Part 8 (Bayi Menangis?)

1573 Words
"Bagaimana bisa ada laki-laki membiarkan perempuan tidur di luar? Bahkan dia seorang tamu. Benar tamu adalah raja, tapi dia tidak bisa melakukan ini padaku!" racauku setelah terbangun di depan televisi yang masih menyala. Dia tidur nyaman tanpa memberikanku selimut, menyebalkan sekali. Aku yang punya rumah tapi dia yang mengusai. "Gazza!" murkaku membuka pintu kamar, sedikit membantingnya. "Bangun, waktunya kamu pulang!" Aku seolah tak ingat bahwa semalam ia membuatku iba. Pagiku benar-benar mendung karena aku tidak tidur dengan nyaman di sofa sementara hari ini aku harus benar-benar mengajar. Kemarin hanya perkenalan jadi tidak begitu melelahkan, hari ini lain. Aku butuh energi baik tapi Gazza merusaknya. "Bagaimana bisa kamu membangunkanku seperti macan betina yang baru saja digugat cerai?" sambutnya dengan suara parau khas orang bangun tidur. Bibirnya sudah tidak begitu pucat, itu artinya dia telah pulih dari demamnya. Bukan-bukan, yang membuatku sedikit berpikir sekarang adalah bagaimana macan jantan menceraikan istrinya? Apakah ada sistem talak 1, 2, dan 3? Jika sudah yang ketiga kalinya, maka si mancan betina harus menikah dengan macan jantan lain terlebih dahulu jika ingin rujuk. Membayangkannya saja sudah menggelikan. "Aku masih tidak enak badan dan kamu mengusirku, bagaimana jika aku mati di jalan? Aku bisa menuntutmu." "Apa yang ingin kamu tuntut dariku? Bahkan aku merawatmu dengan baik, menyediakan bahuku, membiarkanmu tidur di..." "Kamu mendorongku hingga kepalaku terbentur ke jalanan, lihat!" Menunjuk dahi dengan luka yang masih membekas. "Aku ingat semuanya dan mencoba memaafkanmu karena kamu merawatku dengan baik, tidak, kamu membiarkanku kelaparan kemarin pagi, aku berterima kasih atas itu tapi kamu justru mengusirku hari ini." "Ssshhhh," desisku kesal. "Apa luka itu sebanding dengan waktu yang kukorbankan untuk merawatmu?" "Tentu saja tidak sebanding, wajah ini mahal harganya. Aku melakukan perawatan di klinik ternama untuk tetap..." "Bahkan wajah tidak menentukan akhiratmu tapi kamu terus mengkhawatirkannya. Ssihhh, kamu merasa lelah terus dikekang popularitas tapi sebenarnya kamu sangat mencintai pekerjaanmu," gumamku sedikit kesal tapi tidak mau terlalu menyinggung jika nada suaraku meninggi. "Aku juga butuh uang untuk hidup, tapi paling tidak mereka memberiku ruang untuk berekspresi sebagai manusia sewajarnya," balasnya bernada rendah. Bagaimanapun semua pekerjaan selalu memiliki risikonya, selalu ada hal-hal tidak menyenangkan yang kita dapatkan, jangankan pekerjaan, hidup saja sudah mengandung enak dan tidak enak. Jika hanya mencari kepuasan, kita semua tidak akan pernah menemukannya. Lagipula, dunia tidak berputar atas kehendak kita, tidak pula berjalan atas aturan yang kita inginkan. Apapun itu harus dihadapi. "Kamu sudah sembuh, bukan?" tanyaku mencoba menyentuh dahinya untuk memastikan. Kami benar-benar saling berhadapan dalam jarak dekat dan aku sungguh mungil di depannya. Jarak tinggi badan kami sekitar 30 cm. "Ya!" bentakku karena dia terus berjinjit agar aku tidak bisa meraih dahinya. Gazza tertawa kecil. "Makanya berdiri, males banget sih jadi orang," godanya sedikit mundur beberapa sentimeter. "Ya! Aku sudah berdiri, kamu lihat!" Menunjuk telapak kakiku dan aku sedang berusaha untuk mengangkat tumit. "Turunlah sedikit saja!" Memaksa bahunya untuk sedikit merendah. Bukan semakin mudah kujangkau tapi jangkauanku justru terlalu jauh. Kami jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Gazza di bawah dan aku di atasnya. Kami sedikit kikuk untuk beberapa detik, saat tatapan kami bertemu di jarak 10 cm. "Turunlah!" titahnya dengan nada lembut. Gazza juga mengalihkan pandangannya meski kedua tangannya masih mencengkram bahuku. "Ah!" Aku langsung berdiri setelah sadar apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan. "Ishhh, harus taubat berapa kali pada Tuhanku nanti," gerutuku kesal pada Gazza. "Kamu yang mendorongku. Kupikir kamu berbeda dari perempuan lain karena tidak mengidolakanku, itu artinya kamu juga tidak punya banyak nafsu untukku. Sayangnya aku salah menilaimu." "Hei, bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Aku hanya ingin mengecek demammu tapi kamu terus menggodaku. Ah, melihat cara bicaramu sekarang, aku yakin kamu sudah sembuh. Jadi, tolong tinggalkan rumahku hari ini. Pastikan tidak ada yang bisa melihatmu. Tidak-tidak, sekarang saja karena banyak orang pasti masih di dalam rumah saat subuh." Gazza merubah mimik wajahnya menjadi memelas. Aku tak akan tersentuh lagi, setidaknya aku harus hidup sedikit lebih egois agar tak tersangkut banyak masalah. "Kumohon, sehari saja. Akan kupastikan aku kembali tanpa merepotkanmu. Lagipula, aku tidak bisa kembali dengan tato tradisional di punggungku. Akan ada konferensi pers untuk album repackage Super X, dan tema kostumku untuk album ini adalah baju transparan. Mana mungkin aku menunjukkannya di hadapan penggemar? Setidaknya sembuhkan dulu tato tradisional ini. Kamu yang membuatnya jadi kamu harus bertanggungjawab untuk menghilangkannya." "Astaga, tapi karena itu juga kamu sembuh dari sakitmu. Setidaknya katakan terima kasih atau melakukan sesuatu untuk membalasku. Memanglah, mana ada orang kaya yang tahu rasa terima kasih," gerutuku kesal. "Aku akan membayarmu setelah aku siap untuk kembali. Kumohon izinkan aku." Dengan wajah memelasnya. "Bukan uang yang menjadi masalah. Aku hanya tidak mau terlibat masalah apapun lagi. Aku yakin agensimu akan mengatakan hal yang buruk padaku dan menambah masalah hidupku lagi jika mereka mengetahui keberadaanmu di sini." "Tolong lah aku!" Menggenggam tangan kananku. Tangannya terasa hangat, meski terlalu besar untuk tanganku yang mungil. "Ah," lenguhku menatap jam dinding di kamarku. "Aku harus siap-siap ke sekolah, aku tidak sempat membuatkanmu sarapan, kamu bisa masak sendiri apa yang ada di kulkas. Aku hanya mengizinkanmu di sini satu hari lagi, setelahnya kamu harus pulang." "Tidak, dua hari." "Satu hari." "Dua." "Satu." "Dua." "Satu!" "Dua." Menghela napas panjang. "Aku tidak punya waktu lagi untuk berdebat, baiklah dua hari. Jangan keluar sembarangan, tetap di dalam rumah ini karena tidak satupun dari mereka tahu kamu ada di sini. Pastikan kamu membersihkan rumahku setelah memasak. Sekarang kamu keluar dari kamarku, aku mau mandi!" "Tunggu, ambilkan bajuku lebih dulu, sejak kemarin aku hanya seperti ini, mengerikan sekali." Mengerlingkan mata. Bahkan setelah aku menyetujui permintaannya, dia tidak mengucapkan terima kasih atau permintaan maaf karena telah merepotkanku. Sungguh, rumor tentang selebriti yang sombong itu sepertinya benar. Lebih parahnya, sudah diperlakukan buruk, tapi aku masih memperlakukannya dengan baik. Aku tetap mengambilkannya pakaian yang ia kenakan ketika pertama kali bertemu denganku. Aku mengusirnya dari kamarku karena aku harus segera bersiap-siap. Aku juga meninggalkannya tanpa mengatakan apapun, tidak, hanya berpesan untuk tidak menghabiskan bahan makananku. "Juna!" panggilku saat mendapati Juna menenteng sepedanya menuruni tangga. "Ah, aku baru saja menyiapkan pose terbaik untuk menyambutmu di bawah." "Ah, posemu membawa sepeda terlihat sangat baik. Manly!" "Masa?" Mengangguk-angguk. Itu membuat pipi Juna sedikit memerah. Apakah pujianku menyentuh hatinya? Mungkin. Juna hari ini mengenakan kemeja biru bergaris. Tampan sekali, tidak ada tandingannya. Kupikir jika aku menjadi muridnya, aku tidak begitu memperhatikan apa yang dia tulis di papan tulis, lebih pada wajahnya yang menyejukkan. "Selamat pagi, Bu Hara, Pak Juna," sapa beberapa siswa yang datang bersamaan dengan kami, melewati gerbang, menuntun sepeda dan beberapa nampak sembari membaca bukunya. "Selamat pagi," balasku kompak dengan Juna. "Bu, hari ini ada pelajaran sastra di kelas XI A, kami sangat menantikannya," seorang siswi mengenakan kacamata tebalnya dan menenteng dua buku tebal. "Ya, Ibu pastikan tidak terlambat." Dia mengangguk cepat, nampak tak sabar. "Karya sastra apa yang akan kita bahas hari ini, Bu?" "Tunggulah di kelas dan katakan pada temanmu kita akan membahas salah satu karya Leo Tolstoy." Siswi itu berlari riang ke dalam koridor sekolah. Sungguh membahagiakan sekali melihat gadis itu membutuhkanku dan terlihat tak sabar menantikanku di dalam kelasnya. Ini menyenangkan meski aku tidak pernah berhenti merindukan pekerjaanku sebagai wartawan. "Kamu senang?" tanya Juna dan aku menjawabnya dengan anggukan mantap. "Tapi matamu masih menyisakan kepedihan. Entah apa itu." "Sok tahu." "Aku memang tahu." Kami berpisah di tempat parkir karena Juna harus memarkirkan sepeda ontelnya dan aku harus segera ke perpustakaan untuk mengambil novel karya Leo Tolstoy yang berjudul Anna Karenina. Novel yang berkisah tentang kisah cinta tragis antara Anna yang s*****l dan pemberontak dengan petugas yang gagah, Pangeran Vronsky. Sikap Anna yang menolak pernikahan tanpa rasa cinta adalah protes bagi kemunafikan masyarakat. Hari ini aku akan menceritakan secara ringkas novel tersebut dan meminta anak didikku untuk menilai gaya sastranya. Kami akan bersenang-senang dan mempelajari sastra dengan tidak menganggapnya membosankan. Berakhir dengan baik, aku segera pulang setelah jam ajarku habis. Kali ini aku tidak bersama dengan Juna karena dia masih ada satu jam lagi untuk mengajar kelas tambahan di kelas XII. Dia harus bekerja keras untuk mencerdaskan siswa-siswinya jelang ujian. Tentu, aku pulang dengan perasaan yang tidak nyaman. Adanya Gazza di rumahku menciptakan atmosfer lain. Setiap gerak terasa canggung dan salah. Dia tidak mengajakku bicara, aku juga tidak berniat mengajaknya berbicara. Hendak keluar rumah pun takut meninggalkan Gazza di rumah sendiri, aku benar-benar tidak bisa merasa tenang saat meninggalkannya. Yang kubisa hanyalah duduk di dalam kamar dan memainkan ponselku. Semakin sore, aku mencoba menyiapkan makan malam, tapi Gazza sama sekali tidak membantuku. Dia hanya duduk dan membaca beberapa buku di depan televisi. Aku sungguh ingin menonton acara ragam anak hari ini. Tingkah polah yang menggemaskan selalu berhasil menghiburku. Dulu, semasa menjadi wartawan, sore hariku di sela-sela kesibukan, aku selalu menyempatkan diri menonton acara ragam anak-anak. Lantas di malam hari menonton acara ragam Super X yang selalu meraih rating tinggi dalam setiap penayangannya. Sekarang, canggung rasanya hendak menghidupkan televisi saja. Sesekali aku melirik ke arah Gazza, yang kali ini kudapati dia menangis. Astaga, dia sungguh sangat cengeng. Kenapa dia terus menangis bahkan saat membaca buku? "Ya, bayi!" panggilku. "Kenapa kamu terus menangis?" "Haishhh!" balasnya membanting buku di pangkuannya. "Jangan memanggilku bayi! Ini gara-gara novel dramatismu ini, kenapa orang jatuh cinta saja banyak sekali halangannya?" Dahiku mengernyit. Hanya karena novel dia menangis? Maksudku, laki-laki biasanya tidak semudah itu menangis karena sebuah novel. "Ah, andaisaja ada Kak Delvin di sini, dia pasti sudah bisa membuat lagu dari cerita menyedihkan ini," gumamnya. Aku tidak ingin membalas. "Em, boleh aku masuk ke kamarmu?" "Mau apa? Tidur lagi, membiarkan aku tidur di ruang tamu lagi?" "Tidak, aku hanya ingin menikmati pemandangan. Aku masih merindukan ibuku." "Baiklah." "Ada beer?" "Tidak, aku memiliki agama yang melarangnya." "Oh, ya, aku lupa." Gazza berjalan masuk ke dalam kamarku dengan tatapan lesu. Ada banyak hal yang dia simpan, matanya bisa menjelaskan itu. Sebab, saat aku menatap matanya, aku seolah tengah bercermin. Memang benar apa kata Juna, aku masih menyimpan banyak kesedihan meski aku tersenyum bahkan meski aku bisa mengumpat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD