Setelah agensi memberikan pernyataannya, berita meredam, akan tetapi beberapa penggemar sudah terlanjur menutup akun mereka akibat kekecewaannya. Pihak agensi mengatakan bahwa Ohnara dan Gazza hanya teman biasa yang butuh pertemuan untuk saling bercerita dan tentunya butuh ruang privasi di antara keduanya. Semua pertemuan bukan berarti sebuah skandal kencan. Agensi juga mengatakan bahwa Gazza dan Delvin tidak sedang berkencan dengan siapapun padahal di akhir pernyataannya, agensi mengatakan bahwa andaikata ada salah satu anggota Super X yang sedang berkencan, mereka akan segera memberikan penyataan resmi. Itu yang paling mengecewakan, sebab pada kenyataannya aku dan Gazza telah memutuskan untuk bersama. Meski aku terkesan tidak tahu diri.
Gazza sempat bertanya padaku satu minggu yang lalu, pagi sebelum aku berangkat ke sekolah memalui panggilan suara. "Apakah kamu baik-baik saja jika agensiku mengatakan aku sedang tidak berkencan dengan siapapun?" Tentu saja aku mengatakan bahwa itu lebih baik daripada harus mengakui semuanya dengan jujur karena kami sama-sama belum siap, terlalu berisiko untuk karirnya, dan sejujurnya aku pun sedikit mengkhawatirkan keselamatanku.
Sekarang semuanya lebih tenang. Yang gaduh hanya ponselku. Ia terus menerima pesan singkat dan panggilan video di tengah malam dari Gazza. Kurasa hanya itu waktu luang yang kami miliki. Meski pada akhirnya kami akan berakhir dengan saling meninggalkan dan mengabaikan, maksudku mengabaikan pesan dan meninggalkan panggilan video karena tertidur. Bahkan meski hati kami begadang untuk merindu, mata kami tetap terlelap untuk bertemu.
"Nanti aku akan datang, tengah malam, hanya untuk beberapa jam sebelum aku berangkat ke Cina." Pesan singkat yang Gazza kirimkan di sela jam mengajarku, di sela lagu bergenre hip hop milik Super X terdengar merdu di kelas XI C.
"Dah gila kurasa Bu Hara itu, senyum-senyum sendiri," tegur Udin di tengah waktu mengerjakan soal ulangan harian. Ternyata tanpa sadar aku tersenyum karena isi pesan Gazza. Ya, aku merindukannya, maka pertemuan adalah sesuatu yang membahagiakan.
"Jangan bilang kebayang disamperin Delvin ya, Bu?" tebak Rossa.
"Aish, padahal pernyataan agensi dan Bu Hara pada wartawan sudah jelas. Lagipula, bayangkan kalau Bu Hara benar-benar berkencan dengan Delvin. Bagaimana mereka akan berciuman? Hah, masa iya pakai alat bantu kursi," celetuk Udin membuatku emosi.
Pertama, aku tidak berkencan dengan Delvin. Kedua, aku tidak berniat berciuman sebelum menikah. Ketiga, aku kesal karena dia meremehkan tinggi badanku.
"Tapi kan ciuman bisa sambil tidur," sambar yang lainnya. Dunia nampaknya memang sudah semakin tua. Fantasi anak muda perihal kencan sudah terlalu jauh.
"Yak!" bentakku menggebrak meja. "Kerjakan, waktu kalian tinggall 10 menit!" tegasku.
"Loh, loh, begimana caranya tahu-tahu sudah 10 menit" keluh Udin yang langsung menghitung jumlah kancing seragamnya. Dia akan melakukan itu setiap kali waktu ulangan tinggal 10 menit. Sementara yang lain sudah hampir menyelesaikan soal mereka.
"Soalnya esai, Udin. Ngapain ngitung kancing sih!" tegur Rossa yang membuat seisi kelas tertawa tepat saat Juna memanggil namaku dari jendela kelas.
"Ah, ya, masih 10 menit lagi. Kamu boleh pulang lebih dulu," kataku karena Juna hendak mengajakku pulang bersama. Saat aku mengatakan itu, para siswi memprotesku. Bukankah kami berpacaran? Itulah yang kebanyakan mereka suarakan. Karena seharusnya kami pulang bersama meski salah satu harus menunggu lama. Kupikir, lebih baik saat mereka berpikir aku berkencan dengan Juna daripada kenyataannya terbongkar begitu saja. Akan tetapi, terkadang aku merasa bersalah karena Juna pernah mengatakan bahwa ia menyukaiku.
Juna menungguku di tempat parkir sepeda. Meski aku sudah menolak jok belakangnya, dia tetap menemaniku berjalan kaki menikmati waktu menjelang sore. Aku mulai bercerita bahwa anak-anak mengira kami sedang berkencan, dia bilang tak masalah.
"Tapi itu masalah bagiku. Entah, kupikir aku sudah gila karena pada akhirnya aku memutuskan untuk berkencan dengan Gazza."
Menoleh padaku, nampak sedikit terkejut. "Aku takut kamu akan terluka. Mungkin bukan karena Gazza, tapi bagaimana dengan penggemarnya?"
"Selama mereka tidak tahu apa-apa soal kami, bukankah semuanya akan aman-aman saja?"
"Bahkan bangkai yang bersembunyi akan ditemukan juga meski harus menunggu 1000 tahun lamanya."
"Kamu benar."
"Tak apa, lakukan apa yang membuatmu bahagia karena aku sudah berjanji akan melindungimu. Dan, biarkan orang lain tahu bahwa kita sedang berkencan, setidaknya dengan begitu hubungan kalian dapat disembunyikan untuk waktu yang lama."
Tersenyum. "Terima kasih. Perempuan yang akan mendapatkanmu sangatlah beruntung."
"Kuharap itu kamu."
Pukul 01.16, Gazza sudah menungguku di depan rumah. Ia masih mengenakan riasan tipisnya. Kaos oblong berwarna hitam, hoodie hitam, celana jeans berwarna biru dan topi hitam. Tak lupa, makser itu hal wajib yang harus ia kenakan. Dia menyambutku dengan rentangan tangan, aku tahu dia ingin memelukku tapi aku tidak bisa melakukannya. "Baiklah," gumamnya dengan nada kecewa.
"Masuk?" tawarku karena tidak mungkin kami di depan rumah, tetangga akan mengetahuinya meskipun membawanya masuk juga merupakan kesalahan.
Menggeleng. "Aku ingin pergi ke suatu tempat denganmu."
"Ke mana?"
"Ke tempat ibuku jatuh cinta." Menggenggam tanganku dan menarikku menuruni anak tangga. "Waktuku tidak banyak tapi kita harus berjalan kaki menaiki bukit di belakang sana, apa tak masalah?" Aku tidak menjawab apapun. "Ah, mungkin kamu sedang bersuara dalam hatimu, ke mana pun asalkan denganmu, aku sudah sangat bahagia."
"Ya!" protesku menepuk ringan lengan kanannya. "Apa kamu selalu sepercaya diri ini?"
"Tentu, seorang bintang harus selalu percaya diri."
"Hem, dan aku hanya gundukan pasir di bawah p****t kucing!"
Gazza menarik tanganku agar berhenti. Dia menatapku di persimpangan jalan yang sepi, bibir sedikit manyun, tanda tak terima jika kekasihnya tidak banyak memiliki kepercayaan diri. Namun, apa yang aku banggakan? Tidak ada, untuk itu aku tidak perlu bersuara dengan percaya diri. Menghela napas panjangnya. "Kamu bintang di hatiku."
Aku tertawa terbahak-bahak. Gombalan itu bahkan tak cocok untuk kami yang berusia jelang 26 tahun, benar, kami lahir di waktu yang sama. Berbeda 2 bulan saja. "Kamu seperti anak ABG yang sedang merayu kekasihnya."
"Tidak, untuk apa merayumu jika kamu sudah menjadi milikku? Aku hanya berusaha mengatakan yang sejujurnya." Menarik tanganku, memasukkannya ke dalam saku hoodie-nya. "Aku merasa hangat dan bercahaya saat redup, itu setelah aku melihatmu malam itu. Aku tidak tahu, mungkin karena hanya kamu yang peduli denganku. Bahkan aku bisa berbagi rahasia denganmu."
"Rahasia apa? Menangis? Ha-ha," godaku tapi ternyata tidak membuatnya tersenyum. Ia hanya memasang wajah datar sembari terus memainkan jari-jariku di dalam kantong hoodie-nya. Hasilnya, kami hanya diam sepanjang perjalanan menanjak. Di belakang Distrik Guangsi, memang ada bukit yang tidak begitu tinggi, namun akan menyuguhkan pemandangan indah yang menakjibkan. Pantai meski tak begitu luas seperti pemandangan di depan rumahku, namun bintang sedikit terasa dekat. Udara yang tanpa polusi mendukung bintang-bintang tersenyum cerah.
Gazza mengajakku duduk di sebuh bangku besi, sedikit dingin karena cuaca tengah malam. Dia bahkan melepas hoodie-nya sebagai alas duduk. Tangan kanannya juga tidak pernah mau lepas dari tangan kiriku. Meski matanya lepas dari pandanganku, mata itu terus menatap ke atas, menikmati bintang malam.
"Di sini ibuku jatuh cinta dengan ayahku, di sini ibuku melakukan kesalahan tapi menurutnya dia tidak melakukan kesalahan, untuk itu ibu sering ke sini saat merindukan suaminya," ungkapnya menghadap ke depan, lurus tanpa berkedip.
"Ayahmu pasti sibuk dengan perusahaannya," balasku mengikuti arah pandangnya.
"Tidak, dia sibuk memuaskan nafsunya."
Menoleh, aku tidak menyangka Gazza akan mengatakan itu.
Tiba-tiba saja dia tertawa. "Maaf, lupakan. Bagaimana dengan kerabatmu?"
"Aku tidak punya," jawabku tersenyum pahit.
"Maaf, itu karena aku berkencan denganmu, untuk itu aku bertanya. Sebab, jika ada aku harus menyapa mereka."
Mengangguk. "Aku bahkan tidak berniat menyapa ayahmu. Karena dia sudah pasti tidak menyukaiku."
"Benar, aku pun tidak berniat membawamu padanya. Aku tidak mau kehilanganmu."
Tertawa. "Kupikir kamu akan memperjuangkanku di depan ayahmu. Bahkan meski beliau tidak menyukaiku." Bukankah seharusnya begitu? Jika orang tua tidak menyukai pasangan kita, ada baiknya memperjuangkannya lebih dulu dan bukannya langsung menyerah. Untuk itu aku sedikit kecewa dengan Gazza.
"Tidak akan, aku tidak mau kamu bernasib sama dengan ibuku." Menoleh lagi setelah menunduk dengan kecewa. "Aku, aku... Ya, itu rahasia tentangku yang sudah kamu ketahui."
"Maksudmu?"
"Tentang suami yang membunuh istrinya, ah, itu rahasiaku."
Menelan ludahku.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena itupun pilihan ibuku. Dia terlalu buta pada suaminya." Tangisnya kembali meluruh, air mata bening membasuh pipi dengan polesan make up tipisnya. "Jika kamu bertemu dengannya, dia akan melakukan apa saja untuk menjauhkanmu dariku. Sebenarnya, aku cukup egois ketika jatuh cinta padamu karena aku meletakkanmu dalam bahaya yang lebih besar dari serangan seorang penggemar. Akan tetapi, aku seperti ibu yang tidak peduli betapa bahayanya karena bagi ibu jatuh cinta adalah kebahagiaan yang mengalahkan ketakutan."
Otakku bergerak ke dalam hal lain. Bukankah aku juga membahayakannya? Karena aku pun terlibat dalam kejahatan Kim Jae, politisi yang kini semakin diagung-agungkan. Bahkan ia memenangi pemilihan Gubernur Seulasia. "Aku juga meletakkanmu dalam bahaya, mungkin." Setelah tersentuh mendengar kejujurannya.
"Maksudmu?"
"Alasanku hidup jauh dari perkotaan bukan karena aku lahir di sini, aku lahir di Seulasia dan aku mantan wartawan. Aku datang ke Guangsi setelah mengkhianati negaraku sendiri."
"Maksudmu?" tanyanya menatapku.
Aku mulai menceritakan bagaimana aku bisa berakhir di Guangsi. Namun, aku tidak menyebutkan siapa politisi yang telah mengancamku. Tidak semua bisa kita bagi, karena dia juga tidak perlu membagi lebih banyak perihal kematian ibunya. Aku yakin itu menyakitkan dan mengerikan. "Untuk itu aku ketakukan saat kamu datang dengan mematikan listrik di rumahku."
"Maaf."
"Tak masalah."
"Apa itu alasan kita bertemu?"
"Kenapa memangnya?"
"Karena Tuhan ingin kita bahagia bersama. Kita sama-sama terluka, hidup tidak tenang, kita bertemu untuk berbahagia, bukan?"
"Apa kamu sudah merasa bahagia?"
"Belum, tapi iya saat bersamamu. Saat kembali ke asrama, aku ingin menangis, menghabiskan banyak beer, mengumpat di tengah malam."
Tertawa kecil. "Aku ingat saat kita pertama bertemu, tangismu, gumammu."
Gazza mulai menceritakan lagi bahwa malam itu semua terasa berat. Dia merasa pihak agensi tidak bersikap adil padanya. Setiap lagu yang dia ajukan untuk debut solo selalu ditolak, bahkan tanpa didengar secuil liriknya. Setiap geraknya bahkan diatur dalam kertas. Dia harus selalu tersenyum dan mengikuti berbagai pemotretan tapi tidak ada promosi yang cukup untuknya. "Terkadang aku iri dengan Kak Delvin, karena dia bebas menciptakan lagu yang dia inginkan. Dia pernah mengajukan sebuah lagu yang aku ciptakan tapi atasnama dia, dan langsung diterima tanpa basa-basi. Itu menyakitkan. Semuanya terasa berat saat aku kembali ke asrama. Semua anggota Super X sebenarnya menyadari itu, mereka selalu memelukku saat tidur agar aku tidak menangis. Mereka akan membuat lelucon agar aku tertawa, sebab saat aku merasa sedih, aku akan menangis dan merindukan ibuku seperti orang gila."
Menggenggam tangannya erat. Kuharap kami bisa berbagi masa-masa sulit ini, karena bumi selalu berputar. "Mari kita lalui masa sulit ini bersama."
"Aku akan melewatinya, sekarang sudah lebih baik setelah kamu hadir dalam hidupku. Kurasa aku tak butuh ayah yang serakah, aku hanya butuh kamu dan anggota Super X yang selalu mendukungku."
"Aku akan melakukannya," ujarku seolah lupa bahwa kasta masih bermain di antara rasa.
"Aku tidak lagi mempercayai ayahku tapi aku sangat bisa mempercayaimu, entah kenapa. Padahal kita bertemu hanya dalam waktu yang singkat." Aku tersenyum tipis. "Hara," panggilnya lembut, memegang kedua tanganku, menatapku dalam. "Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku seperti ibuku. Aku pun berjanji akan selalu ada untukmu. Saat kamu merasa ketakutan atau ada orang yang mengganggumu, hubungi aku lebih dulu. Jangan membuatku khawatir karena aku juga tidak ingin membuatmu khawatir. Perihal masa lalu kita yang suram, ayo kita lupakan bersama."
Mengangguk dengan tangis haru. Aku seakan lupa bahwa mungkin saja, tak perlu waktu lama untuk kita menyadari perihal hubungan kami yang akan mendapatkan banyak tentangan.