Part 6 (Alasan Gazza)

1839 Words
Gazza masih lelap dalam tidurnya, dengan selimut tebal milikku, menutup pakaiannya yang terlalu kecil. Aku harus membangunkannya segera karena bubur kacang hijau yang kumasak untuknya sudah siap. Dia harus segera makan, akan lebih baik lagi setelah makan dia mendaptakan energinya kembali. Tentu aku akan segera mengusirnya. Namun, pemandangan di depan mataku seolah tak ingin kulewatkan, aku ingin lebih lama menatapnya. Bagaimanapun aku adalah manusia yang penuh dengan keserakahan. Alisku hampir menyatu ketika aku mendapati di antara kelopak mata  yang tertutup itu, ada air bening yang terjun bebas. Dia benar-benar seperti bayi, tapi saat mabuk dia enggan disebut bayi. Jika bukan bayi, bagaimana bisa dia terus menangis dalam tidurnya? Apa dia mempunyai beban berat sepertiku atau dia hanya sedang merindukan ibunya. Kudengar ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu, dia mendapat banyak simpati dari penggemarnya di seluruh dunia kala itu.  "Ahh!" pekiknya tiba-tiba terbangun saat aku hendak berjongkok di depan kepalanya membuatku salah tingkah. "Maaf." Menghapus air matanya segera.  "Aku, em, aku hendak membangunkanmu. Bubur." Sialnya bibirku menegaskan bahwa aku sedang salah tingkah oleh sebab tatapannya. "Aku sudah membuatkan bubur kacang hijau untukmu. Makanlah!" Gazza menatapku tajam. "Aku butuh pakaianku," katanya menutup setengah tubuhnya dengan selimut, membuatku menahan tawa. Sejak tadi aku tak sempat mentertawakan pakaiannya tapi sekarang aku melakukannya. "Ini, ah, berhenti mentertawakanku." Mengatupkan bibirku. "Sayangnya aku belum sempat mencuci pakaianmu, masih basah di keranjang cucian." "Aishhh, aku tak percaya ada perempuan cantik yang malas mencuci," gumam Gazza memijat tengkuknya dengan suara lemah. Pasti melelahkan tidur di sofa kecil dengan tubuhnya yang besar.   "Sudah lebih baik aku biarkan kamu ada di sini, di saat seluruh dunia membicarakanmu. Aku tak sempat mencuci pun karena harus mengurusmu," ketusku kesal. "Aku akan mengambilkan bubur untukmu, tunggu saja." "Terima kasih. Walaupun aku kesal tidak dibuatkan sarapan." Menyiapkan satu mangkuk bubur kacang hijau yang masih panas dengan perasaanku yang sama panasnya, membiarkannya makan sendirian karena aku harus segera mencuci pakaiannya. Belum lagi aku harus membersihkan halaman rumahku, penuh dengan daun-daun kering yang terbawa angin. Pekerjaan rumahku banyak sekali sore ini. "Hara!" panggil Juna dari depan rumahnya saat aku sedang menjemur pakaianku. "Perlu bantuan?" "Tidak perlu. Ah, kamu mau berangkat kerja?" "Iya, bibiku sudah menelepon berulangkali." "Ah, salam untuk Bibi Ni," seruku.  Juna tersenyum dan melambaikan tangannya. Hangat, tampan, rajin, bukankah Juna tipe idaman banyak perempuan? Melanjutkan pekerjaanku dan baru masuk ke dalam rumah setelah semua selesai, sempat menikmati jingga yang hendak tenggelam. Lantas pemandangan menjadi suram ketika aku melihat Gazza kembali dengan tidurnya. Dia juga tidak menghabiskan bubur buatanku. Ia masih menggigil. Aku mencoba membangunkannya dan memintanya ke rumah sakit, ini sudah ketiga kalinya aku meminta hal yang sama dan balasan dia pun tetap sama. Gazza benar-benar enggan pergi ke rumah sakit.  "Kamu coba obat yang lain kalau begitu." Mencoba memilihkannya.  Gazza menghentikan gerak tanganku. "Apa kamu tahu dosis yang tepat? Meskipun ada petunjuknya tapi tetap harus ada aturan dokter." "Kalau begitu ayo ke dokter. Kamu sendiri yang bilang tidak mau ke rumah sakit bahkan ke dokter, tapi kamu meragukan obat yang kuberikan. Lantas aku  harus bagaimana?" Berpikir keras untuk beberapa saat. "Aku tidak tahu cara merawat orang. Tapi ini yang nenekku lakukan ketika aku sakit. Dan itu selalu berhasil menurunkan demamku," kataku berlari mengambil minyak angin dan koin dari dalam kamarku, lalu kembali dan memaksa Gazza untuk membuka bajunya. "Apakah kamu gila? Kenapa aku harus membuka baju? Kamu, kamu..."  "Aishhh, aku sudah bilang bahwa aku tidak berbakat dalam kasus p*********n. Jadi, buka saja bajumu biarkan aku mengerok punggungmu dengan koin ini. Aku yakin besok kamu akan merasa lebih baik. Tentu saja, kamu harus segera kembali ke ibukota." Gazza mendorongku menjauh. "Mengerok punggungku? Tidak-tidak, kamu bisa melukai kulitku. Kamu tahu berapa banyak uang yang harus aku korbankan untuk kulit selembut ini?" "Aku tahu. Tapi hanya ini obat mujarab yang kutahu." Kembali memaksanya membuka baju. Tentu saja ini pertengkaran yang diharapkan banyak penggemar perempuan, mereka pasti ingin sekali ada di posisiku sekarang. "Kompres saja dahiku dengan air dingin!" ketusnya. "Aku tidak punya. Listrik mati sejak tengah malam, apa kamu tidak menyadarinya?" "Tidak, aku sibuk dengan tubuhku yang menggiggil karena kaus tipismu." "Kamu sendiri yang membuat tubuhmu kesakitan, aku yang menolongmu dan kamu menyalahkanku sekarang? Shhh, aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar." "Ya, tapi kamu harus merawatku dengan baik." "Memangnya kamu siapa sampai aku harus merawatmu dengan baik?" Gazza diam untuk beberapa saat. Dia punya tenaga untuk membalas ucapanku tapi dia selalu menampilkan sisi lemahnya saat tertidur. Terkadang acara ragam memang penuh dengan sandiwara. Gazza yang manja dan pendiam di Super X nyatanya amat sangat banyak bicara. Akan tetapi, untuk sifat manjanya kupikir benar sedikit.  "Buka bajumu!" titahku lebih tegas. Bukannya membuka baju, dia justru menyilangkan kedua tangan di dadanya. "Kamu pikir aku hendak melakukan apa?" Tatapannya seolah-olah takut. Semacam ada tersangka p*********n di hadapannya. Aku bahkan tak ada pikiran itu. Bagaimanapun aku tetap memaksanya untuk membuka baju dan Gazza berakhir pasrah.  "Jangan mengambil gambar," katanya masih menutup bagian depan tubuhnya dengan kaus yang sudah dia lepas. Aku memprotes ucapannya karena aku bukan orang m***m yang akan menyimpan potret perut berotot laki-laki tampan. Masih cukup waras untuk menyimpan foto-foto pemandangan alam. Meskipun aku juga perempuan biasa yang akan tersipu saat melihat perut bak roti sobek minimarket.  "Balik!" titahku memintanya untuk memunggungiku. Dia bergerak pelan sembari bergumam bahwa aku adalah perempuan paling beruntung di dunia karena secara langsung bisa menyentuh punggungnya yang lebar. Gazza juga mengatakan aku beruntung karena sepanjang malam dapat menatap wajahnya.  "Keberuntungan itu tidak sebanding dengan lelahnya aku mengurusmu," potongku merasa kesal, sehingga aku mulai mengerok punggungnya dengan sekuat tenaga.  "Aaa, aaa, bisakah kamu melakukannya dengan hati-hati? Kamu benar-benar melukai punggungku." "Kamu bahkan melukai hatiku," gumamku kesal.  Hening untuk beberapa saat, hingga deburan ombak terdengar samar. "Bagaimana aku bisa kembali dengan bekas semacam ini?" gumamnya membuatku menghentikan gerak tanganku di punggungnya. Kuakui punggungnya berotot dan bidang, kulitnya lembut macam bayi. Semua memang bisa didapatkan bila ada uang. "Kamu yakin akan sembuh?"  "Hem, besok pagi kamu bisa pulang. Aku sungguh tidak mau mendapatkan masalah." "Tidak bisa, aku harus menunggu bekas di punggungku menghilang. Ah, pori-pori punggungku pasti membesar." Memang tidak tahu terima kasih, tidak perlu kubalas juga, ada Tuhan yang akan selalu membalasnya untukku. "Em, apa kamu memukulku semalam?"  "Tidak mungkin aku melakukannya." "Tapi dahiku terluka. Lihat!" Balik badan menunjuk dahinya yang terluka. Tatapan kami sangat dekat, saling bertali seolah tanpa sekat, detak jantungku sudah semacam tempo bagian rap yang dinyanyikan oleh Park Delvin di lagu terbaru Super X.  Aku segera mendorongnya setelah tersadar dari mimpi. "Kamu jatuh sendiri, kamu melupakannya? Ah, entah berapa banyak kamu minum semalam. Kamu juga memuntahkan semua isi perutmu di punggungku, kamu juga tidak mengingatnya? Wahhh."  Gazza tidak menjawab apa-apa, dia kembali memunggungiku dengan raut bersalahnya. Semoga saja dia tidak ingat aku yang mendorongnya hingga dahinya terbentur jalanan bahkan saat menaiki tangga demi tangga dahi itu terbentur lagi. Bagi seorang idola, wajah adalah aset yang penting untuk dijaga. Jika dia tahu kebenarannya, dia pasti akan melayangkan protes keras padaku.  "Kenapa kamu kabur dari konsermu? Semua orang membicarakanmu. Di media sosial masih menjadi pembicaraan terhangat nomor satu. Artikel terus bermunculan dan banyak orang mulai berspekulasi. Bahkan ada yang membocorkan pertengkaran Super X di ruang tunggu. Ah, maaf, kurasa aku tidak seharusnya bertanya." Aku  memang penasaran tapi kali ini sungguh karena aku ingin merubah topik pembicaraan sembari terus melukis tato tradisional di punggungnya.  Menunggu lama, berharap dia akan menjawab meski kalimat akhirku seolah tidak membutuhkan jawaban, namun Gazza tidak menajawab apapun. Aku juga mulai bertanya perihal tangisannya setiap kali dia tidur, tetap tak kudapatkan jawabannya. Tak apa, setidaknya aku mencoba untuk berbicara agar tak begitu hening.  "Hara!" panggil seseorang diiringi ketuk pintu. Aku bergegas keluar dan mengatakan pada Gazza agar dia bersembunyi di kamarku dan memintanya mengunci pintu. Dia menuruti apa kataku sembari membawa serta selimut untuk menutup tubuhnya.  "Ya?" Aku mendapati Juna yang datang bersama dengan bibinya. "Selamat sore, Bi. Maaf, saya belum sempat menyapa." Membungkukkan tubuhku untuk menyapanya.  "Ah, tidak apa-apa. Bibi juga sibuk mengelola bisnis," selorohnya. Beliau nampak ramah dengan senyum lebar, aku menyukai senyumnya. Sayang, Juna meredupkan senyum Bibi Ni karena kalimatnya perihal bisnis yang hanya toko kelontong di desa seolah memiliki minimarket di berbagai kota. "Kamu tinggal sendiri?" Mencoba melihat ke dalam rumahku.  Sempat bingung beberapa saat setelah menjawab pertanyaan, membawa beliau masuk atau tidak, akhirnya kuputuskan membawa beliau masuk ke dalam rumah. Sekali lagi kukatakan Bibi Ni cukup ramah dan baik, beliau bahkan membawakanku beberapa kotak makanan dan meminta Juna memasukkannya ke dalam kulkas.  "Saya jadi sungkan, seharusnya saya yang menyapa lenih dulu tapi ini..."  "Ah, tidak masalah. Bibi memang sudah berencana sejak kemarin. Sejak pemilik rumah ini bercerita akan ada anak muda tinggal di sini. Karena tak ada anak muda yang mau tinggal di desa. Sayangnya, Juna terlambat datang ke toko untuk menggantikan Bibi, sehingga Bibi tidak menyambut kedatanganmu. Ditambah lagi Juna terus bercerita tentang kamu, ah, dia benar-benar laki-laki saat memuji kecantikanmu." Terus bercerita sembari melirik Juna di dapur.  "Ahhh, Bibi, kenapa Bibi mengatakan semuanya?" protes Juna dengan pipi merahnya.  "Bibi pikir dia tidak pernah bertemu perempuan cantik selama di Seulasia saat kuliah. Dia terlalu rajin belajar sampai tidak ada waktu untuk berkencan." "Bibi!"  Aku tertawa mendengar semua cerita Bibi Ni. Juna benar-benar laki-laki yang baik tapi Bibi Ni terus membuat ponakannya terlihat buruk di hadapanku. Meksi pada akhirnya Bibi meminta kami untuk berteman dengan baik. "Oh ya, Bi. Apa rumah-rumah di samping tangga tidak berpenghuni?" tanyaku karena ada 3-4 rumah di bawahku termasuk rumah Bibi Ni, tapi seolah tidak ada aktivitas di rumah-rumah lainnya.  Benar saja, Bibi Ni menjawab bahwa rumah-rumah itu kosong. Hanya akan ramai saat musim liburan. Akan tetapi, satu unit rumah di depan Bibi Ni baru saja disewa seorang pria paruh baya. "Bibi belum berkenalan, jadi tidak bisa bercerita lebih banyak padamu. Dia juga belum benar-benar pindah sepetinya. Ah, Bibi harus ke toko lagi tadi Bibi tutup karena ingin menyapamu. Semoga betah tinggal di sini, ya? Setidaknya ada anak muda yang bisa menambah segar pemandangan di sini." "Terima kasih, Bi. Maaf merepotkan. Terima kasih juga untuk makanannya. Saya akan membalasnya, segera." "Oke, Bibi tunggu. Untuk informasi, Bibi suka makanan pedas." "Bibi!" protes Juna tapi aku suka dengan cara Bibi dalam bercanda. Sepertinya aku benar-benar hidup di lingkungan yang baik sekarang. Usai Bibi Ni dan Juna pergi. Aku mengetuk pintu kamarku, berharap Gazza segera membukanya tapi tidak ada jawaban. Kupikir dia tidur lagi tapi saat kucoba membuka pintu, dia justru diam termenung di depan jendela kacaku, menyaksikan jingga yang sebentar lagi lenyap digulung malam. "Sudah kubilang kunci pintunya," protesku duduk di sebelahnya.  "Aku lupa," balasnya. "Aku terlalu sibuk menyenangkan orang lain sampai lupa caranya membahagiakan diri sendiri." Menoleh padanya. Aku hanya tidak menyangka dia akan mengatakan itu dengan santai. Dia terus memuji keindangan langit di pedesaan, dia tidak tahu kapan pagi dan malam saling berganti. Tak ada waktu untuk menikmati pemandangan alam, yang dia lihat hanya lautan manusia yang terus memuja namanya.  "Kamu mau tahu kenapa aku meninggalkan konserku?" Menoleh padaku dengan tatapan yang layu. "Itu karena aku muak dengan semua kekang aturan. Apa aku bukan manusia yang tak boleh merasa lelah? Mereka terus memintaku bersikap lugu, harus selalu tertawa, bahkan meski dalam masa berkabungku kala itu, mereka tetap memintaku untuk datang dan tertawa. Orang bilang, Tuhan yang menuliskan skenario hamba-Nya, tapi kenapa mereka ikut mengatur skenario itu? Apa mereka seorang penyunting naskah?" Terdiam kaku melihatnya dari samping. Wajah tampan itu tak mengalihkan rasa ibaku ternyata. Perkataannya pun benar. Sayang, setelah itu dia tidak banyak bercerita, dia hanya memuji langit yang begitu indah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD