Part 19 (Pernyataanku)

1372 Words
Pencarian teratas hari ini didominasi oleh dua nama anggota Super X, Delvin dan Gazza. Di mana dua anggota Super X tersebut dikabarkan tengah berkencan dengan seorang selebriti dan non-selebriti. Tentu saja, perempuan non-selebriti yang dimaksud adalah aku. Foto Delvin di depan rumah bersamaku ternyata berhasil diabadikan oleh salah satu wartawan dari media massa ternama.  Parahnya belum ada pernyataan dari pihak agensi mengenai foto-foto yang beredar. Sementara di depan rumahku sudah dikerubungi wartawan sejak pagi-pagi buta. Tak ada celah bagiku untuk keluar. Aku menelepon Juna pagi ini, memintanya untuk mengawalku. Aku bukan selebriti tapi dalam keadaan ini aku membutuhkan perlindungan, setidaknya agar aku sampai ke sekolah dengan selamat. Bukannya segera membantuku, Juna justru meracau panjang lebar perihal aku yang masih saja berhubungan dengan Gazza, bahkan sekarang Delvin. "Aku akan membantumu tapi pasti sulit, setidaknya katakan apa yang bisa kamu katakan pada wartawan. Mereka akan terus mengejarmu sampai mendapatkan jawaban. Kamu..." "Aku tahu, jika aku tidak memberikan jawaban. Mereka mungkin datang ke sekolah dan mengganggu aktivitas belajar mengajar nantinya," potongku melalui panggilan suara. "Ya, apa yang akan kamu katakan kalau begitu?" tanyanya. Aku berpikir cukup lama, tak mengatakan apapun pada Juna, hanya memintanya segera datang. Benar saja, tak perlu waktu lama, Juna membuka pintu rumahku setelah kutuliskan angka-angka untuk membuka pintunya. "Bagaimana jika kamu bolos saja hari ini? Tidak, izin. Aku akan mengatakannya pada kepala sekolah, beliau pasti mengerti kondisimu." "Tidak, hari ini ada materi penting yang harus aku sampaikan pada anak-anak, tidak ada yang bisa mewakilkan. Semua jadwal guru sastra pun bentrok jika harus menggantikan jadwalku. Aku bertanggungjawab atas anak-anak, Juna." Juna menghela napas, melepas mantelnya, memutar, dan mendekapku dengan mantelnya. "Siap?" Mengangguk. Bau wangi tubuhnya, kekar tangannya, Juna benar-benar tampan saat melindungiku tapi yang saat ini kubayangkan justru Gazza. Bukankah romantis jika Gazza melakukan ini padaku? "Mbak, tolong katakan sesuatu soal foto yang beredar!" Rata-rata wartawan melontarkan pertanyaan itu begitu kami membuka pintu. Gaduh, sesak, Super X benar-benar memiliki nama yang besar. Tak heran juga bila saat ini ada wartawan luar negeri yang datang. "Lanjut aja," bisik Juna. "Aku punya jawabannya." Membuka mantel yang menutup kepalaku. "Maaf, Mas dan Mbak Wartawan bisa pulang saja karena tidak akan menemukan apa-apa untuk isi berita. Pertama, itu benar foto saya di depan rumah ini, saya tidak membantah. Tapi bukankah lucu ketika kalian membuang-buang waktu untuk menulis berita yang isinya hanya Delvin menemui menemui perempuan non-selebriti di Distrik Guangsi, ternyata hanya menanyakan keberadaan Gazza." Beberapa wartawan saling pandang. "Semalam saya juga kaget kenapa seorang Delvin Super X mengetuk pintu rumah saya, ternyata dia menanyakan apa saya melihat Kim Gazza menginap di dekat-dekat sini. Saya dengar Gazza pergi dari asrama semalam, bukan? Jadi, Delvin hanya menanyakan itu. Terima kasih untuk waktu kalian yang terbuang sia-sia," kataku kembali meminta Juna untuk menuntunku. Juna tidak mengatakan apapun sepanjang langkah kami. Memang tak sempat bagi kami untuk berbicara lebih banyak karena wartawan masih mengejar pernyataan lanjutan dariku. Sayangnya, aku tidak akan memberikan pernyataan lanjutan lagi. Pernyataanku sudah jelas untuk memukul mundur mereka semua, setidaknya sementara waktu. "Yakin soal jawaban yang tadi? Semalam aku melihat Gazza ada di depan Toko Bibi Ni tapi urung masuk, dia segera pergi sebelum aku menonjok wajah bayinya itu," racaunya setelah kami sampai di sekolah. Aku tidak menjawab apa-apa soal pernyataanku pada wartawan. Aku hanya mengatakan, "Jangan memanggilnya bayi terus-menerus dan kamu tidak perlu menonjok wajahnya." "Kenapa? Dia sudah menyakitimu." "Tidak, kamu hanya belum mendengar penjelasannya. Lagipula, kamu bisa masuk penjara atas tuduhan p*********n dan penganiayaan." "Bu Hara, Bu Hara!" panggil beberapa siswi dengan rok pendek mereka yang sesekali bergoyang, mengikuti langkah lari. "Beneran Bu Hara sama Delvin?" Dahiku mengernyit. "Ya! Ashita!" seru Irene datang dari belakang. "Bagaimana mungkin seorang Delvin berkencan dengan Bu Hara? Logikanya dipakai. Bu Hara hanya guru di distrik kecil dan bahkan dari tinggi badan saja sudah tidak cocok." "Wah, Irene!" sambar Udin. "Body streaming nih!" "Body shaming!" Irene, Rose, Ashita, dan teman-temannya memekik. "Oh, dah ganti!" Aku menghela napas melihat siswa-siswiku saling beradu mulut. "Ibu tidak mungkin berkencan dengan tiang listrik. Oke?" "Bu Hara kencannya sama Pak Juna," potong Juna dengan gagahnya menggandeng tanganku. "Ya!" tekanku dengan kedua gigi yang rapat. Juna hanya tersenyum. Kupikir dia hanya berusaha membantuku. Di tengah langkah kami menuju gedung sekolah, ponselku berdering. Panggilan dari Gazza yang sebenarnya tidak ingin kuabaikan. Sayangnya, Juna merebut ponselku dan mematikan panggilan teleponnya. "Kamu tidak perlu berhubungan lagi dengannya." "Kenapa?" "Aku tidak mau kamu terluka." "Ohnara dan Gazza tidak memiliki hubungan apapun, Juna. Delvin datang ke rumahku semalam untuk menjelaskan itu. Sungguh!" Sembari menengadahkan tangan, meminta ponselku kembali. "Apa kamu yakin dia mengatakan yang sebenarnya? Bahkan agensinya hanya diam saja. Jika memang tidak, biasanya agensi akan memberikan pernyataan tegas. Karena mereka tidak kehilangan banyak penggemar." "Aku tidak peduli dengan agensi, Delvin dan Gazza sudah menjelaskannya." Meninggalkan Gazza begitu saja seolah tidak tahu terima kasih. Hari berganti, malam telah tiba, bulan sedang bulat-bulatnya, dan aku hanya duduk di balik jendela, memikirkan seseorang yang jauh di sana. Sejenak terpecah karena sebuah pesan singkat yang masuk. Pesan itu berbunyi, "Kak Delvin berterimakasih atas pernyataanmu kemarin. Aku juga berterimakasih karena kami di sini bisa sedikit mengendalikan situasi." Aku tidak membalasnya. "Agensi akan memberikan pernyataannya malam ini perihal berita kencan yang beredar. Maaf menunggu waktu lama untuk kejelasannya. Meskipun Kak Delvin sudah menjelaskannya tapi pasti kamu masih meragukanku." Lagi dan lagi aku tidak membalasnya. "Pukul 2 malam nanti aku akan tiba di rumahmu. Tolong bukankan pintu. Aku tidak bisa berlama-lama." Tetap tidak membalasnya.  Benar saja, setelah bulan semakin mendekati ujung barat. Pintu rumahku diketuk dua kali. Entah kenapa kakiku seolah riang gembira menyambutnya. Bibirku juga tanpa sengaja menyunggingkan senyum lebar. Bahkan alam bawah sadarku cepat merespon rindu yang akan mencair. "Aku datang hanya untuk memintamu secara resmi. Berkencan lah denganku," katanya bahkan aku belum sempat menutup pintu rumahku. Gazza datang dengan pakaian serba hitamnya. Jika biasanya mengenakan kaus, kali ini dia mengenakan setelan jas dan polesan make up tipis. Sepertinya dia baru saja pulang dari acara televisi. Aku menatapnya di bawah lampu yang sangat terang. "Kamu terlalu bersinar. Aku hanya perempuan miskin tanpa orang tua, jangankan, kerabat saja tidak ada. Aku hanya guru SMA, aku juga tidak cantik dan tidak tinggi. Kita punya perbedaan yang mencolok." "Tapi kita punya perasaan yang sama. Jujurlah padaku sejujur matamu." Menatapnya dalam, meki harus mendongakkan kepala. "Apa kamu sudah memikirkan dampaknya jika kita berkencan? Apa kamu sudah mempertimbangkan karirmu jika hancur karena kabar kencan kita mencuat? Aku sudah terbiasa hidup dengan susah payah dan dianggap tidak ada oleh beberapa orang. Tapi kamu akan kehilangan duniamu lebih banyak. Pikirkan lagi!" Hatiku ingin menjawab iya dengan lantang, tapi logika sepertinya masih tidak bisa. Gazza tidak bisa mengatakan apa-apa, mungkin karena dia juga menyadari itu. Negara ini maju, terkenal dengan seninya tapi sebenarnya banyak manusia yang hidup dengan egois. Setelah banyak diam, Gazza bersuara, "Yang penting adalah kamu menyukaiku dan bersikap hangat padaku, itu cukup. Ini hari pertama kita kencan." Aku diam. "Tunggu, maksudku secara resmi. Sebelumnya kita sudah berkencan tapi tidak resmi karena aku mengakuinya sepihak dan hanya via telepon saja. Hara, mari kita lalui ini bersama seperti yang kukatakan kemarin." Menatapnya. "Kita bisa melakukannya sembunyi-sembunyi. Boleh aku memelukmu?" Diam tidak menjawab, toh, hendak kutolak pun Gazza tetap memelukku bahkan dia berbisik bahwa dia mencintaiku. "Ini konyol tapi aku jujur," katanya lagi membelai rambutku. "Aku tidak bisa berlama-lama. Bisa kamu antar aku ke depan?" Setelah melepas pelukannya. Aku mengangguk dan tersenyum. Gazza pun langsung menggenggam tanganku, membawaku menuruni anak tangga. "Aku akan sering datang ke mari untuk mengobati rinduku. Mungkin tengah malam karena harus menghindari wartawan. Tunggulah aku dengan sabar, aku tahu merindukanku itu tidak mudah." "Kamu terlalu percaya diri." "Hem, ketampanan ini membuatku terlalu percaya diri." "Ya, dan aku tidak secantik selebriti..." "Kamu cantik, hangat, dan aku mencintaimu," potongnya melepas genggaman di bawah anak tangga terakhir. "Kembalilah, aku akan berlari segera setelah kamu masuk ke dalam rumah. Tolong jangan pikirkan seberapa cantik dirimu dari orang lain, buatlah standar cantikmu sendiri. Karena aku juga membuat standar cantik untuk dirimu sendiri, untuk itu aku mencintaimu bukan orang lain." Tersenyum tipis. "Ya, benar. Kamu lebih cantik saat tersenyum. Naiklah, dingin." Mengangguk, mulai melangkah sesekali menoleh ke arah Gazza di bawah. "Hara," panggilnya saat aku menginjak tangga ke sepuluh. "Aku mencintaimu dan percayalah soal itu." Hanya membalasnya dengan senyuman singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD