Mataku tertutup dan aku mulai menangis. Aku benar-benar takut akan kematian, bukankah semua orang begitu? Ketakutan adalah peringatan sebab aku merasa belum cukup ibadah untuk menghadapi kehidupan selanjutnya di akhirat. Daripada aku mengaku tidak takut mati sementara tak acuh pada bekal sendiri, lebih baik aku mengaku bahwa menghadapi kematian juga menakutkan.
"Kamu menangis?" tanyanya melepaskan tangannya dari mulutku. Aku masih memejamkan mata, aku tidak berani membukanya dan bahkan tanganku masih bergetar serta mengepal ketakutan. "Hara," panggilan itu terus terngiang sampai akhirnya aku membuka mata, suaranya nampak tak asing bagiku.
Menahan napas untuk beberapa saat dan menghembuskannya kencang setelah tahu bahwa laki-laki yang membungkam mulutku adalah Gazza. Benar, Kim Gazza yang sekarang sedang menyorot wajahnya dengan flashlight ponsel dan membuka masker hitamnya. Wajah tampan itu terlihat jelas, bahkan setiap taburan make up pun terlihat jelas.
"Are you okay?" tanyanya saat aku menjatuhkan tubuhku ke lantai dan menangis sekencang-kencangnya. Aku benar-benar takut akan mengalami teror yang sama. Bagaimana orang-orang itu mencoba mengancamku, semuanya masih sangat jelas dalam ingatanku.
"Apa kamu yang mematikan listrik di rumahku?"
"Iya, aku hanya..."
"Sungguh hanya kamu?"
"Iya, maaf, aku mengejutkanmu, maaf." Mengulurkan tangannya hendak merengkuhku.
Menghapus air mataku, mengabaikan uluran tangan kanannya yang hendak membantuku berdiri. Masih sesak rasanya tapi aku tidak mau membuatnya curiga perihal traumaku, aku pun tidak mau menampakkan kelemahanku, atau dia tidak akan pergi. "Tidak apa-apa. Pulang lah. Kamu tidak seharusnya ada di sini." Mendorongnya mundur. "Tolong hidupkan lampunya lagi. Aku, aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Melangkah pelan memanfaatkan cahaya dari ponsel Gazza yang masih menyala.
"Tapi, tapi aku ke sini..."
"Agensimu mengatakan bahwa aku menculikmu pada tetanggaku. Aku masih beruntung karena dia tetangga yang baik, itu karena dia mengidolakanmu. Tapi aku sungguh tidak mau dicap sebagai penculik padahal aku tidak melakukan apa-apa yang sangat membahayakanmu."
Gazza mengikuti langkahku. Aku melihatnya dari bayang-bayang besar yang ada menutupiku. "Maaf, maafkan aku soal itu."
"Jika kamu benar-benar meminta maaf dengan tulus, pergilah sekarang juga. Tolong jangan bermain lagi dengan listrik di rumahku," titahku dengan tangis yang sedikit mereda.
"Apa kamu tidak tahu alasanku ke mari karena apa?"
"Mambayar biaya sewa selama di sini mungkin," tebakku membalikkan badan. "Ah, ya. Kamu ingin mengucapkan terima kasih. Aku sudah mendengarnya di acara ragam Super X."
"Katanya kamu tidak butuh uang."
"Aku memang tidak butuh, tapi biasanya orang akan..."
"Aku merindukanmu, merindukan bahumu yang hangat, aku merindukanmu, Haruna Hara. Aku ingin tidur dengan nyaman di sisimu."
Aku tertegun untuk beberapa saat. Aku tidak sedang bermimpi, wajahku yang polos dapat membuat seorang idol merindukanku, itu gila. Bahkan sebuah ketidakmungkinan yang tidak akan terjadi. Kami pun hanya saling bertatap muka tiga hari, tidak ada yang spesial. Jika dia mengatakan itu, bukankah hanya sebuah kebohongan?
"Biarkan aku tidur di sini satu jam, dan aku akan pulang sebelum matahari terbit. Janji." Mengajukan kelingkingnya yang dua kali lipat lebih besar dari kelingkingku.
''Tidak bisa," tolakku kembali memunggungi Gazza.
Dia tidak menyerah, menghentikkan langkahku yang hendak membuka pintu kamar. Menghadang langkahku, menciptakan jarak yang sangat dekat di antara kami. "Sekali saja. Aku butuh tenaga sebelum berangkat ke Eropa untuk melakukan tour ke sejumlah negara."
"Tidak bisa aku..."
"Tolong aku, aku benar-benar lemas karena terlalu merindukanmu."
Aku diam bukan tidak mau membantahnya tapi bibirku sibuk mengutuk jantung yang terus berolahraga dengan berlebihan. Lebih-lebih setelah Gazza menarik paksa tubuhku, menyandarkan kepalanya di bahuku, dan megatakan, "Apakah konyol jika kubilang aku jatuh cinta padamu hanya karena kamu melihatku menangis?"
Tidak menjawab apapun. Hanya mendorong tubuhnya menjauh lalu mengendus tubuhnya sembari berjinjit, berharap bisa mengendus di depan wajahnya. Aku hanya ingin memastikan apakah dia sedang mabuk atau tidak. "Ah, sepertinya kamu sedang mabuk. Pulanglah!" Tangan kananku mempersilakan dia untuk pergi tapi dia hanya diam dan mematung. "Tolong pergilah dan jangan membuat masalah lagi."
"Aku akan sering mengunjungimu. Tengah malam dan biarkan aku melihatmu 5 sampai 10 menit saja. Atau suatu waktu aku memintamu seperti ini selama satu jam. Tidak, aku akan sangat egois dengan tidur di rumahmu selama berjam-jam ketika aku sangat merindukanmu," katanya kembali menempatkan kepalanya di atas bahu kananku. "Aku benar-benar kehabisan tenaga karena memikirkanmu."
Lagi dan lagi aku tidak bisa menjawab.
"Maaf, jika aku egois."
"Tidurlah dan segera pulang kalau begitu. Kamu benar-benar sedang mabuk!"
"Tidak, apa ada bau alkohol?"
Benar, tidak ada bau alkohol sama sekali di tubuhnya. Aku hanya menganggapnya mabuk karena dia mengatakan omong kosong. Sepertinya Gazza juga menyadari itu, sadar bahwa aku tidak mempercayai ucapannya.
"Aku tahu kamu tidak akan mempercayainya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura, hidupku sudah penuh dengan kepura-puraan dan itu melelahkan. Aku, aku sungguh merindukanmu. Tidak tahu kenapa, aku mengatakannya dengan tulus."
"Aku tidak ingin mendengarnya lagi."
"Baiklah, aku cukupkan. Tapi aku akan terus datang selagi sempat dengan alasan yang sama."
"Jangan!" tolakku keras.
"Bahkan jika kamu menolaknya, aku semakin ingin mengunjungimu. Ah, satu lagi. Apa kamu punya fobia terhadap kegelapan?"
Menggeleng. "Baiklah, aku mengerti. Matamu mengatakan lain. Aku tidak akan melakukannya lagi. Maaf untuk hari ini karena telah membuatmu takut dan menangis." Mengusap sisa air mataku di ujung mata. "Aku akan datang lagi dengan baik-baik, Haruna Hara. Maaf juga, aku sebenarnya tidak bisa berlama-lama karena semua anggota Super X menungguku di tepi pantai di ujung jalan." Berjalan meninggalkanku.
"Tunggu," panggilku saat Gazza membuka pintu rumah. "Dari mana kamu tahu namaku? Aku tidak pernah mengatakan siapa namaku."
Gazza tersenyum. "Ada barang hilang di rumahmu, kamu pasti akan tahu darimana aku tahu namamu setelah kamu sadar apa yang hilang. Tidurlah setelah ini, matamu terlihat lelah." Lantas dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Lampu menyala dan aku tidak mendengar apa-apa lagi.
Bagaimana aku bisa tidur jika dalam satu malam aku dibuat ketakutan lalu diterbangkan tanpa bisa memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi? Aku benar-benar terjaga hingga pagi menyapa. Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan baik tapi pertanyaan-pertanyaan di pikiranku tidak terselesaikan.
"Juna, jika ada seseorang yang baru saja kamu kenal tak lebih dari 4 kali 24 jam mengatakan bahwa dia jatuh cinta padamu. Kamu akan mempercayainya?" tanyaku saat kami melewati tepian pantai menuju ke sekolah. Hamparan air biru dan deburan ombak seperti biasanya.
Juna tertawa. "Orang gila mana yang mengatakan itu?"
"Benar, bukan? Orang gila memang."
Tiba-tiba saja Juna mengerem sepeda ontelnya membuatku tak sengaja memeluknya dari belakang. "Hah, apa Gazza mengatakan itu semalam?"
"Ha-ha." Tertawa kaku. "Tidak mungkin Gazza mengatakan itu padaku. Hah, ketidakmungkinan."
"Oh ya? Masalahnya semalam member Super X berbelanja di tempat Bibi Ni dan aku mendengar salah satu anggota tertua bergumam perihal Gazza yang terlalu lama berpisah dari mereka. Ah, semalam aku tidak berpikir dia akan menemuimu. Akan tetapi, setelah mendengar ceritamu pagi ini, aku bisa menghubungkannya."
"Ha-ha, tidak, em, tapi..."
"Apa aku harus bersaing dengan idol ternama di negeri ini?" tanyanya menatapku hangat. Sialnya yang kuingat justru tatap tajam nan mematikan milik Gazza. "Bahkan aku sudah tahu siapa pemenangnya," ungkapnya kembali mengayuh sepeda ontelnya. Aku pun kembali memegang pinggangnya.
"Siapa memangnya?"
"Aku," jawabnya dengan percaya diri.
"Ha-ha. Kamu terlalu percaya diri."
"Itu berdasarkan fakta. Tidak ada cinta yang tidak berproses. Kamu juga tidak mempercayai ucapan Gazza begitu saja, kan? Bukankah dia bisa berkencan dengan siapapun. Kenapa harus kamu?"
"Benar juga. Tunggu, tapi apa salahnya aku? Bukankah seorang Justin Bieber pun pantas jatuh cinta denganku?"
Juna tertawa terbahak-bahak, hingga roda depannya hampir lepas dari jalanan. "Mana mungkin? Dia sudah punya istri dan bahkan tidak ada waktu untuk menemuimu."
"Benar." Aku tertawa bersama Juna. Dari percakapan ini aku juga sadar bahwa Gazza jatuh cinta denganku hanyalah ketidakmungkinan yang coba dia permainkan. Orang yang tumbuh di bawah sendok emas dengan puluhan perusahaan ayahnya, tumbuh di lingkungan yang kaya sejak lahir, karir yang mentereng, dan bahkan namanya dikenal di seluruh dunia. Tidak mungkin dia jatuh hati dengan perempuan sepertiku. Yatim piatu dan hanya seorang guru di distrik terpencil.
Menghembuskan napas. Aku harus segera sadar dan tidak mudah mempercayai orang lain. Bukankah lebih baik Juna meski bayang masa lalunya masih ada? Tatapannya hangat, baik sejak awal, dia juga sederhana dan tepat untuk mengimbangi hidupku yang jauh dari hiruk pikuk negara.
"Oh ya, kamu tahu orang yang pindah di depan rumahku?" tanya Juna saat kami tiba di sekolah.
"Tidak, kamu tahu aku jarang keluar karena banyak tugas anak-anak yang harus aku koreksi segera. Aku merindukan pantai tapi hanya bisa menatapnya dari balik jendela kaca, belum ada waktu untuk menyapa tetangga baru."
Juna mengangguk-angguk. "Lagipula, dia pria dengan pakaian yang aneh. Dia terus mengenakan pakaian hitam, topi hitam, masker hitam, dan bahkan kaca mata hitam saat menyapu di halaman rumahnya. Saat aku menegurnya, dia mengalihkan pandangannya."
"Aneh sekali. Apa dia tidak bisa bersosialisasi?"
"Mungkin. Tapi dia tidak lebih aneh dari Gazza yang tiba-tiba membawa semua membernya ke Guangsi hanya untuk membual soal jatuh cinta padamu."
"Haissh!" Hendak meninju lengannya tapi dia menjauh. "Bilang saja kalau kamu cemburu."
"Kalau iya, kenapa?" godanya.
"WEI, APA INI? NO! NO WAY! NO NO NO NO NO," pekik seorang siswi dengan nada tingginya.
"Apa yang barusan aku dengar, wei!" keluh yang lainnya sembari menggoyang-goyangkan tubuh temannya tak percaya. "PAK JUNAKU!" Muridku sepertinya memang ajaib-ajaib.
"Habis sudah stok guru yang bisa kita jadikan bias," keluh yang lain lagi. Luar biasa, Juna memang seperti dugaanku, banyak penggemar yang diam-diam menjadikannya bias.
"Nak-anakku, mohon untuk diikhlaskan," seru Juna menggenggam tanganku, membawaku masuk ke dalam sekolah.
Tentu saja aku memprotes tindakannya. "Kamu bahkan juga gila!"
"Tidak segila Gazza!"
"Haisshhh! Aku benar-benar dikelilingi orang gila!" racauku masuk ke dalam kantor.