Part 7 (Kisah Gazza)

1542 Words
"Kamu tahu ini jam berapa?" tanyaku saat panggilan ibadah memecah keheningan. Maksud hati memintanya untuk berpindah tempat. Tak ada jawaban karena dia terus menatap kosong pemandangan luar yang semakin gelap. Matahari sudah tak nampak lagi jingganya. Oleh sebab aku merasa dia terlalu banyak menyimpan beban, kubiarkan dia diam di dalam kamarku mungkin butuh waktu sendiri.  Sementara Gazza termenung, aku beribadah di luar dan memasak untuk makan malam. Aku akan memberinya daging hari ini karena aku akan mengusirnya. Malam ini jika perlu, tidak peduli dia masih sakit atau sudah membaik. Aku tidak bisa menyimpan laki-laki yang bukan siapa-siapaku di dalam rumah dalam waktu yang lama. Para wartawan juga tidak pernah berhenti menulis artikel dengan judul yang rancu.  Usai menyiapkan makan malam, aku kembali ke kamarku dan mendapati Gazza tak berpindah tempat. Dia justru menangis dalam tunduk kepalanya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, alhasil aku hanya bisa duduk di sebelahnya. Sejujurnya aku penasaran sekali dengan cerita hidupnya. Kim Gazza, idola banyak kaum hawa yang selalu tersenyum ceria, manja, dan bertingkah bayi di depan televisi, ternyata banyak menangis di belakang. Bahkan dia seolah tidak peduli, bahwa aku hanyalah orang asing baginya.  "Ah," lenguhnya tiba-tiba tertawa getir. "Bukankah aku terlalu palsu?" Menoleh ke arahku untuk beberapa detik dan kembali melihat bintang-bintang yang mulai bermunculan. Tidak perlu kujawab, dia bahkan sudah tahu jawabannya lebih baik dari siapapun yang dia beri pertanyaan.  "Ketika debut 5 tahun lalu, kupikir aku akan baik-baik saja jika hidupku di atur oleh agensi. Kupikir aku tetap mendapatkan hak asasiku sebagai manusia yang bebas, tapi ternyata tidak. Aku harus selalu memasang wajah ceria, aku harus bersikap lucu dan lugu, parahnya aku tidak bisa berkencan. Jangankan berkencan, mencintai saja seolah tidak diizinkan." "Kupikir semua anak remaja yang ingin menjadi idola sudah mengetahuinya," balasku sedikit bergumam.  Gazza tertawa masam. "Ya, tapi kupikir tetap manusiawi. Ah, aku terlalu polos." Diam untuk beberapa saat.  "Aku pernah bersuara ketika aku mengatakan sedang berkencan dengan salah satu aktris. Mengapa mereka melarangku berkencan padahal semua manusia bebas hendak melakukan apa untuk kesenangan hidupnya. Mereka mengatakan bahwa penggemarku tidak menyukai itu, aku adalah kekasih dari penggemarku yang tidak boleh berkencan dengan siapapun," ceritanya. Begitulah sistem industri seni di negara ini. Meski tidak semua penggemar tapi mayoritas penggemar tidak menyukai atau benci jika idolanya kedapatan berkencan. Itu sangat mengganggu karir sang idola. "Kamu mungkin tahu, idola adalah objek halusinasi dengan fantasi yang penggemar ciptakan sendiri. Ketika dalam dunia nyata idola berkencan, itu akan dianggap mengganggu fantasi mereka." Mengangguk-angguk setuju. Beberapa penggemar memang semacam itu, terlalu mengekang dan mengatur kehidupan pribadinya. Tidak banyak penggemar yang benar-benar mencintai karyanya, selalu ada visual yang mereka agungkan lebih dari apapun sebagai objek fantasi mereka yang dianggap menyenangkan. Tanpa pernah sadar bahwa hal semacam itu ialah salah satu penyakit psikologi yang hatus dikendalikan.  "Lalu aku mengatakan pada agensi, apakah hidupku hanya untuk menyenangkan penggemar sementara aku hidup dengan aturan ketat yang dibuat agensi. Mereka menjawab begitulah siklus hidup sebagai seorang idola, mau tidak mau. Bukan agensi juga yang membuat aturan itu sebenarnya, tapi para penggemar sendiri dengan dunia mereka. Aku meyerah saat itu. Hingga berjalannya waktu, ibuku meninggal dunia dengan... ah, tidak, saat itu jadwal konserku padat. Agensi tidak memberiku ruang untuk merasa lelah dan bersedih. Hanya beberapa hari berselang aku harus pergi ke negara Gajah Putih untuk melakukan konser dan harus bersikap ceria. Kira-kira bagaimana perasaanmu jika menjadi aku?" Diam. Aku bahkan butuh berbulan-bulan untuk dapat memahami bahwa kedua orang tuaku tiada. Karena aku masih kecil sehingga semuanya terasa berat dan butuh waktu yang lebih lama? Sakitnya kehilangan orang tua bukan perihal masih kecil atau sudah dewasa, orang dewasa pun akan merasakan sakit yang mendalam ketika kehilangan orang tuanya. Sudah barang tentu butuh waktu yang cukup lama untuk berdamai.  "Kamu bahkan tidak bisa membayangkannya. Hari-hari itu aku berusaha untuk kuat karena semua Kakak-kakak mendukungku. Kak Delvin bahkan terus memelukku dan tersenyum dengan rengekan manjanya. Aku terus berpura-pura baik-baik saja, tapi konser kemarin, aku benar-benar lelah karena sangat merindukan ibuku, aku hanya butuh waktu 5 menit untuk beristirahat sebeleum rehearsal tapi mereka semua tidak memberiku ruang dan para anggota Super X tidak bisa melawan apapun. Agensi mengatakan bahwa mereka hanyalah pencari uang, tidak bisa membuang waktu untuk bersedih karena para penggemar sudah menunggu kami. Aku merasa sangat lelah, sangat, bahkan sekadar merindukan ibuku saja tidak ada kesempatan."  Gazza benar-benar menangis sekarang, tak hanya itu, dia menjatuhkan kepalanya dalam pelukan tubuhku yang mungil. Rasanya ingin memiliki tubuh berbahan karet yang elastis agar bisa memeluk seseorang sesuai dengan tubuh mereka. Dia terus memelukku dan menangis.  "Aku sungguh sangat merindukan ibuku karena aku tidak punya cukup banyak waktu untuk membantunya. Aku tahu dia kesulitan tapi aku seolah-olah tidak mengetahuinya karena jadwal tour yang padat dan aku takut akan merusak moodku-ku. Tiba-tiba dia pergi dengan..."  Menepuk-nepuk punggungnya. "Ibumu pasti mengerti." Ternyata seberat itu yang dialami Gazza di belakang senyum cerianya di atas panggung. Ia bekerja keras untuk menyenangkan orang lain sementara orang lain terkadang tidak memahaminya.  "Aku tidak tahu apa dia akan memaafkanku atau tidak, padahal aku mengetahui semuanya."  "Dia pasti akan memaafkanmu. Kamu tahu pemaaf selain Tuhan yang Maha Agung? Benar, Ibu." Gazza sedikit menerima kalimat hiburanku meski dia masih menangis dan tersedu. Selain yang dia ceritakan juga ada beberapa hal yang terus dia sembunyikan. Seperti saat dia mengatakan dia tahu semuanya tapi dia hanya diam saja, apa yang diketahuinya sehingga dia merasa sangat  bersalah? Sayang, aku tidak ingin bertanya lebih jauh karena kami juga tidak sedekat itu. Bahkan jika kami dekat sekalipun, tidak baik terlalu ingin tahu kehidupan orang lain.  "Aku merasa sedikit lebih tenang di sini, meskipun aku hampir mati," katanya menatap jendela usai beranjak dari pelukanku tapi dia terus menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Bahu mungil ini semacam memikul tabung Gas dengan isi penuh. "Aku juga pergi tanpa membawa apapun, hanya beberapa botol beer  dan rasa frustasiku. Uangku habis untuk membayar taksi dan aku semakin frustasi ketika kamu menganggapku bayi. Tidak, memang semua orang di dunia ini menganggapku bayi." "Kamu memang semacam itu saat menangis dan merindukan ibu dalam tidurmu. Kamu benar-benar lebih bayi dari apa yang ditampilkan televisi," gumamku berkata jujur. Aneh memang, aku juga tidak merasa canggung meski dia menempel ditubuhku. Mungkin karena kami sama-sama memiliki penderitaan namun dipaksa bersikap palsu.  "Aku sungguh tidak menyukainya. Aku ingin bersikap dewasa di depan televisi dan menampilkan diriku apa adanya. Mungkin aku tidak akan bisa berkencan jika selamanya dianggap sebagai bayi," keluhnya sudah mengering air di matanya.  Aku tersenyum. "Ah, aku lupa. Aku sudah membuatkan makan malam utukmu, kuharap kamu bisa mendapatkan energimu lagi. Aku sungguh tidak ingin kamu mati di sini, karena itu artinya aku pun akan mati bersamamu."  "Kenapa begitu?"  "Ya, karena sudah pasti akan banyak orang menuntutku atas kasus pembunuhan. Bukankah hidup di penjara sama saja dengan mati?"  Gazza mengangguk-angguk. Dia juga mulai menyantap makanan yang kusediakan meski selalu mengeluh bahwa makanan ini tak ada rasanya. Itu karena lidahnya yang bermasalah, bahkan ketika bagiku itu sudah enak dia mengatakan tak ada rasa berulang kali. Tentu saja aku sangat kesal dengan pernyataan itu meski sudah kupahami sakitnya. Itu karena dia tidak mengatakan terima kasih padaku sekali saja.  "Aku akan ke rumah tetangga malam ini, mengantar makanan untuk mereka. Diamlah di rumah dan jangan menyentuh apapun di dalam kamarku," tegasku saat menghangatkan makanan untuk Juna dan Bibi Ni. Aku tidak bisa membiarkan mereka menungguku menyapa.  "Apa aku tidak bisa ikut denganmu?"  "Tidak."  "Baiklah, aku akan menunggumu di sini." Aku meninggalkan Gazza sendirian dengan semua lampu ruangan yang menyala. Dia sendiri yang meminta karena terakhir kali saat dia syuting sabuah acara ragam, dia bertemu dengan hantu sungguhan yang tidak direncanakan. Kejadian itu memang viral beberapa hari yang lalu, saat member Super X ditantang berkeliling rumah kosong selama semalam. Ternyata masih menjadi trauma untuknya.  "Juna!" panggilku dengan nada yang ceria. Entahlah, aku senang dapat bertemu dengannya. Meski masih ada rasa takut padanya. "Hei," balasnya saat membuka pintu, dengan kaos hitam lengan pendek. "Ada apa?" "Aku ingin berkunjung dan menyapa Bibi Ni. Bukankah Bibi Ni sudah ada di rumah sekarang?" Juna mengangguk dan mengatakan bahwa mereka baru saja pulang dari Toko. Lantas mempersilakan masuk setelah menegur lampu rumahku yang masih menyala padahal aku meninggalkannya.  "Aku lupa, malas mau naik tangga lagi sekadar mematikan lampunya," alibiku karena tidak mungkin mengatakan Gazza ada di sana, bukan tidak mungkin, hanya belum mungkin bagiku untuk bercerita. Beruntung Juna  memahami itu dan memintaku untuk duduk.  Aku mengatakan pada Bibi Ni, mengatakan permintaan maafku karena mengunjunginya malam hari. Kupikir jika siang hari, kita tidak bisa benar-benar bertemu karena kami sama-sama sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing dan beliau memahaminya. Bibi Ni juga langsung mencoba makanan yang kubuatkan, sup ikan laut cabai kering dan nasi goreng telur. Beliau memuji masakanku yang enak untuk ukuran anak muda sepertiku.  "Sudah seperti masakan ibu-ibu, sangat cocok dengan selera Juna," pujinya melirik Juna yang masih menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Sepertinya dia sedang membereskan isi kulkas yang nampak berantakan.  "Cocok sama Juna, Bi?" seloroh Juna menatap kami di meja makan sekilas.  "Hem, sangat cocok." Hanya kubalas dengan senyuman. Rasanya tidak perlu banyak-banyak kami berbicara karena hari sudah semakin larut. Bibi Ni dan Juna harus segera beristirahat, begitupun denganku. Sehingga aku langsung berpamitan setelah dirasa cukup, Juna yang mengantarku pulang.  "Selamat malam," ucapnya saat kami hendak berpisah di anak tangga terakhir. Dia manis dan bercahaya di tengah malam. Memang lah, yang namanya Arjuna baik dalam cerita rakyat atau dunia nyata, dia memiliki kharisma dan ketampanan yang luar biasa.  Malam ini tentu saja aku senang dapat berkunjung ke rumah Juna, aku juga bergembira dapat melihat senyum cerahnya sebagai perempuan normal. Sayang, suasana hatiku rusak saat mendapati Gazza tidur di atas tempat tidurku. Sangat merepotkan sekali. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD