralihnya kekuasaan dari para bangsawan yang bebas dan hedonis ke kaum borjuis kelas menengah yang munafik, orang-orang seringkali ceramah tentang  moral tapi korup." "Aish, Bu Hara. Bahkan di masa sekarang semakin banyak orang yang ceramah perihal moral tapi dia koruptor kelas kakap. Tak apalah, negara ini terlalu kaya untuk tidak dikorupsi. Bahkan APBN selalu surplus." Salah satu siswi dengan kacamatanya menyentil membuatku tersenyum. Dia masih SMA dan ada di tengah-tengah kelas XI C yang cukup ramai dan bandel tapi dia mengerti perihal APBN yang surplus. Maksudnya apa? Surplus adalah ketika anggaran penerimaan negara lebih besar daripada pengeluarannya. Sementara defisit adalah kebalikannya. "Benar, tapi tolong dengarkan Bu Hara terlebih dahulu. Tokoh-tokoh yang ada di dalam novel menggambarkan itu semua, di masa transisi. Temanya sendiri adalah perselingkuhan seorang ibu rumah tangga pada abad tersebut. Sehingga karya ini sangat menggegerkan dunia. Sebuah karya yang berani blak-blakan menyinggung banyak orang konservatif. Karya Gustave Flaubert ini juga menjadi bahan diskusi feminisme karena sesungguhnya tidak hanya laki-laki yang bisa berselingkuh dan memiliki hasrat poligami, perempuan pun punya hasrat itu. Isi cerita cukup dewasa, tapi ini termasuk karya sastra terbaik, seperti halnya Anna Karenina kemarin.  Bacalah ketika kalian sudah cukup dewasa." "Bu!" panggil Udin lagi tapi yang dipikiranku bukan orang lain sehingga aku membalasnya dengan, "Ya, Gazza? Aishh." "Hah?" Satu kelas berseru kaget. "Maaf, salah." "Bener nih kata Pak Juna, Bu Hara suka berhalusinasi soal Gazza." "Tidak, tidak, apa pertanyaanmu?" tanyaku mengalihkan perhatian. Aku tahu Udin tidak akan berhenti sampai di situ. Tapi aku terus mencoba untuk mengalihkan perhatiannya sampai dia menyerah dan mengatakan pertanyaan yang hendak dia lontarkan. Perihal kisah akhir dari Madame Bovary. Aku menceritakan kembali bagaimana Emma Bovary terjebak utang piutang pada rentenir untuk menyenangkan selingkuhannya. Karena depresi dia bunuh diri dan suaminya tidak bisa menyelematkan. Setelah Emma meninggal dunia, Charles Bovary sering menyendiri dan meninggalkan praktik kedokterannya. "Baiklah, Bu Haluna Hara," seloroh Udin menyindir karena aku berhalusinasi. Hari ini aku benar-benar gila. Tidak, memang sudah beberapa hari ini aku gila. Terhitung sejak 18 Juli 2020, sejak Gazza membuat rumahku kembali sepi hingga satu Minggu kemudian di tanggal 25 Juli 2020. Mungkin juga karena aku terlalu banyak menontonnya di acara musik atau acara ragam yang Super X bintangi. Pukul 23.56 ketika aku masih sibuk mengoreksi hasil tes siswa-siswinya, lampu tiba-tiba mati. Aku bergegas menghidupkan flashlight di ponselnya, lalu membuka jendela memastikan apakah Distrik Guangsi sedang mendapatkan giliran pemadaman atau hanya di rumahku saja mengalami gangguan. Aku mengintip dari balik jendela, seluruh distrik nampak terang. Ini seperti dejavu, aku pernah mengalaminya semasa tinggal di Seulasia. Apakah Kim Jae dan suruhannya masih mencoba menggangguku? Bahkan aku tidak berbuat apa-apa, aku pun memilih diam dan mengkhianati negaraku. Jika ini perbuatan Kim Jae dan anak buahnya, apa lagi yang dia butuhkan dariku? Mengingat semua rentetan teror yang kuterima sebelumnya. Aku memutuskan untuk tidak keluar apapun yang terjadi. Dengan langkah pelan aku menutup pintu kamarku dan menguncinya rapat. Bermodalkan flashlight dan jantung yang berdebar-debar, aku kembali mengoreksi tugas-tugas muridku. Esok harus segera kubagikan hasilnya agar mereka dapat segera melakukan evaluasi. Nahasnya, setelah 30 menit berlalu ponselku mati dan masih ada 15 siswa yang tugasnya belum aku koreksi. Aku ingin keluar mengecek listrik rumahku tapi trauma teror yang dulu menghantuiku lagi. Hendak menelepon Juna tapi ponselku benar-benar tidak bisa hidup lagi. Aku harap Juna melihat rumahku yang gelap dan mengetuk pintu untuk membantuku. Meskipun tidak mungkin, Juna bukan tipe laki-laki yang keluar rumah menjelang pagi. Dia benar-benar penurut pada Bibi Ni, tidak bertingkah aneh. Aku mulai panik, keringat dingin mengucur, jantungku pun sedang senam aerobik di dalam sana, di saat gelap menyapa. Nilai-nilai ini juga harus segera kumasukkan ke dalam web sebelum pukul 12 siang. Wali murid pun harus segera tahu nilai anak-anaknya. "Apa yang harus kulakukan?" gumamku menggerak-gerakkan kaki dengan gelisah. Jika tidak segera kuselesaikan, aku akan kehilangan waktu untuk tidur. Dan aku amat sangat butuh tidur karena hari-hari sebelumnya aku mengalami kesulitan. "Baiklah, aku percaya Tuhan selalu bersamaku. Jika harus mati, maka ini adalah waktunya," gumamku. Memaksa keluar rumah untuk mengecek listrik rumahku. Aku adalah perempuan beragama yang percaya bahwa hidup dan matiku ada di tangan Tuhan, meski aku takut menghadapinya. Bahkan karena takut mati pun aku rela mengkhianati negaraku. Sungguh, jika akhir hidupku mengenaskan, aku ikhlas, aku sudah berusaha untuk hidup tenang dan beribadah lebih baik. Namun sepertinya, takdir berkata lain. Berjalan keluar dengan gerak langkah penuh keraguan, gemetar, lemas seolah tak ada sisa tenaga. Membuka pintu pelan-pelan dan mencoba mendekati bargainser listrik. Benar, tombol biru di bargainser berubah arah. Kenyataan itu lah yang membuat tubuhku menegang. Ini benar-benar seperti teror yang pernah kuterima. Sungguh, ini akhir hidupku. Terdengar langkah kaki dari belakang. Aku ketakutan sekarang. Berpikir keras apa yang harus kulakukan. Hanya ini yang terpikirkan sekarang, segera berlari mendekati pintu dan hendak menutupnya. Benar-benar kulakukan, namun tangan besar itu menarik keras dan justru ikut masuk ke dalam rumahku. Dengan pakaian serba hitam, masker hitam, beani abu-abu, dan hanya menampakkan mata dengan softlens berwarna biru. Itu pun langsung tersamarkan karena pria bertubuh tinggi dan besar itu menyorot matanya dengan lampu senter. Aku benar-benar berada di ambang kematian. Sudah kulangkahkah kaki mundur puluhan ribu, sudah kubulatkan bungkam, dan mengkhianati negaraku tapi dia masih berniat membunuhku. Sungguh pemimpin bengis yang buta akan dunia. Gelap gulita, kakiku lemas, dan seseorang membungkammu dengan cengkraman kuat di bahu. Mataku terus menyisir bentuk wajahnya tapi cahaya di tangan pria ini redup. Hanya mata dan mata yang saling menatap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD